Tag Archives: Gusdur

Abdurrahman Wahid, Figur “Anak Pesantren” yang Bisa Jadi Presiden

Kamu ingat kata-kata “gitu aja kok repot”? Ya, kata-kata unik dan penuh sindiran tersebut pernah dilontarkan oleh satu presiden Indonesia, yaitu Abdurrahman Wahid. Abdurrahman Wahid, atau yang lebih dikenal dengan nama Gus Dur, menjadi salah satu presiden paling “unik” yang dimiliki Indonesia. Meski tidak terlalu lama menjabat presiden Indonesia, beliau melakukan perubahan yang cukup besar di masa reformasi pasca runtuhnya rezim Soeharto. Sosok “anak pesantren” ini bahkan juga begitu dihargai hingga ke luar negeri. Penasaran ingin lebih dekat dengan Gus Dur? Yuk, simak kisah perjalanan hidupnya, mulai dari sebagai anak pesantren hingga menjadi presiden Indonesia!

  

Masa kecil Gus Dur yang erat dengan dunia pesantren

Abdurrahman Wahid alias Gus Dur lahir di Jombang pada tanggal 7 September 1940. Gus Dur lahir dari keluarga yang terhormat dalam komunitas Muslim di Jawa Timur. Kakek dari ayahnya adalah K.H. Hasyim Asyari, yang merupakan pendiri Nahdlatul Ulama (NU). Sementara ayah Gus Dur, K.H. Wahid Hasyim, pernah menjabat sebagai menteri agama pada tahun 1949. Tak heran jika pada akhirnya Gus Dur tumbuh dengan ajaran Muslim yang begitu kental.

Gus Dur pindah ke Jakarta pada tahun 1944 saat sang ayah terpilih menjadi ketua Partai Masyumi. Sempat kembali lagi ke Jombang, akhirnya Gus Dur kembali mengikuti sang ayah ketika beliau terpilih menjadi menteri agama. Semasa di Jakarta itu, Gus Dur diberi banyak bacaan oleh K.H. Wahid Hasyim, antara lain koran, majalah, hingga buku non-Muslim. Bacaan-bacaan tersebut diberikan kepada Gus Dur agar bisa memperluas pengetahuan. Setelah K.H. Wahid Hasyim meninggal pada tahun 1953, sang ibu mengirimkan Gus Dur ke Yogyakarta untuk meneruskan pendidikan di Pondok Pesantren Krapyak sekaligus belajar di SMP. Gus Dur kemudian pergi ke Magelang pada tahun 1957 untuk menempuh pendidikan di Pesantren Tegalrejo. Kemudian, Gus Dur kembali ke Jombang, tepatnya ke Pesantren Tambakberas untuk melanjutkan pendidikan sekaligus bekerja sebagai guru.

 

Anak pesantren yang memilih melanjutkan pendidikan di luar negeri

Meski tumbuh besar di lingkungan pesantren, hal tersebut tak membuat Gus Dur berhenti belajar. Gus Dur menerima beasiswa dari Kementrian Agama pada tahun 1963 dan melanjutkan studi Islam di Universitas Al Azhar, Mesir. Gus Dur juga aktif menjadi jurnalis dalam Asosiasi Pelajar Indonesia. Tak hanya itu, Gus Dur dipekerjakan di Kedutaan Besar Indonesia. Beliau sempat diperintahkan melakukan investigasi terhadap pelajar universitas dan memberikan laporan kedudukan politik mereka pasca kejadian G30S/PKI.

Kesibukan di luar kegiatan belajar serta kondisi negara Indonesia yang sedang tidak menentu membuat Gus Dur sulit berkonsentrasi pada pendidikan beliau. Gus Dur dinyatakan gagal dan harus mengulang belajar. Untung saja ada beasiswa di Universitas Baghdad yang menyelamatkan nasib pendidikan beliau. Gus Dur belajar dari kesalahan sebelumnya dan akhirnya mampu menyelesaikan pendidikan pada tahun 1970.

