Tag Archives: Wakil Presiden RI

Jusuf Kalla, “Saudagar” yang menjadi Wakil Presiden

Jusuf Kalla atau Dr. (H.C.) Drs. H. Muhammad Jusuf Kalla adalah seorang pengusaha, politisi yang saat ini menjabat Wakil Presiden. Bersama dengan Presiden Joko Widodo, Jusuf Kalla memimpin Kabinet Kerja periode 2014 – 2019. Dengan segala pengalaman organisasi, pemimpin perusahaan dan politik, Jusuf Kalla dapat menjadi sosok yang akan selalu diingat dalam sejarah bangsa. Lalu seperti apa kisah Jusuf Kalla yang berasal dari suku Bugis ini? Berikut kisahnya.

Masa Kecil dan Remaja Jusuf Kalla

Jusuf Kalla adalah anak ke-2 dari pasangan Haji Kalla dan Athirah yang lahir 15 Mei 1942 di Watampone, Kabupaten Bone, Sulawesi Selatan. Haji Kalla dan Athirah sendiri adalah seorang pengusaha keturunan Bugis dengan bisnisnya yang tergabung dalam bendera Kalla Group. Sejak menjadi siswa di SMA Negeri 3 Makassar hingga mahasiswa, pria yang akrab disapa Daeng Ucu ini selalu aktif dalam beberapa organisasi. Beberapa organisasi yang pernah diikuti Jusuf Kalla antara lain Pelajar Islam Indonesia (PII) Cabang Sulawesi Selatan 1960 – 1964, Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) Cabang Makassar tahun 1965-1966 dan Kesatuan Aksi Mahasiswa Indonesia (KAMI). Bahkan karena aktifnya beliau di organisasi membuat Jusuf Kalla kemudian dijadikan Ketua Dewan Mahasiswa Universitas Hasanuddin tahun 1965-1966 serta serta Ketua Presidium Kesatuan Aksi Mahasiswa Indonesia (KAMI) peridoe 1967-1969.

Menjadi Pengusaha dan Berkeluarga

Lahir dari keluarga pengusaha membuat Jusuf Kalla punya kesempatan besar dan mudah untuk mendapatkan pengalaman bisnis. Insting bisnis Jusuf Kalla semakin kuat karena dirinya menimba ilmu di Fakultas Ekonomi Universitas Hasanuddin, Makassar (UNHAS). Selepas kuliah di UNHAS, Jusuf Kalla memutuskan untuk membantu bisnis orang tuanya di Kalla Group. Pada 27 Agustus 1967, Jusuf Kalla menikah dengan Hj. Mufidah Miad Saad. Dari pernikahannya tersebut, Jusuf Kalla dikaruniai seorang putra dan empat putri. Pada tahun 1968, Jusuf Kalla menjadi CEO NV Hadji Kalla dan menjadikan bisnis yang awalnya bergerak di sektor ekspor dan impor tersebut meluas ke berbagai bidang.

Perluasan bidang dari bisnis NV Hadji Kalla setelah dipimpin Jusuf Kalla antara lain konstruksi, perkapalan, perhotelan, kelapa sawit, telekomunikasi, real estate, peternakan udang dan penjualan kendaraan. Kesuksesan Jusuf Kalla dalam dunia bisnis membuatnya ditunjuk menjabat Ketua Kamar Dagang dan Industri Daerah (Kadinda) Sulawesi Selatan. Dan pada musyawarah September 2006, Jusuf Kalla ditunjuk kembali sebagai Ketua Ikatan Keluarga Alumni (IKA) di alamamaternya Universitas Hasanuddin. Sambil berbisnis dan menjadi pengusaha, Jusuf Kalla tak melupakan juga untuk menempuh pendidikan yang lebih tinggi dengan menempuh pascasarjana di The European Institute of Business Administration, Perancis pada tahun 1977. Dalam hal usahanya mencapai suskes, Jusuf Kalla memang patut dicontoh. Sebab Jusuf Kalla mengkombinasikan pengalaman bisnisnya dengan ilmu ekonomi yang didapatkannya di bangku perkuliahan.

Berkarir Politik

Setelah sekian lama menjalankan profesi pengusaha, Jusuf Kalla mulai tertarik dengan dunia politik dan melirik Jakarta sebagai gelanggangnya. Dengan modal sikapnya yang cepat menyelesaikan permasalahan dan profesional memang membuat banyak ruang dan pintu politik terbuka untuk dirinya di Jakarta. Tak tanggung-tanggung, Jusuf Kalla saat itu langsung ditunjuk Presiden Abdurrahman Wahid menjadi Menteri Perindustrian dan Perdagangan. Saat pemerintahan berganti ke Megawati Soekarnoputri, Jusuf Kalla pun kembali ditunjuk sebagai Menko Kesra. Karena ingin maju sebagai calon wakil presiden mendampingi Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) maka Jusuf Kalla pun mengundurkan diri sebagai Menko Kesra. Keberanian Jusuf Kalla untuk terjun ke dunia politik ini patut diacungi jempol. Sebab dengan latar belakang dibidang entrepreneur maka tidak semua orang bisa dengan mudah menembusnya.

Kiprah di Pemilihan Presiden

Pada pemilihan presiden (Pilpres) 2004 yang diselenggarakan secara langsung oleh rakyat, Jusuf Kalla mencalonkan sebagai Wakil Presiden menadampingi SBY. Ketika hasil Pilpres menunjukkan SBY sebagai pemenangnya, maka otomatis Jusuf Kalla menjadi Wakil Presiden RI ke-10. Jelang Pilpres 2009, Jusuf Kalla yang sudah tidak berkoalisi dengan Partai Demokrat ditetapkan oleh Partai Golkar sebagai Calon Presiden. Untuk wakilnya, Jusuf Kalla menunjuk Wiranto selaku Ketua Umum Partai Hanura sebagai Cawapresnya. Sayangnya pada Pilpres 2009, Jusuf Kalla kalah dari pasangan SBY – Budiono. Kemudian dalam Pilpres 2014, Jusuf Kalla kembali berkiprah, kali ini menjadi Cawapres dari Joko Widodo. Pada pemilihan yang juga masih diselenggarakan secara langsung tersebut Jusuf Kalla kembali terpilih sebagai Wakil Presiden RI bersama Joko Widodo sebagai Presidennya. Gelanggang Politik dari Jusuf Kalla sampai detik ini bisa dibilang cemerlang. Meski pernah gagal ketika mencalonkan diri sebagai Presiden, tapi kesuksesan Jusuf Kalla menjadi Cawapres sebanyak dua kali terbilang cukup membanggakan.

