Tag Archives: Pahlawan Kemerdekaan

Mohammad Natsir, Sosok Muslim Teladan yang Berjiwa Nasionalis

Sejarah Indonesia tidak bisa lepas dari salah satu sosok iinspiratif ini. Beliau adalah Mohammad Natsir. Selain dikenal sebagai mantan perdana menteri Indonesia, Mohammad Natsir juga merupakan salah satu tokoh Muslim yang disegani di Indonesia. Bahkan, pendalaman beliau mengenai ajaran Islam dalam bernegara menjadi panutan bagi beberapa partai Islam yang kemudian berdiri. Meski begitu erat dengan ajaran Islam, bukan berarti Mohammad Natsir tak memiliki peran apapun di masa kemerdekaan Indonesia. Mungkin nama beliau tidak terlalu sering disebut dalam sejarah layaknya Soekarno, Mohammad Hatta, maupun Sutan Sjahrir. Namun, kamu perlu tahu bahwa Mohammad Natsir juga menjadi aktor penting dalam deretan peristiwa yang dialami Indonesia pasca kemerdekaan. Simak dulu yuk, kisah salah seorang tokoh Muslim yang paling disegani ini!

 

Akrab dengan ajaran Islam sejak remaja

Mohammad Natsir lahir pada tanggal 17 Juli 1908 di Solok, Sumatera Barat. Orang tua beliau bernama Mohammad Idris Sutan Saripado dan Khadijah. Mohammad Nastsir sempat mengenyam pendidikan di Sekolah Rakyat sebelum akhirnya pindah ke HIS. Pada tahun 1923, beliau melanjutkan pendidikan di MULO Padang. Di situ Mohammad Natsir bergabung dalam beberapa organisasi, seperti Pandu Nationale Islamietische Pavinderij dan Jong Islamieten Bond. Ketua Jong Islamieten Bond  dijabat beliau dari tahun 1928-1932. Setamat dari MULO, Mohammad Natsir pindah ke Bandung dan melanjutkan ke AMS dan lulus pada tahun 1930.

Ilmu tentang agama Islam semakin beliau perdalam saat di Bandung. Beberapa ilmu yang beliau pelajari antara lain tafsir Al-Quran, hukum Islam, dan dialektika. Mohammad Natsir pun sempat beguru pada Ahmad Hassan yang kemudian menjadi tokoh organisasi Islam bernama Persatuan Islam. Baik selama di Sumatera maupun Bandung, Mohammad Natsir memang sudah dekat dengan ajaran Islam. Nilai-nilai luhur Islam senantiasa menjadi pedoman beliau dalam hidup, bahkan mengenai kemerdekaan Indonesia kelak.

 

Keterlibatan Mohammad Natsir dalam politik melalui partai dan organisasi Islam

Mohammad Natsir dikenal memiliki kedekatan dengan beberapa tokoh Islam, salah satunya adalah Agus Salim. Sepanjang tahun 1930-an, bersama Agus Salim, beliau kerap bertukar pikiran tentang hubungan Islam dan negara yang kelak akan merdeka. Selain itu, keaktifan Mohammad Natsir di Partai Islam Indonesia membuatnya terpilih menjadi pimpinan partai tersebut untuk cabang di Bandung periode 1940-1942.

Mohammad Natsir bergabung dalam Majelis Islam A’la Indonesia selama masa kependudukan Jepang. Nama Majelis Islam A’la Indonesia kemudian berubah menjadi Majelis Syuro Muslimin Indonesia atau disingkat Masyumi. Saat itu Masyumi belum menjadi sebuah partai, melainkan hanya wadah bagi organisasi Islam yang diizinkan kala itu, yaitu Nahdlatul Ulama, Muhammadiyah, Persatuan Umat Islam, dan Persatuan Umat Islam Indonesia. Pada tahun 1945, Mohammad Natsir terpilih menjadi ketua Masyumi. Jabatan tersebut beliau pegang sampai pada tahun 1960 Masyumi dibubarkan oleh Soekarno.

Tumbuh dengan ajaran Islam sejak muda tidak membuat Mohammad Natsir menjadi anti ke-modern-an. Kala itu beliau percaya bahwa dalam Islam mengenal dua hal, yakni haq (baik) dan bathil (buruk). Segala hal dari Barat yang memang baik sudah sewajarnya diterima. Segala hal yang buruk lah yang harus dijauhkan. Jadi, bukan budaya “barat” atau “timur” yang membedakan sebuah perbuatan baik atau tidak. Keterbukaan pola pikir beliaulah yang membuat Mohammad Natsir bermimpi memadukan konsep pendidikan modern dengan unsur agama Islam di dalamnya. Bahkan, agama Islam inilah yang kelak ingin beliau bawa sebagai landasan bernegara.

 

Peran beliau pasca kemerdekaan Indonesia

Setelah Indonesia resmi memproklamasikan kemerdekaan pada 17 Agustus 1945, Mohammad Natsir resmi menjadi anggota Komite Nasional Indonesia Pusat (KNIP). Selain itu, beliau juga menjabat sebagai menteri penerangan mulai tahun 1946 hingga 1949. Mohammad Natsir merupakan salah satu tokoh yang tidak setuju dengan hasil keputusan Konferensi Meja Bundar (KMB) karena kala itu Irian Barat tidak dimasukkan ke dalam Republik Indonesia Serikat (RIS). Mohammad Hatta kemudian menugaskan Mohammad Natsir bersama Sri Sultan Hamengkubuwono IX melakukan lobi untuk menyelesaikan krisis di berbagai daerah yang ingin membubarkan diri dengan Indonesia. Maka, pada tanggal 3 April 1950, Mohammad Natsir mengajukan Mosi Integral Natsir dalam sidang pleno parlemen. Mosi tersebut berisi gagasan bersatunya kembali sistem pemerintahan Indonesia dalam sebuah kesatuan. Mosi ini akhirnya membawa bangsa Indonesia, yang sebelumnya berbentuk serikat, kembali dalam Negara Kesatuan Republik Indonesia. Keberhasilan Mohammad Natsir tersebut membuat beliau diangkat menjadi perdana menteri oleh Soekarno pada tahun 1950.

Namun, hubungan Mohammad Natsir dan Soekarno juga pernah memburuk karena ada perselisihan paham. Soekarno yang kala itu erat dengan paham nasionalisme kerap bergesekan dengan Mohammad Natsir yang cenderung mengajukan Islam sebagai dasar negara. Saat itu, Mohammad Natsir beranggapan bahwa Islam memiliki nilai-nilai sempurna bagi kehidupan bernegara dan dapat menjamin keragaman hidup antar berbagai golongan dengan penuh toleransi. Mohammad Natsir sendiri tidak menuntut Indonesia harus menjadi negara Islam, yang terpenting adalah berjalannya hukum Tuhan sebagai bentuk dari negara yang berdasarkan agama Islam. Singkatnya, negara hanya digunakan sebagai alat untuk mewujudkan nilai-nilai Islam. Sementara itu, Soekarno kerap mengkritik Islam sebagai ideologi. Perbedaan pandangan mengenai negara inilah yang akhirnya membuat Mohammad Natsir memutuskan mundur dari jabatan perdana menteri pada tahun 1951.

