Tag Archives: Pahlawan Nasional

Sri Sultan Hamengkubuwana IX, Figur Pemimpin yang Mencintai Rakyat dan Tanah Air

Yogyakarta dikenal dengan keistimewaannya. Yogyakarta menjadi satu-satunya daerah di Indonesia yang dipimpin oleh sosok Sultan. Hingga kini, sosok Sultan juga menjadi gubernur di Yogyakarta. Salah satu sosok Sultan yang paling dikenang tentunya Sri Sultan Hamengkubuwana IX. Ya, beliau adalah ayah dari Sri Sultan Hamengkubuwana X yang saat ini memimpin Yogyakarta. Selain dikenal sebagai Sultan yang peduli akan rakyat, Sri Sultan Hamengkubuwana IX juga merupakan figur pemimpin teladan yang pernah dimiliki Indonesia. Meski berstatus memimpin kerajaan, beliau juga ikut memperjuangkan dan mempertahankan kemerdekaan Indonesia. Simak yuk, kisah perjalanan hidup Sri Sultan Hamengkubuwana IX yang juga pernah menjadi wakil presiden Indonesia berikut ini!

  

Masa kecil Sri Sultan Hamengkubuwana IX

Sri Sultan Hamengkubuwana IX yang memiliki nama kecil Raden Mas Dorodjatun lahir pada tanggal 12 April 1912. Beliau merupakan anak dari pasangan Sri Sultan Hamengkubuwana VIII dan permaisuri Kangjeng Raden Ayu Adipati Anom Hamengkunegara. Kehidupan masa kecil Sri Sultan Hamengkubuwana IX tidak hanya berada di lingkungan keraton saja. Beliau sudah merasakan kehidupan modern dengan pergaulan yang luas. Sri Sultan Hamengkubuwana IX tidak tinggal bersama dengan orang tua sejak usia 4 tahun. Beliau dititipkan di keluarga Mulder, seorang Belanda yang tinggal di Yogyakarta. Sri Sultan Hamengkubuwana IX menyelesaikan pendidikan dasar di Yogyakarta dan melanjutkan ke Hoogere Burgerschool di Semarang. Kemudian, beliau ke Bandung untuk melanjutkan studi di Hoogere Burgerschool (HBS). Sri Sultan Hamengkubuwana IX pergi ke Belanda untuk berkuliah di Universitas Leiden, Belanda dengan megambil jurusan Indologi yang mempelajari hukum dan ekonomi.

Ternyata menjadi salah satu penghuni keraton tidak menjamin kehidupan menjadi serba mudah. Sri Sultan Hamengkubuwana IX bahkan sudah harus pisah dengan orang tua sejak kecil. Tampaknya beliau dididik untuk bisa mengenal dunia di luar keraton lebih dekat.

 

Diangkat menjadi Sultan di tahun 1940

Sri Sultan Hamengkubuwana IX kembali ke tanah air setelah sang ayah wafat pada 22 Oktober 1939. Pada tanggal 18 Maret 1940, beliau diangkat menjadi Sultan menggantikan ayah. Kala itu beliau berusia 28 tahun. Sri Sultan Hamengkubuwana IX dikenal menentang penjajahan Belanda. Selain itu, beliau juga salah satu sosok yang mendorong kemerdekaan Indonesia. Sri Sultan Hamengkubuwana IX juga tercatat pernah melakukan negosiasi dengan diplomat Belanda Dr. Lucien Adam mengenai otonomi atau keistimewaan Yogyakarta. Di masa pendudukan Jepang, Sri Sultan Hamengkubuwana IX melarang pengiriman romusha untuk Jepang. Beliau kemudian mengadakan proyek saluran irigasi Selokan Mataram.

Bayangkan, di usia yang masih mudah Sri Sultan Hamengkubuwana IX sudah mengemban tanggung jawab memimpin Yogyakarta. Beliau juga harus memimpin di masa penjajahan Belanda dan Jepang. Keberanian beliau menolak romusha menjadi bukti bahwa Sri Sultan Hamengkubuwana IX menyayangi rakyat dengan memberikan pekerjaan yang bukan di bawah kekuasaan penjajah.

 

Sri Sultan Hamengkubuwana IX memiliki peranan dalam mempertahankan kemerdekaan Indonesia

Menjadi negara yang baru saja merdeka tentu memiliki banyak masalah. Perekonomian adalah salah satu masalah terbesar saat itu. Kas negara hampir kosong, kekeringan hampir terjadi di mana-mana, dan bahan pangan yang sangat langka. Kala itu, Sri Sultan Hamengkubuwana IX berinisiatif menyumbangkan 6 juta Gulden untuk membiayai kebutuhan pemerintahan serta kebutuhan hidup para pegawai pemerintahan lainnya. Selain itu, Sri Sultan Hamengkubuwana IX juga mengundang presiden Soekarno untuk memimpin dari Yogyakarta pasca Belanda menguasai Jakarta pada Agresi Militer Belanda I.