Jabatan Lain Jusuf Kalla

Selain menjabat beberapa jabatan strategis di pemerintahan yang telah disebutkan, Jusuf Kalla juga pernah menjabat beberapa jabatan lain. Jabatan pertama yang pernah dipegang Jusuf Kalla adalah ketua umum Golongan Karya (Golkar) sejak Desember 2004 hingga 9 Oktober 2009 menggantikan Akbar Tanjung. Jabatan berikutnya yang juga pernah dipimpin Jusuf Kalla adalah ketua umum Palang Merah Indonesia (PMI) periode 2009-2014 setelah terpilih dalam Munas Palang Merah Indonesia XIX. Pada Munas XX PMI, Jusuf Kalla kembali lagi terpilih sebagai ketua umum Palang Merah Indonesia (PMI) periode 2014-2019. Jabatan lain yang juga pernah dijabat Jusuf Kalla adalah ketua umum Pengurus Pusat Dewan Masjid Indonesia periode 2012-2017 setelah terpilih dalam Muktamar VI DMI di Jakarta. Dari apa yang dialami dan dijalankan Jusuf Kalla, tentu kita harus menirunya. Karena meski sudah di usia yang tidak terbilang muda, Jusuf Kalla tak mau berdiam diri dengan tetap mau terus beraktivitas.

Megawati Soekarnoputri, Cerminan Sosok Perempuan Tangguh Indonesia

Kehebatan Soekarno yang pernah memimpin bangsa ini menurun pada anaknya. Putri beliau yang bernama Megawati Soekarnoputri menjadi presiden kelima Indonesia sekaligus menjadi satu-satunya presiden perempuan dalam sejarah kemerdekaan perempuan. Kemunculan Megawati saat itu di saat Indonesia sedang membangun kembali keadaan di era reformasi. Apakah kamu tahu bahwa karir Megawati hingga bisa menjadi seorang presiden ternyata dilalui dengan tidak mudah? Jangan dikira hanya karena berstatus sebagai anak mantan presiden, jalan Megawati mulus dan lancar. Berikut ini kisah perjuangan Megawati yang bisa kamu jadikan inspirasi, terutama bagi kaum perempuan. Simak ya!

  

Masa kecil Megawati Soekarnoputri sebagai anak presiden pertama Indonesia

Dari namanya saja, sudah jelas bahwa Megawati Soekarnoputri merupakan anak dari presiden pertama Indonesia, Soekarno. Megawati lahir dari sang ibu, Fatmawati, pada 23 Januari 1947 di Yogyakarta. Beliau lahir pada saat Agresi Militer Belanda dan ayahnya sedang diasingkan ke Pulau Bangka. Masa kecil Megawati banyak dihabiskan di Istana Negara. Sejak SD hingga SMA beliau menempuh pendidikan di Perguruan Cikini. Banyak orang yang mengatakan bahwa Megawati benar-benar merupakan titisan Soekarno. Dibandingkan dengan saudara-saudaranya, Megawati lebih mengikuti jejak sang ayah. Perjuangan bersama sang ayah di masa kecil bisa jadi membuat Megawati menjadi sosok perempuan yang kuat, berani, dan teguh. Bisa jadi teladan buat perempuan masa kini, nih!

 

Tak pernah bisa menyelesaikan pendidikan kuliah, Megawati justru aktif di organisasi

Selepas lulus SMA pada tahun 1965, Megawati melanjutkan kuliah di Fakultas Pertanian Universitas Padjajaran, Bandung. Namun, hanya sekitar dua tahun saja Megawati berkuliah di situ. Situasi politik nasional yang sedang memanas kala itu membuatnya terpaksa tak melanjutkan kuliah. Megawati kemudian kembali berkuliah di Fakultas Psikologi, Universitas Indonesia setelah situasi politik mereda. Lagi-lagi Megawati tak mampu menyelesaikan studinya. Pada tahun 1970, sang ayah meninggal dunia dan Megawati sempat dirundung duka mendalam.

Salah satu alasan mengapa Megawati kerap gagal di perkuliahannya adalah karena keterlibatan beliau dengan organisasi. Sifat Soekarno tampaknya menurun pada diri Megawati ini. Tercatat sejak masih berkuliah di Universitas Padjajaran, Megawati aktif bergabung dalam Gerakan Mahasiswa Nasional Indonesia (GMNI). Di organisasi inilah jiwa perjuangan dan politik Megawati terbentuk. Meski harus dua kali gagal menyelesaikan kuliah, siapa sangka pilihan Megawati untuk berani berpolitik justru menjadi awal kesuksesan beliau kelak.

 

Awal berpolitik bersama Partai Demokrasi Indonesia (PDI) hingga berubah menjadi PDI Perjuangan

Perjuangan politik Megawati berbuah manis. Tahun 1986 menjadi tahun pertamanya terjun ke dunia politik. Kala itu beliau bergabung dengan Partai Demokrasi Indonesia. Di tahun tersebut, Megawati berhasil menjadi wakil ketua PDI cabang Jakarta Pusat. Tidak hanya itu, dalam jangka waktu setahun, Megawati sudah menjadi anggota DPR RI periode 1987-1992.

Selanjutnya, Megawati terpilih menjadi ketua umum PDI pada tahun 1993 secara aklamasi. Di masa tersebut, pemerintah era Soeharto tidak puas dengan hasil tersebut. Megawati akhirnya didongkel dalam Kongres PDI tahun 1996 di Surabaya. Posisi ketua umum PDI pun kembali jatuh pada Soerjadi. Tak puas dengan hasil Kongres Medan, Megawati tetap kekeuh pada jabatan ketua umum dan tetap menduduki kantor PDI di Jalan Diponegoro. Sebuah kerusuhan akhirnya terjadi ketika kantor tersebut diserang oleh kelompok Soerjadi. Beberapa pendukung Megawati tewas. Bahkan, kerusuhan ini berbuntut menjadi kerusuhan massal dan dikenal sebagai Peristiwa 27 Juli.