 

Sempat dipenjarakan di era demokrasi terpimpin dan kembali berkontribusi di masa Orde Baru

Perseteruan Mohammad Natsir dengan Soekarno tampaknya berlanjut di era demokrasi terpimpin. Mohammad Natsir kemudian bergabung dalam Pemerintah Revolusioner Republik Indonesia (PRRI). Saat itu PRRI menuntut adanya otonomi daerah yang lebih luas. Di mata Soekarno, hal ini dipandang sebagai salah satu pemberontakan. Mohammad Natsir pun ditangkap dan dipenjarakan di Malang pada tahun 1962 dan beliau baru dibebaskan saat masa Orde Baru dimulai di tahun 1966.

Lepas dari penjara tak membuat kecintaan Mohammad Natsir pada Islam berkurang. Beliau kembali aktif pada beberapa organisasi, seperti Majelis Ta’sisi Rabitah Alam Islami dan Majelis Ala al-Alami lil Masjid yang berpusat di Mekkah, Pusat Studi Islam Oxford (Oxford Centre for Islamic Studies) di Inggris, dan Liga Muslim Sedunia (World Muslim Congress) di Karachi, Pakistan. Selain itu, beliau membentuk Yayasan Dewan Dakwah Islamiyah Indonesia.

Pada awal masa Orde Baru inilah kontribusi Mohammad Natsir begitu besar untuk Indonesia. Kala itu beliau membantu mencairkan hubungan Indonesia dengan Malaysia melalui pengiriman nota kepada Tuanku Abdul Rahman. Tak hanya itu, Mohammad Natsir juga mengontak pemerintah Kuwait agar bersedia menanam modal di Indonesia. Berkat jasa beliau inilah, pelan-pelan hubungan Indonesia dengan beberapa negara pun kembali membaik pasca tragedi G30S/PKI.

 

Semasa hidup, Mohammad Natsir aktif menulis tentang ajaran Islam

Mohammad Natsir sudah akrab dengan dunia kepenulisan sejak masih duduk di AMS. Pada tahun 1929 hingga 1935, beliau mendirikan surat kabar bernama Pembela Islam. Selain itu, beliau aktif menulis tentang padangan Islam di berbagai surat kabar, misalnya Pandji Islam, Pedoman Masyarakat, dan Al-Manar. Karya-karya Mohammad Natsir selalu seputar pemikiran Islam, budaya, hingga hubungan Islam dengan politik. Mohammad Natsir pun dikenal sebagai salah satu tokoh Muslim yang disegani hingga sekarang. Keteguhan beliau pada ajaran Islam dianggap sebagai teladan yang tepat untuk hidup bernegara yang berasaskan Pancasila.

 

Kepedulian akan pendidikan membuat beliau mendirikan perguruan tinggi Islam

Tak hanya berpolitik, Mohammad Natsir juga peduli pada pendidikan Indonesia. Beliau memiliki cita-cita membangun pendidikan Indonesia dengan nilai-nilai akhlak dari Islam. Pada tahun 1932, Mohammad Natsir juga memimpin Lembaga Pendidikan Islam yang dikena dengan nama Pendis. Kelak, Pendis inilah yang menjadi cikal bakal lahirnya Universitas Islam Bandung (Unisba). Selanjutnya, Masyumi mengadakan sebuah rapat pada tahun 1945 yang menghasilkan dua keputusan. Pertama, membentuk barisan untuk melawan sekutu. Sedangkan yang kedua adalah mendirikan perguruan tinggi Islam bernama Sekolah Tinggi Islam (STI). Tujuan didirikannya STI ini adalah untuk memberikan pendidikan tinggi tentang agama Islam agar kelak dapat bermanfaat bagi masyarakat. Saat itu STI diketuai oleh Mohammad Hatta dengan Mohammad Natsir sebagai wakilnya. Seiring perkembangan yang ada, nama STI pun berubah menjadi Universitas Islam Indonesia yang kini dikenal berlokasi di Yogyakarta.

 

Sempat dituduh pemberontak di negeri sendiri, Mohammad Natsir justru banyak dihargai di luar negeri

Mohammad Natsir dikenal terlalu sering berselisih dengan presiden, baik Soekarno maupun Soeharto. Perbedaan pandangan tentang politik membuat keduanya sering menganggap Mohammad Natsir adalah sebuah ancaman yang bisa mengubah ideologi negara. Namun, siapa sangka justru Mohammad Natsir sangat dikenal di negara-negara lain. Sosok Mohammad Natsir dianggap sebagai politisi yang paling menonjol untuk mendukung pembaruan Islam. Beliau sempat menerima penghargaan bintang Nican Istikhar dari Raja Tunisia atas jasanya membantu perjuangan kemerdekaan Afrika Utara. Pada tahun 1980, penghargaan lain yang didapat adalah Jaa-izatul Malik Faisal al-Alamiyah. Di tahun yang sama pula Mohammad Natsir memperoleh penghargaan Faisal Award dari Raja Fahd di Arab Saudi. Puncaknya, beliau mendapat dua gelar kehormatan pada tahun 1991 di Malaysia. Pertama adalah di bidang sastra dari Universitas Kebangsaan Malaysia. Kedua adalah dalam bidang pemikiran Islam dari Universitas Sains Malaysia.

Mohammad Natsir meninggal pada tanggal 6 Februari 1993 di Jakarta. Beliau mendapat gelar pahlawan Indonesia setelah 15 tahun kematian beliau, yaitu pada tanggal 10 November 2008. Di masa kepemimpinan B.J. Habibie, Mohammad Natsir juga sempat mendapat penghargaan Bintang Republik Indonesia Adipradana. Kejadian yang ironi ini semoga bisa menjadi pelajaran berharga bagi Indonesia. Hingga sekarang memang banyak anak bangsa yang sulit mendapat pengakuan di Indonesia, tapi justru bisa lebih dihargai di luar negeri.

 

Akhir-akhir ini begitu banyak peristiwa di Indonesia yang sering mengadu domba antar umat beragama. Sosok Mohammad Natsir ini mengingatkan kita bahwa keberagaman apapun yang dimiliki bangsa ini, jangan pernah lupa pada bangsa ini berbentuk Negara Kesatuan Republik Indonesia. Jangan sampai NKRI yang pernah diusahakan mati-matian oleh Mohammad Natsir justru mudah terpecah belah hanya karena isu-isu keagamaan.

Tan Malaka, Sosok Pejuang Kemerdekaan yang Namanya (Hampir) Hilang dari Sejarah Indonesia

Kisah perjuangan kemerdekaan Indonesia bisa jadi tidak bisa lepas dari nama Soekarno, Mohammad Hatta, hingga Sutan Sjahrir. Namun, siapa sangka ada satu nama lagi yang hampir “terlupakan”. Sosok tersebut bernama Tan Malaka. Mungkin sebagian besar dari kamu akan mengernyitkan dahi ketika mendengar nama tersebut. Tak seperti Soekarno dan Mohammad Hatta yang pernah menjadi presiden dan wakil presiden atau Sutan Sjahrir yang sempat menjadi perdana menteri, Tan Malaka bahkan tidak pernah mencicipi posisi penting apapun pasca kemerdekaan Indonesia. Padahal, beliau juga ikut memperjuangkan dan mempertahankan kemerdekaan Indonesia meski dengan cara yang berbeda. Lalu, siapa Tan Malaka dan apa kontribusinya untuk bangsa ini? Yuk, simak kisah perjalanan sosok yang hampir terlupakan oleh Indonesia berikut ini!

