Tag Archives: Golkar

Prabowo Subianto, Mantan prajurit yang sukses berpolitik

Panggung politik pasca reformasi memang tak bisa dilepaskan dari sosok Prabowo Subianto. Sebab, dengan partai Gerindra yang didirikannya, Prabowo yang juga seorang pengusaha dan mantan prajurit TNI ini pernah beberapa kali meramaikan kancah perpolitikan Indonesia dengan mencalonkan diri sebagai Presiden RI. Lalu seperti apakah kisah pria bernama lengkap Prabowo Subianto Djojohadikusumo yang pernah menjabat Komandan Jenderal Kopassus ini? Yuk ikuti kisahnya berikut ini.

Masa Kecil dan Remaja

Pria kelahiran Jakarta, 17 Oktober 1951 ini adalah putra dari pasangan Soemitro Djojohadikusumo dan Dora Marie Sigar atau Dora Soemitro. Masa kecil cucu dari Raden Mas Margono Djojohadikusumo, yang merupakan pendiri Bank Negara Indonesia dan salah satu anggota BPUPKI ini banyak dihabiskan di luar negeri. Pendidikan dasar Prabowo diselesaikan di Victoria Institution, Kuala Lumpur. Sementara itu untuk sekolah menengahnya diselesaikan di Zurich International School, Zurich. Dan untuk SMA-nya, Prabowo menyelesaikannya di American School, London. Setelah menempuh semua  pendidikan menengahnya, Prabowo melanjutkan pendidikannya di Akademi Militer Nasional, Magelang pada tahun 1970.

Karir Militer

Pendidikan militernya di Akademi Militer Nasional, Magelang diselesaikan Prabowo pada tahun 1974. Setelah itu pada tahun 1976, Prabowo ditugaskan menjadi Komandan Pleton Grup I Para Komando Komando Pasukan Sandhi Yudha (Kopassandha) sebagai bagian dari operasi Tim Nanggala di Timor Timur. Menariknya saat penugasan tersebut, Prabowo menjadi komandan termuda karena masih berusia 26 tahun. Tidak berhenti sampai disitu, di tahun 1983, Prabowo kembali lagi dipercaya sebagai Wakil Komandan Detasemen 81 Penanggulangan Teror (Gultor) Komando Pasukan Khusus (Kopassus).

Setelah mencapai jabatan Komandan Kopassus, tidak lama berselang yakni ditahun 1996 Prabowo dilantik jadi Komandan Jenderal Kopassus. Di tahun 1998, karir militer Prabowo semakin menanjak ketika dirinya menjabat Panglima Kostrad. Sayangnya saat menjabat Pangkostrad, pada 22 Mei 1998 Prabowo diberhentikan Presiden Habibie karena dianggap menggerakan pasukan di luar komando resmi Panglima ABRI ke Jakarta. Konon kabarnya setelah pemecatan tersebut, Prabowo berdebat sengit dengan Habibie. Setelah lengser sebagai Pangkostrad, Prabowo menempati posisi baru yakni Komandan Sekolah Staf Komando (Dansesko) ABRI. Ternyata setelah pemecatan sebagai Pangkostrad, masalah terus menghampiri Prabowo karena dirinya dituduh terlibat dalam penculikan aktivis saat masih menjabat sebagai Danjen Kopassus. Dari tuduhan tersebut, Prabowo harus menjalani sidang Dewan Kehormatan Perwira. Dari sininilah kemudian karir militer Prabowo terus mengalami penurunan dan akhirnya tamat. Meski pada akhirnya karir militer Prabowo harus selesai, tapi upaya dan usaha mencapai puncak prestasi yang dilakukan Prabowo harus diakui jempol.

Berkeluarga

Pada bulan Mei 1983, Prabowo menikahi Siti Hediati Hariyadi alias Titiek Soeharto yang merupakan putri alm. Mantan Presiden RI Soehato. Dari pernikahan tersebut, Prabowo dikaruniai seorang anak, Ragowo “Didiet” Hediprasetyo yang kini bekerja sebagai desainer di Perancis. Sayangnya pernikahan Prabowo harus kandas pada tahun 1998, tidak lama setelah Soeharto lengser dari RI-1.

