Tag Archives: Pengusaha Nasional

Chairul Tanjung, Lulusan Kedokteran Gigi yang Sukses Menjadi Pengusaha

Satu lagi sosok pengusaha yang cukup terkenal di Indonesia. Beliau adalah Chairul Tanjung. Pada tahun 2010, majalah Forbes menempatkan Chairul sebagai salah satu orang terkaya di dunia dengan berada di urutan ke-937. Satu tahun kemudian, total kekayaan Chairul meningkat dua kali lipat. Hingga akhirnya pada tahun 2014, kekayaan Chairul mencapai 4 miliar dollar Amerika Serikat dan menempati urutan ke-375 orang terkaya di dunia. Mungkin kamu hanya bisa melongo melihat angka-angka tadi. Lalu, muncul pertanyaan besar di benak kamu: bagaimana bisa Chairul sekaya itu? Kesuksesan Chairul hingga bisa menjadi salah satu orang terkaya di dunia tentu didapat dari hasil kerja keras beliau. Kalau penasaran, simak saja kisah perjalanan bisnis Chairul Tanjung berikut ini!

 

 Masa kecil dan pendidikan Chairul Tanjung

Chairul Tanjung lahir di Jakarta, 16 Juni 1952. Beliau lahir dari pasangan Abdul Ghafar Tanjung dan Halimah. Sang ayah merupakan seorang wartawan di masa orde lama yang menerbitkan sebuah surat kabar. Namun, usaha sang ayah terpaksa ditutup di era orde baru karena bersebrangan secara politik dengan Soeharto kala  itu. Chairul beserta keluarga terpaksa pindah ke kamar losmen kecil karena rumah mereka dijual.

Meski sempat merasakan hidup susah, Chairul beruntung karena masih bisa menamatkan pendidikan dengan baik. Tercatat, Chairul pernah bersekolah di SD dan SMP Van Lith. Chairul kemudian melanjutkan sekolah di SMA Negeri 1 Boedi Oetomo Jakarta. Selepas lulus SMA, Chairul berkuliah di fakultas kedokteran gigi di Universitas Indonesia.

 

Bakat berdagang sejak duduk di bangku kuliah

Kehidupan keluarga Chairul yang pas-pasan membuat Chairul harus membantu keluarga agar bisa memenuhi kebutuhan perkuliahan. Untuk itulah, Chairul sudah memulai berbisnis sejak kuliah. Chairul berjualan buku kuliah stensilan dan kaos di kampus. Selain itu, Chairul juga membuka jasa fotokopi di kampus. Meski harus berjualan sambil kuliah, Chairul tidak lalai pada pendidikan. Bahkan, Chairul mendapat gelar mahasiswa teladan tingkat nasional 1984-1985. Chairul juga berhasil menyelesaikan kuliah di tahun 1987.

Berdagang dan tetap berprestasi menjadi teladan dari Chairul yang bisa kamu contoh. Meski harus membagi fokusnya pada dua hal, Chairul bisa bertanggung jawab untuk tetap mengutamakan pendidikan. Tentu tidak banyak anak muda yang bisa seperti Chairul ini ya!

 

Awal karier bisnis Chairul Tanjung

Di masa kuliah, Chairul juga pernah mendirikan sebuah toko peralatan kedokteran dan laboratorium di bilangan Senen, Jakarta Pusat. Hanya saja, bisnis tersebut ternyata bangkrut. Lulus dari kuliah, Chairul mendirikan PT Pariarti Shindutama bersama tiga rekan beliau. Perusahaan tersebut memproduksi sepatu anak-anak untuk ekspor. Kali ini sebuah keberuntungan datang. Perusahaan yang baru berdiri tersebut langsung mendapatkan pesanan sebanyak 160 ribu pasang sepatu dari Italia. Di tengah perjalanan perusahaan tersebut, Chairul menemukan perbedaan visi dengan ketiga rekan beliau. Chairul lalu memutuskan untuk mundur dari perusahaan tersebut.

Tidak ada pengusaha yang langsung sukses dalam berbisnis. Chairul juga pernah mengalami susahnya berjualan sejak kuliah. Bahkan, Chairul harus gagal dalam usaha besar pertama yang beliau miliki. Dari Chairul, kamu belajar bahwa kegagalan adalah pelajaran terbaik untuk memulai kesuksesan.

 

Chairul Tanjung mulai mendirikan usaha sendiri

Setelah memilih berpisah dari rekan-rekan, Chairul mendirikan usaha sendiri. Beliau berfokus pada tiga bisnis, yaitu keuangan, properti, dan multimedia.  Perusahaan tersebut dinamakan Para Group. Perusahaan ini memiliki Para Inti Holdindo sebagai father holding company dengan beberapa sub holding, yaitu Para Global Investindo (bisnis keuangan), Para Inti Investindo (media dan investasi), serta Para Inti Propertindo (properti).

Di bidang properti dan investasi, terdapat beberapa perusahaan, antara lain Mega Indah Propertindo, Batam Indah Propertindo, dan Para Bandung Propertindo. Sementara untuk penyiaran dan multimedia, terdapat Trans TV, Trans 7, Trans Fashion, Trans Lifestyle, dan Trans Studio. Khusus di bidang finansial, ada Bank Mega, Asuransi Mega, dan Para Multi Finance. Para Group juga membeli sebagian saham Carrefour Indonesia pada tahun 2010. Di situ, Para Group memiliki saham sebesar 40%. Akuisisi Carrefour tersebut membuat Chairul mentransformasi Carrefour menjadi Transmart. Bukan hanya sebagai tempat belanja groseri, di Transmart pun menyediakan kebutuhan fashion dan kecantikan. Bahkan, kebutuhan elektronik juga tersedia. Yang paling menarik, ada fasilitas bermain untuk anak-anak juga di sana. Jadi, Chairul berhasil mengubah tempat berbelanja menjadi destinasi hangout keluarga.