Langkah Megawati seolah tak terhenti. Beliau menempuh jalur hukum untuk menyelesaikan kasus tersebut, tetapi masih gagal. Dengan adanya dualisme kepemimpinan, Megawati pun memilih untuk mengadakan kongres dan mengganti nama PDI menjadi PDI Perjuangan pada tahun 1998. Dari partai inilah akhirnya perjuangan Megawati yang sesungguhnya dimulai. Berbekal keberanian melawan ketidakadilan, Megawati percaya partai bentukan beliau ini mampu menjadi partai yang layak diperhitungkan pada Pemilu 1999. Rasanya memang layak jika dikatakan bahwa Megawati termasuk salah satu perempuan berani yang dimiliki Indonesia.

 

Kemenangan PDI Perjuangan dalam Pemilu 1999 dan keberhasilan Megawati menjadi wakil presiden Indonesia

Harapan Megawati menemukan titik terang pada Pemilu 1999. Pemilu yang untuk pertama kalinya diikuti oleh banyak partai tersebut akhirnya membawa PDI Perjuangan memenangkan Pemilu dengan perolehan 33% suara. Meski tidak memanangkan suara secara telak, sosok Megawati menjadi perhatian khusus para tokoh politik kala itu. Pendukung Megawati kala itu mendesak agar beliau terpilih menjadi presiden Indonesia.

Namun, keinginan para pendukung Megawati tersebut tidak langsung terwujud. Pada Sidang Umum MPR, Megawati kalah tipis dalam pemilihan presiden saat bersaing dengan Gus Dur. Akhirnya, Gus Dur terpilih menjadi presiden Indonesia dan Megawati menjadi wakil presiden Indonesia. Untuk pertama kalinya seorang perempuan berhasil menjadi sosok yang diperhitungkan di dunia politik hingga mampu menjadi wakil presiden. Keberanian Megawati kala itu bisa jadi membuka peluang bagi perempuan lain untuk bisa menjadi pemimpin layaknya beliau.

 

Sejarah baru untuk Indonesia. Megawati menjadi presiden perempuan Indonesia.

Rasanya Megawati tidak perlu menunggu lima tahun untuk memperoleh kesempatan menjadi presiden. Gus Dur kala itu sedang tidak mendapat dukungan penuh lantaran dekrit pembubaran DPR yang dibuat beliau. Saat Gus Dur lengser 23 Juli 2001, Megawati pun naik menjadi presiden menggantikan posisi beliau. Indonesia kembali menorehkan sejarah baru ketika seorang perempuan bisa menjadi presiden. Megawati adalah perempuan pertama Indonesia yang bisa memimpin bangsa ini. Sosok Megawati menjadi bukti bahwa perempuan pun bisa menjadi pemimpin.

Megawati segera membentuk kabinet baru yang bernama Kabinet Gotong Royong. Pemilihan nama ini berdasarkan pertimbangan bahwa banyak partai yang berasal dari kabinet tersebut yang bersama membangun Indonesia. Megawati mengawali kepemimpinan Indonesia dengan beberapa masalah, antara lain banyak konflik daerah (Ambon, Poso, Sampang) dan konflik politik akibat lengsernya Gus Dur. Meski begitu, beberapa perubahan juga pernah dilakukan di masa kepemimpinan Megawati.

 

Perubahan di era kepemimpinan Megawati

Di bidang ekonomi, Megawati berhasil menaikkan pendapatan per kapita dan kurs rupiah juga sempat semakin membaik. Selain itu, kinerja ekspor dan impor naik cukup signifikan. Sebuah kebijakan privatisasi BUMN sempat Megawati laksanakan yang mana dalam kebijakan tesebut Megawati menjual perusahaan negara dengan tujuan melindungi perusahaan dari intervensi politik dan mengurangi beban negara. Hasilnya, pertumbuhan ekonomi Indonesia menjadi 4,1%.

Kiprah Megawati juga berlanjut di bidang sosial dan pendidikan. Departemen Pendidikan Nasional kala itu merekrut guru-guru untuk ditempatkan di daerah konflik Aceh. Di era Megawati pula, nama Daerah Istimewa Aceh berubah menjadi Nangroe Aceh Darussalam. Niat kuat Megawati untuk mempertahanka Aceh ditunjukkan dengan memberi pendidikan yang baik bagi anak-anak daerah konflik. Meski begitu, Indonesia sempat kehilangan Pulau Sipadan dan Ligitan yang masuk ke wilayah Malaysia di era Megawati.

Dua perubahan besar sempat Megawati buat. Pertama adalah pembentukan Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK). KPK ini dibuat karena Megawati kala itu melihat institusi jaksa dan polri yang terlalu kotor. Hanya saja, di masa kepemimpinan Megawati, KPK belum bekerja secara efektif. Perubahan besar kedua adalah memutuskan untuk melaksanakan Pemilu dua periode, yaitu pemilu legislatif dan pemilihan presiden langsung. Keterbukaan Megawati akan demokrasi sangat tampak di kebijakan ini. Untuk pertama kalinya sepanjang sejarah kemerdekaan Indonesia, rakyat Indonesia bisa memilih presiden secara langsung.

Peran Megawati dalam perkembangan Indonesia tidak bisa diabaikan. Meski ada pihak yang memandang Pemilu dua periode merupakan pemborosan, hal tersebut justru menjadi bukti bahwa demokrasi di Indonesia benar-benar terwujud.

 

Gagal terpilih lagi menjadi presiden, Megawati justru mencetak kader-kader pemimpin luar biasa

Inisiatif menyelenggarakan pemilihan presiden langsung ternyata tidak membawa Megawati kembali menjadi presiden di periode selanjutnya. Beliau kalah dari Susilo Bambang Yudhoyno yang merupakan mantan menteri koordinator di era pemerintahan Megawati. Susilo Bambang Yudhoyono pun resmi menjadi presiden Indonesia pada tahun 2004.

