Tag Archives: Liem Sioe Liong

Liem Sioe Liong, konglomerat penggerak ekonomi bangsa

Liem Sioe Liong atau juga dikenal dengan nama Sudono Salim adalah pengusaha konglomerat yang sukses mendirikan bisnis di Indonesia juga di luar Indonesia. Om Liem, banyak orang menyapanya dengan panggilan itu, pernah menjadi konglomerat paling kaya se Indonesia. Kehidupan sukses nya berbanding terbalik dengan masa muda nya yang penuh kesusahan. Lahir di Fuqing, Cina pada tanggal 19 Juli 1916, siapa sangka pemuda yang berimigrasi dari Cina naik kapal layar ke Surabaya ini berhasil mengubah nasib dan garis hidupnya yang penuh kemelaratan menjadi seorang konglomerat sukses.

Melarikan diri dari Cina ke Kudus

Ketika Cina diserbu tentara Jepang pada Perang Dunia ke 2 tahun 1938,kehidupan politik dan keamanan di Cina bergejolak. Situasi yang semakin mencekam memaksa Om Liem muda yang baru berumur 21 tahun meninggalkan kampung halamannya di Fuqing dan menyusul kakak nya, Liem Sioe Hie, yang sudah lebih dahulu ber imigrasi ke Indonesia sejak tahun 1922 dan tinggal menetap di kota Kudus. Ia memberanikan diri menumpang kapal Belanda yang menuju ke Indonesia dan hidup terluntang-lantung di atas kapal selama sebulan lebih. Sesampainya di pelabuhan Surabaya, ia pun masih harus menunggu selama 4 hari dengan kondisi yang minim ala kadarnya sebelum akhirnya dijemput oleh sang kakak dan menuju ke Kudus.

Kota Kudus yang dari dahulu sudah menjamur industri rokok kretek membutuhkan banyak bahan baku tembakau dan cengkeh. Om Liem muda yang saat itu bekerja di pabrik tahu dan kerupuk,  mulai mempelajari cara menjadi pemasok tembakau dan cengkeh kepada pabrik-pabrik kretek lokal. Dia memutar otak supaya bisa mendapat hasil bumi yang murah dan bisa dijual lagi dengan untung kepada pabrik-pabrik kretek tersebut. Otaknya cukup licin. Om Liem mengambil pasokan dari luar pulau dengan harga yang jauh lebih murah, seperti Sulawesi, Maluku dan Sumatra, dan menyelundupkannya ke Kudus. Cara Om Liem bergaul dan menjalin relasi cukup luwes. Bisnis logistik tembakau Om Lie pun lama-lama berkembang dan menjadi lumayan sukses. Om Liem juga berjualan kain tekstil yang dia dapatkan secara murah dengan mengimpor dari Shanghai. Pelan tapi pasti, bisnis dan kehidupan Om Liem mulai meningkat.

Berbisnis kebutuhan tentara dan pindah ke Jakarta

Akan tetapi bisnis Om Liem yang mulai membaik terpaksa harus ditelan kebangkrutan ketika Jepang mulai masuk menjajah Indonesia tahun 1940 an. Usaha tembakau dan cengkehnya seret. Om Liem harus menjual semuanya dan kembali lagi mulai dari awal. Tahun 1945 ketika Jepang meninggalkan Indonesia, Om Liem mulai berbisnis logistik kebutuhan tentara. Dia banyak bergaul dengan perwira-perwira TNI termasuk salah satunya Letkol Soeharto.

Untuk mencari kesempatan bisnis yang lebih baik, Om Liem bertekad pindah ke Jakarta. Pada saat itu, Om Liem telah menikah dengan seorang wanita dari Lasem bernama Liem Kiem Nio atau dikenal dengan nama Lilani. Om Liem memboyong istrinya pindah ke Jakarta dan memulai hidup baru. Semenjak menikah dan pindah ke Jakarta tahun 1952, Om Liem mulai menapaki bisnis di bidang perbankan. Dia bersama karyawan kepercayaannya, Mochtar Riady, mendirikan Bank Central Asia. Bisnis perbankan yang dititinya sukses.