Pada akhir tahun 2011, Chairul mersemikan perubahan Para Group menjadi CT Corp. CT Corp sendiri terdiri dari tiga perusahaan sub holding, yaitu Mega Corp, Trans Corp, dan CT Global Resources. Hingga kini, CT Corp masih terus berjaya sebagai salah satu perusahaan besar yang ada di Indonesia.

Berbagai pengalaman berjualan sejak muda tampaknya membuat Chairul sukses membangun perusahaan-perusahaan besar di Indonesia. Kebayang nggak mahasiswa yang dulu hanya berjualan di kampus bisa memiliki banyak perusahaan seperti sekarang?

 

Sempat menjadi menko perekonomian pada tahun 2014

Chairul sempat menjadi bagian dari jajaran menteri di Indonesia. Pada Mei 2014, Chairul Tanjung menggantikan posisi Hatta Rajasa sebagai menko perekonomian. Beliau menjabat menko perekonomian sejak 19 Mei hingga 27 Oktober 2014. Kiprah Chairul di dunia bisnis membuat presiden Susilo Bambang Yudhoyono kala itu mempercayakan posisi menko perekonomian kepada beliau.

 

Prinsip bisnis ala Chairul Tanjung

Bagi Chairul, poin penting dalam berbisnis adalah kemauan untuk mengembangkan jaringan. Mengenal banyak relasi juga menjadi salah satu kunci kesuksesan sebuah bisnis. Pertemanan yang baik jauh lebih mudah membantu berkembangnya suatu bisnis daripada terlalu banyak melihat peta persaingan saja. Bahkan, bagi Chairul, berteman dengan petugas pengantar surat juga merupakan hal yang penting. Melalui jejaring yang baik, mitra kerja yang handal pun lebih mudah didapat.

Bisnis memang membutuhkan modal yang besar. Namun, kerja keras dan kemauan juga menjadi modal utama untuk tetap bertahan dalam bisnis. Kebanyakan anak muda sekarang tidak sabar dalam menjalani bisnis. Chairul berpesan bahwa berbisnis itu tidak semudah membalikkan telapak tangan. Kesabaran dan pantang menyerah adalah kunci utama. Jangan terlalu sering mengmabil jalan instan dan tergesa-gesa karena bisnis tanpa rencana matang sama saja pelan-pelan mematikan usaha tersebut beberapa tahun kemudian. Lihat saja, Chairul Tanjung tidak langsung sukses saat awal membangun toko peralatan kedokteran dan laboratorium bukan?

 

Buat kamu yang sedang merintis sebuah usaha, semoga kisah Chairul Tanjung ini bisa menginspirasi kamu. Terima saja beberapa kegagalan dalam hidupmu, tetapi jangan lupa untuk bangkit kembali. Tekun, sabar, ulet, serta pantang menyerah adalah nilai-nilai dari Chairul Tanjung yang bisa kamu teladani untuk berbisnis.

Mochtar Riady, Perantau yang penuh terobosan

Salah satu nama yang pernah diulas oleh Forbes dan termasuk jajaran orang terkaya di tanah air adalah Mochtar Riady. Namanya memang bergaung kencang di kalangan pebisnis dan dunia perbankan sebagai seorang yang hampir selalu bisa menyulap apapun menjadi rupiah. Pada 12 Mei 1929, Mochtar Riady hadir ke dunia. Dia lahir di sebuah kota dingin di Jawa Timur, yaitu Malang. Berasal dari keluarga Tionghoa, Mochtar Riady memiliki nama asli Lie Mo Tie. Kedua orang tuanya, Liapi dan Sibelau adalah pedagang yang merantau hingga berlabuh ke Malang pada tahun 1918.

 

Saat usianya masih 9 tahun, sang ibu meninggal. Bersama keluarganya, Mochtar hidup banting tulang memenuhi kebutuhan hidup. Namun bukan Mochtar namanya jika tidak memperlihatkan keuletan sejak usia dini. Kala usianya masih 10 tahun, Mochtar mengukir cita-citanya: menjadi seorang banker. Cita-cita ini terinspirasi saat Mochtar cilik melihat para pegawai Nederlandsche Handels Bank (NHB). Impian Mochtar sempat ditentang sang ayah, karena profesi bankir identik dengan mereka yang berada dan berpendidikan tinggi.

 

Akrab dengan Dunia Bisnis Sejak Belia

Perjalanan hidup ayah empat orang anak ini tak hanya di Indonesia. Saat berusia 18 tahun, Mochtar sempat dijebloskan ke penjara Lowokwaru, Malang, karena menentang pembentukan Negara Indonesia Timur. Kemudian ia dibuang ke Nanking, dan mengambil studi psikologi di University of Nanking. Tak rampung karena Nanking tengah dilanda perang, taipan tanah air ini juga sempat pindah ke Hong Kong hingga tahun 1950 sebelum kembali ke Indonesia.

 

Setahun setelah kembali ke Indonesia, Mochtar menikah dengan putri seorang pengusaha asal Jember yang bernama Suryawati Lidya. Dari pernikahannya, Mochtar dikaruniai empat orang anak yaitu Rosy Riady, Andrew Taufan Riady, Stephen Tjondro Riady, dan James Tjahaja Riady. Usai menikah, Mochtar terjun ke dunia bisnis dengan mengelola toko kecil hingga sukses. Hal ini mengingatkannya kembali pada impiannya menjadi bankir.