Karir Bisnis

Setelah tidak lagi menjabat apapun di dunia militer, Probowo kembali menekuni bisnis, kali ini bersama adiknya, Hasyim, di di Yordania dan Jerman. Setidaknya total ada sekitar 27 perusahaan di Indonesia dan di luar negeri yang dipimpin oleh Prabowo. Beberapa perusahaan yang dipimpin Prabowo antara lain PT Jaladri Nusantara yang bergerak di bidang perikanan, PT. Tidar Kerinci Agung yang bergerak di bidang produksi minyak kelapa sawit dan juga PT Nusantara Energy yang bergerak dalam bidang pertambangan, pertanian, migas, pulp dan kehutanan. Awal mula karir Prabowo sebagai pengusaha dimulai mengakuisisi Kiani Kertas di Mangkajang, Kalimantan Timur, yang sebelumnya dimiliki Bob Hasan. Dengan pinjaman dari Bank Mandiri senilai Rp 1,8 Triliun, Prabowo mengakuisisi  Kiani Kertas dan mengubah namanya menjadi Kertas Nusantara. Kejeniusan Prabowo dalam memimpin dan menjalankan perusahaan harus diakui kepiawaiannya. Ini karena ia sukses mengembangkan bisnis lebih sukses dan lebih berjaya.

Karir Politik

Setelah beberapa tahun berada di luar negeri untuk berbisnis, Prabowo kembali ke Indonesia untuk berkarir di dunia politik. Pada tahun 2004, Prabowo melalui konvensi Partai Golkar bertarung mencalonkan diri sebagai calon presiden. Sayangnya dalam konvensi tersebut dirinya gagal karena kalah dari Wiranto. Meksi gagal, Prabowo tak putus asa. Prabowo kemudian membangun jaringan tani yang membuat dirinya terpilih menjadi Ketua Umum Himpunan Kerukunan Tani Indonesia (HKTI) 2004. Setelah itu bersama adiknya Hashim Djojohadikusumo, Muchdi Purwoprandjono, Fadli Zon dan beberapa nama lain, Prabowo pada tanggal 6 Februari 2008, mendirikan Partai Gerindra (Partai Gerakan Indonesia Raya). Setelah Partai Gerindra berdiri, Prabowo ditetapkan sebagai Ketua Dewan Pembina Dewan Pimpinan Pusat (DPP).

Pada Pilpres 2004, Prabowo mencalonkan diri sebagai wakil presiden dengan Megawati sebagai capresnya. Sayangnya pencalonan Prabowo tidak berhasil karena kalah bersain dengan SBY-Jusuf Kalla. Dalam pemilu 2009 sendiri, Partai Gerindra mendapatkan 4.646.406 suara (4,46 %) serta menempatkan 26 orang wakilnya di DPR RI. Kemudian pada Pilpres 2014, Prabowo kembali ke mencalonkan diri. Kali ini dirinya mencalonkan diri sebagai capres dengan Hatta Rajasa sebagai cawapresnya. Sayangnya lagi-lagi dirinya gagal karena kalah bersaing dengan Joko Widodo dan Jusuf Kalla. Dari apa yang dilakukan Prabowo dibidang politik ada sebuah pelajaran yang bisa kita petik. Bahwa harus terus ada semangat dan juga keseriusan dalam usaha yang dilakukan. Prabowo yang kalah dalam konvensi Partai Golkar sebagai capres, tidak langsung menyerah. Tapi Prabowo dengan rekan-rekannya mendirikan sendiri Partai Gerindra untuk kemudian bisa mengusung dirinya sebagai capres.

Surya Paloh, dari Serambi Mekkah membawa Restorasi Indonesia

Dengan semangat pembaruan berslogan “Restorasi Indonesia”, Surya Dharma Paloh atau Surya Paloh bersama Sultan Hamengkubuwono X pda tahun 2010 mendirikan organisasi Nasdem yang kemudian berkembang menjadi Partai Nasdem (Nasional Demokrat). Sosok yang kemudian memimpin Partai Nasdem ini juga dikenal sebagai pengusaha dimana salah satu perusahaan yang dipimpinnya adalah Metro TV yang tergabung dalam Media Grup. Lalu bagaimana sebernarnya kisah dari sosok Surya Paloh ini? Mari simak pembahasannya berikut ini.