Meski tak lagi menjadi presiden, semangat Megawati untuk berjuang tidak berhenti. Beliau masih menjabat sebagai ketua umu PDI Perjuangan hingga sekarang. Tercatat beliau sukses menciptakan kader-kader PDI Perjuangan yang sukses menjadi bupati, walikota, gubernur, hingga presiden. Joko Widodo merupakan salah satu kader PDI Perjuangan yang dibilang sukses. Berawal dari walikota Solo, Joko Widodo berhasil menjadi gubernur DKI Jakarta bersama Basuki Tjahaja Purnama. Tak hanya sampai di situ, PDI Perjuangan kemudian mengusung Joko Widodo dan Jusuf Kalla sebagai pasangan capres dan cawapres pada pemilihan presiden tahun 2014. Pasangan tersebut pun sukses memenangi pemilihan presiden langsung.

Inilah bukti bahwa sikap perjuangan, kerja keras, keteguhan, serta gotong royong yang selalu dibawa Megawati mampu memberikan kontribusi buat bangsa ini. Inilah putri Soekarno yang tangguh dan mampu mewakili karakter perempuan untuk era sekarang.

 

Dari Megawati, kamu bisa belajar untuk menjadi pribadi yang pantang menyerah. Perjuangan memang tidak akan memberi hasil yang instan. Jangan pernah mengganggap dirimu tidak bisa melakukan banyak hal hanya karena kamu perempuan. Megawati membuktikkan bahwa perempuan pun layak untuk menjadi seorang pemimpin. Ya, Megawati adalah sosok perempuan tangguh yang dimiliki Indonesia.

B. J. Habibie, Teknokrat yang menjelma menjadi Presiden

Tokoh yang satu ini akan selalu melekat di hati bangsa Indonesia. Sebagai insinyur dan ilmuwan, Bacharuddin Jusuf Habibie (B.J. Habibie) memang dianggap mewakili atau merepresentasikan sosok cerdas yang patut dicontoh. Sumbangsihnya terhadap negeri ini telah membuka pandangan banyak orang bahwa orang Indonesia juga mampu berkiprah untuk dunia. Lalu seperti apakah kisah pria yang juga pernah menjadi Presiden RI ke-3 ini? Berikut kisahnya.

Habibie Masa Kecil dan Remaja

Bacharuddin Jusuf Habibie lahir di Parepare, 25 Juni 1936 dari pasangan Alwi Abdul Jalil Habibie beretnis Gorontalo dan R.A. Tuti Marini Puspowardojo yang merupakan suku Jawa. Dari delapan bersaudara, Habibie adalah anak keempat. Kecerdasan Habibie sudah terlihat sejak masih duduk dibangku sekolah dasar. Hal ini dikarenakan Habibie yang gemar membaca. Membaca memang merupakan kegiatan yang akan memberikan banyak manfaat, terutama mendapatkan banyak pengetahuan yang bernilai. Selain membaca, kegemaran Habibie yang lain adalah menungang kuda. Dalam hal pelajaran, Habibie yang pernah bersekolah di SMAK Dago, Bandung sangat menyukai bidang studi fisika. Saat usianya masih 13 tahun, Habibie sudah ditinggal ayahnya yang meninggal dunia karena serangan jantung. Sepeninggal ayahnya, ibunya mengambil alih peran ayahnya mencari penghasilan dan pindah serta tinggal di Bandung bersama Habibie.

Kuliah di  ITB dan di Jerman

Selepas SMA, pada tahun 1954, Habibie meneruskan pendidikan perguruan tingginya di Institut Teknologi Bandung fakultas Teknik Mesin. Di ITB, Habibie tidak lama karena dirinya mendapatkan beasiswa di Rhenisch Wesfalische Tehnische Hochscule (RWTH), Aachen, Jerman dari Menteri Pendidikan dan Kebudayaan.

Saat itu pemerintah di era kepemimpinan Soekarno memang gencar memberikan beasiswa pada siswa-siswa dan mahasiswa yang cerdas. Presiden Soekarno sendiri saat itu mengingatkan akan pentingnya Teknologi Maritim dan Teknologi Dirgantara sebagai teknologi yang berwawasan nasional. Untuk mewujudkan impian Soekarno, di Rhenisch Wesfalische Tehnische Hochscule (RWTH), Aachen, Jerman tersebut Habibie memilih jurusan Teknik Penerbangan dengan spesialisasi Konstruksi pesawat terbang.

Habibie sendiri dari jurusan yang dipilihnya ingin membangun industri pesawat komersil bagi bangsa Indonesia. Dari sinilah muncul cikal bakal perusahaan-perusahaan strategi seperti IPTN. Dengan bantuan beasiswa hampir 100% yang didapatkan sejak tahun 1955, Habibie menyelesaikan kuliahnya hingga mendapat gelar doktor di Jerman dalam waktu 10 tahun. Setelah menyelesaikan perkuliahan tersebut, Habibie berhasil meraih 2 gelar sekaligus yakni Diplom Ingenieur pada tahun 1960 serta Doktor Ingenieur pada tahun 1965 dengan predikat summa cum laude. Dengan impian maka semuanya akan bisa diraih bila dikerjakan dengan sungguh-sungguh.

Menikah dan Bekerja Keras

Pada 12 Mei 1962, Habibie menikah dengan Hasri Ainun Besari. Dari pernikahannya tersebut, Habibie dua orang putra yakni Ilham Akbar Habibie dan Thareq Kemal Habibie. Untuk melanjutkan pendidikan doktoralnya, Habibie dan istri serta keluarganya yang tinggal di Jerman harus bekerja keras. Bahkan begitu kerasnya kehidupan di Jerman membuat istrinya ketika mencuci baju harus mengantri di tempat pencucian umum supaya dapat menghemat pengeluaran. Untuk menghemat pengeluaran, Habibie juga harus berjalan kaki cepat ke tempat kerjanya pada pagi-pagi hari sekali serta pulang malam dan belajar untuk kuliah doktoralnya. Tapi dari kerja kerasnya tersebut pada tahun 1965 Habibie berhasil meraih gelar Dr. Ingenieur dengan penilaian summa cumlaude dari Technische Hochschule Die Facultaet Fuer Maschinenwesen Aachen. Untuk mencapai kesuksesan memang akan ada hambatan dan rintangan yang menghadang. Tapi dengan semangat pantang menyerah seperti yang diperlihatkan Habibie maka semua rintangan akan bisa diatasi.