 

Tahun 1954, dalang kesuksesan Lippo Group ini pindah ke Jakarta. Awalnya dia merintis bisnis perusahaan pengangkutan kapal sederhana bersama temannya. Mulai berani, Mochtar membeli Bank Kemakmuran yang dilanda masalah dan menjadi direkturnya. Mochtar nyemplung ke dunia perbankan tanpa dasar pendidikan akuntansi atau finansial bank apapun. Hanya dalam waktu satu bulan, Mochtar yang buta membaca balance sheet bisa memahami pola kerja akuntansi perbankan. Berkat tangan dinginnya, bank ini pun menangguk kesuksesan.

 

Pada tahun 1964, Mochtar pindah ke Bank Buana dan menyelamatkan bank yang kala itu nyaris gulung tikar. Kebijakan berani Mochtar menurunkan suku bunga Bank Buana hingga 12 persen di saat bank lain berlomba-lomba menaikkan suku bunga, menjadi langkah awal yang ditempuhnya. Saat kondisinya mulai stabil, Mochtar mengambil kuliah malam di Fakultas Ekonomi Universitas Indonesia. Di sinilah dia mengenal pakar ekonomi Indonesia lainnya.

 

17 tahun kemudian, Mochtar pindah ke Panin Bank yang merupakan gabungan dari Bank Kemakmuran, Bank Industri Dagang Indonesia, dan Bank Industri Jaya. Di bawahnya, Bank Panin sukses hingga menyaingi BCA. Tujuh tahun berselang, Mochtar menjejakkan kakinya di BCA. Selama berada di BCA, Mochtar menjadi orang kepercayaan pendiri Salim Group, Soedono Salim. Pengalamannya selama hampir seperempat abad di dunia perbankan diterapkan saat di BCA. Hasilnya? Harga saham BCA melejit dari Rp12,8 miliar menjadi Rp5 triliun!

 

Di bawah kelola Mochtar, BCA mendapat angin segar. Jumlah nasabahnya melonjak. Asetnya terus meningkat. BCA bahkan dinobatkan sebagai bank kliring terbesar kedua setelah Bank Indonesia. Gelar “The Magic Man of Bank Marketing” pun disematkan padanya. Hoki terus mengikuti langkah Mochtar, termasuk saat ia pindah ke Bank Perniagaan Asia hingga bisa berkolaborasi dengan Bank Umum Asia. Aset Bank Perniagaan Asia yang kala itu masih Rp16,3 miliar melambung menjadi Rp257,73 miliar di bawahnya. Di sinilah titik awal berdirinya Lippo Bank pada tahun 1989.

 

Mochtar Riady, The Man Behind Lippo Group

Di tangan Mochtar, Lippo Bank menjadi gurita finansial yang merambah berbagai bisnis mulai dari industri, energi, elektrik, finansial, infrastruktur, hingga properti. Krisis moneter hebat di Indonesia pada tahun 1997 memang sempat menggoyang Lippo Group. Namun lagi-lagi berkat tangan dingin Mochtar, dalam satu dekade Lippo Group berhasil bangkit.

 

Dalam bukunya Otobiografi Mochtar Riady: Manusia Ide yang terbit tahun 2016 lalu, yang paling tercatat adalah momen saat Lippo Bank mengambil alih tiga bidang lahan seluas 70 kilometer persegi di timur dan barat Jakarta. Lahan ini tandus, bahkan Mochtar awalnya tidak memiliki ide apa yang harus dilakukan terhadap lahan ini. Terinspirasi dari metode pengembangan lahan di Shenzen, Lippo menyulapnya menjadi Karawaci, cikal bakal bisnis properti Lippo. Pada tahun 2007, Mochtar juga strategis membidik lahan seluas 500 hektar menjadi area pemakaman mewah San Diego Hills di Karawang.

 

Lippo Group kini menjadi salah satu sektor usaha dengan 50 anak perusahaan, dan menjadi ladang bekerja bagi 50 ribu orang. Forbes mencatat kekayaan Mochtar Riady saat ini mencapai 2,9 triliun dolar. Pendapatan Lippo Group pun mencapai 7,5 triliun dengan cabang yang tersebar di Asia Pasifik. Anak-anak Mochtar Riady seperti Stephen dan James mewarisi bakat berbisnisnya, dan mengembangkan sektor usaha lain di berbagai negara. Bahkan cucu Mochtar yang bernama John Riady juga menjadi penerusnya dalam bisnis e-commerce MatahariMall dan merintis sentuhan digital di Bank Nobu.

 

Nama Mochtar Riady akan terus diperhitungkan sebagai sosok penuh ide. Hingga kini saja, Mochtar masih menyimpan lahan ratusan hektar di Cikarang dan Karawang. Saat yang lain belum terpikir, dirinya getol membeli lahan tandus sejak tahun 1990-an. Putranya, James Riady, kini mengelola megaproyek bernilai ratusan triliun rupiah di Cikarang yang digadang-gadang akan menjadi Kota Baru, Meikarta.