Tidak hanya itu, Sri Sultan Hamengkubuwana IX menjadi saksi dari Agresi Militer Belanda II pada 19 Desember 1948 yang menyerang ibukota Yogyakarta. Kedudukan Sri Sultan Hamengkubuwana IX yang tidak ditangkap oleh Belanda memberikan keuntungan tersendiri. Sri Sultan Hamengkubuwana IX secara diam-diam memberikan bantuan logistik kepada para pejuang perang dan pejabat pemerintah RI.

Pada Februari 1949, Sri Sultan Hamengkubuwana IX menghubungi Panglima Besar Soedirman untuk membahas serangan umum terhadap Belanda. Setelah perundingan singkat tersebut, Sri Sultan Hamengkubuwana IX meminta Letkol Soeharto untuk memimpin serangan tersebut. Serangan yang kemudian dikenal dengan Serangan Umum Sebelas Maret ini berhasil menguasai Yogyakarta selama 6 jam dan membuat Belanda harus menarik pasukannya dari sana.

Perjuangan Sri Sultan Hamengkubuwana IX ternyata tidak berhenti setelah Indonesia merdeka. Rasa cinta beliau pada Indoensia tampak ketika Sri Sultan Hamengkubuwana IX berusaha selalu membantu Indonesia selama beliau sanggup, bahkan memakai uang pribadi. Tetap berjuang meski dalam tekanan menjadi ciri khas Sri Sultan Hamengkubuwana IX. Tidak banyak pemimpin bisa melakukan hal seperti ini.

 

Sempat beberapa kali duduk di pemerintahan, yaitu menjadi menteri dan wakil presiden

Sri Sultan Hamengkubuwana IX juga sempat memegang jabatan penting di pemerintahan semasa hidup. Beliau tercatat menjadi menteri negara di era kabinet Sjahrir, Amir Sjarifuddin, dan Hatta. Jabatan lain yang pernah dipegang antara lain menteri pertahanan di era kabinet Hatta, menteri pertahanan RIS, wakil perdana menteri kabinet Natsir, ketua Badan Pemeriksa Keuangan, menko pembangunan, dan wakil perdana menteri bidang ekononomi. Sri Sultan Hamengkubuwana IX juga pernah menjabat sebagai wakil presiden Indonesia mendampingi Soeharto mulai 25 Maret 1973 hingga 23 Maret 1978. Faktor kesehatan menjadi alasan Sri Sultan Hamengkubuwana IX mengundurkan diri menjadi wakil presiden Indonesia setelah sebelumnya menjabat selama 5 tahun.

Tidak heran rasanya jika pada akhirnya Sri Sultan Hamengkubuwana IX bisa dipercaya untuk menjabat posisi di pemerintahan. Sepak terjang beliau di masa sebelum dan setelah Indonesia merdeka bisa dijadikan bentuk loyalitas beliau kepada negara.

 

Sosok yang menjadi Bapak Pramuka Indonesia

Sri Sultan Hamengkubuwana IX dikenal aktif mengikuti gerakan kepanduan sejak muda. Pada 9 Maret 1961, Soekarno membentuk Panitia Pembetukan Gerakan Pramuka. Sri Sultan Hamengkubuwana IX masuk di dalam anggota panitia tersebut bersama Prof. Prijono (Menteri P dan K), Dr.A. Azis Saleh (Menteri Pertanian), dan Achmadi (Menteri Transmigrasi, Koperasi dan Pembangunan Masyarakat Desa). Panitia ini bertugas mengolah anggaran dasar gerakan pramuka. Pada tanggal 14 Agustus 1961, dilakukan penganugerahan Panji Kepramukaan serta pelantikan Majelis Pemimpin Nasional, Kwarnas, dan Kwarnari Gerakan Pramuka. Sri Sultan Hamengkubuwana IX kemudian menjabat sebagai Ketua Kwarnas sekaligus Wakil Ketua I Mapinas. Jabatan Ketua Kwarnas beliau pegang selama 4 periode bertutut-turut, yaitu 1961-1963, 1963-1967, 1967-1970, dan 1970-1974.

Sri Sultan Hamengkubuwana IX juga mendapatkan penghargaan Bronze Wolf Award dari World Organization of the Scout Movement (WOSM) pada tahun 1973. Itu merupakan penghargaan tertinggi dan satu-satunya dari World Organization of the Scout Movement (WOSM) kepada orang-orang yang berjasa besar dalam pengembangan kepramukaan. Atas jasa-jasa Sri Sultan Hamengkubuwana IX itulah, beliau kemudian dikukuhan sebagai Bapak Pramuka Indonesia pada Munas Gerakan Pramuka tahun 1988.