Pasca Pendidikan Doktoral

Setelah menyelesaikan pendidikan doktoralnya, Habibie pda tahun 1965 hingga 1969 bekerja di Messerschmitt-Bölkow-Blohm (MBB) yang merupakan perusahaan penerbangan yang berpusat di Hamburg, Jerman. Di perusahaan tersebut Habibie menjabat sebagai Kepala Penelitian dan Pengembangan pada Analisis Struktrur Pesawat Terbang. Pada tahun 1969 sampai 1973, Habibie menjabat Kepala Divisi Metode dan Teknologi pada  industri pesawat terbang komersial dan militer. Pasca menyelesaikan pendidikan doktoralnya, Habibie banyak mendapatkan penghargaan. Salah satu penghargaan paling mengesankan adalah diangkatnya dirinya sebagai Profesor kehormatan (Guru Besar) pada Institut Teknologi Bandung di tahun 1967. Di luar negeri penghargaan paling membanggakan bagi Habibie adalah Edward Warner Award dan Award von Karman yang hampir setara dengan penobatan Nobel.

Kembali ke Indonesia dan Mendirikan IPTN

B.J Habibie Kembali Ke Indonesia memenuhi panggilan Presiden Soeharto untuk membangun industri strategis pesawat terbang (IPTN). IPTN yang semula berarti Industri Pesawat Terbang Nurtanio dan berubah menjadi Industi Pesawat Terbang Nusantara dipimpin oleh Habibie dengan proyek membuat pesawat kebanggan bangsa. Hingga kemudian di tahun 1995, Habibie berhasil membuat pesawat N250 Gatot Kaca yang merupakan pesawat buatan Indonesia yang pertama dan satu-satunya pesawat turboprop di dunia yang menggunakan teknologi ‘Fly by Wire’. Sayangnya karena krisis moneter tahun 1996-1998, IPTN yang sedang berjaya saat itu harus ditutup. Hal lain yang memebuat IPTN ditutup adalah karena adalah Indonesia menerima bantuan keuangan dari IMF (International Monetary Fund). Saat IPTN ditutup maka banyak tenaga ahli Indonesia yang menyebar ke beberapa industri pesawat di luar negeri sepeti Amerika, Kanada, Brazil dan negara-negara di Eropa.

Menjadi Presiden Republik Indonesia

Habibie sendiri setelah IPTN ditutup menjabat sebagai Menteri Riset dan Teknologi (Menristek). Pada tanggal 14 Maret 1998, dalam kabinet Pembangunan VII, Habibie diangkat menjadi Wakil Presiden Republik Indonesia mendampingi Soeharto. Gejolak politik dan reformasi yang hebat membuat Soeharto lengser pada 21 Mei 1998 dan membuat Habibie menggantikan Soeharto sebagai Presiden RI ke-3. Sayangnya Habibie hanya mampu menjadi presiden hingga hingga 20 Oktober 1999 saja. Banyaknya masalah warisan oder baru dan termasuk salah satunya lepas Timor-Timur membuat Habibie harus lengser dan digantikan oleh Presiden Abdurrahman Wahid (Gus Dur).

Meskipun masa kepemimpinannya termasuk singkat, namun kiprah dan sumbangsihnya kepada Negeri tercinta tak bisa dilupakan begitu saja. Dengan impiannya membangun pesawat buatan Indonesia dan membangun industri penerbangan nasional menjadikan Habibie sebagai salah seorang ilmuwan sekaligus Anak Bangsa yang patut diapresiasi.

Sri Sultan Hamengkubuwana IX, Figur Pemimpin yang Mencintai Rakyat dan Tanah Air

Yogyakarta dikenal dengan keistimewaannya. Yogyakarta menjadi satu-satunya daerah di Indonesia yang dipimpin oleh sosok Sultan. Hingga kini, sosok Sultan juga menjadi gubernur di Yogyakarta. Salah satu sosok Sultan yang paling dikenang tentunya Sri Sultan Hamengkubuwana IX. Ya, beliau adalah ayah dari Sri Sultan Hamengkubuwana X yang saat ini memimpin Yogyakarta. Selain dikenal sebagai Sultan yang peduli akan rakyat, Sri Sultan Hamengkubuwana IX juga merupakan figur pemimpin teladan yang pernah dimiliki Indonesia. Meski berstatus memimpin kerajaan, beliau juga ikut memperjuangkan dan mempertahankan kemerdekaan Indonesia. Simak yuk, kisah perjalanan hidup Sri Sultan Hamengkubuwana IX yang juga pernah menjadi wakil presiden Indonesia berikut ini!

  

Masa kecil Sri Sultan Hamengkubuwana IX

Sri Sultan Hamengkubuwana IX yang memiliki nama kecil Raden Mas Dorodjatun lahir pada tanggal 12 April 1912. Beliau merupakan anak dari pasangan Sri Sultan Hamengkubuwana VIII dan permaisuri Kangjeng Raden Ayu Adipati Anom Hamengkunegara. Kehidupan masa kecil Sri Sultan Hamengkubuwana IX tidak hanya berada di lingkungan keraton saja. Beliau sudah merasakan kehidupan modern dengan pergaulan yang luas. Sri Sultan Hamengkubuwana IX tidak tinggal bersama dengan orang tua sejak usia 4 tahun. Beliau dititipkan di keluarga Mulder, seorang Belanda yang tinggal di Yogyakarta. Sri Sultan Hamengkubuwana IX menyelesaikan pendidikan dasar di Yogyakarta dan melanjutkan ke Hoogere Burgerschool di Semarang. Kemudian, beliau ke Bandung untuk melanjutkan studi di Hoogere Burgerschool (HBS). Sri Sultan Hamengkubuwana IX pergi ke Belanda untuk berkuliah di Universitas Leiden, Belanda dengan megambil jurusan Indologi yang mempelajari hukum dan ekonomi.

Ternyata menjadi salah satu penghuni keraton tidak menjamin kehidupan menjadi serba mudah. Sri Sultan Hamengkubuwana IX bahkan sudah harus pisah dengan orang tua sejak kecil. Tampaknya beliau dididik untuk bisa mengenal dunia di luar keraton lebih dekat.