Liem Sioe Liong, konglomerat penggerak ekonomi bangsa

Liem Sioe Liong atau juga dikenal dengan nama Sudono Salim adalah pengusaha konglomerat yang sukses mendirikan bisnis di Indonesia juga di luar Indonesia. Om Liem, banyak orang menyapanya dengan panggilan itu, pernah menjadi konglomerat paling kaya se Indonesia. Kehidupan sukses nya berbanding terbalik dengan masa muda nya yang penuh kesusahan. Lahir di Fuqing, Cina pada tanggal 19 Juli 1916, siapa sangka pemuda yang berimigrasi dari Cina naik kapal layar ke Surabaya ini berhasil mengubah nasib dan garis hidupnya yang penuh kemelaratan menjadi seorang konglomerat sukses.

Melarikan diri dari Cina ke Kudus

Ketika Cina diserbu tentara Jepang pada Perang Dunia ke 2 tahun 1938,kehidupan politik dan keamanan di Cina bergejolak. Situasi yang semakin mencekam memaksa Om Liem muda yang baru berumur 21 tahun meninggalkan kampung halamannya di Fuqing dan menyusul kakak nya, Liem Sioe Hie, yang sudah lebih dahulu ber imigrasi ke Indonesia sejak tahun 1922 dan tinggal menetap di kota Kudus. Ia memberanikan diri menumpang kapal Belanda yang menuju ke Indonesia dan hidup terluntang-lantung di atas kapal selama sebulan lebih. Sesampainya di pelabuhan Surabaya, ia pun masih harus menunggu selama 4 hari dengan kondisi yang minim ala kadarnya sebelum akhirnya dijemput oleh sang kakak dan menuju ke Kudus.

Kota Kudus yang dari dahulu sudah menjamur industri rokok kretek membutuhkan banyak bahan baku tembakau dan cengkeh. Om Liem muda yang saat itu bekerja di pabrik tahu dan kerupuk,  mulai mempelajari cara menjadi pemasok tembakau dan cengkeh kepada pabrik-pabrik kretek lokal. Dia memutar otak supaya bisa mendapat hasil bumi yang murah dan bisa dijual lagi dengan untung kepada pabrik-pabrik kretek tersebut. Otaknya cukup licin. Om Liem mengambil pasokan dari luar pulau dengan harga yang jauh lebih murah, seperti Sulawesi, Maluku dan Sumatra, dan menyelundupkannya ke Kudus. Cara Om Liem bergaul dan menjalin relasi cukup luwes. Bisnis logistik tembakau Om Lie pun lama-lama berkembang dan menjadi lumayan sukses. Om Liem juga berjualan kain tekstil yang dia dapatkan secara murah dengan mengimpor dari Shanghai. Pelan tapi pasti, bisnis dan kehidupan Om Liem mulai meningkat.

Berbisnis kebutuhan tentara dan pindah ke Jakarta

Akan tetapi bisnis Om Liem yang mulai membaik terpaksa harus ditelan kebangkrutan ketika Jepang mulai masuk menjajah Indonesia tahun 1940 an. Usaha tembakau dan cengkehnya seret. Om Liem harus menjual semuanya dan kembali lagi mulai dari awal. Tahun 1945 ketika Jepang meninggalkan Indonesia, Om Liem mulai berbisnis logistik kebutuhan tentara. Dia banyak bergaul dengan perwira-perwira TNI termasuk salah satunya Letkol Soeharto.

Untuk mencari kesempatan bisnis yang lebih baik, Om Liem bertekad pindah ke Jakarta. Pada saat itu, Om Liem telah menikah dengan seorang wanita dari Lasem bernama Liem Kiem Nio atau dikenal dengan nama Lilani. Om Liem memboyong istrinya pindah ke Jakarta dan memulai hidup baru. Semenjak menikah dan pindah ke Jakarta tahun 1952, Om Liem mulai menapaki bisnis di bidang perbankan. Dia bersama karyawan kepercayaannya, Mochtar Riady, mendirikan Bank Central Asia. Bisnis perbankan yang dititinya sukses.

Pertemanan dengan Soeharto

Pada tahun 1968, Om Liem mendirikan pabrik perdagangan terigu yaitu PT Bogasari. Pabrik terigu ini mencetak sukses besar dan nama Om Liem semakin dikenal. Di balik kesuksesannya, rupanya ada orang yang berjasa membuka jalan bagi Om Liem untuk meraih kesempatan dan relasi bisnis yang besar. Orang itu adalah Soeharto, yang dikenalnya semasa berbisnis pasokan logistik tentara tahun 1945.  Persahabatannya dengan Soeharto berlanjut sampai ketika Soeharto diangkat menjadi Presiden RI menggantikan Soekarno. Dari Soeharto lah, Om Liem mendapat kesempatan berkenalan dengan pengusaha-pengusaha setempat dan mendapatkan kemudahan ijin-ijin usaha demi melancarkan bisnisnya.

Berkat jasa Soeharto, Om Liem diperkenalkan dengan Djuhar Sutanto dan membentuk CV. Waringin Kentjana yang bergerak di bidang ekspor impor komoditas. Sejalan dengan waktu, Om Liem menambah kongsi dengan 2 pengusaha lainnya yaitu Sudwikatmono dan Ibrahim Risjad dan membentuk Salim Grup. Kwartet pengusaha yang dipimpin Om Liem ini berekspansi dengan juga mendirikan pabrik semen Indocement pada tahun 1974. Salim Grup  terus mengembangkan sayap bisnisnya dan pada tahun 1990 Salim Grup mendirikan PT Indofood yang bergerak dibidang pangan dan sekaligus terigu. Salah satu produk Indofood yang tercatat menuai sukses besar bahkan sampai sekarang adalah Indomie, mie instan sejuta umat.