Sri Sultan Hamengkubuwana IX menghembuskan napas terakhir pada 2 Oktober 1988. Beliau meninggal dunia di George Washington University Medical Center, Amerika Serikat karena serangan jantung. Begitu banyak hal-hal positif yang ditinggalkan Sri Sultan Hamengkubuwana IX. Beliau salah satu tokoh pejuang kesultanan yang begitu mencintai Indonesia.

 

Sosok raja yang dimiliki Sri Sultan Hamengkubuwana IX mencerminkan kecintaan beliau pada rakyat. Meski hidup sebagai raja atas Yogyakarta, beliau juga tidak meninggalkan cinta untuk tanah air. Sri Sultan Hamengkubuwana IX menjadi salah satu figur pemimpin Indonesia yang rendah hati dan patut diteladani. Semoga kisah perjalanan hidup beliau juga bisa menginspirasi kamu ya!

Jenderal Soedirman, Panglima Besar pertama dan termuda

Jika menyebutkan nama Soedirman, apa yang muncul pertama kali di benak kamu? Pastinya sosok tentara Indonesia yang gagah berani ya! Soedirman memang merupakan salah satu pahlawan Indonesia yang dikenal karena keberanian beliau dalam mempertahankan kemerdekaan Indonesia. Perang gerilya juga populer karena beliau. Perang gerilya merupakan suatu strategi perang yang dilakukan secara sembunyi-sembunyi dan penuh kecepatan. Taktik perang ini dirasa ampuh untuk melumpuhkan musuh dalam jumlah yang cukup besar. Soedirman inilah tokoh di balik taktik perang gerilya tersebut. Buat kamu yang penasaran dengan tentara gagah berani ini, simak yuk kisah perjalanan dan perjuangan Soedirman berikut ini!

  

Masa kecil dan remaja yang dididik dengan nilai-nilai kepahlawanan dan patriotisme

Soedirman lahir di Rembang pada tanggal 24 Januari 1916. Beliau lahir dari pasangan Karsid Kartawiraji dan Siyem. Karena kondisi keuangan orang tua yang kurang baik, Soedirman kemudian diasuh oleh Raden Cokrosunaryo, seorang camat. Soedirman kembali mengikuti keluarga beliau di Cilacap pasca Cokrosunaryo pensiun dari camat.

Soedirman dibesarkan dengan kisah-kisah kepahlawanan, tata krama priyayi, serta kerja keras. Selain itu, Soedirman juga dididik Islam dengan baik. Soedirman sempat menempuh pendidikan di sekolah menengah Taman Siswa sebelum dipindahkan ke sekolah menengah Wirotomo. Selama bersekolah, sosok Soedirman dikenal cerdas dan aktif dengan kegiatan di luar belajar, misalnya mengaji, sepak bola, hingga bermusik.

Selepas lulus dari Wirotomo, Soedirman memimpin Hizboel Wathan (organisasi kepanduan putra milik Muhammadiyah) cabang Cilacap. Di situ Soedirman menekankan perlunya pendidikan agama pada anggota muda, sedangkan disiplin militer beliau ajarkan pada anggota yang lebih tua. Nilai-nilai mulia dari agama dan kepahlawanan yang pernah Soedirman dapatkan langsung beliau bagi pada anggota organisasi. Beliau berharap agar anak-anak muda pun juga bisa menumbuhkan nilai luhur layaknya yang beliau miliki sejak kecil. Bisa jadi inspirasi nih, menebar nilai-nilai kebaikan pada orang lain. Ya nggak?

 

Soedirman sempat mendedikasikan hidup untuk mengajar

Soedirman berkesempatan belajar satu tahun di Kweeschool (sekolah guru) di Surakarta. Keterbatasan biaya membuat beliau tidak bisa melanjutkan pendidikan. Soedirman pun kembali ke Cilacap dan mengajar di sebuah sekolah dasar Muhammadiyah. Sama seperti yang beliau lakukan di Hizboel Wathan, Soedirman mengajarkan pelajaran moral kepada para murid. Selain itu, jiwa nasionalisme juga Soedirman tanamkan selama mendidik murid-murid. Meski bergaji sangat kecil, Soedirman tetap mengajar dengan giat dan penuh semangat. Berkat ketekunan dan keikhlasan dalam mengajar, Soedirman pun diangkat menjadi kepala sekolah.