  

Pemuda asal Sumatera Barat yang mampu menempuh pendidikan di Belanda

Tan Malaka lahir pada tanggal 2 Juni 1897 di Nagari Pandam Gadang, Suliki, Sumatera Barat. Tan Malaka tinggal di surau sejak usia 5 tahun dan belajar ilmu agama serta pencak silat. Pada tahun 1908, beliau mendaftar ke Kweekschool (sekolah calon guru). Tan Malaka gemar bahasa Belanda dan memiliki nilai-nilai yang bagus di mata pelajaran tersebut. Guru beliau pun menyarankan Tan Malaka untuk menjadi guru bahasa Belanda. Bak gayung bersambut, doa sang guru dan impian Tan Malaka pun terkabul. Berkat dukungan dari engku (kakek) di kampungnya, Tan Malaka bisa melanjutkan pendidikan di Belanda. Beliau kemudian diterima di Rijkskweekschool di kota Haarlem.

 

Awal perkenalan Tan Malaka pada paham sosialisme dan komunisme

Kala itu, dampak revolusi industri masih terasa di akhir abad 19 dan awal abad 20. Dunia berkembang dengan cepat, mulai dari penemuan telepon, telegraf, mobil, hingga pesawat terbang. Namun, ada dampak sosial yang tidak kalah memprihatinkan, yaitu harga barang jatuh, usaha kecil bangkrut, upah buruh murah, hingga kesenjanga sosial antara pengusaha dan buruh. Fenomena tersebut melahirkan berbagai pemahaman baru yang dicetuskan oleh filsafat ekonomi dan politik, yaitu ideologi sosialisme dan komunisme. Ideologi tersebut menegakkan keadilan bagi para buruh dan kaum tertindas.

Di saat itulah sosok Tan Malaka mulai penasaran dengan ideologi sosialisme dan komunisme. Pemikiran beliau kala itu dipengaruhi oleh buku-buku karya Karl Marx, Friedrich Engels, Vladimir Lenin, dan lain-lain. Sampai pada akhirnya Tan Malaka bertemu dengan Henk Sneevliet, tokoh komunis yang baru saja mendirikan Indische Sociaal-Democratische Vereeniging (ISDV). Keprihatinan Tan Malaka akan kondisi kaum buruh kala itu menyulutkan semangat beliau untuk mampu menegakkan keadilan bagi para buruh.

 

Menjadi guru untuk anak-anak buruh dan perjuangan awal beliau Tan Malaka bersama ISDV

Bentuk dukungan Tan Malaka pada kaum buruh kemudian beliau tunjukkan dengan menjadi guru bahasa Melayu untuk anak-anak buruh perkebunan teh dan tembakau di Sanembah, Sumatera Utara. Dari mengajar ini, Tan Malaka melihat langsung penderitaan kaum buruh yang sering ditipu karena buta huruf dan tidak bisa berhitung. Pengalaman mengajar ini akhirnya menginspirasi Tan Malaka untuk melawan kolonialisme.

Tan Malaka lalu memutuskan bergabung dengan ISDV yang cukup radikal melawan kolonial Belanda. Gerakan ISDV yang sempat mati nyatanya justru semakin berkembang. Pada tahun 1920, ISDV resmi berganti nama menjadi Perkumpulan Komunis di Hindia (PKH). Tan Malaka kemudian pindah ke Jawa untuk berjuang bersama PKH hasil bentukan Serikat Islam (SI) dengan ISDV. Hanya saja, duet SI dan PKH akhirnya harus bubar jalan lantaran pandangan sosialis dan komunis yang tidak sejalan dengan SI.

PKH yang sempat dipimpin Semaoen memiliki kinerja yang serba hati-hati dan menghindari konflik dengan kolonial. Hal ini tidak sejalan dengan pemikiran Tan Malaka kala itu. Ketika Semaoen harus menghandiri konferensi di Moskow, Tan Malaka mengambil alih PKH dan langsung mengambil jalur radikal melawan kolonial. Tindakan Tan Malaka yang terang-terangan melawan kolonial ini membuat Belanda mengasingkan beliau ke Belanda agar tidak bisa memimpin pemberontakan lagi. Tan Malaka benar-benar menjadi sosok pembela kaum buruh. Bahkan, beliau sampai tidak memperhatikan keselamatan diri. Rasa peduli pada sesama yang dimiliki beliau bisa jadi contoh untuk pemuda zaman sekarang.

 

Meski diasingkan ke Belanda, Tan Malaka tak pernah kapok berjuang

Diasingkan ke Belanda bukan berarti Tan Malaka tinggal diam. Beliau bahkan tidak kapok berjuang di pengasingan. Malaka justru bergabung dalam Partai Komunis Belanda dan bertemu Darsono (mantan tokoh di SI) di Berlin. Bersama Darsono, Tan Malaka ikut bergabung di Communist International (Comintern). Selama di Comintern, Tan Malaka sempat mengikuti Kongres Internasional Comintern dan ditugaskan menjadi agen Comintern di Asia Tenggara yang bermarkas di Kanton, Tiongkok. Di sanalah muncul sebuah karya Tan Malaka yang justru kelak menjadi inspirasi bagi bapak negara Indonesia.

 

Buku Naar de Republiek Indonesia jadi awal mimpi Tan Malaka akan kemerdekaan Indonesia

Pada tahun 1925, Tan Malaka menulis buku berjudul Naar de Republiek atau dalam bahasa Indonesia artinya menjadi Menuju Republik Indonesia. Tan Malaka mengemukakan analisa tentang dunia politik dunia saat itu melalui buku ini. Di buku tersebut Tan Malaka juga menulis bahwa persaingan kekuatan ekonomi Jepang dan Amerika akan berujung pada Perang Pasifik dan itu bisa menjadi kesempatan Indonesia untuk melakukan revolusi melawan Belanda. Dari sinilah gagasan perjuangan menuju negara bernama Indonesia harus direalisasikan. Frasa “Republik Indonesia” muncul pertama kali di buku Tan Malaka ini.

Apa yang diramalkan Tan Malaka di buku tersebut menjadi kenyataan. Muncullah Perang Pasifik di rangkaian Perang Dunia II dan di situlah peluang bagi para bapak negara untuk merealisasikan mimpi kemerdekaan Indonesia. Siapa sangka ide awal sebuah nama “Republik Indonesia” justru muncul dari sosok Tan Malaka. Impian besarnya lepas dari kolonial mampu membuat beliau menuangkan pemikiran ke dalam buku yang ternyata bisa menginspirasi para bapak negara kala itu (Soekarno, Mohammad Hatta, Sutan Sjahrir).

 

Si “pembuat onar” yang ikut aktif dalam usaha mempertahankan kemerdekaan Indonesia

Setelah sempat bersembunyi dari Belanda, akhirnya Tan Malaka kembali ke tanah air saat Belanda berhasil diusir oleh Jepang. Namun, Tan Malaka kembali muncul saat Soekarno dan Mohammad Hatta sukses memproklamasikan kemerdekaan. Hanya saja, lagi-lagi sifat berontak Tan Malaka muncul. Di saat pemerintah berusaha mempertahankan kemerdekaan Indonesia melalui berbagai macam perundingan, Tan Malaka merasa hal tersebut tidak perlu dilakukan. Kalau perlu, lebih baik mati-matian mempertahankan kemerdekaan dengan perang melawan sekutu yang hendak merebut kembali Indonesia.