Kedekatannya dengan Soeharto, sang penguasa Orde Baru, memang melicinkan jalannya menuju kesuksesan. Banyak berita beredar bahwa Soeharto dan anak-anaknya juga mendapat saham dan keutungan dari perusahan Om Liem dengan timbal balik berupa kemudahan ijin-ijin usaha dan koneksi yang diberikan Soeharto. Om Liem sering menyangkal mengenai hal itu dan berkata bahwa hubungannya dengan Soeharto tidak lebih dari hubungan persahabatan biasa. Era 1990 an adalah puncak jaya-jayanya Om Liem. Om Liem sempat dinobatkan menjadi orang terkaya di Indonesia bahkan juga masuk ke dalam 100 orang terkaya di dunia menurut versi majalah Forbes.

Masa tua di Singapura

Tahun 1998, secara mengejutkan Soeharto lengser dan rumah Om Liem di Gunung Sahari dibakar dan dihancurkan massa. Untung saja Om Liem sedang berada di Singapura pada waktu itu. Seiring dengan lengsernya Soeharto, pamor kerajaan bisnis Salim Grup mulai turun. Krisis moneter yang terjadi tahun 1998 memaksa Salim Grup menjual beberapa banyak anak-anak perusahaannya, beberapa di antaranya adalah BCA, Indocement dan Indomobil , demi membayar hutang. Tidak lama setelah itu, Om Liem banyak tinggal di Singapura dan hanya pulang ke Indonesia sesekali saja. Usianya nya pun mulai tua. Tampuk kepemimpinan perusahaan pun dia serahkan ke anaknya,  Anthoni Salim. Adapun anak anak Om Liem lainnya seperti Albert Salim, Andre Salim dan Mira Salim juga turun berkecimpung dalam Salim Grup.

Masa tua Om Liem dihabiskan di Singapura. Ia wafat di Singapura pada tanggal 11 Juni 2012. Ratusan bahkan ribuan pelayat datang memberikan penghormatan terakhir. Sosok Om Liem begitu meninggalkan kesan mendalam. Meskipun namanya sangat besar, Om Liem terkenal sederhana, tidak suka publisitas dan tidak suka difoto. Orangnya sangat ramah dan luwes dalam bergaul, tidak heran koneksi dan relasinya sangat luas. Di balik itu, orang banyak mengagumi teladan semangat kerja keras, kegigihan dan ketekunan Om Liem dalam membangun kerajaan bisnisnya. Sosoknya pantas dijadikan teladan. Indonesia pantas berbangga dengan kehadiran Om Liem sebagai penggerak ekonomi Indonesia.

Eka Tjipta Widjaja, sang Taipan gigih yang bervisi luas

Pengusaha dan taipan papan atas Indonesia, Eka Tjipta Widjaja, merupakan salah satu pengusaha sukses yang membangun semua kerajaan bisnisnya dimulai dari nol. Kisah hidup susah dibalut kemiskinan merupakan lembaran awal cerita hidup seorang Eka Tjipta Widjaja yang lahir di propinsi Fujian, China pada tanggal 27 Februari 1921.  Sekarang pada umurnya yang sudah mencapai 97 tahun, Eka Tjipta tinggal melihat buah hasil kerja kerasnya yaitu kerajaan bisnisnya yang menggurita di dalam maupun luar negeri yang sekarang sudah dikendalikan oleh anak-anaknya.

Masa kecil yang susah dan miskin

Sepertinya mental kuat dan semangat pantang menyerah yang dimiliki seorang Eka Tjipta terlahir mulai dari masa kecilnya sebagai seorang imigran dari China yang datang ke Indonesia. Sewaktu masa revolusi di China yang rawan, penuh kejahatan dan kesusahan, Eka kecil terpaksa menaiki kapal laut menyebrangi lautan bersama sang Ibu untuk mengungsi ke Indonesia. Eka Tjipta Widjaja yang mempunyai nama asli Oei Ek Tjhong hanya berumur 9 tahun pada waktu itu. Sampailah mereka di kota Makassar dan langsung bergabung dengan sang Ayah yang memang sudah datang lebih dahulu.  Biaya perjalanan kapal laut yang dipakai untuk mengungsi pun didapat dari hasil berhutang kepada rentenir sebesar 150 dollar.

Siang malam Eka kecil membantu usaha ayah nya berdagang sambil bersekolah di Makassar. Kesulitan biaya membuat Eka terpaksa berhenti bersekolah hanya sampai bangku SD. Eka dan keluarga hidup amat sederhana. Selepas berhenti sekolah, Eka terpaksa berjualan biskuit, kue dan permen untuk membantu meringankan biaya hidup keluarganya. Apapun dilakoni nya termasuk mendekati pasukan tentara Jepang dan berbasa-basi dengan mereka sehingga Eka bisa diijinkan menjual pasokan semen, gula dan terigu yang dimiliki para tentara dengan harga yang masih baik di pasaran. Dari sang Ayah, Eka belajar ilmu berdagang, mental baja, dan keteguhan.

Pelan-pelan sedari muda Eka berdagang apapun yang bisa dijual. Ketrampilan berdagangnya makin terpoles, relasi dan pergaulannya semakin banyak dan strategi untung rugi berdagang dipelajari nya sejalan dengan waktu. Bisa dibilang masa remaja Eka dipenuhi dengan berdagang serabutan mulai dari kopra, gula, permen, sampai wijen. Ada saatnya Eka meraih keuntungan besar, meskipun sempat juga jatuh bangkrut  dan terpaksa menjual harta benda milik keluarganya. Di saat-saat kejatuhan, mental baja Eka tetap membuatnya maju terus pantang mundur. Dia tetap memutar otak nya untuk melihat dan mencari-cari kesempatan yang ada. Eka tidak mau menyerah begitu saja, dia bertekad untuk hidup keluar dari kemiskinan.