Soedirman menjadikan pendidikan sebagai media untuk menebar kebaikan. Bagi Soedirman, pendidikan bukan hanya sebagai sarana memperpintar diri. Pendidikan di masa itu adalah wadah paling tepat untuk mengajar dan membentuk tunas-tunas pejuang bangsa dengan semangat nasionalisme dan patriotisme. Mungkin zaman sekarang tidak banyak guru yang bisa seperti Soedirman ini. Ketulusan beliau dalam bekerja patut jadi teladan buat kamu.

 

Pembela Tanah Air (PETA) menjadi awal perkenalan Soedirman dengan kemiliteran

Pada masa pendudukan Jepang di tahun 1943, Soedirman menjabat selama satu tahun sebagai perwakilan di dewan karesidenan yang dijalankan Jepang bernama Syu Sangikai. Pada tahun 1944, Soedirman kemudian diminta untuk bergabung dengan Pembela Tanah Air (PETA). Tujuan Jepang medirikan PETA adalah untuk mengalau serangan invasi sekutu dan merekrut pemuda yang masih “bersih” dari Belanda. Soedirman mendapat jabatan daidanco (komandan) dan dilatih dengan orang lain yang berpangkat sama. Di pelatihan tersebut, Soedirman dipersenjatai dengan peralatan yang disita dari Belanda.

Pemberontakan dari tentara PETA pada tanggal 21 April 1945 membuat Jepang memerintahkan Soedirman untuk menangani hal tersebut. Soedirman berhasil meredam pemberontakan tersebut. Meski sempat mendapat kepercayaan dari Jepang, kubu Jepang tetap cemas tentang dukungan Soedirman pada kemerdekaan Indonesia. Soedirman dan beberapa anak buah beliau kemudian dikirim ke Bogor untuk pelatihan. Padahal tujuan awal pemindahan beliau tersebut hanya untuk diasingkan sementara.

Berada di bawah naungan pasukan bentukan Jepang tak membuat Soedirman kehilangan semangat nasionalisme. Bahkan, melalui PETA lah Soedirman berusaha mencuri sebanyak-banyaknya ilmu militer yang kelak bisa beliau gunakan untuk berjuang demi kemerdekaan Indonesia.

 

Panglima besar tentara pertama di Indonesia

Soedirman memilih lari dari kamp pelatihan di Bogor dan menuju Jakarta untuk menemui Soekarno pasca proklamasi kemerdekaan Indonesia. Soekarno kemudian meminta Soedirman mengelola Badan Keamanan Rakyat (BKR) yang bertugas sebagai “wadah militer” pertama Indonesia dalam usaha mempertahankan kemerdekaan. Akhirnya, Soekarno kemudian membentuk Tentara Keamanan Rakyat (TKR) pada 5 Oktober 1945 . Letnan Jenderal Oerip Soemohardjo dipilih menjadi pemimpin sementara. Di bulan itulah pasukan Inggris yang bertugas melucuti tentara Jepang dan memulangkan tentara Belanda tiba di Semarang dan bergerak menuju Magelang. Inggris justru kembali mempersenjatai tentara Belanda dan berencana mendirikan pangkalan militer di Magelang. Soedirman yang kala itu menjabat sebagai kolonel mengirim pasukan untuk mengusir mereka. Misi Soedirman ini membawa tentara Eropa menarik diri ke Ambarawa.

Pada 12 November 1945, Soedirman terpilih menjadi pemimpin TKR setelah unggul tipis atas Oerip Soemohardjo  melalui pemungutan suara. Karena kondisi negara yang belum stabil dan keraguan Soekarno akan kepemimpinan Soedirman, pengangkatan Soedirman sebagai pemimpin TKR pun tertunda. Di tengah kondisi tersebut, Soedirman justru memerintahkan pasukan beliau untuk menyerang sekutu di Ambarawa. Tentara Indonesia yang hanya dipersenjatai bambu runcing dan katana sitaan Belanda harus melawan tentara Inggris dengan segudang senjata modern. Soedirman ikut bertempur di barisan depan dan memimpin pengepungan selama empat hari sehingga sekutu pun mundur ke Semarang.

Berkat keberhasilan Soedirman inilah akhirnya Soedirman dikukuhkan sebagai panglima besar TKR pada 18 Desember 1945. Beliau lah panglima besar tentara yang dimiliki Indonesia. Soedirman tidak ambil pusing pada jabatan yang belum resmi diberikan kepada beliau. Bagi Soedirman, keutuhan negara jauh lebih penting daripada sekadar jabatan. Kesetiaan dan patriotisme Soedirman ini patut untuk dicontoh ya!

