Tag Archives: Proklamator

Mohammad Hatta, Bukan Sekadar “Pendamping” Presiden, Namun juga Salah Satu “Jenius” yang Pernah Dimiliki Indonesia

Sosok ini rasanya tak bisa lepas dari Soekarno. Nama Mohammad Hatta seolah selalu menjadi “pendamping” bagi Soekarno. Nama bandara internasional di Indonesia pun bernama Soekarno-Hatta. Pecahan uang seratus ribu yang kamu miliki pun bergambar Soekarno yang besanding dengan Mohammad Hatta. Ya, Mohammad Hatta adalah wakil presiden Indonesia yang pertama. Bersama Soekarno, Mohammad Hatta pernah memimpin bangsa ini di masa awal kemerdekaan.

 

Mohammad Hatta jauh berbeda dengan Soekarno. Jika Soekarno selalu berapi-api dalam berpidato, maka Hatta terlihat lebih tenang dan terkesan tidak banyak bicara. Namun, apakah benar ia hanya sekadar “pendamping” sang leader Soekarno? Ternyata, Hatta menyimpan “kekuatan” tersendiri yang tidak disadari banyak orang. Mungkin kamu adalah salah satunya. Di balik sosoknya yang hanya populer sebagai wakil presiden Indonesia, inilah kisah seru Mohammad Hatta yang bisa mengubah cara pandangmu tadi. Simak ya!

 

Tumbuh dengan pendidikan yang baik sejak kecil

Mohammad Hatta lahir di Bukittinggi pada tanggal 12 Agustus 1902 dengan nama Mohammad Attar. Sejak kecil, Mohammad Hatta dikelilingi dengan ajaran agama Islam yang kuat. Selepas lulus dari ELS dan MULO (setara SD dan SMP), Mohammad Hatta hijrah ke Betawi (sekarang Jakarta) untuk belajar di HBS. Di Betawi, Mohammad Hatta hidup bersama sang paman bernama Mak Ayub. Dari Mak Ayub lah kecintaan Hatta pada buku-buku mulai tumbuh karena Mak Ayub kerap mengenalkannya pada berbagai macam buku. Sayang, Mohammad Hatta harus terpisah dari sang paman karena hutang yang dimiliki Mak Ayub. Kala itu, Mak Ayub mengatakan pada Mohammad Hatta bahwa dirinya harus ke Eropa untuk melanjutkan studi. Maka, untuk pertama kalinya Mohammad Hatta harus merantau ke luar negeri sendirian untuk bersekolah. Saat itu usia Mohammad Hatta sekitar 19 tahun.

Bisa kamu bayangkan nggak, di usia yang masih begitu muda harus hidup sendirian? Mohammad Hatta sedari kecil tidak pernah lepas dari keluarga yang melindunginya. Terbiasa hidup nyaman ternyata tak membuat Mohammad Hatta menolak studi di Belanda. Tampaknya beliau memilih keluar dari zona nyaman. Pernahkah kamu melakukan hal yang sama seperti Mohammad Hatta ini?

 

Si kutu buku yang aktif berorganisasi saat bersekolah di Belanda

Mohammad Hatta kemudian melanjutkan studi di Handels Hogeschool pada tahun 1921. Bersekolah di Belanda membuat Mohammad Hatta melek tentang kemajuan peradaban, ilmu pengetahuan, serta peta politik dunia. Dari situlah akhirnya Mohammad Hatta sadar tentang ketidakadilan kaum kolonial terhadap rakyat di Hindia Belanda (Indonesia). Gejolak pemberontakan pun tumbuh dalam diri beliau. Kegemaran membaca Mohammad Hatta makin menjadi-jadi saat di Belanda. Berbagai buku beliau baca lantaran haus akan berbagai macam gerakan politik dunia.

Tentu Mohammad Hatta bukan sekadar kutu buku biasa. Beliau juga aktif berorganisasi selama kuliah. Tercatat Mohammad Hatta menjadi pemimpin Perhimpunan Indonesia (PI). Beliau juga pernah memimpin rapat anti kolonial di Brussel, Belgia di usia yang masih 25 tahun. Posisinya sebagai ketua PI pun meresahkan pemerintah Belanda sehingga mereka memutuskan memenjarakan dirinya di Casius-straat. Sebuah tulisan berjudul Indonesia Merdeka dibacakan Mohammad Hatta saat di pengadilan. Ada sebuah impian yang muncul dalam hati beliau untuk memerdekakan bangsanya dari penjajahan.

Pernahkah kamu memikirkan sebuah perubahan besar di usia yang masih sangat muda seperti Mohammad Hatta ini? Bayangkan saja, di saat pemuda seusianya mungkin hanya fokus untuk menyelesaikan studi di Eropa, Hatta muda justru “menabung” banyak ilmu sebagai bekal yang akan dia bawa ketika kembali ke tanah airnya. Semangat yang patut kamu tiru nih!

 

Sempat diasingkan di Digul dan Banda Neira. Hebatnya, beliau justru rajin membaca selama di pengasingan.

Bersama Sutan Sjahrir, Mohammad Hatta mendirikan kembali PNI dengan nama PNI Baru. Berbeda dengan Soekarno, Mohammad Hatta lebih berfokus pada kaderisasi dan pendidikan politik bagi anggotanya. Pergerakan PNI Baru tersebut cukup meresahkan Belanda sehingga Mohammad Hatta bersama Sutan Sjahrir dan rekan lain pun dibawa ke penjara Glodok dan setelah itu beliau diasingkan ke Digul.

Digul menjadi tempat paling asing dan neraka bagi siapapun yang ada di sana. Namun, Hatta yang juga dikenal introvert ini justru memanfaatkannya untuk belajar dan melahap buku lebih banyak. Bahkan, Hatta menjadi produktif menulis banyak tulisan selama di pengasingan. Pada akhirnya, Mohammad Hatta pun dipindahkan ke Banda Neira hingga tahun 1942.

Ada sebuah kutipan dari Mohammad Hatta yang begitu dikenal hingga saat ini:

“Aku rela dipenjara asalkan bersama buku. Karena dengan buku, aku bebas”

Mungkin kamu merasa orang yang suka membaca buku terkesan membosankan. Namun, kamu bisa melihat bahwa sosok seperti Mohammad Hatta pun menjadikan buku sebagai gerbang menuju segala hal di dunia. Bahkan, ketika dalam keadaan menderita pun, Mohammad Hatta tak lupa untuk tetap membaca dan menulis. Itulah bentuk perjuangan yang dia lakukan untuk impiannya melihat bangsanya merdeka.

 

Bersama Soekarno mempersiapkan kemerdekaan Indonesia hingga menjadi wakil presiden pertama Indonesia

Akhirnya Mohammad Hatta pun lepas dari pengasingan karena Jepang gantian menduduki Indonesia. Bersama Soekarno, Mohammad Hatta pun masuk tim BPUPKI yang mempersiapkan kemerdekaan Indonesia. Pada awalnya pilihan Soekarno dan Hatta untuk berkooperatif dengan Jepang memang mendapat banyak penolakan, termasuk dari Sutan Sjahrir. Tak lama selepas berita Jepang menyerah atas sekutu, sekelompok pemuda Indonesia pun menculik Soekarno dan Hatta dengan tujuan mendesak mereka segera memproklamasikan kemerdekaan. Proklamasi kemerdekaan pun terjadi pada tanggal 17 Agustus 1945. Setelah itu, Mohammad Hatta pun diresmikan menjadi wakil presiden Indonesia yang pertama.

Impian Mohammad Hatta melihat bangsanya merdeka akhirnya terpenuhi. Siapa sangka serangkaian pemberontakan, ide jenius, hingga penderitaan yang dialami beliau bisa berbuah manis. Bukti bahwa semua impian yang dimiliki seseorang memang harus diperjuangkan hingga menjadi nyata. Kegigihan Mohammad Hatta ini bisa kamu teladani.

 

Sosok jenius yang jadi aktor penting dalam usaha mempertahankan kemerdekaan Indonesia

Selepas Indonesia merdeka, bukan berarti hidup bangsa ini sudah bebas. Dua tugas besar menanti, yaitu mempertahankan kemerdekaan dan memenangkan pengakuan dunia atas status kemerdekaan Indonesia. Perjanjian Linggarjati dan Renville jelas-jelas sangat merugikan Indonesia karena banyak daerah yang masih diduduki Belanda. Puncaknya adalah serangan agresi militer Belanda II yang berhasil melumpuhkan Yogyakarta. Di ambang kehancuran itulah, pada tahun 1949, sosok Mohammad Hatta hadir dalam Konferensi Meja Bundar di Den Haag (Belanda) demi mempertahankan keutuhan Indonesia. Berbekal ilmu dari banyak buku yang dilahapnya, Mohammad Hatta berhasil mengambil simpatik seluruh dunia. Beliau pun pulang ke Indonesia dengan membawa pengakuan kedaulatan resmi kemerdekaan Indonesia dari Belanda dan seluruh dunia.

Tanpa pidato yang berapi-api, nyatanya Mohammad Hatta bisa mempertahankan kemerdekaan Indonesia. Sifat kutu bukunya sejak masih muda nyatanya tidak sia-sia. Tak banyak kata, namun bisa membuat perubahan besar buat Indonesia. Mungkin begitulah kata-kata yang pas untuk beliau. Inilah salah satu sosok jenius yang dimiliki Indonesia.

 

Selepas pensiun, Muhammad Hatta masih dipercaya untuk mengusut kasus korupsi di era presiden Soeharto

Mohammad Hatta resmi mengundurkan diri dari jabatan wakil presiden Indonesia pada tanggal 1 Desember 1956. Mohammad Hatta sosok yang tidak neko-neko. Hidup beliau pasca pensiun pun terbilang sangat sederhana. Bahkan, karena saking jujurnya, beliau tidak pernah sedikit pun memperkaya diri dengan kekuasaan yang pernah dimiliki. Tak heran jika dengan sikap beliau tersebut, Mohammad Hatta dipercaya presiden Soeharto di masa transisi era Orde Baru untuk menjadi pengawas korupsi di kalangan pejabat negara dan militer. Gelar pahlawan proklamator pun diberikan kepada Mohammad Hatta pada tahun 1986.

Keteladanan Mohammad Hatta yang lain adalah selalu hidup dalam kecukupan. Sejak awal, Mohhamad Hatta memang memiliki impian mulia untuk kemerdekaan Indonesia. Niat tulus itulah yang membawa beliau tetap rendah hati hingga akhir hayatnya. Nama beliau pun tetap dikenang hingga sekarang.

 

Itulah sekilias tentang perjalanan hidup Mohammad Hatta. Kini kamu bisa melihat bahwa sosok beliau bukan hanya sekadar “pendamping” presiden belaka. Sosok Mohammad Hatta bisa menjadi teladan buat kamu. Semoga kisah Mohammad Hatta ini bisa menginspirasi kamu untuk berkontribusi hal positif buat bangsa Indonesia.

Soekarno, Sang “Arstitek” Kemerdekaan Indonesia

Saat belajar di bangku Sekolah Dasar, kamu tentu mengenal sosok yang jadi proklamator Indonesia. Begitu pula jika ditanya siapa presiden pertama Indonesia, pasti kamu akan dengan mudah menyebut nama Soekarno.

Kala itu, gambar Soekarno sedang membacakan teks proklamasi pun pasti banyak kamu temui di buku-buku sekolah. Yup, Soekarno merupakan sosok di balik kemerdekaan Indonesia. Sosoknya pun hingga sekarang masih dikenang oleh rakyat Indonesia. Namun, mungkin tak banyak yang tahu kisah perjalanan hidup Soekarno. Bukan hanya sebagai proklamator, ternyata ada sisi lain dari Soekarno yang bisa kamu pelajari.

Simak ringkasan perjalanan Soekarno berikut ini ya!

 

Akrab dengan organisasi sejak masih sangat muda

Tidak banyak yang tahu bahwa dulu Soekarno memiliki nama kecil “Kusno”. Namanya pun berubah menjadi “Soekarno” lantaran beliau sering sakit ketika masih anak-anak. Soekarno lahir di Surabaya pada tanggal 6 Juni 1901. Ayahnya bernama Raden Soekemi Sosrodihardjo, sedangkan ibunya bernama Ida Ayu Nyoman Rai.

Sejak masih remaja, Soekarno sudah menunjukkan minatnya pada dunia organisasi kepemudaan. Pada tahun 1915, Soekarno sering bertemu dengan para pemimpin Serikat Islam kala itu, antara lain Tjokroaminoto, Haji Agus Salim, dan Abdul Muis. Selain itu, Soekarno dikenal aktif dalam organisasi pemuda Tri Koro Dharmo yang kemudian berubah nama menjadi Jong Java. Kala itu, Soekarno masih berusia 15-17 tahun.

Bayangkan, sejak muda saja beliau sudah aktif di organisasi ya! Sikap cinta tanah air sudah beliau miliki sejak masih muda. Soekarno muda tentu tidak main-main ketika memilih aktif di organisasi sejak muda. Dari situlah muncul cita-cita kemerdekaan untuk Indonesia.

 

Soekarno merupakan salah satu arsitek hebat yang dimiliki Indonesia

Sekilas, mungkin kamu mengira kalau Soekarno adalah sosok politik sejati. Nyatanya, beliau pernah menempuh pendidikan sipil di Technische Hoogeschool te Bandoeng (sekarang bernama Institut Teknologi Bandung). Saat itu hanya ada tiga orang Jawa yang berhasil meraih gelar insinyur dan Soekarno adalah salah satunya. Ternyata, beberapa bangunan yang ada di ibukota merupakan sumbangan ide dari Soekarno yang kala itu menginginkan Jakarta sebagai pusat pemerintahan yang tertata apik seperti layaknya negara merdeka lainnya. Beberapa bangunan yang merupakan hasil pemikiran Soekarno antara lain Masjid Istiqlal, Monumen Monas, Hotel Indonesia, dan masih banyak lagi.

Dari Soekarno kamu belajar bahwa apapun pendidikanmu, jangan pernah jadikan alasan untuk tak bisa berbuat memberi sumbangsih untuk bangsa ini. Tengok deh, latar belakang pendidikan Soekarno yang jauh dari politik nyatanya bisa juga membawa dampak besar buat Indonesia.

 

Semangat yang tetap menyala meski berkali-kali diasingkan

Selain tergabung dalam Jong Java, Soekarno juga merupakan pendiri dari Partai Nasional Indonesia (PNI). Aktivitas Soekarno di PNI ternyata sempat membawanya diasingkan oleh Belanda di Sukamiskin. Di situ, Soekarno tidak menyerah. Bahkan, beliau dengan lantang membacakan pledoi berjudul Indonesia Menggugat ketika menjalani sidang. Selain menjalani pengasingan di Sukamiskin, Soekarno juga pernah diasingkan di Flores dan Bengkulu.

Hidup dalam penderitaan di pengasingan tak membuatnya menyerah. Bahkan, ketika harus berkali-kali diasingkan, beliau masih memiliki keyakinan pada kemerdekaan Indonesia. Kayaknya semangat beliau ini patut kamu tiru deh!

 

Tokoh proklamator sekaligus presiden pertama yang dimiliki Indonesia pasca kemerdekaan

Meski harus mengalami pengasingan berkali-kali, semangat Soekarno tak pernah padam. Soekarno kembali dari masa pengasingan saat Jepang menduduki Indonesia pada tahun 1942. Bersama tokon Indonesia lainnya, beliau berperan dalam usaha persiapan kemerdekaan Indonesia, antara lain merumuskan Pancasila, UUD 1945, serta teks proklamasi.

Peristiwa Rengas dengklok pada 16 Agustus 1945 menjadi awal gerbang kemerdekaan Indonesia. Saat itu Soekarno dibawa oleh sekelompok pemuda Indonesia yang mendesak untuk segera memproklamasikan kemerdekaan pasca kalahnya Jepang atas sekutu. Atas inisiatif para pemuda itulah akhirnya Soekarno memilih untuk tidak bergantung pada Jepang dalam memperoleh kemerdekaan Indonesia. Akhirnya, Soekarno pun membacakan teks proklamasi Indonesia pada tanggal 17 Agustus 1945 dan dipilih menjadi presiden pertama Indonesia.

Soekarno memang pernah berkali-kali berada dalam pengasingan. Hebatnya, mimpinya mewujudkan kemerdekaan Indonesia tidak hilang meski harus hidup menderita. Ada keyakinan dalam dirinya bahwa Indonesia pasti merdeka. Kemerdekaan yang kamu kecap sekarang tentu tak bisa lepas dari keyakinan dan kegigihan beliau sejak muda bukan?

 

Gaya kepemimpinan Soekarno yang tegas, berani, dan karismatik

Selama menjadi presiden Indonesia, Soekarno dikenal sebagai pemimpin yang selalu berpidato dengan semangat menyala-nyala. Sikap beliau mampu membangkitkan semangat nasionalisme rakyat Indonesia kala itu. Jiwa nasionalisme tampak dalam diri Soekarno selama menjabat sebagai presiden Indonesia. Sosoknya yang karismatik membuatnya disegani para pemimpin dunia lainnya. Tak heran jika beberapa negara Asia dan Afrika menjadikan Soekarno sebagai teladan kepemimpinan saat negara-negara tersebut berusaha melepaskan diri dari ketergantungan dari negara barat. Soekarno juga menjadi penggagas terlaksananya Konferensi Asia Afrika, yang mana dalam konferensi tersebut membahas masalah-masalah yang dialami negara Asia dan Afrika yang baru saja merdeka. Keprihatinan Soekarno akan nasib negara Asia dan Afrika tersebut lah yang mendorongnya membuat konferensi agar semua negara senasib dapat saling membantu dan menguatkan.

Hingga sekarang, gaya Soekarno dalam memimpin bisa menjadi panutan para leader. Sosok Soekarno yang patang menyerah, rela berkorban, serta berani bisa menginspirasimu untuk menjadi pemimpin yang baik.

 

Nama Soekarno yang diabadikan di Indonesia

Pada tanggal 21 Juni 1970, Soekarno menghembuskan napas terakhirnya akibat sakit yang dideritanya. Sebagai sosok yang berperan dalam kemerdekaan Indonesia, rasanya sangat pantas jika akhirnya nama Soekarno diabadikan di Indonesia. Stadion kebanggaan Indonesia, Stadion Gelora Bung Karno, mengambil nama beliau sebagai wujud penghormatan pada proklamator Indonesia. Yayasan Pendidikan Soekarno pun dibuat oleh putri beliau, Rachmawati Soekarnoputri. Pada akhirnya, yayasan tersebut mencetuskan ide untuk membuat universitas yang selaras dengan pemikiran yang diajarkan Soekarno sehingga lahirlah Universitas Bung Karno pada tahun 1999. Selain itu, didirikan pula Yayasan Bung Karno yang menyimpan benda-benda milik Soekarno yang berada di berbagai daerah di Indonesia.

Sosok yang memiliki peran penting untuk bangsa ini tentu akan selalu dikenang. Pengabadian nama Soekarno ini seolah megingatkan kamu untuk selalu memiliki semangat juang layaknya yang dimiliki Soekarno di sepanjang hayatnya. Kini, ketika kamu sudah hidup di masa kemerdekaan, adakah kontribusi positif yang bisa kamu berikan untuk Indonesia?

 

Dari kisah Soekarno, kamu bisa belajar tentang semangat juangnya yang sudah muncul sejak masih muda.

Kamu sendiri, apakah yakin sudah menjadi bagian generasi muda yang bisa memberi manfaat buat bangsa ini?