 

Diangkat menjadi Sultan di tahun 1940

Sri Sultan Hamengkubuwana IX kembali ke tanah air setelah sang ayah wafat pada 22 Oktober 1939. Pada tanggal 18 Maret 1940, beliau diangkat menjadi Sultan menggantikan ayah. Kala itu beliau berusia 28 tahun. Sri Sultan Hamengkubuwana IX dikenal menentang penjajahan Belanda. Selain itu, beliau juga salah satu sosok yang mendorong kemerdekaan Indonesia. Sri Sultan Hamengkubuwana IX juga tercatat pernah melakukan negosiasi dengan diplomat Belanda Dr. Lucien Adam mengenai otonomi atau keistimewaan Yogyakarta. Di masa pendudukan Jepang, Sri Sultan Hamengkubuwana IX melarang pengiriman romusha untuk Jepang. Beliau kemudian mengadakan proyek saluran irigasi Selokan Mataram.

Bayangkan, di usia yang masih mudah Sri Sultan Hamengkubuwana IX sudah mengemban tanggung jawab memimpin Yogyakarta. Beliau juga harus memimpin di masa penjajahan Belanda dan Jepang. Keberanian beliau menolak romusha menjadi bukti bahwa Sri Sultan Hamengkubuwana IX menyayangi rakyat dengan memberikan pekerjaan yang bukan di bawah kekuasaan penjajah.

 

Sri Sultan Hamengkubuwana IX memiliki peranan dalam mempertahankan kemerdekaan Indonesia

Menjadi negara yang baru saja merdeka tentu memiliki banyak masalah. Perekonomian adalah salah satu masalah terbesar saat itu. Kas negara hampir kosong, kekeringan hampir terjadi di mana-mana, dan bahan pangan yang sangat langka. Kala itu, Sri Sultan Hamengkubuwana IX berinisiatif menyumbangkan 6 juta Gulden untuk membiayai kebutuhan pemerintahan serta kebutuhan hidup para pegawai pemerintahan lainnya. Selain itu, Sri Sultan Hamengkubuwana IX juga mengundang presiden Soekarno untuk memimpin dari Yogyakarta pasca Belanda menguasai Jakarta pada Agresi Militer Belanda I.

Tidak hanya itu, Sri Sultan Hamengkubuwana IX menjadi saksi dari Agresi Militer Belanda II pada 19 Desember 1948 yang menyerang ibukota Yogyakarta. Kedudukan Sri Sultan Hamengkubuwana IX yang tidak ditangkap oleh Belanda memberikan keuntungan tersendiri. Sri Sultan Hamengkubuwana IX secara diam-diam memberikan bantuan logistik kepada para pejuang perang dan pejabat pemerintah RI.

Pada Februari 1949, Sri Sultan Hamengkubuwana IX menghubungi Panglima Besar Soedirman untuk membahas serangan umum terhadap Belanda. Setelah perundingan singkat tersebut, Sri Sultan Hamengkubuwana IX meminta Letkol Soeharto untuk memimpin serangan tersebut. Serangan yang kemudian dikenal dengan Serangan Umum Sebelas Maret ini berhasil menguasai Yogyakarta selama 6 jam dan membuat Belanda harus menarik pasukannya dari sana.

Perjuangan Sri Sultan Hamengkubuwana IX ternyata tidak berhenti setelah Indonesia merdeka. Rasa cinta beliau pada Indoensia tampak ketika Sri Sultan Hamengkubuwana IX berusaha selalu membantu Indonesia selama beliau sanggup, bahkan memakai uang pribadi. Tetap berjuang meski dalam tekanan menjadi ciri khas Sri Sultan Hamengkubuwana IX. Tidak banyak pemimpin bisa melakukan hal seperti ini.

 

Sempat beberapa kali duduk di pemerintahan, yaitu menjadi menteri dan wakil presiden

Sri Sultan Hamengkubuwana IX juga sempat memegang jabatan penting di pemerintahan semasa hidup. Beliau tercatat menjadi menteri negara di era kabinet Sjahrir, Amir Sjarifuddin, dan Hatta. Jabatan lain yang pernah dipegang antara lain menteri pertahanan di era kabinet Hatta, menteri pertahanan RIS, wakil perdana menteri kabinet Natsir, ketua Badan Pemeriksa Keuangan, menko pembangunan, dan wakil perdana menteri bidang ekononomi. Sri Sultan Hamengkubuwana IX juga pernah menjabat sebagai wakil presiden Indonesia mendampingi Soeharto mulai 25 Maret 1973 hingga 23 Maret 1978. Faktor kesehatan menjadi alasan Sri Sultan Hamengkubuwana IX mengundurkan diri menjadi wakil presiden Indonesia setelah sebelumnya menjabat selama 5 tahun.

Tidak heran rasanya jika pada akhirnya Sri Sultan Hamengkubuwana IX bisa dipercaya untuk menjabat posisi di pemerintahan. Sepak terjang beliau di masa sebelum dan setelah Indonesia merdeka bisa dijadikan bentuk loyalitas beliau kepada negara.

 

Sosok yang menjadi Bapak Pramuka Indonesia

Sri Sultan Hamengkubuwana IX dikenal aktif mengikuti gerakan kepanduan sejak muda. Pada 9 Maret 1961, Soekarno membentuk Panitia Pembetukan Gerakan Pramuka. Sri Sultan Hamengkubuwana IX masuk di dalam anggota panitia tersebut bersama Prof. Prijono (Menteri P dan K), Dr.A. Azis Saleh (Menteri Pertanian), dan Achmadi (Menteri Transmigrasi, Koperasi dan Pembangunan Masyarakat Desa). Panitia ini bertugas mengolah anggaran dasar gerakan pramuka. Pada tanggal 14 Agustus 1961, dilakukan penganugerahan Panji Kepramukaan serta pelantikan Majelis Pemimpin Nasional, Kwarnas, dan Kwarnari Gerakan Pramuka. Sri Sultan Hamengkubuwana IX kemudian menjabat sebagai Ketua Kwarnas sekaligus Wakil Ketua I Mapinas. Jabatan Ketua Kwarnas beliau pegang selama 4 periode bertutut-turut, yaitu 1961-1963, 1963-1967, 1967-1970, dan 1970-1974.