 

Masa-masa mempertahankan kemerdekaan Indonesia dan penyakit TBC yang diderita Soedirman

Jika perundingan dan diplomasi dilakukan sebagai salah satu upaya untuk mempertahankan kemerdekaan, maka Soedirman berada di barisan untuk mempertahankan Indonesia dari serangan sekutu. Soedirman saat itu dikenal sebagai salah satu tokoh yang lantang menentang isi perjanjian Linggarjati pada 25 Maret 1947. Soedirman kemudian berusaha mengonsolidasikan TKR dengan beberapa laskar dan melaksanakan reorganisasi militer. Pada tanggal 3 Juni 1947, Tentara Nasional Indonesia (TNI) diresmikan. TNI berisi TKR dan tentara dari kelompok laskar. Belanda pun melancarkan Agresi Militer pertama pada 21 Juli 1947 dan berhasil menguasai sebagian besar Jawa dan Sumatera. Soedirman menyerukan kepada para tentara agar melakukan perlawanan, tetapi upaya beliau berpidato melalui RRI gagal mendorong tentara untuk menyerang karena mereka belum siap.

Belanda sempat melakukan gencatan senjata. Di saat itulah Soedirman kemudian memanggil gerilyawan Indonesia yang bersembunyi untuk kembali ke wilayah yang dikuasai Indonesia. Inilah upaya awal Soedirman untuk kembali membentuk suatu pasukan karena beliau yakin bahwa Belanda kelak akan kembali melancarkan serangan. Namun, pada 18 September 1948 justru muncul pemberontakan di Madiun di bawah pimpinan Sjarifuddin (mantan perdana Menteri Indonesia yang digulingkan akibat keterlibatan di Perjanjian Renville). Soedirman yang sedang sakit memerintahkan Nasution untuk meredamkan pemberontakan.

Pemberontakan di Madiun dan ketidakstabilan politik membuat kesehatan Soedirman semakin menurun. Soedirman terkena TBC dan harus menjalani pengempesan paru-paru kanan di Rumah Sakit Panti Rapih. Dalam kondisi sakit, Soedirman tetap aktif berkomunikasi dengan Nasution untuk membahas rencana perang. Rasa sakit tidak menghalangi Soedirman untuk tetap berkontribusi penuh pada negara. Meski harus terkapar di rumah sakit, semangat beliau justru mampu menular kepada tentara lain.

 

Berjuang di perang gerilya dengan kondisi kesehatan yang buruk

Hal yang paling ditakutkan Soedirman pun tiba. Belanda melancarkan Agresi Militer kedua. Pada tanggal 19 Desember 1948, Belanda justru berhasil menduduki ibukota Yogyakarta. Soedirman segera menyiarkan berita lewat RRI bahwa tentara siap melawan sebagai gerilyawan. Meski dokter melarang Soedirman untuk berperang, hal tersebut dihiraukan Soedirman. Beliau ikut maju dalam perang gerilya melawan Belanda.

Soedirman meninggalkan Yogyakarta untuk memimpin langsung perang gerilya. Tujuh bulan lamanya beliau bergerilya di seluruh wilayah Indonesia. Bayangkan, dengan kondisi beliau yang tengah memburuk karena TBC, beliau harus berpindah-pindah sembari ditandu dan dikawal tentara lain. Soedirman juga aktif memberi perintah pada pasukan TNI lewat radio-radio. Semangat juang Soedirman inilah yang membuat para gerilyawan tidak putus asa atau hilang harapan. Meski begitu, Belanda juga ikut-ikutan menyebarkan propaganda bahwa telah menangkap Soedirman agar para gerilyawan patah semangat.

Puncaknya adalah peristiwa Serangan Umum 1 Maret 1949 yang merupakan hasil rencana pembahasan antara Soedirman, Hutagalung, Bambang Sugeng, dan beberapa pejabat pemerintahan. Serangan di bawah pimpinan Letkol Soeharto ini berhasil menduduki dan merebut kembali Yogyakarta dalam waktu enam belas jam. Belanda pun mulai memundurkan pasukannya sesuai Perjanjian Roem Royen. Soedirman yang diminta untuk kembali ke Yogyakarta sempat menolak dengan alasan malas bertemu para kalangan politisi yang banyak terlibat perundingan dengan Belanda.

Pengorbanan Soedirman ini bukanlah sekadar untuk mencari perhatian masyarakat. Kondisi kesehatan yang sudah sangat memburuk justru menjadi pelecut semangat untuk memberikan kontribusi lewat cara yang nyata. Tidak pernah ikut campur di dunia politik jadi pilihan Soedirman. Bagi beliau, mempertahankan kemerdekaan dengan keringat sendiri jauh lebih berarti daripada harus bernegosiasi terus-menerus dengan penjajah.