Pertemanan dengan Soeharto

Pada tahun 1968, Om Liem mendirikan pabrik perdagangan terigu yaitu PT Bogasari. Pabrik terigu ini mencetak sukses besar dan nama Om Liem semakin dikenal. Di balik kesuksesannya, rupanya ada orang yang berjasa membuka jalan bagi Om Liem untuk meraih kesempatan dan relasi bisnis yang besar. Orang itu adalah Soeharto, yang dikenalnya semasa berbisnis pasokan logistik tentara tahun 1945.  Persahabatannya dengan Soeharto berlanjut sampai ketika Soeharto diangkat menjadi Presiden RI menggantikan Soekarno. Dari Soeharto lah, Om Liem mendapat kesempatan berkenalan dengan pengusaha-pengusaha setempat dan mendapatkan kemudahan ijin-ijin usaha demi melancarkan bisnisnya.

Berkat jasa Soeharto, Om Liem diperkenalkan dengan Djuhar Sutanto dan membentuk CV. Waringin Kentjana yang bergerak di bidang ekspor impor komoditas. Sejalan dengan waktu, Om Liem menambah kongsi dengan 2 pengusaha lainnya yaitu Sudwikatmono dan Ibrahim Risjad dan membentuk Salim Grup. Kwartet pengusaha yang dipimpin Om Liem ini berekspansi dengan juga mendirikan pabrik semen Indocement pada tahun 1974. Salim Grup  terus mengembangkan sayap bisnisnya dan pada tahun 1990 Salim Grup mendirikan PT Indofood yang bergerak dibidang pangan dan sekaligus terigu. Salah satu produk Indofood yang tercatat menuai sukses besar bahkan sampai sekarang adalah Indomie, mie instan sejuta umat.

Kedekatannya dengan Soeharto, sang penguasa Orde Baru, memang melicinkan jalannya menuju kesuksesan. Banyak berita beredar bahwa Soeharto dan anak-anaknya juga mendapat saham dan keutungan dari perusahan Om Liem dengan timbal balik berupa kemudahan ijin-ijin usaha dan koneksi yang diberikan Soeharto. Om Liem sering menyangkal mengenai hal itu dan berkata bahwa hubungannya dengan Soeharto tidak lebih dari hubungan persahabatan biasa. Era 1990 an adalah puncak jaya-jayanya Om Liem. Om Liem sempat dinobatkan menjadi orang terkaya di Indonesia bahkan juga masuk ke dalam 100 orang terkaya di dunia menurut versi majalah Forbes.

Masa tua di Singapura

Tahun 1998, secara mengejutkan Soeharto lengser dan rumah Om Liem di Gunung Sahari dibakar dan dihancurkan massa. Untung saja Om Liem sedang berada di Singapura pada waktu itu. Seiring dengan lengsernya Soeharto, pamor kerajaan bisnis Salim Grup mulai turun. Krisis moneter yang terjadi tahun 1998 memaksa Salim Grup menjual beberapa banyak anak-anak perusahaannya, beberapa di antaranya adalah BCA, Indocement dan Indomobil , demi membayar hutang. Tidak lama setelah itu, Om Liem banyak tinggal di Singapura dan hanya pulang ke Indonesia sesekali saja. Usianya nya pun mulai tua. Tampuk kepemimpinan perusahaan pun dia serahkan ke anaknya,  Anthoni Salim. Adapun anak anak Om Liem lainnya seperti Albert Salim, Andre Salim dan Mira Salim juga turun berkecimpung dalam Salim Grup.

Masa tua Om Liem dihabiskan di Singapura. Ia wafat di Singapura pada tanggal 11 Juni 2012. Ratusan bahkan ribuan pelayat datang memberikan penghormatan terakhir. Sosok Om Liem begitu meninggalkan kesan mendalam. Meskipun namanya sangat besar, Om Liem terkenal sederhana, tidak suka publisitas dan tidak suka difoto. Orangnya sangat ramah dan luwes dalam bergaul, tidak heran koneksi dan relasinya sangat luas. Di balik itu, orang banyak mengagumi teladan semangat kerja keras, kegigihan dan ketekunan Om Liem dalam membangun kerajaan bisnisnya. Sosoknya pantas dijadikan teladan. Indonesia pantas berbangga dengan kehadiran Om Liem sebagai penggerak ekonomi Indonesia.