Memasuki dunia bisnis

Nasib baik mulai berpihak kepada Eka pada tahun 1980. Ia membeli lahan seluas 10 ribu hektar di Riau dan dengan kelihaiannya, Eka mengubah lahan tersebut menjadi lahan produktif yang menghasilkan kelapa sawit. Keuntungan besar pun diraih, bisnis nya pelan-pelan berkembang.  Dari kelapa sawit, ia membeli perkebunan teh dan mulai memproduksi teh. Mesin penggarapan kebun dan pengolahan dibelinya untuk produksi skala besar kelapa sawit dan teh. Tapi usaha-usaha bidang perkebunan yang membuahkan hasil yang menggiurkan tidak cukup membuat seorang Eka Tjipta Widjaja duduk terdiam puas menikmati hasil.

Semangat dan naluri tajam nya sebagai pebisnis terlampau kuat untuk hanya dibatasi oleh kesuksesan di satu bidang. Eka pun merambah bisnis lainnya, bisnis yang menjadi tolak ukur keberhasilan nya sebagai pengusaha papan atas.

Eka Tjipta Widjaja mengembangkan sayap bisnisnya ke bidang perbankan dengan membeli Bank Internasional Indonesia (BII). BII berkembang pesat dibawah pimpinan Eka, cabangnya bertambah menjadi puluhan cabang bahkan aset nya pun dikabarkan mencapai total kurang lebih 9 triliun rupiah. Gurita bisnis Eka Tjipta semakin luas ketika ia mengakuisisi PT Indah Kiat dan menjadikannya sebagai pabrik pengolahan pulp dan kertas terbesar di Indonesia.

Pendiri Sinar Mas Group

Eka Tjipta menjadi pionir pendiri Sinar Mas Group yang bergerak di bidang kertas, properti, perbankan, perkebunan, dan telekomunikasi. Di bawah naungan Sinar Mas Group, salah satu anak perusahannya juga tercatat sukses menelurkan bisnis di bidang properti. Tercatat ITC Mangga Dua merupakan salah satu proyek sukses yang dihasilkannya. Untuk sekarang ini, Sinar Mas Land yang merupakan salah satu perusahaan properti terbesar di Indonesia juga berkontribusi besar dalam mengembangkan kota satelit di Bumi Serpong Damai (BSD) yang terdiri dari perumahan, shopping mall, rumah sakit, sekolah dan pusat bisnis. Boleh dibilang, sosok anak-anak Eka mempunyai peranan penting dalam membesarkan Sinar Mas Group. Jabatan-jabatan penting di perusahaan-perusahaan yang ada di Sinar Mas dipegang oleh anak-anaknya.

Kehidupan pribadi dengan istri-istri dan anak-anak

Kehidupan pribadi Eka Tjipta Widjaja juga tidak lepas dari kontroversi seputar beberapa istri dan anak yang dimilikinya. Dari perbincangan orang-orang, Eka Tjipta dikenal mempunyai koleksi istri yang mencapai puluhan dan anak-anak yang juga mencapai puluhan jumlahnya. Tidak tahu apakah berita itu benar atau tidak, yang jelas Eka Tjipta tercatat mempunyai 2 orang istri resmi yaitu Trinidewi Lasuki dan Mellie Pirieh Widjaja.  Sekarang ini beberapa anak Eka seperti Muktar Widjaja, Teguh Ganda Widjaja, Frankie Oesman Widjaja, dan Sukmawati Widjaja memegang kendali bisnis penting di sektor-sektor berbeda di dalam naungan Sinar Mas Group.

Menjadi orang terkaya di Indonesia

Eka Tjipta Widjaja pernah dinobatkan sebagai orang terkaya nomor 1 di Indonesia menurut versi majalah Globe Asia 2012.  Sampai hari ini, Eka Tjipta Widjaja tetap masuk dalam daftar urutan atas orang-orang terkaya di Indonesia menurut versi majalah Forbes.  Anak-anak dan cucu –cucu nya lah yang sekarang meneruskan kerajaan bisnis yang diwarisi oleh seorang Eka Tjipta Widjaja.

Semangat dan kerja keras Eka memang patut dicontoh oleh generasi muda sekarang. Visi Eka sangatlah jauh ke depan, tidak terhenti hanya ingin menjadi kaya, tapi lebih kepada menciptakan dan membangun bangsa. Keberhasilan seorang Eka Tjipta mengajarkan kita bahwa kita tidak boleh berhenti bermimpi bahwa seseorang yang mulai dari nol dan tidak punya modal sekalipun mempunyai kesempatan yang sama dengan orang-orang yang lebih berada. Banyak generasi muda sekarang mempunyai keadaaan ekonomi yang jauh lebih baik dari Eka Tjipta semasa kecil tapi malah menyia-nyiakan waktu dan kesempatan. Kesempatan tidak datang dua kali, karena itu hargailah setiap kesempatan yang datang dengan semangat dan kerja keras. Jadilah seseorang yang bervisi luas, bekerja keras, dan tidak pernah menyerah.