 

Selesainya masa perang menjadi akhir bakti Soedirman untuk Indonesia

Perjuangan Soedirman melawan penyakit TBC belum berakhir. Beliau keluar masuk Rumah Sakit Panti Rapih berkali-kali. Beliau kemudian dipindahkan ke sebuah rumah di Magelang pada Desember 1949. Di saat itu pulalah Indonesia mengadakan Konferensi Meja Bundar (KMB) dengan Belanda. Akhirnya kedaulatan penuh kemerdekaan Indonesia pun diperoleh pada tanggal 27 Desember 1949. Di tengah perjuangan melawan penyakit TBC, Soedirman mendapat hadiah berupa kedaulatan penuh kemerdekaan Indonesia. Perjuangan perang gerilya belia selama ini akhirnya menghasilkan hasil yang manis pula lewat KMB.

Namun, Soedirman wafat pada tanggal 29 Januari 1950. Kabar duka ini membuat rakyat Indonesia bersedih karena di saat perjuangan mempertahankan kemerdekaan usai, justru negara harus kehilangan salah satu sosok pejuang. Jenazah Soedirman yang dibawa di Yogyakarta langsung dipadati banyak pelayat. Beliau kemudian disemayamkan di Taman Makam Pahlawan Semaki.

Sungguh luar biasa melihat kegigihan dan semangat Soedirman hingga akhir hayat. Tetap berjuang di tengah rasa sakit dan tidak pernah memikirkan kepentingan sendiri menjadikan sosok Soedirman sangat dikenang sebagai panglima besar terbaik yang dimiliki Indonesia. Tak heran jika sampai sekarang sosok Soedirman tetap dikenang sebagai pahlawan paling gagah berani dan rela berkorban.

 

Keberanian, kesetiaan, nasionalisme, dan patriotisme adalah nilai-nilai luhur dari Soedirman yang bisa kamu tiru. Pengorbanan untuk negara di atas kepentingan pribadi juga bisa kamu jadikan inspirasi untuk ikut berjuang membangun bangsa ini di masa kini. Semoga kisah Soedirman ini bisa jadi inspirasi untuk kamu ya!

Tan Malaka, Sosok Pejuang Kemerdekaan yang Namanya (Hampir) Hilang dari Sejarah Indonesia

Kisah perjuangan kemerdekaan Indonesia bisa jadi tidak bisa lepas dari nama Soekarno, Mohammad Hatta, hingga Sutan Sjahrir. Namun, siapa sangka ada satu nama lagi yang hampir “terlupakan”. Sosok tersebut bernama Tan Malaka. Mungkin sebagian besar dari kamu akan mengernyitkan dahi ketika mendengar nama tersebut. Tak seperti Soekarno dan Mohammad Hatta yang pernah menjadi presiden dan wakil presiden atau Sutan Sjahrir yang sempat menjadi perdana menteri, Tan Malaka bahkan tidak pernah mencicipi posisi penting apapun pasca kemerdekaan Indonesia. Padahal, beliau juga ikut memperjuangkan dan mempertahankan kemerdekaan Indonesia meski dengan cara yang berbeda. Lalu, siapa Tan Malaka dan apa kontribusinya untuk bangsa ini? Yuk, simak kisah perjalanan sosok yang hampir terlupakan oleh Indonesia berikut ini!

  

Pemuda asal Sumatera Barat yang mampu menempuh pendidikan di Belanda

Tan Malaka lahir pada tanggal 2 Juni 1897 di Nagari Pandam Gadang, Suliki, Sumatera Barat. Tan Malaka tinggal di surau sejak usia 5 tahun dan belajar ilmu agama serta pencak silat. Pada tahun 1908, beliau mendaftar ke Kweekschool (sekolah calon guru). Tan Malaka gemar bahasa Belanda dan memiliki nilai-nilai yang bagus di mata pelajaran tersebut. Guru beliau pun menyarankan Tan Malaka untuk menjadi guru bahasa Belanda. Bak gayung bersambut, doa sang guru dan impian Tan Malaka pun terkabul. Berkat dukungan dari engku (kakek) di kampungnya, Tan Malaka bisa melanjutkan pendidikan di Belanda. Beliau kemudian diterima di Rijkskweekschool di kota Haarlem.

 

Awal perkenalan Tan Malaka pada paham sosialisme dan komunisme

Kala itu, dampak revolusi industri masih terasa di akhir abad 19 dan awal abad 20. Dunia berkembang dengan cepat, mulai dari penemuan telepon, telegraf, mobil, hingga pesawat terbang. Namun, ada dampak sosial yang tidak kalah memprihatinkan, yaitu harga barang jatuh, usaha kecil bangkrut, upah buruh murah, hingga kesenjanga sosial antara pengusaha dan buruh. Fenomena tersebut melahirkan berbagai pemahaman baru yang dicetuskan oleh filsafat ekonomi dan politik, yaitu ideologi sosialisme dan komunisme. Ideologi tersebut menegakkan keadilan bagi para buruh dan kaum tertindas.