Tan Malaka ikut dalam perjuangan bersama rakyat di Surabaya. Kemudian beliau melanjutkan perjuangan di Purwokerto dan membentuk perkumpulan yang dinamakan Persatuan Perjuangan (PP). Ironisnya, pemerintah Indonesia justru menganggap PP sebagai pembangkang yang tidak menurut pada kebijakan pemerintah pusat. Beberapa pemimpin PP pun ditangkap oleh Sutan Sjahrir, termasuk beliau. Tan Malaka tercatat dijebloskan ke penjara selama dua setengah tahun tanpa diadili.

Ketika pada akhirnya banyak perundingan yang justru merugikan Indonesia, Tan Malaka memang sebelumnya sudah memprediksi hal tersebut. Bagi Tan Malaka, berunding kembali dengan penjajah hanya akan membuka potensi kehilangan kemerdekaan kembali. Sebuah ucapan beliau yang hingga sekarang masih dikenang adalah: “Tuan rumah tak akan berunding dengan maling yang menjarah rumahnya”. Tan Malaka makin gencar mengumpulkan kekukatan rakyat melalui berbagai gerakan untuk merebut kembali keutuhan bangsa. Gerakan-gerakan tersebut antara lain Gerakan Revolusi Rakyat (GRR), PARI, sampai Murba (Partai Musyawarah Rakyat Banyak). Lagi-lagi Tan Malaka dicap sebagai “pembuat onar” oleh pemerintah. Kepedulian Tan Malaka untuk mempertahankan kemerdekaan Indonesia ternyata tidak selalu bisa dipandang baik oleh orang banyak. Padahal niat Tan Malaka sama seperti tokoh Indonesia lainnya, yakni keutuhan Indonesia. Meski begitu, perjuangan Tan Malaka tetap patut diacungi jempol.

 

Kerap tidak sejalan dengan pemerintah, Tan Malaka dianggap pemberontak oleh pemerintah. Bahkan, namanya hampir hilang dari sejarah Indonesia

Tan Malaka semakin “menjadi” dengan membentuk pasukan dan menghimpun kekuatan di Kediri untuk menghadapi Agresi Militer Belanda II pada Desember 1948. Dalam kondisi Indonesia yang sedang goyang tersebut, Tan Malaka justru melanjutkan perjuangan bersama pasukannya dengan cara yang cukup keras, antara lain tidak mengakui perjanjian Linggarjati dan Renville, menghancurkan negara boneka bentukan Belanda, hingga mengabaikan seluruh ajakan perundingan. Cara ekstrim ala Tan Malaka ini ternyata ampuh membakar semangat rakyat Indonesia.

Semangat membara Tan Malaka ini justru dianggap berbahaya oleh pemerintah. Tan Malaka resmi menjadi buruan pemerintah sejak itu. Pada bulan Februari 1949, Tan Malaka ditangkap di Kediri dan ditembak mati di sana. Soekarno sempat memberikan gelar Pahlawan Nasional pada Tan Malaka di tahun 1963. Namun, di era Soeharto, nama Tan Malaka disembunyikan dari sejarah Indonesia hingga hampir nyaris jarang terdengar hingga sekarang.

 

Dari kisah Tan Malaka kamu bisa belajar bahwa begitu banyak orang yang memang berjuang untuk kemerdekaan Indonesia. Masing-masing dari founding father Indonesia tentu memiliki pemikiran yang berbeda sehingga tidak selamanya mereka selalu sejalan. Namun, perlu diingat bahwa apapun bentuk perjuangan mereka, tujuannya adalah satu: kemerdekaan Indonesia. Entah menjadi pahlawan ataupun tidak, semoga kisah Tan Malaka bisa menjadi inspirasi tersendiri buatmu. Perjuangan beliau untuk kaum tertindas patut kamu teladani.

HOS Tjokroaminoto, Pahlawan Peretas Jalan Kesetaraan

Dari deretan pahlawan nasional republik ini, nama Raden Hadji Oemar Said Tjokroaminoto layak menjadi figur napak tilas yang menginspirasi. Beliau lahir di Bakur, Madiun, Jawa Timur, pada 16 Agustus 1882. Di usia 52 tahun, Tjokroaminoto tutup usia di Yogyakarta tepatnya pada 17 Desember 1934. Bapak tokoh pergerakan ini adalah anak kedua dari 12 bersaudara, dari ayah R.M. Tjokroamiseno, merupakan seorang pejabat pemerintahan kala itu. Kakeknya, R.M. Adipati Tjokronegoro juga pernah menjadi Bupati Ponorogo. Ya, Tjokroaminoto datang dari kemapanan keluarga bangsawan, yang membuatnya gerah dan berani meretas jalan kesetaraan.

 

Tjokroaminoto memang hanya 52 tahun berada di dunia. Namun di usianya yang tak panjang itu, sosoknya berjasa membentuk fondasi awal NKRI. Tidak salah jika gelar bapak tokoh pergerakan disematkan kepadanya. Sebut saja Soekarno, Musso, dan Kartosuwiryo para tokoh yang memiliki ideologinya masing-masing; adalah murid dari Tjokroaminoto.

 

Sebagai anak yang berasal dari keluarga bangsawan, Tjokroaminoto menamatkan studinya dari sekolah administrasi pemerintahan di Magelang, Jawa Tengah. Sempat menjadi pegawai pemerintah sebagai juru tulis Patih Ngawi selama 3 tahun, sebelum diangkat menjadi Patih. Di titik inilah kemudian Tjokro memutuskan pindah ke Semarang dan Surabaya, melakoni berbagai hal hingga menjadi buruh untuk merasakan penderitaan mereka. Keputusan besarnya ini sempat membuatnya bentrok dengan sang mertua, Raden Mas Mangoensoemo yang kala itu menjabat sebagai Wakil Bupati Ponorogo. Tjokro menganggap mertuanya terlalu menghamba kepada penjajah. Seiring dengan pengalamannya, Tjokro kian dikenal dengan prinsip kesetaraannya, bahwa semua orang sederajat tanpa terkecuali.

 

Tjokroaminoto Peretas Jalan Kesetaraan

Semasa hidupnya, Tjokroaminoto lantang menentang feodalisme. Pidato dan tulisan-tulisannya menggambarkan semangatnya untuk kesetaraan bangsa Indonesia dengan Belanda. Sekitar tahun 1916, Tjokroaminoto kian gerah dengan kenyataan bahwa republik ini dimanfaatkan oleh penjajah, tanpa ada hak untuk kaum pribuminya sendiri.

Sebelumnya pada bulan Mei tahun 1912, Tjokroaminoto diajak bergabung oleh Samanhoedi ke dalam organisasi Sarekat Islam (SI). Organisasi ini terdaftar resmi di penguasa Belanda di Solo pada 11 November 1911. Di sinilah Tjokroaminoto berjasa membentuk fondasi organisasi yang jelas. Namun ia bekerja bukan menentang Belanda dengan frontal, dirinya juga berkolaborasi dengan penasehat Gubernur Jenderal Belanda kala itu yang bernama Douwes Adolf Rinkes, untuk memperluas jangkauan Sarekat Islam. Hasilnya pun tidak sia-sia. Hanya dalam waktu 4 tahun setelah didirikan, cabangnya berkembang hingga 180 dengan jumlah anggota tak kurang dari 700 ribu orang.