William Soeryadjaya, Sang Taipan Ulung yang Rendah Hati

20 Desember 1922 adalah tanggal bersejarah yang menjadi saksi lahirnya seorang anak bernama Tjia Kian Liong. Majalengka, Jawa Barat, menjadi tempatnya dilahirkan. Siapa sangka, hingga nyaris 96 tahun kemudian, sosok anak itu telah menjadi salah satu taipan ulung yang diperhitungkan di dunia. Ya, dialah William Soeryadjaya, pria kelahiran Majalengka Jawa Barat yang dikenal dengan keuletannya. Ternyata dalam nyaris satu abad semasa hidupnya, ada banyak dinamika yang menarik untuk kita simak, loh! Kesuksesannya bukan datang begitu saja, namun melewati serangkaian perjuangan yang tidak main-main! Yuk sama-sama kita simak perjalanan hidup William Soeryadjaya.

 

Kegetiran Hidup di Masa Kecil

Jika banyak anak lain mengisi masa kecilnya dengan bermain dan berlimpah kasih sayang dari keluarga, mungkin lain halnya dengan sosok William. Di usianya yang masih 12 tahun, kedua orang tuanya telah tiada. Hanya selang 7 tahun dari kondisinya yang yatim piatu, sekolahnya di Cirebon pun terpaksa putus di tengah jalan. Tak lagi mengenyam bangku sekolah, William cilik ditempa untuk menjadi seorang pedagang.

Masih di Cirebon, William pernah mengecap pengalaman menjadi seorang pedagang kertas. Tentu perjalanannya tidak mulus. Ia pun beralih menjadi pedagang benang tenun di kecamatan berjulukan kota dolar, Majalaya. Kota di tenggara Bandung ini memang dikenal sebagai sentra produsen kain tenun. Berhasil? Tidak juga. William banting setir menjadi pedagang hasil bumi. Apapun dilakoninya demi menghidupi dirinya bersama adik-adiknya. William tentu punya tanggung jawab yang cukup berat diembannya, terlebih dia adalah anak kedua dari lima bersaudara.

 

Naik Becak untuk Menikah

Siapa sangka sang konglomerat William Soeryadjaya dulu meminang istrinya, Lily Anwar, dengan menaiki becak ke kantor catatan sipil? Keduanya menikah pada 15 Januari 1947 dan berlangsung sangat sederhana. Hanya berangkat ke kantor catatan sipil mengenakan baju biasa, dan kembali pulang naik becak setelah resmi dinikahkan. Dari pernikahan ini, William dikaruniai 4 orang anak yaitu Edward Soeryadjaya, Edwin Soeryadjaya, Joyce, dan Judith.

 

Bertolak ke Belanda untuk Studi

Jatuh bangun menjadi pedagang membuahkan hasil bagi tokoh yang kini dikenal sebagai pebisnis kawakan ini. Meski sempat putus sekolah dan mati-matian bekerja untuk bertahan hidup, ternyata pendidikan masih jadi prioritas bagi William. Sekolah industri di Belanda bernama Middlebare Vakschool V/d Leder & Schoen Industrie Waalwijk menjadi pilihannya. Sekolah ini fokus mengajarkan tentang penyamakan kulit. Di usianya yang masih cukup muda, William sadar betul perlu membekali dirinya dengan skill untuk bisa survive di kemudian hari.

William tidak sendirian, keberangkatannya ke Belanda yang hanya selang 2 minggu dari tanggal pernikahannya, membawa serta sang istri. Mereka tinggal sederhana di Amsterdam dengan penuh kerja keras. Bahkan mereka sempat berjualan kacang dan rokok yang dikirim dari Bandung. Mereka tinggal di Belanda selama 2 tahun, mulai dari tahun 1947 hingga 1949.

Rampung sekolah di Belanda, William dan keluarganya pulang ke Indonesia saat usianya 27 tahun. Berbekal kemampuan yang ditempanya di Belanda, ia mendirikan industri penyamakan kulit, bekerja sama dengan seorang teman. Memang bakat berdagang dan keberanian mengambil keputusan telah tertanam di diri seorang William Soeryadjaya, 3 tahun kemudian ia mendirikan CV Sanggabuana yang berkecimpung di bidang ekspor-impor dan perdagangan umum. Namun roda hidup kembali berputar, William ditelikung oleh rekannya sendiri hingga mengalami kerugian yang tidak sedikit.

 

Melahirkan PT Astra Internasional

Satu kegagalan adalah alasan untuk kembali bangkit. Mungkin itu yang tertanam di benak William Soeryadjaya. Tak kapok berbisnis, berselang 5 tahun sejak ditipu teman sendiri, ia mendirikan PT Astra Internasional di tahun 1957. Tidak sendiri, William menggandeng adiknya Tjia Kian Tie dan temannya yang bernama Lim Peng Hong.

Apakah dulu PT Astra Internasional sudah sebesar ini? Tentu tidak. Dulunya, PT Astra hanya bergerak di bidang pemasaran minuman ringan dengan merek dagang Prem Club. Ditambah dengan ekspor hasil bumi. Barulah seiring berjalannya waktu, bidang pekerjaan PT Astra Internasional meluas hingga ke sektor peralatan berat, kayu, dan otomotif. Perusahaan besutan William naik daun, terutama di era Pemerintahan Orde Baru. Kala itu, dunia bisnis bergeliat di iklim yang sangat positif, didukung sentimen kebijakan dari negara.

Di tahun 1968 saja, PT Astra Internasional menjadi pemasok truk Chevrolet dengan kuantitas yang tidak sedikit, yaitu 800 unit. William membidik pasar di waktu yang tepat, right person at the right time. Truk pasokannya laris manis karena bertepatan dengan program rehabilitasi yang sedang gencar diadakan. Ditambah lagi kala itu, kurs dolar mencapai Rp378 per 1 dolar, melejit hampir 3 kali lipat dari kurs sebelumnya. Titik kesuksesan ini membawa PT Astra Internasional menjadi rekanan pemerintah dalam mendukung infrastruktur pembangunan.

