Tag Archives: Jusuf Kalla

Jusuf Kalla, “Saudagar” yang menjadi Wakil Presiden

Jusuf Kalla atau Dr. (H.C.) Drs. H. Muhammad Jusuf Kalla adalah seorang pengusaha, politisi yang saat ini menjabat Wakil Presiden. Bersama dengan Presiden Joko Widodo, Jusuf Kalla memimpin Kabinet Kerja periode 2014 – 2019. Dengan segala pengalaman organisasi, pemimpin perusahaan dan politik, Jusuf Kalla dapat menjadi sosok yang akan selalu diingat dalam sejarah bangsa. Lalu seperti apa kisah Jusuf Kalla yang berasal dari suku Bugis ini? Berikut kisahnya.

Masa Kecil dan Remaja Jusuf Kalla

Jusuf Kalla adalah anak ke-2 dari pasangan Haji Kalla dan Athirah yang lahir 15 Mei 1942 di Watampone, Kabupaten Bone, Sulawesi Selatan. Haji Kalla dan Athirah sendiri adalah seorang pengusaha keturunan Bugis dengan bisnisnya yang tergabung dalam bendera Kalla Group. Sejak menjadi siswa di SMA Negeri 3 Makassar hingga mahasiswa, pria yang akrab disapa Daeng Ucu ini selalu aktif dalam beberapa organisasi. Beberapa organisasi yang pernah diikuti Jusuf Kalla antara lain Pelajar Islam Indonesia (PII) Cabang Sulawesi Selatan 1960 – 1964, Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) Cabang Makassar tahun 1965-1966 dan Kesatuan Aksi Mahasiswa Indonesia (KAMI). Bahkan karena aktifnya beliau di organisasi membuat Jusuf Kalla kemudian dijadikan Ketua Dewan Mahasiswa Universitas Hasanuddin tahun 1965-1966 serta serta Ketua Presidium Kesatuan Aksi Mahasiswa Indonesia (KAMI) peridoe 1967-1969.

Menjadi Pengusaha dan Berkeluarga

Lahir dari keluarga pengusaha membuat Jusuf Kalla punya kesempatan besar dan mudah untuk mendapatkan pengalaman bisnis. Insting bisnis Jusuf Kalla semakin kuat karena dirinya menimba ilmu di Fakultas Ekonomi Universitas Hasanuddin, Makassar (UNHAS). Selepas kuliah di UNHAS, Jusuf Kalla memutuskan untuk membantu bisnis orang tuanya di Kalla Group. Pada 27 Agustus 1967, Jusuf Kalla menikah dengan Hj. Mufidah Miad Saad. Dari pernikahannya tersebut, Jusuf Kalla dikaruniai seorang putra dan empat putri. Pada tahun 1968, Jusuf Kalla menjadi CEO NV Hadji Kalla dan menjadikan bisnis yang awalnya bergerak di sektor ekspor dan impor tersebut meluas ke berbagai bidang.

Perluasan bidang dari bisnis NV Hadji Kalla setelah dipimpin Jusuf Kalla antara lain konstruksi, perkapalan, perhotelan, kelapa sawit, telekomunikasi, real estate, peternakan udang dan penjualan kendaraan. Kesuksesan Jusuf Kalla dalam dunia bisnis membuatnya ditunjuk menjabat Ketua Kamar Dagang dan Industri Daerah (Kadinda) Sulawesi Selatan. Dan pada musyawarah September 2006, Jusuf Kalla ditunjuk kembali sebagai Ketua Ikatan Keluarga Alumni (IKA) di alamamaternya Universitas Hasanuddin. Sambil berbisnis dan menjadi pengusaha, Jusuf Kalla tak melupakan juga untuk menempuh pendidikan yang lebih tinggi dengan menempuh pascasarjana di The European Institute of Business Administration, Perancis pada tahun 1977. Dalam hal usahanya mencapai suskes, Jusuf Kalla memang patut dicontoh. Sebab Jusuf Kalla mengkombinasikan pengalaman bisnisnya dengan ilmu ekonomi yang didapatkannya di bangku perkuliahan.