 

Semangat Kebangsaan Sarekat Islam

Dengan tekun Tjokroaminoto membangun Sarekat Islam dengan semangat meniadakan hierarki antara Jawa dan Belanda. Setiap kali organisasi ini berkumpul dengan Tjokroaminoto sebagai pemberi pidato, pasti di situ pula orang memadati sembari membawa bendera SI. Dalam buku Seri Bapak Bangsa: Tjokroaminoto rilis dari Tempo, disebutkan bahwa pidato Tjokroaminoto selalu menyihir, hingga ia dijuluki “Ratu Adil” oleh rakyat Indonesia, dan “Raja Tanpa Mahkota” oleh Belanda.

 

Awalnya organisasi Sarekat Islam dibuat oleh Samanhoedi, seorang saudagar batik Laweyan, Solo, dengan misi menyiasati persaingan perdagangan dengan Cina dengan pedagang bumiputra. Kesenjangan antara Cina dan pribumi terjadi sejak Revolusi 1911, saat pedagang Cina menganggap remeh pegadang tanah air.

 

Ditambah lagi ulah ningrat Solo yang kerap mengabaikan hak rakyat kecil. Feodalisme dijunjung tinggi, seperti melarang penggunaan batik motif tertentu seperti kawung, sidomukti, parang rusak, dan sidoluhur yang diklaim hanya untuk kalangan bangsawan. Kentalnya feodalisme yang sangat bertentangan dengan nurani Tjokroaminoto. Namun berkat sentuhan Tjokro, SI menjadi salah satu organisasi politik yang sangat diperhitungkan. Sarekat Islam adalah organisasi pergerakan nasional pertama yang bercita-cita mewujudkan kemerdekaan Indonesia.

 

Tjokroaminoto, “Pahlawan Islam Jang Oetama”

Gatotkoco Sarekat Islam ini meninggalkan kemapanan dan hidup sederhana bersama keluarganya, yaitu sang istri Soeharsikin dan kelima buah hatinya, Oetari, Oetarjo Anwar, Harsono, Islamiyah, dan Sujud Ahmad. Di tengah perkampungan padat Gang VII Peneleh kota Surabaya mereka bermukim. Tidak sendirian, tentu saja. Di bagian belakang rumah, ada ruangan-ruangan yang disekat sebagai kamar kos para pemuda yang kerap juga mencatatkan namanya di sejarah Indonesia, seperti Soekarno, Soeharman Kartowisastro, Muso, hingga Alimin. Sang proklamator, Soekarno, dititipkan oleh ayahnya, Raden Soekemi pada Tjokroaminoto, sahabatnya. Bahkan Oetari, putri sulung Tjokroaminoto kelak dipersunting oleh Soekarno. Kala itu, Tjokroaminoto menjadi “pembimbing” mereka. Tempat ini kelak dijuluki “sekolah politik” para pemuda dan selalu tercantum dalam catatan sejarah.

 

Kongres ke-19 Partai Sarekat Islam Indonesia pada 3 hingga 12 Maret 1933 merupakan momentum awal bangsa Indonesia memasuki periode politik. Tjokro masih memperjuangkan cita-citanya: bumiputra berdiri sejajar dengan pemerintah Belanda. Hingga 14 tahun usia SI, semangat Tjokroaminoto selalu menjadi bahan bakar yang mengobarkan semangat para anggotanya. Sikap kritisnya lantang disuarakan. Tulisannya yang mendobrak feodalisme dimuat di halaman depan surat kabar. SI terus berkembang, hingga beranggotakan 20 ribu orang. Gerakannya pun kian lama kian radikal.

 

Begitu menginspirasinya Tjokro, di tahun 1930-an berdirilah sekolah-sekolah Tjokroaminoto di banyak wilayah. Hal utama yang diajarkan adalah bahwa keutamaan, kebesaran, kemuliaan, dan keberanian bisa dicapai lewat ilmu ketuhanan. Dalam bukunya yang berjudul Islam dan Sosialisme, Tjokro menuliskan:

Bagi kita, ta’ ada Socialisme atau rupa-rupa isme lainnja, jang lebih baik, lebih elok dan lebih mulia, melainkan Socialisme jang berdasar Islam itulah sadja.”

 

Tidak berlebihan jika pidato Tjokroaminoto bisa menyihir ribuan orang. Bahkan dari sosoknya, Soekarno meniru gaya berpidato yang juga menggugah. Sang ahli pidato ini menguasai banyak bahasa. Sebut saja Belanda, Inggris, Jawa, dan Melayu. Di sisi lain, Tjokro juga pandai bermain galeman. Tari jawa dan wayang juga merupakan dua hal yang dia gemari.

 

Tjokroaminoto Dikenang dengan Sikap “Egaliter”

Salah satu hal yang membuat Tjokro lebih dikenal di kalangan puluhan ribu anggota SI dibandingkan dengan pendirinya sekalipun adalah sikapnya yang egaliter. Tjokro begitu peduli terhadap penderitaan rakyat. Perbedaan status, posisi, hingga latar belakang pendidikan tidak pernah menjadi pertimbangan yang membuat bias cara pandang Tjokro.

 

Ialah yang memperjuangkan 8 program perjuangan hak rakyat, yang di dalamnya mengusung penghapusan kerja paksa dan sistem yang membatasi ruang gerak rakyat. Diskriminasi penerimaan murid di sekolah juga diminta untuk musnah. Pendidikan terus diperjuangkan oleh Tjokro, bahkan hingga beasiswa bagi pemuda tanah air untuk belajar di luar negeri.

 

Puncaknya saat kongres kedua SI di Yogyakarta pada April 1914. Saat itu, anggota telah membengkak menjadi 440 ribu orang, dan sepakat memilih Tjokro sebagai ketua baru Central Sarekat Islam (CSI). Padahal kala itu, pendiri SI, Samanhoedi menyatakan masih ingin menjadi ketua. Bahkan nama Tjokroaminoto lebih populer dibandingkan dengan pendiri organisasi ini sendiri. Namun tentu roda hidup tak selamanya berada di atas. Seiring dengan berjalannya waktu, geliat SI mandeg. Pengaruh Tjokro mulai memudar. Anggota menilai Tjokro tidak memberi gagasan baru. Hal ini berimbas pula pada kondisi finansial organisasi. Tjokro pun turun dari sorotan ketenaran.

 

Akhir Usia di Yogyakarta

Yogyakarta hampir selalu menjadi rumah kedua Tjokroaminoto semasa memperjuangkan sayap organisasi SI. Di kota ini pula ia menikah lagi dengan Rostinah, sepeninggal istrinya tahun 1921 lalu. Tjokro bertemu dengan istri keduanya, seorang pesinden, di Pakualaman. Di Yogyakarta pula sang Raja Tanpa Mahkota ini menghembuskan nafas terakhirnya. Sakit ginjal dan maag kronis yang dideritanya membawanya pada akhir usia di tanggal 17 Desember 1934. Sang peretas jalan kesetaraan ini dikebumikan di pemakaman umum Kuncen, Kampung Pakuncen, Wirobrajan, Yogyakarta.