 

Keuletan “Om William” untuk Astra

Semakin besar nama PT Astra Internasional, bidang pekerjaan yang diambil pun makin berani. Perusahaan yang dirintis dari nol ini mulai berani merakit sendiri truk Chevrolet. Naik daun, PT Astra Internasional kian berani merakit alat besar seperti Komatsu dan alat fotokopi Xerox. Tak berhenti sampai di situ. Mobil Toyota, Daihatsu, dan sepeda motor Honda juga dirakit sendiri. Di tahun 1984, omzet PT Astra Internasional menembus angka fantastis: 1,5 miliar dolar AS!

Dunia agrobisnis juga dirambah oleh PT Astra Internasional, dengan membuka pertanian kelapa dan singkong seluas 15.000 hektar di Lampung. Langkah ini merupakan gagasan untuk meningkatkan produksi sektor pertanian, senada dengan gagasan pemerintah kala itu. Tak hanya itu, di tahun yang sama yaitu 1984 William juga membeli Summa Handelsbank, bank asal Jerman. Keputusannya ini juga meninggalkan cerita baru yang cukup “kelam” dalam kehidupan Om William.

 

Bank Summa yang Terpuruk

Adalah Edward Soeryadjaya, putra sulung William yang dipercayanya untuk mengelola Bank Summa. Edward dinilainya sebagai orang yang tepat dan telah mengantoni gelar sarjana dari Ruhr University, Jerman Barat. Sang ayah memegang kepemilikan saham sebanyak 60 persen. Namun sayang, di tahun 1992, Bank Summa terbelit kredit macet senilai 1 triliun rupiah.

William turun tangan dan membantu penyelesaian utang bank milik putranya. 10 juta lembar saham PT Astra Internasional dilepas ke publik. Mau tidak mau, William harus rela melepas kendali trah Soeryadjaya atas PT Astra Internasional. Apalagi kala itu, PT Astra Internasional baru memasuki dunia saham di Bursa Efek Indonesia. Santer terdengar bahwa terpuruknya Bank Summa tak lepas dari “sabotase” beberapa pihak.

Namun bukan William namanya jika tidak tangguh saat roda kehidupan (lagi-lagi) berada di bawah. Beberapa tahun kemudian, kejayaan bisnis kembali direnggutnya, termasuk lewat strategi memperluas sayap bisnis. Seiring dengan itu, tentu kemampuan PT Astra Internasional untuk menyerap pekerja usia produktif pun kian lebar. Inilah impian William sejak dulu, yaitu membuka lapangan pekerjaan di tengah tingginya angka pengangguran di tanah air.

 

Pribadi Religius yang Diidolakan Bawahan

Bukan rahasia lagi bahwa William Soeryadjaya adalah sosok yang religius. Menerapkan catur dharma dalam pekerjaannya, William benar-benar menghormati mereka yang berada di bawahnya. Mantan Direktur PT Astra Internasional yang bernama Maruli Gultom sempat berkisah, setiap hari Jumat selalu ada sesi agama untuk pegawai PT Astra Internasional. Saat lebaran pun, William menyempatkan menyalami karyawannya, mulai dari lantai 1 hingga lantai 4.

William selalu menjaga hubungan harmonis dengan karyawannya. Dalam perilakunya, Om William seakan menegaskan bahwa yang terpenting adalah kerja sama dalam tim yang sejahtera, bukan hanya hubungan pemilik dan pegawai di bawahnya.

 

Sosok Penuh Kepedulian yang Jadi Panutan

Meski menggawangi perusahaan kelas raksasa, William tak pernah luput untuk memperhatikan nasib para pengusaha kecil. Bukan rahasia lagi jika Om William kerap membuka peluang kerja sama antara perusahaan besar dan kecil. Sikap lain dari William yang juga menarik untuk diselami adalah kepeduliannya untuk dunia pendidikan. Institut Prasetya Mulya di Cilandak Jakarta Selatan berdiri di atas tanah miliknya yang dijual dengan harga sangat bersahabat.

Sosok William juga dikenal sangat dermawan. Bukan sekali dua kali dirinya memberi banyak uang saku untuk pegawai PT Astra Internasional. Bahkan Wakil Presiden RI, Jusuf Kalla, punya kenangan tersendiri soal ini. Kala itu, JK yang mengenal William sejak tahun 1968 mengajukan niat untuk menjadi agen PT Astra Internasional di Makassar. Tanpa banyak tanya, William setuju dan selalu menjaga hubungan kerja sama dengan baik. Bahkan ada hal sederhana yang membekas di benak JK hingga kini: kala itu William makan bersamanya di restoran, dan ada hidangan udang yang tidak habis. Tanpa segan William meminta pegawai membungkus dan dibaginya untuk kawan-kawan.

Di tangan dingin William pula lah lahir banyak pebisnis-pebisinis andal negeri ini. Sosok William Soeryadjaya menjadi panutan banyak pihak karena kedewasaannya dalam mengambil berbagai kebijakan bisnis. Belum lagi sosoknya yang bersahaja dan tak pernah tinggi hati. Bahkan hingga kini, nama William Soeryadjaya masih mendapat tempat dan kerap dibicarakan meski sosoknya telah tiada. Ia meninggal dunia pada hari Jumat, 2 April 2010 di RS Medistra Jakarta Selatan. Pelopor modernisasi industri otomotif nasional ini memang telah tutup usia, namun semangatnya terus membara dan jadi inspirasi.