Berkarir Politik

Setelah sekian lama menjalankan profesi pengusaha, Jusuf Kalla mulai tertarik dengan dunia politik dan melirik Jakarta sebagai gelanggangnya. Dengan modal sikapnya yang cepat menyelesaikan permasalahan dan profesional memang membuat banyak ruang dan pintu politik terbuka untuk dirinya di Jakarta. Tak tanggung-tanggung, Jusuf Kalla saat itu langsung ditunjuk Presiden Abdurrahman Wahid menjadi Menteri Perindustrian dan Perdagangan. Saat pemerintahan berganti ke Megawati Soekarnoputri, Jusuf Kalla pun kembali ditunjuk sebagai Menko Kesra. Karena ingin maju sebagai calon wakil presiden mendampingi Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) maka Jusuf Kalla pun mengundurkan diri sebagai Menko Kesra. Keberanian Jusuf Kalla untuk terjun ke dunia politik ini patut diacungi jempol. Sebab dengan latar belakang dibidang entrepreneur maka tidak semua orang bisa dengan mudah menembusnya.

Kiprah di Pemilihan Presiden

Pada pemilihan presiden (Pilpres) 2004 yang diselenggarakan secara langsung oleh rakyat, Jusuf Kalla mencalonkan sebagai Wakil Presiden menadampingi SBY. Ketika hasil Pilpres menunjukkan SBY sebagai pemenangnya, maka otomatis Jusuf Kalla menjadi Wakil Presiden RI ke-10. Jelang Pilpres 2009, Jusuf Kalla yang sudah tidak berkoalisi dengan Partai Demokrat ditetapkan oleh Partai Golkar sebagai Calon Presiden. Untuk wakilnya, Jusuf Kalla menunjuk Wiranto selaku Ketua Umum Partai Hanura sebagai Cawapresnya. Sayangnya pada Pilpres 2009, Jusuf Kalla kalah dari pasangan SBY – Budiono. Kemudian dalam Pilpres 2014, Jusuf Kalla kembali berkiprah, kali ini menjadi Cawapres dari Joko Widodo. Pada pemilihan yang juga masih diselenggarakan secara langsung tersebut Jusuf Kalla kembali terpilih sebagai Wakil Presiden RI bersama Joko Widodo sebagai Presidennya. Gelanggang Politik dari Jusuf Kalla sampai detik ini bisa dibilang cemerlang. Meski pernah gagal ketika mencalonkan diri sebagai Presiden, tapi kesuksesan Jusuf Kalla menjadi Cawapres sebanyak dua kali terbilang cukup membanggakan.

Jabatan Lain Jusuf Kalla

Selain menjabat beberapa jabatan strategis di pemerintahan yang telah disebutkan, Jusuf Kalla juga pernah menjabat beberapa jabatan lain. Jabatan pertama yang pernah dipegang Jusuf Kalla adalah ketua umum Golongan Karya (Golkar) sejak Desember 2004 hingga 9 Oktober 2009 menggantikan Akbar Tanjung. Jabatan berikutnya yang juga pernah dipimpin Jusuf Kalla adalah ketua umum Palang Merah Indonesia (PMI) periode 2009-2014 setelah terpilih dalam Munas Palang Merah Indonesia XIX. Pada Munas XX PMI, Jusuf Kalla kembali lagi terpilih sebagai ketua umum Palang Merah Indonesia (PMI) periode 2014-2019. Jabatan lain yang juga pernah dijabat Jusuf Kalla adalah ketua umum Pengurus Pusat Dewan Masjid Indonesia periode 2012-2017 setelah terpilih dalam Muktamar VI DMI di Jakarta. Dari apa yang dialami dan dijalankan Jusuf Kalla, tentu kita harus menirunya. Karena meski sudah di usia yang tidak terbilang muda, Jusuf Kalla tak mau berdiam diri dengan tetap mau terus beraktivitas.