Tag Archives: Megawati

Megawati Soekarnoputri, Cerminan Sosok Perempuan Tangguh Indonesia

Kehebatan Soekarno yang pernah memimpin bangsa ini menurun pada anaknya. Putri beliau yang bernama Megawati Soekarnoputri menjadi presiden kelima Indonesia sekaligus menjadi satu-satunya presiden perempuan dalam sejarah kemerdekaan perempuan. Kemunculan Megawati saat itu di saat Indonesia sedang membangun kembali keadaan di era reformasi. Apakah kamu tahu bahwa karir Megawati hingga bisa menjadi seorang presiden ternyata dilalui dengan tidak mudah? Jangan dikira hanya karena berstatus sebagai anak mantan presiden, jalan Megawati mulus dan lancar. Berikut ini kisah perjuangan Megawati yang bisa kamu jadikan inspirasi, terutama bagi kaum perempuan. Simak ya!

  

Masa kecil Megawati Soekarnoputri sebagai anak presiden pertama Indonesia

Dari namanya saja, sudah jelas bahwa Megawati Soekarnoputri merupakan anak dari presiden pertama Indonesia, Soekarno. Megawati lahir dari sang ibu, Fatmawati, pada 23 Januari 1947 di Yogyakarta. Beliau lahir pada saat Agresi Militer Belanda dan ayahnya sedang diasingkan ke Pulau Bangka. Masa kecil Megawati banyak dihabiskan di Istana Negara. Sejak SD hingga SMA beliau menempuh pendidikan di Perguruan Cikini. Banyak orang yang mengatakan bahwa Megawati benar-benar merupakan titisan Soekarno. Dibandingkan dengan saudara-saudaranya, Megawati lebih mengikuti jejak sang ayah. Perjuangan bersama sang ayah di masa kecil bisa jadi membuat Megawati menjadi sosok perempuan yang kuat, berani, dan teguh. Bisa jadi teladan buat perempuan masa kini, nih!

 

Tak pernah bisa menyelesaikan pendidikan kuliah, Megawati justru aktif di organisasi

Selepas lulus SMA pada tahun 1965, Megawati melanjutkan kuliah di Fakultas Pertanian Universitas Padjajaran, Bandung. Namun, hanya sekitar dua tahun saja Megawati berkuliah di situ. Situasi politik nasional yang sedang memanas kala itu membuatnya terpaksa tak melanjutkan kuliah. Megawati kemudian kembali berkuliah di Fakultas Psikologi, Universitas Indonesia setelah situasi politik mereda. Lagi-lagi Megawati tak mampu menyelesaikan studinya. Pada tahun 1970, sang ayah meninggal dunia dan Megawati sempat dirundung duka mendalam.

Salah satu alasan mengapa Megawati kerap gagal di perkuliahannya adalah karena keterlibatan beliau dengan organisasi. Sifat Soekarno tampaknya menurun pada diri Megawati ini. Tercatat sejak masih berkuliah di Universitas Padjajaran, Megawati aktif bergabung dalam Gerakan Mahasiswa Nasional Indonesia (GMNI). Di organisasi inilah jiwa perjuangan dan politik Megawati terbentuk. Meski harus dua kali gagal menyelesaikan kuliah, siapa sangka pilihan Megawati untuk berani berpolitik justru menjadi awal kesuksesan beliau kelak.

 

Awal berpolitik bersama Partai Demokrasi Indonesia (PDI) hingga berubah menjadi PDI Perjuangan

Perjuangan politik Megawati berbuah manis. Tahun 1986 menjadi tahun pertamanya terjun ke dunia politik. Kala itu beliau bergabung dengan Partai Demokrasi Indonesia. Di tahun tersebut, Megawati berhasil menjadi wakil ketua PDI cabang Jakarta Pusat. Tidak hanya itu, dalam jangka waktu setahun, Megawati sudah menjadi anggota DPR RI periode 1987-1992.