Masa Kecil dan Remaja

Surya Paloh lahir di pada 16 Juli 1951 di Kuta Raja, Kota Banda Aceh, Naangroe Aceh Darussalam. Saat bersekolah, Surya Paloh sudah terbiasa berjualan. Saat itu sambil sekolah, Surya Paloh sembari membawa beberapa barang seperti ikan asin, karung goni, teh dan lainnya. Dari sinilah bakat bisnis Surya Paloh muai terasah. Saat sekolah menengah di SMA Negeri 7 Medan, Insting bisnis Surya Paloh semakin berkembang baik. Hal ini terlihat ketika dirinya membuka perusahaan karoseri. Lagi-lagi kegiatan berbisnis ini dilakukan Surya Paloh sambil sekolah dan juga menjadi agen penjualan mobil. Selepas SMA,

Surya Paloh melanjutkan pendidikannya ke Universitas Sumatera Utara untuk mengambil Fakultas Hukum. Meski tak sampai lulus, tapi Surya Paloh melanjutkan studinya ke Universitas Islam Sumatera Utara dengan mengambil Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik. Dari fakultas inilah Surya Paloh mulai mengenal dan menyukai dunia politik. Sejak kuliah di Universitas Islam Sumatera Utara, Surya Paloh mulai aktif mengikuti organisasi yang menentang kebijakan-kebijakan salah dari pemerintahan Orde Lama. Salah satu organanisasi yang diikuti oleh Surya Paloh saat itu adalah Kesatuan Aksi Pemuda Pelajar Indonesia (KAPPI). Setelah KAPPI bubar, Surya Paloh menjadi Koordinator Pemuda dan Pelajar pada Sekretariat Bersama Golkar. Organisasi lain yang juga pernah dipimpin Surya Paloh adalah Putra-Putri ABRI (PP-ABRI) Sumatera Utara.

Menjadi Pebisnis

Sebagai pengusaha, karir Surya Paloh juga tak bisa dipandang sebelah mata. Sebab, suami dari Rosita Barrack ini punya talenta dan bakat berniaga yang mumpuni. Beberapa perusahaan yang pernah dikelola oleh Surya Paloh adalah PT Ika Diesel Bros yang merupakan usaha distributor mobil Ford dan Volkswagen. Ada juga Hotel Ika Darroy di Banda Aceh, Link Up Coy di Singapura yang bergerak di perdagangan umum dan lainnya. Tapi usaha yang kemudian mengangkat namannya lebih tinggi adalah penerbitan media. Hal ini dikarenakan bisnis di penerbitan media menurutnya sangat menantang dan memunculkan minatnya kembali pada dunia politik. Kemahiran bisnis Surya Paloh memang tak tiba-tiba saja muncul. Ini karena Surya Paloh memulainya sejak ia masih sekolah. Dari sini kita pun bisa mengambil pelajaran bahwa tidak ada sukses yang bisa diraih secara instan. Sukses yang sejati membutuhkan proses dan waktu yang didalamnya ada beragam tantangan yang harus ditaklukkan.

Bisnis di Media Massa

Saat itu Surya Paloh memulai bisnis penerbitan medianya pada masa orde baru sehingga banyak sekali tantangan dan rintangan yang harus dihadapi. Seperti kita tahu bahwa pemerintah orde baru sangat protektif pada setiap media massa yang membuat setiap pemimpin redaksi harus sangat berhati-hati ketika memuat berita. Surya Paloh sendiri memulai bisnis penerbitan media pada 2 Mei 1986 dengan mendirikan Surat Kabar Harian Prioritas. Meskipun popularitas koran Prioritas ini sudah menyebar ke berbagai daerah, namun sayangnya Prioritas tak bisa bertahan lama karena SIUPP-nya dicabut pemerintah. Dicabutnya SIUPP dari koran Prioritas ini disebabkan menurut pemerintah saat itu isi dari koran Prioritas tak sesuai dengan Kode Etik Jurnalisti Indonesia.