Sutan Sjahrir, si “Pembangkang” yang Tak Letih Berjuang untuk Indonesia

Dari sekian banyak nama pahlawan yang dimiliki Indonesia, mungkin tak pernah terbesit dalam pikiranmu untuk menyebut nama Sutan Sjahrir. Pahlawan proklamasi tentu identik dengan Soekarno dan Hatta. Namun, tampaknya kamu perlu menengok juga sepak terjang Sutan Sjahrir. Beliau adalah perdana menteri pertama yang dimiliki Indonesia setelah merdeka. Mungkin beliau tidak hadir saat Soekarno dan Hatta memproklamasikan kemerdekaan Indonesia. Namun, Sutan Sjahrir juga merupakan aktor underground yang memiliki andil dalam kemerdekaan Indonesia. Bahkan, setelah Indonesia merdeka pun, Sutan Sjahrir memegang peranan yang penting.

Jika kamu mulai bertanya-tanya seperti apa sosok Sutan Sjahrir ini, simak saja ringkasan kisah hidupnya yang bisa kamu pelajari ini. Kamu akan menemukan  satu lagi tokoh hebat yang pernah dimiliki bangsa ini.

 

Dibesarkan dalam keluarga berkecukupan tak membuat Sutan Sjahir lupa diri

Sutan Sjahrir lahir pada tanggal 5 Maret 1909 di Padang Panjang. Beliau adalah anak dari Mohamad Rasad Gelar Maharajo Sutan dan Puti Siti Rabiah. Jabatan kepala jaksa yang dimiliki sang ayah membuat Sutan Sjahrir hidup dalam kecukupan. Beliau sukses lulus dari ELS, MULO, hingga AMS (setara SD, SMP, dan SMA). Rasa syukur atas kehidupan yang beliau miliki ditunjukkannya dengan kesungguhan selama bersekolah. Sutan Sjahrir adalah sosok yang cerdas dan aktif dalam berbagai kegiatan.

Di usia yang masih muda, yaitu 18 tahun, Sutan Sjahrir mendirikan sekolah untuk kaum miskin di Bandung yang diberi nama  Tjahja Volksuniversiteit (Universitas Rakyat Cahaya). Di usia itu juga Sutan Sjahrir dipercaya menjadi pengurus di Jong Indonesien yang kemudian berubah nama menjadi Pemuda Indonesia. Sutan Sjahrir bahkan berperan dalam terselenggaranya Kongres Pemuda II yang menghasilkan Sumpah Pemuda pada tahun 1928.

Rasanya tak banyak kata yang bisa menggambarkan Sutan Sjahrir muda ini selain cerdas, ulet, dermawan, hingga cinta tanah air. Coba bayangkan, bisakah anak muda zaman sekarang memiliki sifat layaknya Sutan Sjahrir ini?

 

Hampir sama seperti Mohammad Hatta, Sutan Sjahrir pun seorang aktivis organisasi saat kuliah di Belanda

Masih ingat kisah Mohammad Hatta yang mulai melek dunia politik ketika kuliah di Belanda? Begitu pula dengan Sutan Sjahrir ini. Sutan Sjahrir belajar buku dari tokoh-tokoh dunia seperti Friedrich Engels, Otto Bauer, Karl Marx, dan Rosa Luxemburg. Pengalaman beliau bekerja di sebuah perusahaan transportasi juga membuatnya sadar betapa begitu banyak ketidakadilan bagi kaum pekerja. Inilah yang kemudian membuat Sutan Sjahrir memiliki gagasan sosialis demokratis yang mengusung kesetaraan dan keadilan.

Sutan Sjahrir pun akhirnya bertemu dengan Mohammad Hatta yang saat itu menjadi pemimpin Perhimpunan Indonesia di Rotterdam. Bersama Mohammad Hatta, Sutan Sjahrir menerbitkan surat kabar Daulat Ra’jat untuk menyerukan pemberontakan kepada pemerintahan Belanda. Akhirnya, keduanya pun mendirikan PNI Baru yang memiliki cita-cita untuk menjadikan Indonesia merdeka seutuhnya.

Kecintaan Sutan Sjahrir akan bangsanya ternyata menular hingga saat beliau harus menempuh pendidikan di Belanda. Meski sudah tak lagi tinggal di tanah air, beliau tetap mengobarkan semangat kemerdekaan dan tidak henti untuk belajar. Lagi-lagi kamu dapat belajar sifat Sutan Sjahrir yang terpuji ini di usia beliau yang masih muda.

 

Lebih dulu kembali ke Batavia untuk meneruskan pergerakan PNI Baru

Jika Mohammad Hatta memilih untuk tetap di Belanda dulu sembari menyelesaikan studi, maka Sutan Sjahrir memiliki pemikiran yang lain. Beliau lebih dulu kembali ke Batavia dengan sebuah misi mulia, yaitu merekrut bibit-bibit muda untuk ikut serta dalam perjuangan kemerdekaan melalui PNI Baru. Kaderisasi yang dilakukan Sutan Sjahrir adalah dengan mengajarkan ide-ide Karl Marx yang mengusung kesejahteraan sosial, kesetaraan, serta kemandirian ekonomi. Gerakan bawah tanah yang dilakukan Sutan Sjahrir ini memang sempat membuat Belanda kewalahan.

Setelah Mohammad Hatta juga kembali dari Belanda, duet Sutan Sjahrir dan Mohammad Hatta menjadi semakin tak terpisahkan. Kaderisasi PNI Baru semakin berkembang hingga memiliki 1000 anggota. Meski dengan metode yang sangat jauh berbeda daripada PNI bentukan Soekarno, Sutan Sjahrir yakin bahwa dengan cara ini kemerdekaan Indonesia bisa didapat.

Berada di bawah bayang-bayang Mohammad Hatta tak menjadikan Sutan Sjahrir merasa rendah diri. Justru di saat sang senior sedang fokus pada pendidikannya, Sutan Sjahrir berinisiatif untuk lebih dulu menanam bibit muda yang akan menjadi senjata saat merebut kemerdekaan kelak. Di sini kamu melihat bahwa usia muda tak pernah menghambat seseorang untuk bisa berbuat hal yang lebih besar.

 

Pengasingan di Digul dan Banda Neira yang sempat membuat Sutan Sjahrir frustasi

Gerakan PNI Baru pun akhirnya benar-benar membuat Belanda gerah. Sutan Sjahrir pun akhirnya dipenjarakan di Penjara Glodok bersama rekan-rekan lain, termasuk Mohammad Hatta. Tak hanya itu, beliau pun akhirnya ikut diasingkan di Digul bersama Mohammad Hatta. Jika Mohammad Hatta yang introvert terlihat lebih santai dengan buku-bukunya selama di pengasingan, maka Sutan Sjahrir adalah seorang ekstrovert yang tidak terbiasa hidup jauh dari peradaban. Beberapa kali beliau tampak mencoba bertahan hidup dengan sering berbincang dan mengunjungi sesama rekan-rekan senasib di Digul. Mungkin dengan cara itulah beliau bisa bertahan hidup. Beliau juga sempat menyalurkan semangat hidupnya dengan mengajar anak-anak di Banda Neira. Hingga akhirnya pada tahun 1942, Sutan Sjahrir dibebaskan dari pengasingan saat Jepang sudah menduduki Indonesia.

Bisa dibayangkan, di tengah keputusasaan dalam menjalani hidup, sepercik semangat juang yang dimiliki Sutan Sjahrir bisa diubahnya menjadi kekuatan untuk melayani anak-anak di pengasingan. Pernahkah kamu melakukan hal bermanfaat untuk sesama ketika kamu berada di titik nadirmu?

 

Si “pembangkang” yang berbeda pandangan dengan Soekarno-Hatta saat masa pendudukan Jepang

Gaya berpikirnya yang kritis menyebabkan perbedaan pandangan muncul antara beliau dengan Soekarno dan Hatta. Jika kala itu Soekarno dan Hatta memilih untuk kooperatif dengan Jepang, maka Sjahrir memiliki pendapat lain. Bagi beliau, kemerdekaan masih bisa didapatkan tanpa harus “bersahabat” dengan Jepang. Maka, Sutan Sjahrir pun diam-diam membangun jaringan bawah tanah untuk tetap mengobarkan semangat kemerdekaan bagi para muda. Beliau aktif mengikuti perkembangan perang dunia lewat radio-radio yang bahkan mungkin tidak diketahui Soekarno maupun Hatta.

Mungkin di sinilah sosok Sjahrir menjadi tak secemerlang Soekarno ataupun Hatta. Namun jangan salah, gerakan bawah tanah yang dipelopori Sutan Sjahrir inilah yang kemudian menjadi awal mula munculnya pemuda-pemuda berani di balik peristiwa proklamasi kemerdekaan Indonesia. Keyakinan dan semangat Sutan Sjahrir ini patut ditiru anak muda sekarang. Berbeda haluan bukan berarti berbeda tujuan. Mempersiapkan jalan yang sama baiknya justru jauh lebih baik daripada hanya berdiam diri.

 

Pasca Indonesia merdeka, Sutan Sjahrir berperan penting dalam perjuangan pengakuan kedaulatan Indonesia di mata dunia

Proklamasi kemerdekaan Indonesia pun akhirnya digaungkan pada 17 Agustus 1945. Indonesia yang kala itu membutuhkan pengakuan kedaulatan internasional terselamatkan oleh sosok Sutan Sjahrir. Terpilih sebagai perdana menteri Indonesia, Sutan Sjahrir segera bergerak untuk mempertahankan kemerdekaan Indonesia.

Saat itu Indonesia memberikan bantuan kepada India yang sedang krisis pangan. Dari situlah Indonesia mulai memperoleh simpatik dari Inggris. Di luar dugaan, India pun akhirnya bisa lepas dari kolonial Inggris. Tak hanya itu, Jawaharlal Nehru yang menjabat sebagai perdana menteri India mengundang Indonesia di Konferensi Hubungan Negara-Negara Asia di New Delhi. Sutan Sjahrir pun cerdik memanfaatkan momen tersebut untuk melancarkan diplomasi untuk memperoleh pengakuan dunia atas Indonesia. Sutan Sjahrir juga berperan dalam perundingan Linggarjati bersama Belanda hingga akhirnya Indonesia resmi memperoleh kedaulatan dari hasil Konferensi Meja Bundar yang diikuti Mohammad Hatta.

Terlihat bahwa Sutan Sjahrir adalah sosok pejuang diplomasi. Beliau tidak menggunakan senjata atau peperangan dalam upaya mempertahan kemerdekaan. Segala hal yang dilakukan Sutan Sjahrir selalu dipelajari terlebih dahulu dengan bekal ilmu dan pengalaman. Sungguh pantas bila Sutan Sjahrir disebut sebagai tokoh cerdik Indonesia.

 

Perlahan tak lagi menjadi bagian politik Indonesia, Sutan Sjahrir pun meninggal saat menjalani pengasingan

Sayangnya, karier Sutan Sjahrir sebagai perdana menteri Indonesia pun akhirnya meredup. Bahkan, hubungan beliau dengan presiden Soekarno pun menjadi tidak baik. Partai Sosialis Indonesia yang dibentuknya gagal dalam Pemilu 1955. Nama Sutan Sjahrir pun kian meredup.

Pada tahun 1962, terjadi peristiwa percobaan pembunuhan pada presiden Soekarno. Dalam peristiwa tersebut, Sutan Sjahrir dituduh sebagai dalangnya. Beliau pun akhirnya dijadikan tahanan di Madiun dan Kebayoran Baru. Sutan Sjahrir pun mengalami penurunan fisik yang menyebabkan beliau terkena serangan stroke. Karena kesehatan yang makin memburuk, beliau dibawa ke Swiss untuk pengobatan. Namun, pada tahun 1966, Sutan Sjahrir meninggal dengan masih berstatus tahanan. Untuk mengenang jasa beliau, gelar pahlawan nasional pun diberikan Soekarno kepada Sutan Sjahrir.

 

Mungkin sosok Sutan Sjahrir cocok untuk dijadikan panutan bagi anak generasi zaman now yang cenderung sedang berapi-api dalam meraih impian. Jika Sutan Sjahrir yang sejak muda saja bisa membuat perubahan untuk bangsa ini, bukan tak mungkin kamu juga bisa melakukannya di masa kini.

Ki Hadjar Dewantara, Sebagai Bapak Pendidikan Nasional, Mengajarkan Semangat Berjuang Melalui Pendidikan

Apa yang paling kamu ingat dari sosok Ki Hadjar Dewantara? Pastinya kamu langsung berpikir tentang Hari Pendidikan Nasional. Ya, Ki Hadjar Dewantara merupakan sosok kunci dari perkembangan pendidikan Indonesia. Tanggal lahir beliau, 2 Mei, selalu diperingati setiap tahunnya. Jika kamu melihat perkembangan pendidikan Indonesia hingga sekarang, tentu tidak lepas dari perjuangan Ki Hadjar Dewantara pada masa penjajahan kolonial. Namun, tidak banyak yang tahu bahwa pada awalnya Ki Hadjar Dewantara juga sempat ikut organisasi politik. Nah, makin penasaran kan dengan kisah Bapak Pendidikan Nasional Indonesia ini? Yuk, simak kisah perjuangan beliau berikut ini!

  

Masa muda dan awal karier Ki Hadjar Dewantara

Ki Hadjar Dewantara lahir dengan nama Raden Mas Soewardi Soerjaningrat. Beliau lahir pada tanggal 2 Mei 1889 di Pakualaman, putra dari GPH Soerjaningrat dan merupakan cucu dari Pakualam III. Lahir dari keluarga bangsawan tidak membuat Ki Hadjar Dewantara lupa diri. Beliau belajar rajin dan hidup layaknya anak-anak lain kebanyakan.

Masa kecilnya pernah beliau habiskan di ELS (sekolah dasar Eropa/ Belanda). Selain itu, Ki Hadjar Dewantara juga pernah melanjutkan studi di STOVIA (sekolah dokter Bumiputera). Namun, beliau tidak sempat menamatkan pendidikan di STOVIA lantaran sakit. Kegagalan bersekolah tidak membuat Ki Hadjar Dewantara menyerah. Beliau memilih bekerja sebagai penulis dan wartawan di beberapa surat kabar. Misalnya, Soeditomo, Midden Java, De Express, Oetoesan Hindia, Kaoem Moeda, Tjahaja Timoer, dan Poesara. Tulisan-tulisan Ki Hadjar Dewantara kala itu dikenal tajam, kominukatif, dan cenderung berani.

Ketertarikan Ki Hadjar Dewantara untuk melawan kolonial memang tampaknya sudah kelihatan sejak beliau masih muda. Tindakan untuk menulis tulisan-tulisan sebagai bentuk kritik pada Belanda bisa dibilang cukup berani mengingat risiko besar yang akan muncul.

 

Aktivitas pergerakan di masa muda

Tak hanya piawai dalam menulis dan sebagai wartawan, Ki Hadjar Dewantara juga aktif dalam kegiatan organisasi sosial dan politik. Beliau pernah berada di seksi propaganda saat bergabung dalam Boedi Oetomo pada tahun 1908. Tugas beliau adalah menyosialisasikan dan menggerakkan kesadaran masyarakat Indonesia akan pentingnya bersatu dalam berbangsa. Bahkan, kongres pertama Boedi Oetomo di Yogyakarta juga tidak lepas dari campur tangan Ki Hadjar Dewantara di dalamnya.

Pada tanggal 25 Desember 1912, bersama Douwes Dekker dan dr. Cipto Mangunkusumo, beliau mendirikan Indische Partij. Indische Partij merupakan partai politik pertama beraliran nasionalisme Indonesia. Bisa dibilang Indische Partij ini adalah organisasi yang unik karena di dalamnya terdapat sosok Douwes Dekker yang merupakan keturunan campuran Belanda-Indonesia. Indische Partij juga merupakan satu-satunya organisasi yang terang-terangan menuntut kemerdekaan Indonesia. Tidak heran jika akhirnya menganggap keberadaan Indische Partij sangat membahayakan. Bahkan, Belanda juga menolak memberi status badan hukum pada Indische Partij.

Tidak hanya berjuang dan melawan lewat tulisan, Ki Hadjar Dewantara akhirnya melawan melalui sebuah wadah organisasi. Perjuangan beliau tentu tidak mudah ketika harus melawan kolonial Belanda.

Cita-cita memajukan pendidikan kaum pribumi saat diasingkan di Belanda

Puncak perlawanan Ki Hadjar Dewantara terlihat saat Belanda berniat mengumpulkan sumbangan dari warga untuk perayaan kemerdekaan Belanda dan Perancis pada tahun 1913. Beliau kemudian menulis sebuah tulisan dengn judul Een voor Allen maar Ook Allen voor Een, yang artinya Satu untuk Semua, tetapi Semua untuk Satu Juga. Tak hanya itu, Ki Hadjar Dewantara juga menulis Als ik een Nederlander was atau Seandainya Aku Seorang Belanda yang dimuat di surat kabar De Expres. Isi tulisan tersebut sangat keras dan menampar para pejabat Belanda kala itu. Ki Hadjar Dewantara menyindir bahwa Belanda hendak merayakan 100 tahun kemerdekaannya dan Perancis dengan menggunakan uang rakyat jelata. Belanda yang meradang pun akhirnya memilih untuk mengasingkan Ki Hadjar Dewantara ke Pulau Bangka. Tak hanya itu, dua sahabat beliau, Douwes Dekker dan dr. Cipto Mangunkusumo juga ikut diasingkan. Akhirnya ketiganya dipindahkan ke Belanda.

Selama pengasingan di Belanda, Ki Hadjar Dewantara tidak tinggal diam. Beliau aktif di Indische Vereeniging dan mendirikan Indonesisch Pers-Bureau (kantor berita Indonesia). Di Belanda inilah sebuah cita-cita mulia muncul di benak Ki Hadjar Dewantara. Beliau ingin memajukan kaum pribumi melalui pendidikan. Beberapa tokoh pendidikan Barat yang menginspirasi beliau adalah Froebel dan Montessori. Pergerakan pendidikan di India oleh keluarga Tagore juga memengaruhi Ki Hadjar Dewantara untuk mewujudkan impian beliau mengembangkan sistem pendidikan di tanah air.

Hidup di pengasingan bukan berarti berhenti belajar. Bahkan, impian besar Ki Hadjar Dewantara justru muncul saat di pengasingan. Ini membuktikan bahwa rasa sakit pun bisa memunculkan kekuatan yang luar biasa. Perjuangan Ki Hadjar Dewantara masih berlanjut.

 

Ki Hadjar Dewantara mendirikan Taman Siswa sebagai wujud dari cita-cita beliau

Sekembalinya dari Belanda pada tahun 1919, Ki Hadjar Dewantara bergabung dalam sekolah binaan saudara. Di sana beliau mendapatkan pengalaman mengajar. Akhirnya, pada tanggal 3 Juli 1922 di Yogyakarta, Ki Hadjar Dewantara mendirikan National Onderwijs Institut Taman Siswa atau Taman Siswa. Taman Siswa merupakan wujud nyata dari impian Ki Hadjar Dewantara untuk memperbaiki nasib rakyat melalui pendidikan yang baik. Prinsip-prinsip dasar dalam pendidikan dituangkan dalam sebuah konsep yang Ki Hadjar Dewantara pelajari dari tokoh pendidikan selama berada di pengasingan Belanda dulu. Prinsip-prinsip tersebut adalah:

  • Ing ngarsa sung tuladha (di depan memberi teladan)
  • Ing madya mangun karsa (di tengah membangun kemauan)
  • Tut wuri handayani (di belakang mendukung atau memberi dorongan)

Prinsip itulah yang kini sangat dikenal di sistem pendidikan Indonesia hingga sekarang. Ki Hadjar Dewantara berharap melalui Taman Siswa inilah pendidikan bisa didapat semua rakyat pribumi. Kelak, pendidikan tersebut menjadi modal untuk melawan kolonial. Jika banyak yang memilih melawan Belanda lewat pergerakan politik, maka Ki Hadjar Dewantara memilih jalan mulia lainnya. Bahkan, salah satu tokoh pahlawan Indonesia, Soedirman, juga dikenal pernah menempuh pendidikan di Taman Siswa.

 

Kontribusi Ki Hadjar Dewantara pada masa Indonesia merdeka

Mungkin tidak banyak yang tahu jika Ki Hadjar Dewantara juga memiliki peran pasca kemerdekaan Indonesia. Dalam kabinet pertama Republik Indonesia, Ki Hadjar Dewantara pernah menjabat sebagai Menteri Pengajaran Indonesia. Namun, beliau hanya menjabat sejak tanggal 2 September 1945 hingga 14 November 1945. Meski begitu, Ki Hadjar Dewantara mendedikasikan hidup beliau untuk pendidikan hingga akhir hayat. Beliau tetap mengelola Taman Siswa pasca pensiun. Bahkan, Taman Siswa sudah memiliki 129 cabang di seluruh Indonesia. Impian beliau dalam memajukan pendidikan Indonesia telah tercapai. Beliau bahkan mendapat gelar doktor kehormatan dari Universitas Gadjah Mada pada tahun 1957.

Ki Hadjar Dewantara meninggal pada tanggal 26 April 1959 di Yogyakarta. Atas jasa beliau dalam merintis pendidikan di Indonesia, Ki Hadjar Dewantara dinobatkan sebagai Bapak Pendidikan Nasional Indonesia. Selain itu, hari kelahiran beliau diperingati sebagai Hari Pendidikan Nasional.

 

Siapa sangka jika pendidikan yang bisa kamu nikmati hingga sekarang tidak lepas dari kerja keras dan perjuangan Ki Hadjar Dewantara? Sudah saatnya kamu memiliki semangat memajukan Indonesia layaknya semangat Ki Hadjar Dewantara. Ingat, tugas orang terdidik adalah mendidik yang lainnya. Meski bukan sebagai guru, siapapun memiliki kesempatan untuk memajukan pendidikan Indonesia kok.