Selanjutnya, Megawati terpilih menjadi ketua umum PDI pada tahun 1993 secara aklamasi. Di masa tersebut, pemerintah era Soeharto tidak puas dengan hasil tersebut. Megawati akhirnya didongkel dalam Kongres PDI tahun 1996 di Surabaya. Posisi ketua umum PDI pun kembali jatuh pada Soerjadi. Tak puas dengan hasil Kongres Medan, Megawati tetap kekeuh pada jabatan ketua umum dan tetap menduduki kantor PDI di Jalan Diponegoro. Sebuah kerusuhan akhirnya terjadi ketika kantor tersebut diserang oleh kelompok Soerjadi. Beberapa pendukung Megawati tewas. Bahkan, kerusuhan ini berbuntut menjadi kerusuhan massal dan dikenal sebagai Peristiwa 27 Juli.

Langkah Megawati seolah tak terhenti. Beliau menempuh jalur hukum untuk menyelesaikan kasus tersebut, tetapi masih gagal. Dengan adanya dualisme kepemimpinan, Megawati pun memilih untuk mengadakan kongres dan mengganti nama PDI menjadi PDI Perjuangan pada tahun 1998. Dari partai inilah akhirnya perjuangan Megawati yang sesungguhnya dimulai. Berbekal keberanian melawan ketidakadilan, Megawati percaya partai bentukan beliau ini mampu menjadi partai yang layak diperhitungkan pada Pemilu 1999. Rasanya memang layak jika dikatakan bahwa Megawati termasuk salah satu perempuan berani yang dimiliki Indonesia.

 

Kemenangan PDI Perjuangan dalam Pemilu 1999 dan keberhasilan Megawati menjadi wakil presiden Indonesia

Harapan Megawati menemukan titik terang pada Pemilu 1999. Pemilu yang untuk pertama kalinya diikuti oleh banyak partai tersebut akhirnya membawa PDI Perjuangan memenangkan Pemilu dengan perolehan 33% suara. Meski tidak memanangkan suara secara telak, sosok Megawati menjadi perhatian khusus para tokoh politik kala itu. Pendukung Megawati kala itu mendesak agar beliau terpilih menjadi presiden Indonesia.

Namun, keinginan para pendukung Megawati tersebut tidak langsung terwujud. Pada Sidang Umum MPR, Megawati kalah tipis dalam pemilihan presiden saat bersaing dengan Gus Dur. Akhirnya, Gus Dur terpilih menjadi presiden Indonesia dan Megawati menjadi wakil presiden Indonesia. Untuk pertama kalinya seorang perempuan berhasil menjadi sosok yang diperhitungkan di dunia politik hingga mampu menjadi wakil presiden. Keberanian Megawati kala itu bisa jadi membuka peluang bagi perempuan lain untuk bisa menjadi pemimpin layaknya beliau.

 

Sejarah baru untuk Indonesia. Megawati menjadi presiden perempuan Indonesia.

Rasanya Megawati tidak perlu menunggu lima tahun untuk memperoleh kesempatan menjadi presiden. Gus Dur kala itu sedang tidak mendapat dukungan penuh lantaran dekrit pembubaran DPR yang dibuat beliau. Saat Gus Dur lengser 23 Juli 2001, Megawati pun naik menjadi presiden menggantikan posisi beliau. Indonesia kembali menorehkan sejarah baru ketika seorang perempuan bisa menjadi presiden. Megawati adalah perempuan pertama Indonesia yang bisa memimpin bangsa ini. Sosok Megawati menjadi bukti bahwa perempuan pun bisa menjadi pemimpin.

Megawati segera membentuk kabinet baru yang bernama Kabinet Gotong Royong. Pemilihan nama ini berdasarkan pertimbangan bahwa banyak partai yang berasal dari kabinet tersebut yang bersama membangun Indonesia. Megawati mengawali kepemimpinan Indonesia dengan beberapa masalah, antara lain banyak konflik daerah (Ambon, Poso, Sampang) dan konflik politik akibat lengsernya Gus Dur. Meski begitu, beberapa perubahan juga pernah dilakukan di masa kepemimpinan Megawati.