Sri Sultan Hamengkubuwana IX juga mendapatkan penghargaan Bronze Wolf Award dari World Organization of the Scout Movement (WOSM) pada tahun 1973. Itu merupakan penghargaan tertinggi dan satu-satunya dari World Organization of the Scout Movement (WOSM) kepada orang-orang yang berjasa besar dalam pengembangan kepramukaan. Atas jasa-jasa Sri Sultan Hamengkubuwana IX itulah, beliau kemudian dikukuhan sebagai Bapak Pramuka Indonesia pada Munas Gerakan Pramuka tahun 1988.

Sri Sultan Hamengkubuwana IX menghembuskan napas terakhir pada 2 Oktober 1988. Beliau meninggal dunia di George Washington University Medical Center, Amerika Serikat karena serangan jantung. Begitu banyak hal-hal positif yang ditinggalkan Sri Sultan Hamengkubuwana IX. Beliau salah satu tokoh pejuang kesultanan yang begitu mencintai Indonesia.

 

Sosok raja yang dimiliki Sri Sultan Hamengkubuwana IX mencerminkan kecintaan beliau pada rakyat. Meski hidup sebagai raja atas Yogyakarta, beliau juga tidak meninggalkan cinta untuk tanah air. Sri Sultan Hamengkubuwana IX menjadi salah satu figur pemimpin Indonesia yang rendah hati dan patut diteladani. Semoga kisah perjalanan hidup beliau juga bisa menginspirasi kamu ya!

Mohammad Hatta, Bukan Sekadar “Pendamping” Presiden, Namun juga Salah Satu “Jenius” yang Pernah Dimiliki Indonesia

Sosok ini rasanya tak bisa lepas dari Soekarno. Nama Mohammad Hatta seolah selalu menjadi “pendamping” bagi Soekarno. Nama bandara internasional di Indonesia pun bernama Soekarno-Hatta. Pecahan uang seratus ribu yang kamu miliki pun bergambar Soekarno yang besanding dengan Mohammad Hatta. Ya, Mohammad Hatta adalah wakil presiden Indonesia yang pertama. Bersama Soekarno, Mohammad Hatta pernah memimpin bangsa ini di masa awal kemerdekaan.

 

Mohammad Hatta jauh berbeda dengan Soekarno. Jika Soekarno selalu berapi-api dalam berpidato, maka Hatta terlihat lebih tenang dan terkesan tidak banyak bicara. Namun, apakah benar ia hanya sekadar “pendamping” sang leader Soekarno? Ternyata, Hatta menyimpan “kekuatan” tersendiri yang tidak disadari banyak orang. Mungkin kamu adalah salah satunya. Di balik sosoknya yang hanya populer sebagai wakil presiden Indonesia, inilah kisah seru Mohammad Hatta yang bisa mengubah cara pandangmu tadi. Simak ya!

 

Tumbuh dengan pendidikan yang baik sejak kecil

Mohammad Hatta lahir di Bukittinggi pada tanggal 12 Agustus 1902 dengan nama Mohammad Attar. Sejak kecil, Mohammad Hatta dikelilingi dengan ajaran agama Islam yang kuat. Selepas lulus dari ELS dan MULO (setara SD dan SMP), Mohammad Hatta hijrah ke Betawi (sekarang Jakarta) untuk belajar di HBS. Di Betawi, Mohammad Hatta hidup bersama sang paman bernama Mak Ayub. Dari Mak Ayub lah kecintaan Hatta pada buku-buku mulai tumbuh karena Mak Ayub kerap mengenalkannya pada berbagai macam buku. Sayang, Mohammad Hatta harus terpisah dari sang paman karena hutang yang dimiliki Mak Ayub. Kala itu, Mak Ayub mengatakan pada Mohammad Hatta bahwa dirinya harus ke Eropa untuk melanjutkan studi. Maka, untuk pertama kalinya Mohammad Hatta harus merantau ke luar negeri sendirian untuk bersekolah. Saat itu usia Mohammad Hatta sekitar 19 tahun.

Bisa kamu bayangkan nggak, di usia yang masih begitu muda harus hidup sendirian? Mohammad Hatta sedari kecil tidak pernah lepas dari keluarga yang melindunginya. Terbiasa hidup nyaman ternyata tak membuat Mohammad Hatta menolak studi di Belanda. Tampaknya beliau memilih keluar dari zona nyaman. Pernahkah kamu melakukan hal yang sama seperti Mohammad Hatta ini?

 

Si kutu buku yang aktif berorganisasi saat bersekolah di Belanda

Mohammad Hatta kemudian melanjutkan studi di Handels Hogeschool pada tahun 1921. Bersekolah di Belanda membuat Mohammad Hatta melek tentang kemajuan peradaban, ilmu pengetahuan, serta peta politik dunia. Dari situlah akhirnya Mohammad Hatta sadar tentang ketidakadilan kaum kolonial terhadap rakyat di Hindia Belanda (Indonesia). Gejolak pemberontakan pun tumbuh dalam diri beliau. Kegemaran membaca Mohammad Hatta makin menjadi-jadi saat di Belanda. Berbagai buku beliau baca lantaran haus akan berbagai macam gerakan politik dunia.

Tentu Mohammad Hatta bukan sekadar kutu buku biasa. Beliau juga aktif berorganisasi selama kuliah. Tercatat Mohammad Hatta menjadi pemimpin Perhimpunan Indonesia (PI). Beliau juga pernah memimpin rapat anti kolonial di Brussel, Belgia di usia yang masih 25 tahun. Posisinya sebagai ketua PI pun meresahkan pemerintah Belanda sehingga mereka memutuskan memenjarakan dirinya di Casius-straat. Sebuah tulisan berjudul Indonesia Merdeka dibacakan Mohammad Hatta saat di pengadilan. Ada sebuah impian yang muncul dalam hati beliau untuk memerdekakan bangsanya dari penjajahan.

Pernahkah kamu memikirkan sebuah perubahan besar di usia yang masih sangat muda seperti Mohammad Hatta ini? Bayangkan saja, di saat pemuda seusianya mungkin hanya fokus untuk menyelesaikan studi di Eropa, Hatta muda justru “menabung” banyak ilmu sebagai bekal yang akan dia bawa ketika kembali ke tanah airnya. Semangat yang patut kamu tiru nih!

