William Soeryadjaya, Sang Taipan Ulung yang Rendah Hati

20 Desember 1922 adalah tanggal bersejarah yang menjadi saksi lahirnya seorang anak bernama Tjia Kian Liong. Majalengka, Jawa Barat, menjadi tempatnya dilahirkan. Siapa sangka, hingga nyaris 96 tahun kemudian, sosok anak itu telah menjadi salah satu taipan ulung yang diperhitungkan di dunia. Ya, dialah William Soeryadjaya, pria kelahiran Majalengka Jawa Barat yang dikenal dengan keuletannya. Ternyata dalam nyaris satu abad semasa hidupnya, ada banyak dinamika yang menarik untuk kita simak, loh! Kesuksesannya bukan datang begitu saja, namun melewati serangkaian perjuangan yang tidak main-main! Yuk sama-sama kita simak perjalanan hidup William Soeryadjaya.

 

Kegetiran Hidup di Masa Kecil

Jika banyak anak lain mengisi masa kecilnya dengan bermain dan berlimpah kasih sayang dari keluarga, mungkin lain halnya dengan sosok William. Di usianya yang masih 12 tahun, kedua orang tuanya telah tiada. Hanya selang 7 tahun dari kondisinya yang yatim piatu, sekolahnya di Cirebon pun terpaksa putus di tengah jalan. Tak lagi mengenyam bangku sekolah, William cilik ditempa untuk menjadi seorang pedagang.

Masih di Cirebon, William pernah mengecap pengalaman menjadi seorang pedagang kertas. Tentu perjalanannya tidak mulus. Ia pun beralih menjadi pedagang benang tenun di kecamatan berjulukan kota dolar, Majalaya. Kota di tenggara Bandung ini memang dikenal sebagai sentra produsen kain tenun. Berhasil? Tidak juga. William banting setir menjadi pedagang hasil bumi. Apapun dilakoninya demi menghidupi dirinya bersama adik-adiknya. William tentu punya tanggung jawab yang cukup berat diembannya, terlebih dia adalah anak kedua dari lima bersaudara.

 

Naik Becak untuk Menikah

Siapa sangka sang konglomerat William Soeryadjaya dulu meminang istrinya, Lily Anwar, dengan menaiki becak ke kantor catatan sipil? Keduanya menikah pada 15 Januari 1947 dan berlangsung sangat sederhana. Hanya berangkat ke kantor catatan sipil mengenakan baju biasa, dan kembali pulang naik becak setelah resmi dinikahkan. Dari pernikahan ini, William dikaruniai 4 orang anak yaitu Edward Soeryadjaya, Edwin Soeryadjaya, Joyce, dan Judith.

 

Bertolak ke Belanda untuk Studi

Jatuh bangun menjadi pedagang membuahkan hasil bagi tokoh yang kini dikenal sebagai pebisnis kawakan ini. Meski sempat putus sekolah dan mati-matian bekerja untuk bertahan hidup, ternyata pendidikan masih jadi prioritas bagi William. Sekolah industri di Belanda bernama Middlebare Vakschool V/d Leder & Schoen Industrie Waalwijk menjadi pilihannya. Sekolah ini fokus mengajarkan tentang penyamakan kulit. Di usianya yang masih cukup muda, William sadar betul perlu membekali dirinya dengan skill untuk bisa survive di kemudian hari.

William tidak sendirian, keberangkatannya ke Belanda yang hanya selang 2 minggu dari tanggal pernikahannya, membawa serta sang istri. Mereka tinggal sederhana di Amsterdam dengan penuh kerja keras. Bahkan mereka sempat berjualan kacang dan rokok yang dikirim dari Bandung. Mereka tinggal di Belanda selama 2 tahun, mulai dari tahun 1947 hingga 1949.

Rampung sekolah di Belanda, William dan keluarganya pulang ke Indonesia saat usianya 27 tahun. Berbekal kemampuan yang ditempanya di Belanda, ia mendirikan industri penyamakan kulit, bekerja sama dengan seorang teman. Memang bakat berdagang dan keberanian mengambil keputusan telah tertanam di diri seorang William Soeryadjaya, 3 tahun kemudian ia mendirikan CV Sanggabuana yang berkecimpung di bidang ekspor-impor dan perdagangan umum. Namun roda hidup kembali berputar, William ditelikung oleh rekannya sendiri hingga mengalami kerugian yang tidak sedikit.

 

Melahirkan PT Astra Internasional

Satu kegagalan adalah alasan untuk kembali bangkit. Mungkin itu yang tertanam di benak William Soeryadjaya. Tak kapok berbisnis, berselang 5 tahun sejak ditipu teman sendiri, ia mendirikan PT Astra Internasional di tahun 1957. Tidak sendiri, William menggandeng adiknya Tjia Kian Tie dan temannya yang bernama Lim Peng Hong.

Apakah dulu PT Astra Internasional sudah sebesar ini? Tentu tidak. Dulunya, PT Astra hanya bergerak di bidang pemasaran minuman ringan dengan merek dagang Prem Club. Ditambah dengan ekspor hasil bumi. Barulah seiring berjalannya waktu, bidang pekerjaan PT Astra Internasional meluas hingga ke sektor peralatan berat, kayu, dan otomotif. Perusahaan besutan William naik daun, terutama di era Pemerintahan Orde Baru. Kala itu, dunia bisnis bergeliat di iklim yang sangat positif, didukung sentimen kebijakan dari negara.

Di tahun 1968 saja, PT Astra Internasional menjadi pemasok truk Chevrolet dengan kuantitas yang tidak sedikit, yaitu 800 unit. William membidik pasar di waktu yang tepat, right person at the right time. Truk pasokannya laris manis karena bertepatan dengan program rehabilitasi yang sedang gencar diadakan. Ditambah lagi kala itu, kurs dolar mencapai Rp378 per 1 dolar, melejit hampir 3 kali lipat dari kurs sebelumnya. Titik kesuksesan ini membawa PT Astra Internasional menjadi rekanan pemerintah dalam mendukung infrastruktur pembangunan.