Di saat itulah sosok Tan Malaka mulai penasaran dengan ideologi sosialisme dan komunisme. Pemikiran beliau kala itu dipengaruhi oleh buku-buku karya Karl Marx, Friedrich Engels, Vladimir Lenin, dan lain-lain. Sampai pada akhirnya Tan Malaka bertemu dengan Henk Sneevliet, tokoh komunis yang baru saja mendirikan Indische Sociaal-Democratische Vereeniging (ISDV). Keprihatinan Tan Malaka akan kondisi kaum buruh kala itu menyulutkan semangat beliau untuk mampu menegakkan keadilan bagi para buruh.

 

Menjadi guru untuk anak-anak buruh dan perjuangan awal beliau Tan Malaka bersama ISDV

Bentuk dukungan Tan Malaka pada kaum buruh kemudian beliau tunjukkan dengan menjadi guru bahasa Melayu untuk anak-anak buruh perkebunan teh dan tembakau di Sanembah, Sumatera Utara. Dari mengajar ini, Tan Malaka melihat langsung penderitaan kaum buruh yang sering ditipu karena buta huruf dan tidak bisa berhitung. Pengalaman mengajar ini akhirnya menginspirasi Tan Malaka untuk melawan kolonialisme.

Tan Malaka lalu memutuskan bergabung dengan ISDV yang cukup radikal melawan kolonial Belanda. Gerakan ISDV yang sempat mati nyatanya justru semakin berkembang. Pada tahun 1920, ISDV resmi berganti nama menjadi Perkumpulan Komunis di Hindia (PKH). Tan Malaka kemudian pindah ke Jawa untuk berjuang bersama PKH hasil bentukan Serikat Islam (SI) dengan ISDV. Hanya saja, duet SI dan PKH akhirnya harus bubar jalan lantaran pandangan sosialis dan komunis yang tidak sejalan dengan SI.

PKH yang sempat dipimpin Semaoen memiliki kinerja yang serba hati-hati dan menghindari konflik dengan kolonial. Hal ini tidak sejalan dengan pemikiran Tan Malaka kala itu. Ketika Semaoen harus menghandiri konferensi di Moskow, Tan Malaka mengambil alih PKH dan langsung mengambil jalur radikal melawan kolonial. Tindakan Tan Malaka yang terang-terangan melawan kolonial ini membuat Belanda mengasingkan beliau ke Belanda agar tidak bisa memimpin pemberontakan lagi. Tan Malaka benar-benar menjadi sosok pembela kaum buruh. Bahkan, beliau sampai tidak memperhatikan keselamatan diri. Rasa peduli pada sesama yang dimiliki beliau bisa jadi contoh untuk pemuda zaman sekarang.

 

Meski diasingkan ke Belanda, Tan Malaka tak pernah kapok berjuang

Diasingkan ke Belanda bukan berarti Tan Malaka tinggal diam. Beliau bahkan tidak kapok berjuang di pengasingan. Malaka justru bergabung dalam Partai Komunis Belanda dan bertemu Darsono (mantan tokoh di SI) di Berlin. Bersama Darsono, Tan Malaka ikut bergabung di Communist International (Comintern). Selama di Comintern, Tan Malaka sempat mengikuti Kongres Internasional Comintern dan ditugaskan menjadi agen Comintern di Asia Tenggara yang bermarkas di Kanton, Tiongkok. Di sanalah muncul sebuah karya Tan Malaka yang justru kelak menjadi inspirasi bagi bapak negara Indonesia.

 

Buku Naar de Republiek Indonesia jadi awal mimpi Tan Malaka akan kemerdekaan Indonesia

Pada tahun 1925, Tan Malaka menulis buku berjudul Naar de Republiek atau dalam bahasa Indonesia artinya menjadi Menuju Republik Indonesia. Tan Malaka mengemukakan analisa tentang dunia politik dunia saat itu melalui buku ini. Di buku tersebut Tan Malaka juga menulis bahwa persaingan kekuatan ekonomi Jepang dan Amerika akan berujung pada Perang Pasifik dan itu bisa menjadi kesempatan Indonesia untuk melakukan revolusi melawan Belanda. Dari sinilah gagasan perjuangan menuju negara bernama Indonesia harus direalisasikan. Frasa “Republik Indonesia” muncul pertama kali di buku Tan Malaka ini.

Apa yang diramalkan Tan Malaka di buku tersebut menjadi kenyataan. Muncullah Perang Pasifik di rangkaian Perang Dunia II dan di situlah peluang bagi para bapak negara untuk merealisasikan mimpi kemerdekaan Indonesia. Siapa sangka ide awal sebuah nama “Republik Indonesia” justru muncul dari sosok Tan Malaka. Impian besarnya lepas dari kolonial mampu membuat beliau menuangkan pemikiran ke dalam buku yang ternyata bisa menginspirasi para bapak negara kala itu (Soekarno, Mohammad Hatta, Sutan Sjahrir).