 

Perubahan di era kepemimpinan Megawati

Di bidang ekonomi, Megawati berhasil menaikkan pendapatan per kapita dan kurs rupiah juga sempat semakin membaik. Selain itu, kinerja ekspor dan impor naik cukup signifikan. Sebuah kebijakan privatisasi BUMN sempat Megawati laksanakan yang mana dalam kebijakan tesebut Megawati menjual perusahaan negara dengan tujuan melindungi perusahaan dari intervensi politik dan mengurangi beban negara. Hasilnya, pertumbuhan ekonomi Indonesia menjadi 4,1%.

Kiprah Megawati juga berlanjut di bidang sosial dan pendidikan. Departemen Pendidikan Nasional kala itu merekrut guru-guru untuk ditempatkan di daerah konflik Aceh. Di era Megawati pula, nama Daerah Istimewa Aceh berubah menjadi Nangroe Aceh Darussalam. Niat kuat Megawati untuk mempertahanka Aceh ditunjukkan dengan memberi pendidikan yang baik bagi anak-anak daerah konflik. Meski begitu, Indonesia sempat kehilangan Pulau Sipadan dan Ligitan yang masuk ke wilayah Malaysia di era Megawati.

Dua perubahan besar sempat Megawati buat. Pertama adalah pembentukan Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK). KPK ini dibuat karena Megawati kala itu melihat institusi jaksa dan polri yang terlalu kotor. Hanya saja, di masa kepemimpinan Megawati, KPK belum bekerja secara efektif. Perubahan besar kedua adalah memutuskan untuk melaksanakan Pemilu dua periode, yaitu pemilu legislatif dan pemilihan presiden langsung. Keterbukaan Megawati akan demokrasi sangat tampak di kebijakan ini. Untuk pertama kalinya sepanjang sejarah kemerdekaan Indonesia, rakyat Indonesia bisa memilih presiden secara langsung.

Peran Megawati dalam perkembangan Indonesia tidak bisa diabaikan. Meski ada pihak yang memandang Pemilu dua periode merupakan pemborosan, hal tersebut justru menjadi bukti bahwa demokrasi di Indonesia benar-benar terwujud.

 

Gagal terpilih lagi menjadi presiden, Megawati justru mencetak kader-kader pemimpin luar biasa

Inisiatif menyelenggarakan pemilihan presiden langsung ternyata tidak membawa Megawati kembali menjadi presiden di periode selanjutnya. Beliau kalah dari Susilo Bambang Yudhoyno yang merupakan mantan menteri koordinator di era pemerintahan Megawati. Susilo Bambang Yudhoyono pun resmi menjadi presiden Indonesia pada tahun 2004.

Meski tak lagi menjadi presiden, semangat Megawati untuk berjuang tidak berhenti. Beliau masih menjabat sebagai ketua umu PDI Perjuangan hingga sekarang. Tercatat beliau sukses menciptakan kader-kader PDI Perjuangan yang sukses menjadi bupati, walikota, gubernur, hingga presiden. Joko Widodo merupakan salah satu kader PDI Perjuangan yang dibilang sukses. Berawal dari walikota Solo, Joko Widodo berhasil menjadi gubernur DKI Jakarta bersama Basuki Tjahaja Purnama. Tak hanya sampai di situ, PDI Perjuangan kemudian mengusung Joko Widodo dan Jusuf Kalla sebagai pasangan capres dan cawapres pada pemilihan presiden tahun 2014. Pasangan tersebut pun sukses memenangi pemilihan presiden langsung.

Inilah bukti bahwa sikap perjuangan, kerja keras, keteguhan, serta gotong royong yang selalu dibawa Megawati mampu memberikan kontribusi buat bangsa ini. Inilah putri Soekarno yang tangguh dan mampu mewakili karakter perempuan untuk era sekarang.

 

Dari Megawati, kamu bisa belajar untuk menjadi pribadi yang pantang menyerah. Perjuangan memang tidak akan memberi hasil yang instan. Jangan pernah mengganggap dirimu tidak bisa melakukan banyak hal hanya karena kamu perempuan. Megawati membuktikkan bahwa perempuan pun layak untuk menjadi seorang pemimpin. Ya, Megawati adalah sosok perempuan tangguh yang dimiliki Indonesia.