 

Keuletan “Om William” untuk Astra

Semakin besar nama PT Astra Internasional, bidang pekerjaan yang diambil pun makin berani. Perusahaan yang dirintis dari nol ini mulai berani merakit sendiri truk Chevrolet. Naik daun, PT Astra Internasional kian berani merakit alat besar seperti Komatsu dan alat fotokopi Xerox. Tak berhenti sampai di situ. Mobil Toyota, Daihatsu, dan sepeda motor Honda juga dirakit sendiri. Di tahun 1984, omzet PT Astra Internasional menembus angka fantastis: 1,5 miliar dolar AS!

Dunia agrobisnis juga dirambah oleh PT Astra Internasional, dengan membuka pertanian kelapa dan singkong seluas 15.000 hektar di Lampung. Langkah ini merupakan gagasan untuk meningkatkan produksi sektor pertanian, senada dengan gagasan pemerintah kala itu. Tak hanya itu, di tahun yang sama yaitu 1984 William juga membeli Summa Handelsbank, bank asal Jerman. Keputusannya ini juga meninggalkan cerita baru yang cukup “kelam” dalam kehidupan Om William.

 

Bank Summa yang Terpuruk

Adalah Edward Soeryadjaya, putra sulung William yang dipercayanya untuk mengelola Bank Summa. Edward dinilainya sebagai orang yang tepat dan telah mengantoni gelar sarjana dari Ruhr University, Jerman Barat. Sang ayah memegang kepemilikan saham sebanyak 60 persen. Namun sayang, di tahun 1992, Bank Summa terbelit kredit macet senilai 1 triliun rupiah.

William turun tangan dan membantu penyelesaian utang bank milik putranya. 10 juta lembar saham PT Astra Internasional dilepas ke publik. Mau tidak mau, William harus rela melepas kendali trah Soeryadjaya atas PT Astra Internasional. Apalagi kala itu, PT Astra Internasional baru memasuki dunia saham di Bursa Efek Indonesia. Santer terdengar bahwa terpuruknya Bank Summa tak lepas dari “sabotase” beberapa pihak.

Namun bukan William namanya jika tidak tangguh saat roda kehidupan (lagi-lagi) berada di bawah. Beberapa tahun kemudian, kejayaan bisnis kembali direnggutnya, termasuk lewat strategi memperluas sayap bisnis. Seiring dengan itu, tentu kemampuan PT Astra Internasional untuk menyerap pekerja usia produktif pun kian lebar. Inilah impian William sejak dulu, yaitu membuka lapangan pekerjaan di tengah tingginya angka pengangguran di tanah air.

 

Pribadi Religius yang Diidolakan Bawahan

Bukan rahasia lagi bahwa William Soeryadjaya adalah sosok yang religius. Menerapkan catur dharma dalam pekerjaannya, William benar-benar menghormati mereka yang berada di bawahnya. Mantan Direktur PT Astra Internasional yang bernama Maruli Gultom sempat berkisah, setiap hari Jumat selalu ada sesi agama untuk pegawai PT Astra Internasional. Saat lebaran pun, William menyempatkan menyalami karyawannya, mulai dari lantai 1 hingga lantai 4.

William selalu menjaga hubungan harmonis dengan karyawannya. Dalam perilakunya, Om William seakan menegaskan bahwa yang terpenting adalah kerja sama dalam tim yang sejahtera, bukan hanya hubungan pemilik dan pegawai di bawahnya.

 

Sosok Penuh Kepedulian yang Jadi Panutan

Meski menggawangi perusahaan kelas raksasa, William tak pernah luput untuk memperhatikan nasib para pengusaha kecil. Bukan rahasia lagi jika Om William kerap membuka peluang kerja sama antara perusahaan besar dan kecil. Sikap lain dari William yang juga menarik untuk diselami adalah kepeduliannya untuk dunia pendidikan. Institut Prasetya Mulya di Cilandak Jakarta Selatan berdiri di atas tanah miliknya yang dijual dengan harga sangat bersahabat.

Sosok William juga dikenal sangat dermawan. Bukan sekali dua kali dirinya memberi banyak uang saku untuk pegawai PT Astra Internasional. Bahkan Wakil Presiden RI, Jusuf Kalla, punya kenangan tersendiri soal ini. Kala itu, JK yang mengenal William sejak tahun 1968 mengajukan niat untuk menjadi agen PT Astra Internasional di Makassar. Tanpa banyak tanya, William setuju dan selalu menjaga hubungan kerja sama dengan baik. Bahkan ada hal sederhana yang membekas di benak JK hingga kini: kala itu William makan bersamanya di restoran, dan ada hidangan udang yang tidak habis. Tanpa segan William meminta pegawai membungkus dan dibaginya untuk kawan-kawan.

Di tangan dingin William pula lah lahir banyak pebisnis-pebisinis andal negeri ini. Sosok William Soeryadjaya menjadi panutan banyak pihak karena kedewasaannya dalam mengambil berbagai kebijakan bisnis. Belum lagi sosoknya yang bersahaja dan tak pernah tinggi hati. Bahkan hingga kini, nama William Soeryadjaya masih mendapat tempat dan kerap dibicarakan meski sosoknya telah tiada. Ia meninggal dunia pada hari Jumat, 2 April 2010 di RS Medistra Jakarta Selatan. Pelopor modernisasi industri otomotif nasional ini memang telah tutup usia, namun semangatnya terus membara dan jadi inspirasi.

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *