Tag Archives: Presiden RI

Susilo Bambang Yudhoyono

Susilo Bambang Yudhoyono atau akrab disebut SBY adalah Presiden Republik Indonesia ke-6 dari kalangan milter. Sepak terjangnya di dunia militer dan politik yang cemerlang membuat SBY tak bisa terlupakan begitu saja oleh masyarakat dan bangsa Indonesia. Bagaimana tidak, berbagai prestasi militer yang pernah dicatatkannya dan puncak karir politiknya dengan menjadi Presiden RI dua periode berturut-turut, menjadikan SBY sebagai sosok yang selalu berpengaruh. Lalu seperti apa kisah lengkap dari Susilo Bambang Yudhoyono yang merupakan Presiden pertama Indonesia yang dipilih melalui jalur pemilu ini? Yuk simak ulasannya berikut ini.

 

Masa Kecil dan Remaja Susilo Bambang Yudhoyono

Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) adalah anak tunggal dari pasangan R. Soekotjo dan Sitti Habibah yang lahir di Pacitan, Jawa Timur, 9 September 1949. Ayah SBY yakni Soekotjo adalah seorang tentara pensiuan dengan pangkat letnan satu. Sementara itu ibunya yakni Siti Habibah adalah putri salah seorang pendiri pondok pesantren di Pacitan. Darah militer dari ayahnya membuat SBY sejak kecil sudah bermimpi dan bercita-cita menjadi tentara. Pengenalan dunia militer SBY dimulai saat dirinya masih duduk di sekolah dasar kelas 5 dengan mengenal sekolah tentara yang ada di Magelang. Sayangnya selepas SMA, SBY terlambat mendaftar sekolah di AKABRI (Akademi Angkatan Bersenjata Republik Indonesia) dan membuat dirinya masuk di Institut 10 November Surabaya (ITS). Dari pendidikan di ITS yang tak berlangsung lama, SBY kemudian masuk Pendidikan Guru Sekolah Lanjutan Pertama (PGSLP). Nah ketika di PGSLP inilah SBY terpikirkan kembali tentang cita-citanya untuk masuk AKABRI dan menjadi tentara.

Tempuh Pendidikan Militer

Ketika berusia 21 tahun di tahun 1970, SBY masuk sekolah tentara AKABRI. Di AKBRI ini SBY dikenal sebagai prajurit yang sangat disiplin dan rajin. Dengan kedisplinannya dan sikap rajinnya tersebut, saat kelulusan, SBY terpilih sebagai lulusan terbaik AKABRI angkatan 1973. Sebagai lulusan terbaik, SBY berhasil menyabet penghargaan yang sering diidam-idamkan taruna yakni penghargaan Adhi Makayasa. Selain itu SBY juga diganjar juga dengan penghargaan Tri Sakti Wiratama yang diberikan pada taruna yang berprestasi dengan nilai tertinggi dalam hal gabungan mental, fisik serta kecerdasan intelektual seorang taruna. Dari kisah ini tentu kita bisa mengambil pelajaran bahwa hanya dengan kedisplinan, kerja keras dan kesungguhan, maka impian dan segala pencapaian bisa diraih.

Berkarir Militer dan Tetap Belajar

Setelah lulus AKABRI dari tahun 1974-1976, SBY memulai karir militernya di Dan Tonpan Yonif Linud 330 Kostrad. Tak puas dengan karirnya di AKABRI, pada tahun 1976 SBY melanjutkan pendidikannya di Airborne School dan US Army Rangers, American Language Course (Lackland-Texas), Airbone and Ranger Course (Fort Benning) Amerika Serikat. Selepas itu, SBY kembali meniti karir militernya di Dan Tonpan Yonif 305 Kostrad, Dan Tn Mo 81 Yonif Linud 330 Kostrad (1977), Pasi-2/Ops Mabrigif Linud 17 Kujang I Kostrad (1977-1978), Dan Kipan Yonif Linud 330 Kostrad (1979-1981), Paban Muda Sops SUAD (1981-1982), Komandan Sekolah Pelatih Infanteri (1983-1985), Dan Yonif 744 Dam IX/Udayana (1986-1988), dan Paban Madyalat Sops Dam IX/Udayana (1988).

Karir SBY terus berlanjut di tahun 1989 hingga tahun 1993 dengan menjadi Dosen Seskoad Pangab, Dan Brigif LInud 17 Kujang 1 Kostrad serta Chief Military Observer United Nation Peace Forces (UNPF) di Bosnia-Herzegovina (1995-1996). SBY yang juga pernah ditugaskan dalam Operasi Seroja di Timor-Timur pada tahun 1979-1980 dan 1986-1988 ini juga meniti karier di Kasdam Jaya (1996), dan juga Pangdam II/Sriwijaya sekaligus Ketua Bakorstanasda. Di tahun 1997, dengan pangkat Letnan Jenderal, SBY diangkat sebagai Kepala Staf Teritorial (Kaster) TNI. Hingga pada 1 April 2001, SBY pensiun dari kemiliteran karena dirinya diangkat sebagai menteri.

Meski sudah memiliki karir yang lumayan baik, tapi SBY masih belum puas dengan pencapaiannya. Maka dari itu dirinya kemudian kembali belajar di Infantry Officer Advanced Course (Fort Benning) Amerika Serikat pada tahun 1982-1984. Di tahun 1984, SBY juga sempat kursus senjata antitank di Belgia dan Jerman dan juga kursus Komando Batalyon di tahun 1985. Di tahun 1988-1989 SBY juga belajar di Sekolah Staf dan Komando Angkatan Darat serta di US Command and General Staff College (Fort Leavenwort) Kansas Amerika Serikat di tahun 1991. Dari apa yang dilakukan SBY ini kita bisa mendapatkan pelajaran bahwa pendidikan adalah sesuatu yang harus selalu diusahakan selama nyawa masih dikandung badan.

Menikah dan Raih Gelar Doktor

Pada 30 Juli 1976, SBY menikah dengan Kristiani Herawati yang merupakan anak dari Jenderal (purn) Sarwo Edhi Wibowo. Dari pernikahannya tersebut, SBY dikaruniai dua anak laki-laki yakni Agus Harimurti Yudhoyono dan Edhie Baskoro Yudhoyono. Pada 3 Oktober 2004, SBY meraih gelar doktor (Ph.D.) dari Institut Pertanian Bogor (IPB) dalam bidang Ekonomi Pertanian. Sementara itu pada 15 Desember 2005, SBY kembali menerima gelar doktor kehormatan di bidang ilmu politik, kali ini dari Universitas Thammasat di Bangkok, Thailand.

Karir Politik dn Menjadi Presiden RI ke-6

Karir politik SBY dimulai dari tahun 1998 di masa Reformasi dengan menjadi ketua Fraksi ABRI di MPR. Pada tahun 1999, setelah Abdurrahman Wahid terpilih sebagai presiden, SBY ditunjuk sebagai Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral Indonesia dan menjadi Menkopolsoskam. Saat Megawati menjadi Presiden, SBY kembali ditunjuk sebagai Menko Polhukam. Namun di tahun 2004 di akhir kepemimpinan Megawati, SBY mengundurkan diri dari kabiner dan mendirikan Partai Demokrat. Pada pemilu 2004, SBY diusung Partai Demokrat sebagai calon presiden. Dengan berpasangan dengan Jusuf Kalla, SBY menjadi Presiden RI ke-6 setelah mememangkan pemilihan presiden (pilpres) yang dipilih secara langsung oleh rakyat.

 

Pada pilpres di tahun 2009, SBY yang saat itu berpasangan dengan Budiono kembali menang dan menjadi Presiden untuk periode keduanya. Setelah kedua dua periode, sesuai undang-undang, SBY tidak bisa mencalonkan diri sebagai Presiden. Dan sebagai penggantinya pada pilpres tahun 2014, terpilih Joko Widodo sebagai Presiden RI. Meski tidak lagi menjadi Presiden, SBY tetap menjalankan karir politiknya dengan menjadi Ketua Umum Majelis Tinggi DPP Partai Demokrat (2010-2015) dan Ketua Umum DPP Partai Demokrat (2015-2020).

Megawati Soekarnoputri, Cerminan Sosok Perempuan Tangguh Indonesia

Kehebatan Soekarno yang pernah memimpin bangsa ini menurun pada anaknya. Putri beliau yang bernama Megawati Soekarnoputri menjadi presiden kelima Indonesia sekaligus menjadi satu-satunya presiden perempuan dalam sejarah kemerdekaan perempuan. Kemunculan Megawati saat itu di saat Indonesia sedang membangun kembali keadaan di era reformasi. Apakah kamu tahu bahwa karir Megawati hingga bisa menjadi seorang presiden ternyata dilalui dengan tidak mudah? Jangan dikira hanya karena berstatus sebagai anak mantan presiden, jalan Megawati mulus dan lancar. Berikut ini kisah perjuangan Megawati yang bisa kamu jadikan inspirasi, terutama bagi kaum perempuan. Simak ya!

  

Masa kecil Megawati Soekarnoputri sebagai anak presiden pertama Indonesia

Dari namanya saja, sudah jelas bahwa Megawati Soekarnoputri merupakan anak dari presiden pertama Indonesia, Soekarno. Megawati lahir dari sang ibu, Fatmawati, pada 23 Januari 1947 di Yogyakarta. Beliau lahir pada saat Agresi Militer Belanda dan ayahnya sedang diasingkan ke Pulau Bangka. Masa kecil Megawati banyak dihabiskan di Istana Negara. Sejak SD hingga SMA beliau menempuh pendidikan di Perguruan Cikini. Banyak orang yang mengatakan bahwa Megawati benar-benar merupakan titisan Soekarno. Dibandingkan dengan saudara-saudaranya, Megawati lebih mengikuti jejak sang ayah. Perjuangan bersama sang ayah di masa kecil bisa jadi membuat Megawati menjadi sosok perempuan yang kuat, berani, dan teguh. Bisa jadi teladan buat perempuan masa kini, nih!

 

Tak pernah bisa menyelesaikan pendidikan kuliah, Megawati justru aktif di organisasi

Selepas lulus SMA pada tahun 1965, Megawati melanjutkan kuliah di Fakultas Pertanian Universitas Padjajaran, Bandung. Namun, hanya sekitar dua tahun saja Megawati berkuliah di situ. Situasi politik nasional yang sedang memanas kala itu membuatnya terpaksa tak melanjutkan kuliah. Megawati kemudian kembali berkuliah di Fakultas Psikologi, Universitas Indonesia setelah situasi politik mereda. Lagi-lagi Megawati tak mampu menyelesaikan studinya. Pada tahun 1970, sang ayah meninggal dunia dan Megawati sempat dirundung duka mendalam.

Salah satu alasan mengapa Megawati kerap gagal di perkuliahannya adalah karena keterlibatan beliau dengan organisasi. Sifat Soekarno tampaknya menurun pada diri Megawati ini. Tercatat sejak masih berkuliah di Universitas Padjajaran, Megawati aktif bergabung dalam Gerakan Mahasiswa Nasional Indonesia (GMNI). Di organisasi inilah jiwa perjuangan dan politik Megawati terbentuk. Meski harus dua kali gagal menyelesaikan kuliah, siapa sangka pilihan Megawati untuk berani berpolitik justru menjadi awal kesuksesan beliau kelak.

 

Awal berpolitik bersama Partai Demokrasi Indonesia (PDI) hingga berubah menjadi PDI Perjuangan

Perjuangan politik Megawati berbuah manis. Tahun 1986 menjadi tahun pertamanya terjun ke dunia politik. Kala itu beliau bergabung dengan Partai Demokrasi Indonesia. Di tahun tersebut, Megawati berhasil menjadi wakil ketua PDI cabang Jakarta Pusat. Tidak hanya itu, dalam jangka waktu setahun, Megawati sudah menjadi anggota DPR RI periode 1987-1992.

Selanjutnya, Megawati terpilih menjadi ketua umum PDI pada tahun 1993 secara aklamasi. Di masa tersebut, pemerintah era Soeharto tidak puas dengan hasil tersebut. Megawati akhirnya didongkel dalam Kongres PDI tahun 1996 di Surabaya. Posisi ketua umum PDI pun kembali jatuh pada Soerjadi. Tak puas dengan hasil Kongres Medan, Megawati tetap kekeuh pada jabatan ketua umum dan tetap menduduki kantor PDI di Jalan Diponegoro. Sebuah kerusuhan akhirnya terjadi ketika kantor tersebut diserang oleh kelompok Soerjadi. Beberapa pendukung Megawati tewas. Bahkan, kerusuhan ini berbuntut menjadi kerusuhan massal dan dikenal sebagai Peristiwa 27 Juli.

Langkah Megawati seolah tak terhenti. Beliau menempuh jalur hukum untuk menyelesaikan kasus tersebut, tetapi masih gagal. Dengan adanya dualisme kepemimpinan, Megawati pun memilih untuk mengadakan kongres dan mengganti nama PDI menjadi PDI Perjuangan pada tahun 1998. Dari partai inilah akhirnya perjuangan Megawati yang sesungguhnya dimulai. Berbekal keberanian melawan ketidakadilan, Megawati percaya partai bentukan beliau ini mampu menjadi partai yang layak diperhitungkan pada Pemilu 1999. Rasanya memang layak jika dikatakan bahwa Megawati termasuk salah satu perempuan berani yang dimiliki Indonesia.

 

Kemenangan PDI Perjuangan dalam Pemilu 1999 dan keberhasilan Megawati menjadi wakil presiden Indonesia

Harapan Megawati menemukan titik terang pada Pemilu 1999. Pemilu yang untuk pertama kalinya diikuti oleh banyak partai tersebut akhirnya membawa PDI Perjuangan memenangkan Pemilu dengan perolehan 33% suara. Meski tidak memanangkan suara secara telak, sosok Megawati menjadi perhatian khusus para tokoh politik kala itu. Pendukung Megawati kala itu mendesak agar beliau terpilih menjadi presiden Indonesia.

Namun, keinginan para pendukung Megawati tersebut tidak langsung terwujud. Pada Sidang Umum MPR, Megawati kalah tipis dalam pemilihan presiden saat bersaing dengan Gus Dur. Akhirnya, Gus Dur terpilih menjadi presiden Indonesia dan Megawati menjadi wakil presiden Indonesia. Untuk pertama kalinya seorang perempuan berhasil menjadi sosok yang diperhitungkan di dunia politik hingga mampu menjadi wakil presiden. Keberanian Megawati kala itu bisa jadi membuka peluang bagi perempuan lain untuk bisa menjadi pemimpin layaknya beliau.

 

Sejarah baru untuk Indonesia. Megawati menjadi presiden perempuan Indonesia.

Rasanya Megawati tidak perlu menunggu lima tahun untuk memperoleh kesempatan menjadi presiden. Gus Dur kala itu sedang tidak mendapat dukungan penuh lantaran dekrit pembubaran DPR yang dibuat beliau. Saat Gus Dur lengser 23 Juli 2001, Megawati pun naik menjadi presiden menggantikan posisi beliau. Indonesia kembali menorehkan sejarah baru ketika seorang perempuan bisa menjadi presiden. Megawati adalah perempuan pertama Indonesia yang bisa memimpin bangsa ini. Sosok Megawati menjadi bukti bahwa perempuan pun bisa menjadi pemimpin.

Megawati segera membentuk kabinet baru yang bernama Kabinet Gotong Royong. Pemilihan nama ini berdasarkan pertimbangan bahwa banyak partai yang berasal dari kabinet tersebut yang bersama membangun Indonesia. Megawati mengawali kepemimpinan Indonesia dengan beberapa masalah, antara lain banyak konflik daerah (Ambon, Poso, Sampang) dan konflik politik akibat lengsernya Gus Dur. Meski begitu, beberapa perubahan juga pernah dilakukan di masa kepemimpinan Megawati.

 

Perubahan di era kepemimpinan Megawati

Di bidang ekonomi, Megawati berhasil menaikkan pendapatan per kapita dan kurs rupiah juga sempat semakin membaik. Selain itu, kinerja ekspor dan impor naik cukup signifikan. Sebuah kebijakan privatisasi BUMN sempat Megawati laksanakan yang mana dalam kebijakan tesebut Megawati menjual perusahaan negara dengan tujuan melindungi perusahaan dari intervensi politik dan mengurangi beban negara. Hasilnya, pertumbuhan ekonomi Indonesia menjadi 4,1%.

Kiprah Megawati juga berlanjut di bidang sosial dan pendidikan. Departemen Pendidikan Nasional kala itu merekrut guru-guru untuk ditempatkan di daerah konflik Aceh. Di era Megawati pula, nama Daerah Istimewa Aceh berubah menjadi Nangroe Aceh Darussalam. Niat kuat Megawati untuk mempertahanka Aceh ditunjukkan dengan memberi pendidikan yang baik bagi anak-anak daerah konflik. Meski begitu, Indonesia sempat kehilangan Pulau Sipadan dan Ligitan yang masuk ke wilayah Malaysia di era Megawati.

Dua perubahan besar sempat Megawati buat. Pertama adalah pembentukan Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK). KPK ini dibuat karena Megawati kala itu melihat institusi jaksa dan polri yang terlalu kotor. Hanya saja, di masa kepemimpinan Megawati, KPK belum bekerja secara efektif. Perubahan besar kedua adalah memutuskan untuk melaksanakan Pemilu dua periode, yaitu pemilu legislatif dan pemilihan presiden langsung. Keterbukaan Megawati akan demokrasi sangat tampak di kebijakan ini. Untuk pertama kalinya sepanjang sejarah kemerdekaan Indonesia, rakyat Indonesia bisa memilih presiden secara langsung.

Peran Megawati dalam perkembangan Indonesia tidak bisa diabaikan. Meski ada pihak yang memandang Pemilu dua periode merupakan pemborosan, hal tersebut justru menjadi bukti bahwa demokrasi di Indonesia benar-benar terwujud.

 

Gagal terpilih lagi menjadi presiden, Megawati justru mencetak kader-kader pemimpin luar biasa

Inisiatif menyelenggarakan pemilihan presiden langsung ternyata tidak membawa Megawati kembali menjadi presiden di periode selanjutnya. Beliau kalah dari Susilo Bambang Yudhoyno yang merupakan mantan menteri koordinator di era pemerintahan Megawati. Susilo Bambang Yudhoyono pun resmi menjadi presiden Indonesia pada tahun 2004.

Meski tak lagi menjadi presiden, semangat Megawati untuk berjuang tidak berhenti. Beliau masih menjabat sebagai ketua umu PDI Perjuangan hingga sekarang. Tercatat beliau sukses menciptakan kader-kader PDI Perjuangan yang sukses menjadi bupati, walikota, gubernur, hingga presiden. Joko Widodo merupakan salah satu kader PDI Perjuangan yang dibilang sukses. Berawal dari walikota Solo, Joko Widodo berhasil menjadi gubernur DKI Jakarta bersama Basuki Tjahaja Purnama. Tak hanya sampai di situ, PDI Perjuangan kemudian mengusung Joko Widodo dan Jusuf Kalla sebagai pasangan capres dan cawapres pada pemilihan presiden tahun 2014. Pasangan tersebut pun sukses memenangi pemilihan presiden langsung.

Inilah bukti bahwa sikap perjuangan, kerja keras, keteguhan, serta gotong royong yang selalu dibawa Megawati mampu memberikan kontribusi buat bangsa ini. Inilah putri Soekarno yang tangguh dan mampu mewakili karakter perempuan untuk era sekarang.

 

Dari Megawati, kamu bisa belajar untuk menjadi pribadi yang pantang menyerah. Perjuangan memang tidak akan memberi hasil yang instan. Jangan pernah mengganggap dirimu tidak bisa melakukan banyak hal hanya karena kamu perempuan. Megawati membuktikkan bahwa perempuan pun layak untuk menjadi seorang pemimpin. Ya, Megawati adalah sosok perempuan tangguh yang dimiliki Indonesia.

Abdurrahman Wahid, Figur “Anak Pesantren” yang Bisa Jadi Presiden

Kamu ingat kata-kata “gitu aja kok repot”? Ya, kata-kata unik dan penuh sindiran tersebut pernah dilontarkan oleh satu presiden Indonesia, yaitu Abdurrahman Wahid. Abdurrahman Wahid, atau yang lebih dikenal dengan nama Gus Dur, menjadi salah satu presiden paling “unik” yang dimiliki Indonesia. Meski tidak terlalu lama menjabat presiden Indonesia, beliau melakukan perubahan yang cukup besar di masa reformasi pasca runtuhnya rezim Soeharto. Sosok “anak pesantren” ini bahkan juga begitu dihargai hingga ke luar negeri. Penasaran ingin lebih dekat dengan Gus Dur? Yuk, simak kisah perjalanan hidupnya, mulai dari sebagai anak pesantren hingga menjadi presiden Indonesia!

  

Masa kecil Gus Dur yang erat dengan dunia pesantren

Abdurrahman Wahid alias Gus Dur lahir di Jombang pada tanggal 7 September 1940. Gus Dur lahir dari keluarga yang terhormat dalam komunitas Muslim di Jawa Timur. Kakek dari ayahnya adalah K.H. Hasyim Asyari, yang merupakan pendiri Nahdlatul Ulama (NU). Sementara ayah Gus Dur, K.H. Wahid Hasyim, pernah menjabat sebagai menteri agama pada tahun 1949. Tak heran jika pada akhirnya Gus Dur tumbuh dengan ajaran Muslim yang begitu kental.

Gus Dur pindah ke Jakarta pada tahun 1944 saat sang ayah terpilih menjadi ketua Partai Masyumi. Sempat kembali lagi ke Jombang, akhirnya Gus Dur kembali mengikuti sang ayah ketika beliau terpilih menjadi menteri agama. Semasa di Jakarta itu, Gus Dur diberi banyak bacaan oleh K.H. Wahid Hasyim, antara lain koran, majalah, hingga buku non-Muslim. Bacaan-bacaan tersebut diberikan kepada Gus Dur agar bisa memperluas pengetahuan. Setelah K.H. Wahid Hasyim meninggal pada tahun 1953, sang ibu mengirimkan Gus Dur ke Yogyakarta untuk meneruskan pendidikan di Pondok Pesantren Krapyak sekaligus belajar di SMP. Gus Dur kemudian pergi ke Magelang pada tahun 1957 untuk menempuh pendidikan di Pesantren Tegalrejo. Kemudian, Gus Dur kembali ke Jombang, tepatnya ke Pesantren Tambakberas untuk melanjutkan pendidikan sekaligus bekerja sebagai guru.

 

Anak pesantren yang memilih melanjutkan pendidikan di luar negeri

Meski tumbuh besar di lingkungan pesantren, hal tersebut tak membuat Gus Dur berhenti belajar. Gus Dur menerima beasiswa dari Kementrian Agama pada tahun 1963 dan melanjutkan studi Islam di Universitas Al Azhar, Mesir. Gus Dur juga aktif menjadi jurnalis dalam Asosiasi Pelajar Indonesia. Tak hanya itu, Gus Dur dipekerjakan di Kedutaan Besar Indonesia. Beliau sempat diperintahkan melakukan investigasi terhadap pelajar universitas dan memberikan laporan kedudukan politik mereka pasca kejadian G30S/PKI.

Kesibukan di luar kegiatan belajar serta kondisi negara Indonesia yang sedang tidak menentu membuat Gus Dur sulit berkonsentrasi pada pendidikan beliau. Gus Dur dinyatakan gagal dan harus mengulang belajar. Untung saja ada beasiswa di Universitas Baghdad yang menyelamatkan nasib pendidikan beliau. Gus Dur belajar dari kesalahan sebelumnya dan akhirnya mampu menyelesaikan pendidikan pada tahun 1970.

 

Aktivitas selepas lulus dari luar negeri

Sekembalinya di Jakarta, Gus Dur bergabung ke Lembaga Penelitian, Pendidikan dan Penerangan Ekonomi dan Sosial (LP3ES), organisasi yang terdiri dari kaum intelektual muslim progresif dan sosial demokrat. Gus Dur kembali aktif menjadi kontributor di majalah bernama Prisma. Sempat ingin kembali bersekolah di luar negeri, akhirnya Gus Dur mengurungkan niatnya karena ingin fokus membangun pesantren di Indonesia. Kondisi pesantren yang makin memprihatinkan membuat Gus Dur ingin lebih lama berada di Indonesia.

Satu-satunya pekerjaan yang saat itu Gus Dur andalkan adalah menjadi seorang jurnalis. Beliau juga sering mendapatkan undangan untuk menghadiri seminar. Hanya saja pekerjaan jurnalis dirasa sulit untuk memenuhi kebutuhan hidup. Maka, Gus Dur pun mengajar di Pesantren Tambakberas dan guru kitab Al Hikam untuk menambah penghasilan. Lulusan dari universitas luar negeri dan memiliki kecerdasan di luar orang rata-rata tampaknya tak membuat Gus Dur lupa diri. Bahkan, pekerjaan beliau pun masih sangat erat hubungannya dengan masyarakat. Apalagi beliau memiliki cita-cita mulia untuk memperbaiki kondisi pesantren Indonesia.

 

Sempat berkali-kali menolak, akhirnya Gus Dur terlibat di dalam Nahdlatul Ulama

Saking ingin fokusnya ke pesantren, Gus Dur memang berkali-kali menolak ajakan kakeknya untuk bergabung di Nahdlatul Ulama (NU). Namun, akhirnya Gus Dur menerima tawaran ini dan memutuskan untuk pindah dari Jombang ke Jakarta. Kondisi NU yang saat itu tengah stagnan membuat Gus Dur membentuk Tim Tujuh guna mengerjakan isu reformasi dan mengihupkan kembali NU. Saat Soeharto terpilih kembali sebagai presiden untuk keempat kalinya di tahun 1983, Gus Dur bersama Tim Tujuh ditugaskan untuk menyiapkan respon NU. Soeharto menetapkan Pancasila sebagai ideologi negara dan hal itu dipandang baik oleh Gus Dur sehingga NU pun menerima ideologi tersebut.

Gus Dur terpilih menjadi ketua NU pada tahun 1984 dan kemudian menjadi anggota MPR Golkar. Saat itu tampak Gus Dur banyak memberi dukungan pada rezim pemerintahan. Meski begitu, Gus Dur juga sempat mengkritik pemerintah perihal pembangunan Waduk Kedungombo yang didanai Bank Dunia.

Gus Dur kembali terpilih menjadi ketua NU di tahun 1989. Kala itu, Gus Dur menolak ajakan Soeharto untuk bergabung dalam Ikatan Cendekiawan Muslim Indonesia (ICMI) yang merupakan organisasi bentukan Soeharto untuk menarik simpati Muslim akibat keterlibatannya dalam pertempuran politik denga ABRI. Bahkan, Gus Dur justru membentuk Forum Demokrasi yang terdiri dari berbagai intelektual dari komunitas religius dan sosial. Organisasi ini jelas tidak disetujui oleh pemerintah sehingga pemerintah pun menghentikan pertemuan yang diadakan Forum Demokrasi jelang Pemilu 1992.

Pada tahun 1994, Soeharto berusaha menghalangi terpilihnya kembali Gus Dur sebagai ketua NU. Namun, pada akhirnya Gus Dur justru kembali terpilih. Bahkan, Gus Dur bergabung bersama tokoh yang mengkritisi kebijakan pemerintahan Soeharto, antara lain Megawati Soekarnoputri dan Amien Rais pada tahun 1996. Kondisi kesehatan Gus Dur yang sempat memburuk di tahun 1998 membuat beliau tidak bisa ikut berjuang penuh di masa reformasi hingga akhirnya Soeharto mengundurkan diri pada Mei 1998.

Sekilas, sosok Gus Dur tampak mudah berubah. Sempat mendukung Soeharto, justru di kemudian hari menjadi melawan Soeharto. Pada dasarnya, Gus Dur hanya memiliki pendirian bahwa yang baik harus diikuti, yang tidak baik harus dilawan. Oleh sebab itu, ketika rezim Soeharto mulai menunjukkan tanda-tanda tidak sehat, Gus Dur pun berupaya untuk melakukan perlawanan.

 

Pembentukan PKB dan keterlibatan Gus Dur dalam dunia politik

Setelah jatuhnya rezim Soeharto, banyak partai baru mulai bermunculan. Gus Dur sempat diminta orang-orang NU untuk membuat sebuah partai. Pada Juli 1998, Gus Dur menyetujui pembentukan Partai Kebangkitan Bangsa (PKB). Meski didominasi oleh anggota NU, PKB sangat terbuka untuk semua orang yang ingin bergabung. Gus Dur bersama Megawati, Amien, dan Sultan Hamengkubowono X kembali menyatakan komitmen untuk reformasi pada November 1998. Akhirnya, pada tahun 1999, PKB resmi menyatakan Gus Dur sebagai kandidat pemilihan presiden. Berpolitik menjadi salah satu pilihan Gus Dur untuk melanjutkan perjuangan reformasi.

 

Gus Dur menjadi presiden pertama Indonesia yang berasal dari pesantren

PKB memenangkan 12% suara dalam Pemilu legislatif 1999. PDIP yang kala itu memperoleh 33% suara diperkirakan bisa membawa Megawati memenangkan pemilihan presiden pada sidang umum MPR. PDIP yang tidak memiliki kursi mayoritas penuh membuatnya harus beraliansi dengan PKB. Amien Rais pun membuat koalisi partai-partai Muslim dan mengusulkan Gus Dur sebagai kandidat pemilihan presiden.

Sidang MPR menolak pidato pertanggungjawaban Habibie pada Oktober 1999 dan membuat Habibie mundur dari jabatan presiden. MPR kembali kembali berkumpul untuk memilih presiden baru dan Gus Dur pun terpilih dengan 373 suara, unggul 20 suara dari Megawati Soekarnoputri. Megawati pun akhirnya terpilih menjadi wakil presiden mendampingi Gus Dur.

Setelah sebelumnya presiden Indonesia sempat berasal dari kaum cendekiawan dan militer, untuk pertama kalinya seorang anak pesantren berhasil menjadi presiden Indonesia. Meski berasal dari lingkungan pesantren, ternyata pola pikir Gus Dur yang terbuka mampu membawa beliau menjadi salah satu tokoh politik terbaik yang dimiliki Indonesia.

 

Keunikan Gus Dur selama menjabat sebagai presiden Indonesia

Semasa pemerintahan Gus Dur, banyak perubahan besar yang dianggap “nyentrik”. Pertama, beliau membubarkan Departemen Penerangan yang merupakan senjata rezim Soeharto serta Departemen Sosial yang dianggap korup. Kedua, Gus Dur melakukan pendekatan lembut pada Aceh dan Irian Jaya yang kala itu hendak memisahkan diri dari Indonesia. Ketiga, Gus Dur juga dikenal suka memecat menteri. Dua menteri yang dipecat kala itu adalah Jusuf Kalla (Menteri Negara Perindustrian dan Perdagangan) dan Laksamana Sukardi (Menteri Negara BUMN), keduanya dipecat dengan alasan dugaan kasus korupsi. Keempat, Gus Dur menjadi presiden pertama yang menjadikan Tahun Baru Imlek menjadi hari libur nasional. Umat Konghucu pun diperkenankan untuk beribadah di era Gus Dur.

Selain itu, Gus Dur dikenal sebagai presiden yang ceplas-ceplos dalam berbicara. Slogan “Gitu saja kok repot” seolah menjadi ciri khas yang tidak bisa lepas dari Gus Dur. Ketika beliau tidak menyukai sesuatu, beliau akan dengan tegas menunjukkannya. Tak heran jika sifat beliau yang apa adanya tersebut membuat Gus Dur kurang disukai oleh banyak pihak, bahkan oleh kalangan menteri sendiri. Mungkin sosok Gus Dur menjadi salah satu cerminan Indonesia yang memiliki banyak keragaman. Dalam kondisi tertentu, tidak semua pendapat harus sama. Gus Dur yang gemar mengeluarkan pendapat dengan keras rasanya belum siap diterima oleh sebagian masyarakat Indonesia.

 

Isu-isu buruk mulai muncul hingga akhirnya Gus Dur pun diturunkan dari jabatan presiden

Gus Dur sempat tersandung isu skandal yang diduga melibatkan beliau, yaitu skandal buloggate dan skandal bruneigate. Pada dua kasus tersebut, Gus Dur dituduh menyimpan uang untuk kepentingan dirinya sendiri. Isu inilah yang pada akhirnya menjadi salah satu senjata untuk menurunkan beliau dari jabatan sebagai presiden Indonesia.

Selain kedua isu tersebut, alasan kuat yang membuat Gus Dur harus segera dilengserkan adalah dikeluarkannya dekrit pembubaran DPR. Isi dekrit tersebut adalah: 1) Membubarkan MPR/DPR, 2) Mengembalikan kedaulatan ke tangan rakyat dengan mempercepat Pemilu satu tahun, dan 3) Membekukan Partai Golkar sebagai bentuk perlawanan terhadap sidang istimewa MPR. Namun, dekrit tersebut tidak mendapat dukungan sama sekali. Pada 23 Juli 2001, Gus Dur pun resmi dilengserkan dan diganti oleh Megawati Soekarnoputri.

Dekrit yang dikeluarkan Gus Dur memang agak kontroversial. Namun, coba kamu renungkan sejenak. Saat itu Gus Dur sering sekali menyindir kinerja anggota MPR dengan kalimat “Anggota MPR seperti anak TK”. Jika melihat kelakuan para wakil rakyat yang sering ketiduran saat sedang ada rapat atau sidang, mungkinkah sindiran Gus Dur tersebut ada benarnya? Anggap saja dekrit presiden yang sempat Gus Dur keluarkan sebagai pegingat para wakil rakyat agar bisa bekerja lebih baik ya.

 

Berbagai penghargaan yang berhasil diperoleh Gus Dur

Pasca pensiun, Gus Dur tetap aktif di PKB. Meski sempat terjadi perpecahan di tubuh PKB, Gus Dur kembali terpilih menjadi Ketua Dewan Penasihat PKB dan Alwi Shihab sebagai Ketua PKB. Gus Dur juga sempat mengajukan diri kembali menjadi presiden di Pemilu Presiden tahun 2004. Namun, beliau gagal karena tidak bisa lolos pemeriksaan medis. Pada Agustus 2005, Gus Dur memimpin Koalisi Nusantara Bangkit Bersatu yang mengkritik kebijakan pemerintahan Susilo Bambang Yudhoyono perihal pencabutan subsidi BBM. Tokoh yang bersama Gus Dur dalam koalisi tersebut adalah Try Sutrisno, Wiranto, Akbar Tanjung, dan Megawati.

Gus Dur meninggal pada 30 Desember 2009 karena komplikasi penyakit yang beliau derita. Beberapa penghargaan sempat beliau peroleh, antara lain Tasrif Award-AJI sebagai Pejuang Kebebasan Pers 2006, dinobatkan sebagai “Bapak Tionghoa” oleh Tokoh Tionghoa Semarang, penghargaan dari Simon Wiesenthal Center atas kepedulian Gus Dur pada penegakan HAM, dan penghargaan lainnya. Beberapa gelar doktor kehormatan juga beliau dapat dari berbagai universitas dunia.

 

Gus Dur adalah salah satu tokoh unik yang dimiliki Indonesia. Beberapa tokoh pun mengenang beliau sebagai sosok yang jujur dan apa adanya, meski perkataan beliau terdengar menyakitkan. Keterbukaan beliau pada beragam perbedaan telah membuka mata banyak orang Indonesia sehingga bisa menerima perbedaan-perbedaan tersebut seperti sekarang. Meski banyak yang kurang menyukai Gus Dur saat menjadi presiden, sosok beliau begitu dikenang sebagai selah satu presiden terbaik yang pernah dimiliki Indonesia.

B. J. Habibie, Teknokrat yang menjelma menjadi Presiden

Tokoh yang satu ini akan selalu melekat di hati bangsa Indonesia. Sebagai insinyur dan ilmuwan, Bacharuddin Jusuf Habibie (B.J. Habibie) memang dianggap mewakili atau merepresentasikan sosok cerdas yang patut dicontoh. Sumbangsihnya terhadap negeri ini telah membuka pandangan banyak orang bahwa orang Indonesia juga mampu berkiprah untuk dunia. Lalu seperti apakah kisah pria yang juga pernah menjadi Presiden RI ke-3 ini? Berikut kisahnya.

Habibie Masa Kecil dan Remaja

Bacharuddin Jusuf Habibie lahir di Parepare, 25 Juni 1936 dari pasangan Alwi Abdul Jalil Habibie beretnis Gorontalo dan R.A. Tuti Marini Puspowardojo yang merupakan suku Jawa. Dari delapan bersaudara, Habibie adalah anak keempat. Kecerdasan Habibie sudah terlihat sejak masih duduk dibangku sekolah dasar. Hal ini dikarenakan Habibie yang gemar membaca. Membaca memang merupakan kegiatan yang akan memberikan banyak manfaat, terutama mendapatkan banyak pengetahuan yang bernilai. Selain membaca, kegemaran Habibie yang lain adalah menungang kuda. Dalam hal pelajaran, Habibie yang pernah bersekolah di SMAK Dago, Bandung sangat menyukai bidang studi fisika. Saat usianya masih 13 tahun, Habibie sudah ditinggal ayahnya yang meninggal dunia karena serangan jantung. Sepeninggal ayahnya, ibunya mengambil alih peran ayahnya mencari penghasilan dan pindah serta tinggal di Bandung bersama Habibie.

Kuliah di  ITB dan di Jerman

Selepas SMA, pada tahun 1954, Habibie meneruskan pendidikan perguruan tingginya di Institut Teknologi Bandung fakultas Teknik Mesin. Di ITB, Habibie tidak lama karena dirinya mendapatkan beasiswa di Rhenisch Wesfalische Tehnische Hochscule (RWTH), Aachen, Jerman dari Menteri Pendidikan dan Kebudayaan.

Saat itu pemerintah di era kepemimpinan Soekarno memang gencar memberikan beasiswa pada siswa-siswa dan mahasiswa yang cerdas. Presiden Soekarno sendiri saat itu mengingatkan akan pentingnya Teknologi Maritim dan Teknologi Dirgantara sebagai teknologi yang berwawasan nasional. Untuk mewujudkan impian Soekarno, di Rhenisch Wesfalische Tehnische Hochscule (RWTH), Aachen, Jerman tersebut Habibie memilih jurusan Teknik Penerbangan dengan spesialisasi Konstruksi pesawat terbang.

Habibie sendiri dari jurusan yang dipilihnya ingin membangun industri pesawat komersil bagi bangsa Indonesia. Dari sinilah muncul cikal bakal perusahaan-perusahaan strategi seperti IPTN. Dengan bantuan beasiswa hampir 100% yang didapatkan sejak tahun 1955, Habibie menyelesaikan kuliahnya hingga mendapat gelar doktor di Jerman dalam waktu 10 tahun. Setelah menyelesaikan perkuliahan tersebut, Habibie berhasil meraih 2 gelar sekaligus yakni Diplom Ingenieur pada tahun 1960 serta Doktor Ingenieur pada tahun 1965 dengan predikat summa cum laude. Dengan impian maka semuanya akan bisa diraih bila dikerjakan dengan sungguh-sungguh.

Menikah dan Bekerja Keras

Pada 12 Mei 1962, Habibie menikah dengan Hasri Ainun Besari. Dari pernikahannya tersebut, Habibie dua orang putra yakni Ilham Akbar Habibie dan Thareq Kemal Habibie. Untuk melanjutkan pendidikan doktoralnya, Habibie dan istri serta keluarganya yang tinggal di Jerman harus bekerja keras. Bahkan begitu kerasnya kehidupan di Jerman membuat istrinya ketika mencuci baju harus mengantri di tempat pencucian umum supaya dapat menghemat pengeluaran. Untuk menghemat pengeluaran, Habibie juga harus berjalan kaki cepat ke tempat kerjanya pada pagi-pagi hari sekali serta pulang malam dan belajar untuk kuliah doktoralnya. Tapi dari kerja kerasnya tersebut pada tahun 1965 Habibie berhasil meraih gelar Dr. Ingenieur dengan penilaian summa cumlaude dari Technische Hochschule Die Facultaet Fuer Maschinenwesen Aachen. Untuk mencapai kesuksesan memang akan ada hambatan dan rintangan yang menghadang. Tapi dengan semangat pantang menyerah seperti yang diperlihatkan Habibie maka semua rintangan akan bisa diatasi.

Pasca Pendidikan Doktoral

Setelah menyelesaikan pendidikan doktoralnya, Habibie pda tahun 1965 hingga 1969 bekerja di Messerschmitt-Bölkow-Blohm (MBB) yang merupakan perusahaan penerbangan yang berpusat di Hamburg, Jerman. Di perusahaan tersebut Habibie menjabat sebagai Kepala Penelitian dan Pengembangan pada Analisis Struktrur Pesawat Terbang. Pada tahun 1969 sampai 1973, Habibie menjabat Kepala Divisi Metode dan Teknologi pada  industri pesawat terbang komersial dan militer. Pasca menyelesaikan pendidikan doktoralnya, Habibie banyak mendapatkan penghargaan. Salah satu penghargaan paling mengesankan adalah diangkatnya dirinya sebagai Profesor kehormatan (Guru Besar) pada Institut Teknologi Bandung di tahun 1967. Di luar negeri penghargaan paling membanggakan bagi Habibie adalah Edward Warner Award dan Award von Karman yang hampir setara dengan penobatan Nobel.

Kembali ke Indonesia dan Mendirikan IPTN

B.J Habibie Kembali Ke Indonesia memenuhi panggilan Presiden Soeharto untuk membangun industri strategis pesawat terbang (IPTN). IPTN yang semula berarti Industri Pesawat Terbang Nurtanio dan berubah menjadi Industi Pesawat Terbang Nusantara dipimpin oleh Habibie dengan proyek membuat pesawat kebanggan bangsa. Hingga kemudian di tahun 1995, Habibie berhasil membuat pesawat N250 Gatot Kaca yang merupakan pesawat buatan Indonesia yang pertama dan satu-satunya pesawat turboprop di dunia yang menggunakan teknologi ‘Fly by Wire’. Sayangnya karena krisis moneter tahun 1996-1998, IPTN yang sedang berjaya saat itu harus ditutup. Hal lain yang memebuat IPTN ditutup adalah karena adalah Indonesia menerima bantuan keuangan dari IMF (International Monetary Fund). Saat IPTN ditutup maka banyak tenaga ahli Indonesia yang menyebar ke beberapa industri pesawat di luar negeri sepeti Amerika, Kanada, Brazil dan negara-negara di Eropa.

Menjadi Presiden Republik Indonesia

Habibie sendiri setelah IPTN ditutup menjabat sebagai Menteri Riset dan Teknologi (Menristek). Pada tanggal 14 Maret 1998, dalam kabinet Pembangunan VII, Habibie diangkat menjadi Wakil Presiden Republik Indonesia mendampingi Soeharto. Gejolak politik dan reformasi yang hebat membuat Soeharto lengser pada 21 Mei 1998 dan membuat Habibie menggantikan Soeharto sebagai Presiden RI ke-3. Sayangnya Habibie hanya mampu menjadi presiden hingga hingga 20 Oktober 1999 saja. Banyaknya masalah warisan oder baru dan termasuk salah satunya lepas Timor-Timur membuat Habibie harus lengser dan digantikan oleh Presiden Abdurrahman Wahid (Gus Dur).

Meskipun masa kepemimpinannya termasuk singkat, namun kiprah dan sumbangsihnya kepada Negeri tercinta tak bisa dilupakan begitu saja. Dengan impiannya membangun pesawat buatan Indonesia dan membangun industri penerbangan nasional menjadikan Habibie sebagai salah seorang ilmuwan sekaligus Anak Bangsa yang patut diapresiasi.

Soeharto, Kisah “Anak Desa” yang Bisa Menjadi Presiden Indonesia

Setelah era kepemimpinan Soekarno berakhir, Soeharto muncul sebagai sosok presiden kedua Indonesia. Berbeda dengan Soekarno, Soeharto hadir sebagai pemimpin dengan latar belakang militer. Sepanjang sejarah Indonesia, beliau menjadi satu-satunya presiden yang paling lama memimpin bangsa ini, yakni 32 tahun. Hal itulah yang membuat Soeharto menjadi sosok yang tidak mudah dilupakan oleh masyarakat Indonesia.

 

Dugaan korupsi sempat menjadi penutup cerita kepemimpinan beliau di Indonesia. Hingga sekarang, sosok Soeharto masih jadi perdebatan. Beberapa pihak menilai Soeharto menjadi bagian kelam sejarah bangsa ini, sementara sebagian yang lain memandang Soeharto sebagai salah satu sosok penting dalam pertumbuhan Indonesia. Menurut kamu, mana yang benar?

 

Terlepas dari semua berita kurang baik tentang Soeharto, pasti tetap ada sisi lain yang bisa kamu pelajari dari beliau. Bagaimana pun juga, kamu mungkin sempat merasakan dipimpin oleh mantan presiden ini. Simak dulu yuk, beberapa kisah perjalanan Soeharto berikut ini!

 

Hidup di desa dan tidak bisa meneruskan pendidikan

Soeharto lahir di Bantul pada tanggal 8 Juni 1921. Saat hidup di Wuryantoro, Soeharto memiliki kegemaran bertani. Soeharto yang kala itu duduk di Sekolah Rakyat (setara dengan SD saat ini) belajar bertani dari sang paman. Saat SMP, Soeharto kembali ke Yogyakarta dan bersekolah di SMP Muhammadiyah. Alasan Soeharto bersekolah di situ adalah karena di situlah beliau bisa bersekolah hanya dengan menggunakan sarung tanpa perlu memakai alas kaki. Namun, keterbatasan biaya membuat Soeharto gagal melanjutkan sekolah selepas tamat SMP. Apa daya, beliau pun kembali ke Wuryantoro dan diterima bekerja sebagai pembantu klerek sebuah bank desa.

Jika dibandingkan dengan Soekarno, tentu kehidupan masa kecil Soeharto jauh lebih susah. Beberapa anak seusia Soeharto mungkin akrab dengan buku sejak muda. Namun, Soeharto kebalikannya. Hidup di desa dan akrbab dengan bertani, siapa sangka sosok besar seperti Soeharto harus berawal dari kehidupan yang tidak mudah?

 

Militer menjadi awal dari perubahan kehidupan Soeharto

Awal karir militer Soeharto dimulai saat beliau diterima di Koninklijk Nederlands Indisce Leger (KNIL) alias tentara kerajaan Belanda. Karier beliau di militer pun cukup naik pesat. Beberapa posisi yang pernah Soeharto emban antara lain sersan tentara KNIL, komando peleton, komandan kompi PETA, komandan resimen dengan pangkat mayor, hingga batalyon dengan pangkat letnan kolonel.

Menilik kisah masa kecilnya yang tidak mudah, kesuksesan karier militer yang dimiliki Soeharto tentu berasal dari kerja keras yang dimilikinya. Jika saja Soeharto memilih menyerah pada nasibnya saat masih muda, mungkin beliau tidak akan pernah menjadi salah satu sosok besar Indonesia. Apakah kamu juga pernah berada di titik paling rendah dalam hidupmu? Sudahkah kamu tetap berjuang untuk hidupmu seperti Soeharto?

 

Kegigihannya di dunia militer membuatnya bisa menjadi presiden Indonesia

Soeharto juga berperan dalam serangan umum yang dilakukan di Yogyakarta pada tahun 1949. Tak lama setelah itu, pangkat Soeharto pun naik menjadi kolonel. Kariernya makin cemerlang saat tahun 1962 diangkat sebagai mayor jenderal dan menjadi Panglima Komando Mandala Pembebasan Irian Barat. Puncaknya, Soeharto kemudian dilantik menjadi Menteri Panglima Angkatan Darat. Inilah momen awal sebelum Soeharto menjadi presiden.

Sejak terpilih menjadi presiden pada tahun 1967 menggantikan Soekarno, terjadi perubahan gaya kepemimpinan di Indonesia. Jika sebelumnya Indonesia memiliki Soekarno yang selalu memiliki semangat berkobar, maka Soeharto hadir dengan ciri khas kedisiplinan yang tinggi. Background militer yang dimiliki membuat Soeharto terkenal tegas dalam peraturan yang dibuatnya. Misalnya, berpendapat di masa Orde Baru tentu tak sebebas sekarang. Media massa banyak yang di bawah pengawasan pemerintah. Sekilas, kamu akan melihat kediktatoran seorang Soeharto di masanya. Namun, coba deh direnungkan sejenak. Di era Soeharto, tidak banyak hoax atau komentar negatif yang belakangan ini justru muncul di era millennials ini. Itu karena semuanya terkontrol. Pertanyaannya, apakah kebebasan berpendapat yang kita miliki sekarang sudah digunakan sebaik-baiknya dengan bertanggung jawab? Apa iya kita butuh sosok diktator Soeharto kembali untuk membuat para netizen bisa “lebih tertib” berpendapat?

Jika disimak, Soeharto mungkin tidak bisa menjadi presiden Indonesia andai kala itu beliau kala itu memilih untuk pasrah menjadi seorang pembantu klerek. Beliau gigih memperbaiki kehidupan agar bisa keluar dari kemiskinan. Ketekunan beliau di dunia militer pulalah yang membawanya menjadi presiden Indonesia. Sekarang kamu tahu bahwa tidak ada hal yang mudah di dunia ini. Semua membutuhkan proses dan perjuangan yang panjang.

 

Selama menjabat presiden, Repelita menjadi program Soeharto yang paling dikenang

Kalau kamu masih ingat, di masa Soeharto erat sekali dengan Program Pembangunan Lima Tahun atau disingkat Repelita. Dampak Repelita saat itu begitu mengagumkan, terutama untuk perekonomian Indonesia. Kondisi negara yang sedang goyah membuat Soeharto harus mengembalikannya ke posisi yang lebih baik. Bukan dengan cara instan, Soeharto memilih membangun Indonesia secara bertahap. Tiap Repelita memiliki tujuan yang berbeda-beda. Pada Repelita I, Soeharto menitikberatkan pada sektor pertanian yang dianggap menjadi sumber kebutuhan pokok rakyat.

Pembangunan pulau-pulau di luar Jawa menjadi tujuan di Repelita II. Tujuannya agar pertumbuhan ekonomi bisa merata di Indonesia. Salah satu program yang sukses kala itu ada transmigrasi. Pada Repelita III, Soeharto menekankan industri padat karya untuk meningkatkan ekspor. Dengan berfokus pada industri padat karya, diharapkan akan terjadi pemerataan ekonomi bagi usaha kecil menengah. Kemudian, di Repelita IV, hal-hal perbaikan difokuskan pada pembuatan lapangan kerja baru dan industri. Terakhir, penekankan pada bidang transportasi, komunikasi, dan pendidikan dilakukan pada Repelita V.

Tentu tidak semua kebijakan di tiap-tiap Repelita bisa berjalan dengan baik, apalagi Indonesia juga pernah mengalami perekonomian yang buruk ketika laju inflasi sangat tinggi. Namun, kamu bisa belajar dari pola pikir Soeharto ini. Butuh rencana yang begitu matang untuk membangun sebuah negara. Tidak ada yang instan dalam sebuah perbaikan, bahkan tidak semua hal bisa diperbaiki bersama. Ada hikmah positif ketika Soeharto harus memimpin bangsa ini begitu lama. Soeharto mampu melaksanakan Repelita sesuai rencananya sedari awal menjabat presiden. Jika bercermin dengan kondisi Indonesia sekarang, mungkinkah sebuah rencana sebesar Repelita itu bisa dilaksanakan ketika pemimpinnya berganti-ganti?

 

Akhir dari kepemimpinan Soeharto dan peran Soeharto dalam pembangunan Indonesia

Tanggal 21 Mei 1998 menjadi akhir dari adidaya Soeharto. Soeharto resmi mengundurkan diri dari jabatan presiden setelah semakin banyaknya tuntutan banyak pihak, terutama mahasiswa, untuk mundur. Jabatan tersebut pun kemudian diserahkan kepada wakil presiden saat itu, B.J. Habibie.

Meski begitu banyak kontroversi selama hidupnya, setidaknya Soeharto juga pernah berjasa bagi Indonesia. Di masa Soeharto, Timor Timur dijadikannya provinsi ke-27 di Indonesia. Program Keluarga Berencana (KB) dengan semboyan “Dua Anak Cukup” juga merupakan ide Soeharto dalam mengendalikan ledakan penduduk di Indonesia. Selain itu, di era Soeharto lah muncul program Wajib Belajar Sembilan Tahun (WAJAR). Hal ini dilakukan untuk mendorong kesadaran masyarakat akan pentingnya pendidikan. Pengalaman putus sekolahnya dulu bisa jadi menjadi dasar Soeharto mencanangkan program ini.

Nah, coba direnungkan kembali. Tanpa Soeharto, mungkin perkembangan Indonesia juga tidak akan sampai di titik sekarang ini. Dalam rentang waktu 32 tahun kemimpinannya, tentu banyak juga hal yang beliau sumbangkan buat Indonesia. Bayangkan jika dulu tidak ada program wajib belajar, adakah orang Indonesia zaman sekarang bisa melek dan peduli pentingnya pendidikan?

 

Bagaimana? Sudahkah lelah berdebat tentang sosok Soeharto? Ambillah sisi positif dari kehidupan Soeharto yang bisa kamu jadikan contoh. Rasanya setiap manusia di dunia ini diciptakan untuk tujuan tersendiri. Begitu pula dengan Soeharto. Berangkat dari seorang anak desa, ternyata kisah pahit semasa kecilnya dijadikan Tuhan untuk membuat Soeharto mengubah hidupnya menjadi lebih baik. Bukan hanya hidupnya, melainkan juga bangsa ini.

Soekarno, Sang “Arstitek” Kemerdekaan Indonesia

Saat belajar di bangku Sekolah Dasar, kamu tentu mengenal sosok yang jadi proklamator Indonesia. Begitu pula jika ditanya siapa presiden pertama Indonesia, pasti kamu akan dengan mudah menyebut nama Soekarno.

Kala itu, gambar Soekarno sedang membacakan teks proklamasi pun pasti banyak kamu temui di buku-buku sekolah. Yup, Soekarno merupakan sosok di balik kemerdekaan Indonesia. Sosoknya pun hingga sekarang masih dikenang oleh rakyat Indonesia. Namun, mungkin tak banyak yang tahu kisah perjalanan hidup Soekarno. Bukan hanya sebagai proklamator, ternyata ada sisi lain dari Soekarno yang bisa kamu pelajari.

Simak ringkasan perjalanan Soekarno berikut ini ya!

 

Akrab dengan organisasi sejak masih sangat muda

Tidak banyak yang tahu bahwa dulu Soekarno memiliki nama kecil “Kusno”. Namanya pun berubah menjadi “Soekarno” lantaran beliau sering sakit ketika masih anak-anak. Soekarno lahir di Surabaya pada tanggal 6 Juni 1901. Ayahnya bernama Raden Soekemi Sosrodihardjo, sedangkan ibunya bernama Ida Ayu Nyoman Rai.

Sejak masih remaja, Soekarno sudah menunjukkan minatnya pada dunia organisasi kepemudaan. Pada tahun 1915, Soekarno sering bertemu dengan para pemimpin Serikat Islam kala itu, antara lain Tjokroaminoto, Haji Agus Salim, dan Abdul Muis. Selain itu, Soekarno dikenal aktif dalam organisasi pemuda Tri Koro Dharmo yang kemudian berubah nama menjadi Jong Java. Kala itu, Soekarno masih berusia 15-17 tahun.

Bayangkan, sejak muda saja beliau sudah aktif di organisasi ya! Sikap cinta tanah air sudah beliau miliki sejak masih muda. Soekarno muda tentu tidak main-main ketika memilih aktif di organisasi sejak muda. Dari situlah muncul cita-cita kemerdekaan untuk Indonesia.

 

Soekarno merupakan salah satu arsitek hebat yang dimiliki Indonesia

Sekilas, mungkin kamu mengira kalau Soekarno adalah sosok politik sejati. Nyatanya, beliau pernah menempuh pendidikan sipil di Technische Hoogeschool te Bandoeng (sekarang bernama Institut Teknologi Bandung). Saat itu hanya ada tiga orang Jawa yang berhasil meraih gelar insinyur dan Soekarno adalah salah satunya. Ternyata, beberapa bangunan yang ada di ibukota merupakan sumbangan ide dari Soekarno yang kala itu menginginkan Jakarta sebagai pusat pemerintahan yang tertata apik seperti layaknya negara merdeka lainnya. Beberapa bangunan yang merupakan hasil pemikiran Soekarno antara lain Masjid Istiqlal, Monumen Monas, Hotel Indonesia, dan masih banyak lagi.

Dari Soekarno kamu belajar bahwa apapun pendidikanmu, jangan pernah jadikan alasan untuk tak bisa berbuat memberi sumbangsih untuk bangsa ini. Tengok deh, latar belakang pendidikan Soekarno yang jauh dari politik nyatanya bisa juga membawa dampak besar buat Indonesia.

 

Semangat yang tetap menyala meski berkali-kali diasingkan

Selain tergabung dalam Jong Java, Soekarno juga merupakan pendiri dari Partai Nasional Indonesia (PNI). Aktivitas Soekarno di PNI ternyata sempat membawanya diasingkan oleh Belanda di Sukamiskin. Di situ, Soekarno tidak menyerah. Bahkan, beliau dengan lantang membacakan pledoi berjudul Indonesia Menggugat ketika menjalani sidang. Selain menjalani pengasingan di Sukamiskin, Soekarno juga pernah diasingkan di Flores dan Bengkulu.

Hidup dalam penderitaan di pengasingan tak membuatnya menyerah. Bahkan, ketika harus berkali-kali diasingkan, beliau masih memiliki keyakinan pada kemerdekaan Indonesia. Kayaknya semangat beliau ini patut kamu tiru deh!

 

Tokoh proklamator sekaligus presiden pertama yang dimiliki Indonesia pasca kemerdekaan

Meski harus mengalami pengasingan berkali-kali, semangat Soekarno tak pernah padam. Soekarno kembali dari masa pengasingan saat Jepang menduduki Indonesia pada tahun 1942. Bersama tokon Indonesia lainnya, beliau berperan dalam usaha persiapan kemerdekaan Indonesia, antara lain merumuskan Pancasila, UUD 1945, serta teks proklamasi.

Peristiwa Rengas dengklok pada 16 Agustus 1945 menjadi awal gerbang kemerdekaan Indonesia. Saat itu Soekarno dibawa oleh sekelompok pemuda Indonesia yang mendesak untuk segera memproklamasikan kemerdekaan pasca kalahnya Jepang atas sekutu. Atas inisiatif para pemuda itulah akhirnya Soekarno memilih untuk tidak bergantung pada Jepang dalam memperoleh kemerdekaan Indonesia. Akhirnya, Soekarno pun membacakan teks proklamasi Indonesia pada tanggal 17 Agustus 1945 dan dipilih menjadi presiden pertama Indonesia.

Soekarno memang pernah berkali-kali berada dalam pengasingan. Hebatnya, mimpinya mewujudkan kemerdekaan Indonesia tidak hilang meski harus hidup menderita. Ada keyakinan dalam dirinya bahwa Indonesia pasti merdeka. Kemerdekaan yang kamu kecap sekarang tentu tak bisa lepas dari keyakinan dan kegigihan beliau sejak muda bukan?

 

Gaya kepemimpinan Soekarno yang tegas, berani, dan karismatik

Selama menjadi presiden Indonesia, Soekarno dikenal sebagai pemimpin yang selalu berpidato dengan semangat menyala-nyala. Sikap beliau mampu membangkitkan semangat nasionalisme rakyat Indonesia kala itu. Jiwa nasionalisme tampak dalam diri Soekarno selama menjabat sebagai presiden Indonesia. Sosoknya yang karismatik membuatnya disegani para pemimpin dunia lainnya. Tak heran jika beberapa negara Asia dan Afrika menjadikan Soekarno sebagai teladan kepemimpinan saat negara-negara tersebut berusaha melepaskan diri dari ketergantungan dari negara barat. Soekarno juga menjadi penggagas terlaksananya Konferensi Asia Afrika, yang mana dalam konferensi tersebut membahas masalah-masalah yang dialami negara Asia dan Afrika yang baru saja merdeka. Keprihatinan Soekarno akan nasib negara Asia dan Afrika tersebut lah yang mendorongnya membuat konferensi agar semua negara senasib dapat saling membantu dan menguatkan.

Hingga sekarang, gaya Soekarno dalam memimpin bisa menjadi panutan para leader. Sosok Soekarno yang patang menyerah, rela berkorban, serta berani bisa menginspirasimu untuk menjadi pemimpin yang baik.

 

Nama Soekarno yang diabadikan di Indonesia

Pada tanggal 21 Juni 1970, Soekarno menghembuskan napas terakhirnya akibat sakit yang dideritanya. Sebagai sosok yang berperan dalam kemerdekaan Indonesia, rasanya sangat pantas jika akhirnya nama Soekarno diabadikan di Indonesia. Stadion kebanggaan Indonesia, Stadion Gelora Bung Karno, mengambil nama beliau sebagai wujud penghormatan pada proklamator Indonesia. Yayasan Pendidikan Soekarno pun dibuat oleh putri beliau, Rachmawati Soekarnoputri. Pada akhirnya, yayasan tersebut mencetuskan ide untuk membuat universitas yang selaras dengan pemikiran yang diajarkan Soekarno sehingga lahirlah Universitas Bung Karno pada tahun 1999. Selain itu, didirikan pula Yayasan Bung Karno yang menyimpan benda-benda milik Soekarno yang berada di berbagai daerah di Indonesia.

Sosok yang memiliki peran penting untuk bangsa ini tentu akan selalu dikenang. Pengabadian nama Soekarno ini seolah megingatkan kamu untuk selalu memiliki semangat juang layaknya yang dimiliki Soekarno di sepanjang hayatnya. Kini, ketika kamu sudah hidup di masa kemerdekaan, adakah kontribusi positif yang bisa kamu berikan untuk Indonesia?

 

Dari kisah Soekarno, kamu bisa belajar tentang semangat juangnya yang sudah muncul sejak masih muda.

Kamu sendiri, apakah yakin sudah menjadi bagian generasi muda yang bisa memberi manfaat buat bangsa ini?