 

Sempat diasingkan di Digul dan Banda Neira. Hebatnya, beliau justru rajin membaca selama di pengasingan.

Bersama Sutan Sjahrir, Mohammad Hatta mendirikan kembali PNI dengan nama PNI Baru. Berbeda dengan Soekarno, Mohammad Hatta lebih berfokus pada kaderisasi dan pendidikan politik bagi anggotanya. Pergerakan PNI Baru tersebut cukup meresahkan Belanda sehingga Mohammad Hatta bersama Sutan Sjahrir dan rekan lain pun dibawa ke penjara Glodok dan setelah itu beliau diasingkan ke Digul.

Digul menjadi tempat paling asing dan neraka bagi siapapun yang ada di sana. Namun, Hatta yang juga dikenal introvert ini justru memanfaatkannya untuk belajar dan melahap buku lebih banyak. Bahkan, Hatta menjadi produktif menulis banyak tulisan selama di pengasingan. Pada akhirnya, Mohammad Hatta pun dipindahkan ke Banda Neira hingga tahun 1942.

Ada sebuah kutipan dari Mohammad Hatta yang begitu dikenal hingga saat ini:

“Aku rela dipenjara asalkan bersama buku. Karena dengan buku, aku bebas”

Mungkin kamu merasa orang yang suka membaca buku terkesan membosankan. Namun, kamu bisa melihat bahwa sosok seperti Mohammad Hatta pun menjadikan buku sebagai gerbang menuju segala hal di dunia. Bahkan, ketika dalam keadaan menderita pun, Mohammad Hatta tak lupa untuk tetap membaca dan menulis. Itulah bentuk perjuangan yang dia lakukan untuk impiannya melihat bangsanya merdeka.

 

Bersama Soekarno mempersiapkan kemerdekaan Indonesia hingga menjadi wakil presiden pertama Indonesia

Akhirnya Mohammad Hatta pun lepas dari pengasingan karena Jepang gantian menduduki Indonesia. Bersama Soekarno, Mohammad Hatta pun masuk tim BPUPKI yang mempersiapkan kemerdekaan Indonesia. Pada awalnya pilihan Soekarno dan Hatta untuk berkooperatif dengan Jepang memang mendapat banyak penolakan, termasuk dari Sutan Sjahrir. Tak lama selepas berita Jepang menyerah atas sekutu, sekelompok pemuda Indonesia pun menculik Soekarno dan Hatta dengan tujuan mendesak mereka segera memproklamasikan kemerdekaan. Proklamasi kemerdekaan pun terjadi pada tanggal 17 Agustus 1945. Setelah itu, Mohammad Hatta pun diresmikan menjadi wakil presiden Indonesia yang pertama.

Impian Mohammad Hatta melihat bangsanya merdeka akhirnya terpenuhi. Siapa sangka serangkaian pemberontakan, ide jenius, hingga penderitaan yang dialami beliau bisa berbuah manis. Bukti bahwa semua impian yang dimiliki seseorang memang harus diperjuangkan hingga menjadi nyata. Kegigihan Mohammad Hatta ini bisa kamu teladani.

 

Sosok jenius yang jadi aktor penting dalam usaha mempertahankan kemerdekaan Indonesia

Selepas Indonesia merdeka, bukan berarti hidup bangsa ini sudah bebas. Dua tugas besar menanti, yaitu mempertahankan kemerdekaan dan memenangkan pengakuan dunia atas status kemerdekaan Indonesia. Perjanjian Linggarjati dan Renville jelas-jelas sangat merugikan Indonesia karena banyak daerah yang masih diduduki Belanda. Puncaknya adalah serangan agresi militer Belanda II yang berhasil melumpuhkan Yogyakarta. Di ambang kehancuran itulah, pada tahun 1949, sosok Mohammad Hatta hadir dalam Konferensi Meja Bundar di Den Haag (Belanda) demi mempertahankan keutuhan Indonesia. Berbekal ilmu dari banyak buku yang dilahapnya, Mohammad Hatta berhasil mengambil simpatik seluruh dunia. Beliau pun pulang ke Indonesia dengan membawa pengakuan kedaulatan resmi kemerdekaan Indonesia dari Belanda dan seluruh dunia.

Tanpa pidato yang berapi-api, nyatanya Mohammad Hatta bisa mempertahankan kemerdekaan Indonesia. Sifat kutu bukunya sejak masih muda nyatanya tidak sia-sia. Tak banyak kata, namun bisa membuat perubahan besar buat Indonesia. Mungkin begitulah kata-kata yang pas untuk beliau. Inilah salah satu sosok jenius yang dimiliki Indonesia.

 

Selepas pensiun, Muhammad Hatta masih dipercaya untuk mengusut kasus korupsi di era presiden Soeharto

Mohammad Hatta resmi mengundurkan diri dari jabatan wakil presiden Indonesia pada tanggal 1 Desember 1956. Mohammad Hatta sosok yang tidak neko-neko. Hidup beliau pasca pensiun pun terbilang sangat sederhana. Bahkan, karena saking jujurnya, beliau tidak pernah sedikit pun memperkaya diri dengan kekuasaan yang pernah dimiliki. Tak heran jika dengan sikap beliau tersebut, Mohammad Hatta dipercaya presiden Soeharto di masa transisi era Orde Baru untuk menjadi pengawas korupsi di kalangan pejabat negara dan militer. Gelar pahlawan proklamator pun diberikan kepada Mohammad Hatta pada tahun 1986.

Keteladanan Mohammad Hatta yang lain adalah selalu hidup dalam kecukupan. Sejak awal, Mohhamad Hatta memang memiliki impian mulia untuk kemerdekaan Indonesia. Niat tulus itulah yang membawa beliau tetap rendah hati hingga akhir hayatnya. Nama beliau pun tetap dikenang hingga sekarang.

 

Itulah sekilias tentang perjalanan hidup Mohammad Hatta. Kini kamu bisa melihat bahwa sosok beliau bukan hanya sekadar “pendamping” presiden belaka. Sosok Mohammad Hatta bisa menjadi teladan buat kamu. Semoga kisah Mohammad Hatta ini bisa menginspirasi kamu untuk berkontribusi hal positif buat bangsa Indonesia.