 

Si “pembuat onar” yang ikut aktif dalam usaha mempertahankan kemerdekaan Indonesia

Setelah sempat bersembunyi dari Belanda, akhirnya Tan Malaka kembali ke tanah air saat Belanda berhasil diusir oleh Jepang. Namun, Tan Malaka kembali muncul saat Soekarno dan Mohammad Hatta sukses memproklamasikan kemerdekaan. Hanya saja, lagi-lagi sifat berontak Tan Malaka muncul. Di saat pemerintah berusaha mempertahankan kemerdekaan Indonesia melalui berbagai macam perundingan, Tan Malaka merasa hal tersebut tidak perlu dilakukan. Kalau perlu, lebih baik mati-matian mempertahankan kemerdekaan dengan perang melawan sekutu yang hendak merebut kembali Indonesia.

Tan Malaka ikut dalam perjuangan bersama rakyat di Surabaya. Kemudian beliau melanjutkan perjuangan di Purwokerto dan membentuk perkumpulan yang dinamakan Persatuan Perjuangan (PP). Ironisnya, pemerintah Indonesia justru menganggap PP sebagai pembangkang yang tidak menurut pada kebijakan pemerintah pusat. Beberapa pemimpin PP pun ditangkap oleh Sutan Sjahrir, termasuk beliau. Tan Malaka tercatat dijebloskan ke penjara selama dua setengah tahun tanpa diadili.

Ketika pada akhirnya banyak perundingan yang justru merugikan Indonesia, Tan Malaka memang sebelumnya sudah memprediksi hal tersebut. Bagi Tan Malaka, berunding kembali dengan penjajah hanya akan membuka potensi kehilangan kemerdekaan kembali. Sebuah ucapan beliau yang hingga sekarang masih dikenang adalah: “Tuan rumah tak akan berunding dengan maling yang menjarah rumahnya”. Tan Malaka makin gencar mengumpulkan kekukatan rakyat melalui berbagai gerakan untuk merebut kembali keutuhan bangsa. Gerakan-gerakan tersebut antara lain Gerakan Revolusi Rakyat (GRR), PARI, sampai Murba (Partai Musyawarah Rakyat Banyak). Lagi-lagi Tan Malaka dicap sebagai “pembuat onar” oleh pemerintah. Kepedulian Tan Malaka untuk mempertahankan kemerdekaan Indonesia ternyata tidak selalu bisa dipandang baik oleh orang banyak. Padahal niat Tan Malaka sama seperti tokoh Indonesia lainnya, yakni keutuhan Indonesia. Meski begitu, perjuangan Tan Malaka tetap patut diacungi jempol.

 

Kerap tidak sejalan dengan pemerintah, Tan Malaka dianggap pemberontak oleh pemerintah. Bahkan, namanya hampir hilang dari sejarah Indonesia

Tan Malaka semakin “menjadi” dengan membentuk pasukan dan menghimpun kekuatan di Kediri untuk menghadapi Agresi Militer Belanda II pada Desember 1948. Dalam kondisi Indonesia yang sedang goyang tersebut, Tan Malaka justru melanjutkan perjuangan bersama pasukannya dengan cara yang cukup keras, antara lain tidak mengakui perjanjian Linggarjati dan Renville, menghancurkan negara boneka bentukan Belanda, hingga mengabaikan seluruh ajakan perundingan. Cara ekstrim ala Tan Malaka ini ternyata ampuh membakar semangat rakyat Indonesia.

Semangat membara Tan Malaka ini justru dianggap berbahaya oleh pemerintah. Tan Malaka resmi menjadi buruan pemerintah sejak itu. Pada bulan Februari 1949, Tan Malaka ditangkap di Kediri dan ditembak mati di sana. Soekarno sempat memberikan gelar Pahlawan Nasional pada Tan Malaka di tahun 1963. Namun, di era Soeharto, nama Tan Malaka disembunyikan dari sejarah Indonesia hingga hampir nyaris jarang terdengar hingga sekarang.

 

Dari kisah Tan Malaka kamu bisa belajar bahwa begitu banyak orang yang memang berjuang untuk kemerdekaan Indonesia. Masing-masing dari founding father Indonesia tentu memiliki pemikiran yang berbeda sehingga tidak selamanya mereka selalu sejalan. Namun, perlu diingat bahwa apapun bentuk perjuangan mereka, tujuannya adalah satu: kemerdekaan Indonesia. Entah menjadi pahlawan ataupun tidak, semoga kisah Tan Malaka bisa menjadi inspirasi tersendiri buatmu. Perjuangan beliau untuk kaum tertindas patut kamu teladani.