 

Aktivitas selepas lulus dari luar negeri

Sekembalinya di Jakarta, Gus Dur bergabung ke Lembaga Penelitian, Pendidikan dan Penerangan Ekonomi dan Sosial (LP3ES), organisasi yang terdiri dari kaum intelektual muslim progresif dan sosial demokrat. Gus Dur kembali aktif menjadi kontributor di majalah bernama Prisma. Sempat ingin kembali bersekolah di luar negeri, akhirnya Gus Dur mengurungkan niatnya karena ingin fokus membangun pesantren di Indonesia. Kondisi pesantren yang makin memprihatinkan membuat Gus Dur ingin lebih lama berada di Indonesia.

Satu-satunya pekerjaan yang saat itu Gus Dur andalkan adalah menjadi seorang jurnalis. Beliau juga sering mendapatkan undangan untuk menghadiri seminar. Hanya saja pekerjaan jurnalis dirasa sulit untuk memenuhi kebutuhan hidup. Maka, Gus Dur pun mengajar di Pesantren Tambakberas dan guru kitab Al Hikam untuk menambah penghasilan. Lulusan dari universitas luar negeri dan memiliki kecerdasan di luar orang rata-rata tampaknya tak membuat Gus Dur lupa diri. Bahkan, pekerjaan beliau pun masih sangat erat hubungannya dengan masyarakat. Apalagi beliau memiliki cita-cita mulia untuk memperbaiki kondisi pesantren Indonesia.

 

Sempat berkali-kali menolak, akhirnya Gus Dur terlibat di dalam Nahdlatul Ulama

Saking ingin fokusnya ke pesantren, Gus Dur memang berkali-kali menolak ajakan kakeknya untuk bergabung di Nahdlatul Ulama (NU). Namun, akhirnya Gus Dur menerima tawaran ini dan memutuskan untuk pindah dari Jombang ke Jakarta. Kondisi NU yang saat itu tengah stagnan membuat Gus Dur membentuk Tim Tujuh guna mengerjakan isu reformasi dan mengihupkan kembali NU. Saat Soeharto terpilih kembali sebagai presiden untuk keempat kalinya di tahun 1983, Gus Dur bersama Tim Tujuh ditugaskan untuk menyiapkan respon NU. Soeharto menetapkan Pancasila sebagai ideologi negara dan hal itu dipandang baik oleh Gus Dur sehingga NU pun menerima ideologi tersebut.

Gus Dur terpilih menjadi ketua NU pada tahun 1984 dan kemudian menjadi anggota MPR Golkar. Saat itu tampak Gus Dur banyak memberi dukungan pada rezim pemerintahan. Meski begitu, Gus Dur juga sempat mengkritik pemerintah perihal pembangunan Waduk Kedungombo yang didanai Bank Dunia.

Gus Dur kembali terpilih menjadi ketua NU di tahun 1989. Kala itu, Gus Dur menolak ajakan Soeharto untuk bergabung dalam Ikatan Cendekiawan Muslim Indonesia (ICMI) yang merupakan organisasi bentukan Soeharto untuk menarik simpati Muslim akibat keterlibatannya dalam pertempuran politik denga ABRI. Bahkan, Gus Dur justru membentuk Forum Demokrasi yang terdiri dari berbagai intelektual dari komunitas religius dan sosial. Organisasi ini jelas tidak disetujui oleh pemerintah sehingga pemerintah pun menghentikan pertemuan yang diadakan Forum Demokrasi jelang Pemilu 1992.

Pada tahun 1994, Soeharto berusaha menghalangi terpilihnya kembali Gus Dur sebagai ketua NU. Namun, pada akhirnya Gus Dur justru kembali terpilih. Bahkan, Gus Dur bergabung bersama tokoh yang mengkritisi kebijakan pemerintahan Soeharto, antara lain Megawati Soekarnoputri dan Amien Rais pada tahun 1996. Kondisi kesehatan Gus Dur yang sempat memburuk di tahun 1998 membuat beliau tidak bisa ikut berjuang penuh di masa reformasi hingga akhirnya Soeharto mengundurkan diri pada Mei 1998.

Sekilas, sosok Gus Dur tampak mudah berubah. Sempat mendukung Soeharto, justru di kemudian hari menjadi melawan Soeharto. Pada dasarnya, Gus Dur hanya memiliki pendirian bahwa yang baik harus diikuti, yang tidak baik harus dilawan. Oleh sebab itu, ketika rezim Soeharto mulai menunjukkan tanda-tanda tidak sehat, Gus Dur pun berupaya untuk melakukan perlawanan.

 

Pembentukan PKB dan keterlibatan Gus Dur dalam dunia politik

Setelah jatuhnya rezim Soeharto, banyak partai baru mulai bermunculan. Gus Dur sempat diminta orang-orang NU untuk membuat sebuah partai. Pada Juli 1998, Gus Dur menyetujui pembentukan Partai Kebangkitan Bangsa (PKB). Meski didominasi oleh anggota NU, PKB sangat terbuka untuk semua orang yang ingin bergabung. Gus Dur bersama Megawati, Amien, dan Sultan Hamengkubowono X kembali menyatakan komitmen untuk reformasi pada November 1998. Akhirnya, pada tahun 1999, PKB resmi menyatakan Gus Dur sebagai kandidat pemilihan presiden. Berpolitik menjadi salah satu pilihan Gus Dur untuk melanjutkan perjuangan reformasi.

 

Gus Dur menjadi presiden pertama Indonesia yang berasal dari pesantren

PKB memenangkan 12% suara dalam Pemilu legislatif 1999. PDIP yang kala itu memperoleh 33% suara diperkirakan bisa membawa Megawati memenangkan pemilihan presiden pada sidang umum MPR. PDIP yang tidak memiliki kursi mayoritas penuh membuatnya harus beraliansi dengan PKB. Amien Rais pun membuat koalisi partai-partai Muslim dan mengusulkan Gus Dur sebagai kandidat pemilihan presiden.

Sidang MPR menolak pidato pertanggungjawaban Habibie pada Oktober 1999 dan membuat Habibie mundur dari jabatan presiden. MPR kembali kembali berkumpul untuk memilih presiden baru dan Gus Dur pun terpilih dengan 373 suara, unggul 20 suara dari Megawati Soekarnoputri. Megawati pun akhirnya terpilih menjadi wakil presiden mendampingi Gus Dur.

Setelah sebelumnya presiden Indonesia sempat berasal dari kaum cendekiawan dan militer, untuk pertama kalinya seorang anak pesantren berhasil menjadi presiden Indonesia. Meski berasal dari lingkungan pesantren, ternyata pola pikir Gus Dur yang terbuka mampu membawa beliau menjadi salah satu tokoh politik terbaik yang dimiliki Indonesia.

 

Keunikan Gus Dur selama menjabat sebagai presiden Indonesia

Semasa pemerintahan Gus Dur, banyak perubahan besar yang dianggap “nyentrik”. Pertama, beliau membubarkan Departemen Penerangan yang merupakan senjata rezim Soeharto serta Departemen Sosial yang dianggap korup. Kedua, Gus Dur melakukan pendekatan lembut pada Aceh dan Irian Jaya yang kala itu hendak memisahkan diri dari Indonesia. Ketiga, Gus Dur juga dikenal suka memecat menteri. Dua menteri yang dipecat kala itu adalah Jusuf Kalla (Menteri Negara Perindustrian dan Perdagangan) dan Laksamana Sukardi (Menteri Negara BUMN), keduanya dipecat dengan alasan dugaan kasus korupsi. Keempat, Gus Dur menjadi presiden pertama yang menjadikan Tahun Baru Imlek menjadi hari libur nasional. Umat Konghucu pun diperkenankan untuk beribadah di era Gus Dur.

Selain itu, Gus Dur dikenal sebagai presiden yang ceplas-ceplos dalam berbicara. Slogan “Gitu saja kok repot” seolah menjadi ciri khas yang tidak bisa lepas dari Gus Dur. Ketika beliau tidak menyukai sesuatu, beliau akan dengan tegas menunjukkannya. Tak heran jika sifat beliau yang apa adanya tersebut membuat Gus Dur kurang disukai oleh banyak pihak, bahkan oleh kalangan menteri sendiri. Mungkin sosok Gus Dur menjadi salah satu cerminan Indonesia yang memiliki banyak keragaman. Dalam kondisi tertentu, tidak semua pendapat harus sama. Gus Dur yang gemar mengeluarkan pendapat dengan keras rasanya belum siap diterima oleh sebagian masyarakat Indonesia.

 

Isu-isu buruk mulai muncul hingga akhirnya Gus Dur pun diturunkan dari jabatan presiden

Gus Dur sempat tersandung isu skandal yang diduga melibatkan beliau, yaitu skandal buloggate dan skandal bruneigate. Pada dua kasus tersebut, Gus Dur dituduh menyimpan uang untuk kepentingan dirinya sendiri. Isu inilah yang pada akhirnya menjadi salah satu senjata untuk menurunkan beliau dari jabatan sebagai presiden Indonesia.

Selain kedua isu tersebut, alasan kuat yang membuat Gus Dur harus segera dilengserkan adalah dikeluarkannya dekrit pembubaran DPR. Isi dekrit tersebut adalah: 1) Membubarkan MPR/DPR, 2) Mengembalikan kedaulatan ke tangan rakyat dengan mempercepat Pemilu satu tahun, dan 3) Membekukan Partai Golkar sebagai bentuk perlawanan terhadap sidang istimewa MPR. Namun, dekrit tersebut tidak mendapat dukungan sama sekali. Pada 23 Juli 2001, Gus Dur pun resmi dilengserkan dan diganti oleh Megawati Soekarnoputri.

Dekrit yang dikeluarkan Gus Dur memang agak kontroversial. Namun, coba kamu renungkan sejenak. Saat itu Gus Dur sering sekali menyindir kinerja anggota MPR dengan kalimat “Anggota MPR seperti anak TK”. Jika melihat kelakuan para wakil rakyat yang sering ketiduran saat sedang ada rapat atau sidang, mungkinkah sindiran Gus Dur tersebut ada benarnya? Anggap saja dekrit presiden yang sempat Gus Dur keluarkan sebagai pegingat para wakil rakyat agar bisa bekerja lebih baik ya.

 

Berbagai penghargaan yang berhasil diperoleh Gus Dur

Pasca pensiun, Gus Dur tetap aktif di PKB. Meski sempat terjadi perpecahan di tubuh PKB, Gus Dur kembali terpilih menjadi Ketua Dewan Penasihat PKB dan Alwi Shihab sebagai Ketua PKB. Gus Dur juga sempat mengajukan diri kembali menjadi presiden di Pemilu Presiden tahun 2004. Namun, beliau gagal karena tidak bisa lolos pemeriksaan medis. Pada Agustus 2005, Gus Dur memimpin Koalisi Nusantara Bangkit Bersatu yang mengkritik kebijakan pemerintahan Susilo Bambang Yudhoyono perihal pencabutan subsidi BBM. Tokoh yang bersama Gus Dur dalam koalisi tersebut adalah Try Sutrisno, Wiranto, Akbar Tanjung, dan Megawati.

Gus Dur meninggal pada 30 Desember 2009 karena komplikasi penyakit yang beliau derita. Beberapa penghargaan sempat beliau peroleh, antara lain Tasrif Award-AJI sebagai Pejuang Kebebasan Pers 2006, dinobatkan sebagai “Bapak Tionghoa” oleh Tokoh Tionghoa Semarang, penghargaan dari Simon Wiesenthal Center atas kepedulian Gus Dur pada penegakan HAM, dan penghargaan lainnya. Beberapa gelar doktor kehormatan juga beliau dapat dari berbagai universitas dunia.

 

Gus Dur adalah salah satu tokoh unik yang dimiliki Indonesia. Beberapa tokoh pun mengenang beliau sebagai sosok yang jujur dan apa adanya, meski perkataan beliau terdengar menyakitkan. Keterbukaan beliau pada beragam perbedaan telah membuka mata banyak orang Indonesia sehingga bisa menerima perbedaan-perbedaan tersebut seperti sekarang. Meski banyak yang kurang menyukai Gus Dur saat menjadi presiden, sosok beliau begitu dikenang sebagai selah satu presiden terbaik yang pernah dimiliki Indonesia.