Meski ditutup oleh pemerintah, Surya Paloh tak menyerah. Sebab kemudian menghidupkan kembali Majalah Vista. Dan pada tahun 1989, Surya Paloh bekerja sama dengan Drs. T. Yously Syah untuk mendirikan dan mengelola Media Indonesia. Tidak hanya bekerjasama dengan Drs. T. Yously Syah, tapi Surya Paloh juga bermitra dengan 10 penerbit di daerah baik seperti Sumatera, Bali dan Sulawesi. Untuk mengembalikan popularitas medianya seperti kora Prioritas, Surya Paloh memboyong Media Indonesia ke Gedung Prioritas.

Dirikan Metro TV

Dibawah rezim orde baru, Surya Paloh terus mendapatkan pertentangan dan ancaman pembredelan dari pemerintah. Tapi dengan keberaniannya untuk terus memperjuangkan kebebasan pers dengan bersuara lewat media massa, Surya Paloh pun menemukan momentumnya untuk mendirikan stasiun televisi yang kemudian diberi nama Metro TV. Dengan sajian utama kanal berita, Metro TV menjadi stasiun televisi berita pertama di Indonesia dan juga stasiun televisi pertama yang menghadirkan siaran 24 jam nonstop. Selain mendirikan Metro TV, Surya Paloh yang punya ruang lebih luas setelah jatuhnya rezim Orde Baru juga menghadirkan koran Media Indonesia yang kini telah populer dan dikenal di seluruh Indonesia. Dari kisah Surya paloh membangun bisnis media massa-nya ini kita bisa mengambil hikmah bahwa hanya dengan kesungguhan dan semangat pantang menyerah, sebuah impian bisa diraih sesulit apapun itu rintangan yang menghadang.

Karir Politik

Setelah bisnis media massa telah sukses diraihnya, Surya Paloh melanjutkan petualang kehidupannya dengan terjun ke dunia politik yang diminatinya sejak dulu. Awalnya ia bergabung dengan Partai Golkar. Dengan keaktifannya, Surya Paloh pernah dijadikan Ketua Dewan Penasihat Partai Golkar periode 2004-2009. Karir politik Surya Paloh berlanjut ketika dirinya mendirikan organisasi Nasdem (Nasional Demokrat) bersama Sultan Hamengkubuwono X pada tanggal 1 Ferbruari 2010. Surya Paloh bersama Nasdem menggelorakan gerakan semangat pembaruan di Indonesia dengan slogan “Restorasi Indonesia”. Organisasi Nasdem yang awalnya tidak berorientasi politik kemudian pada 26 juli 2011 berubah menjadi partai politik dan turut berpartisipasi dalam pemilu pada 2014. Ketika Partai Nasdem dinyatakan lolos dalam verifikasi KPU sebagai peserta pemilu 9 april 2014, nama Surya Paloh semakin gencar terdengar di beberapa media. Kepopuleran Surya Paloh kemudian memunculkan spekulasi bahwa Surya Palon akan mencalonkan diri sebagai Capres. Tapi kenyataannya pada Pilpres 2014 hingga terpilihnya Joko Widodo sebagai Presiden RI, Partai Nasdem tidak mencalonkan Surya Paloh sebagai presiden.

Jusuf Kalla, “Saudagar” yang menjadi Wakil Presiden

Jusuf Kalla atau Dr. (H.C.) Drs. H. Muhammad Jusuf Kalla adalah seorang pengusaha, politisi yang saat ini menjabat Wakil Presiden. Bersama dengan Presiden Joko Widodo, Jusuf Kalla memimpin Kabinet Kerja periode 2014 – 2019. Dengan segala pengalaman organisasi, pemimpin perusahaan dan politik, Jusuf Kalla dapat menjadi sosok yang akan selalu diingat dalam sejarah bangsa. Lalu seperti apa kisah Jusuf Kalla yang berasal dari suku Bugis ini? Berikut kisahnya.

Masa Kecil dan Remaja Jusuf Kalla

Jusuf Kalla adalah anak ke-2 dari pasangan Haji Kalla dan Athirah yang lahir 15 Mei 1942 di Watampone, Kabupaten Bone, Sulawesi Selatan. Haji Kalla dan Athirah sendiri adalah seorang pengusaha keturunan Bugis dengan bisnisnya yang tergabung dalam bendera Kalla Group. Sejak menjadi siswa di SMA Negeri 3 Makassar hingga mahasiswa, pria yang akrab disapa Daeng Ucu ini selalu aktif dalam beberapa organisasi. Beberapa organisasi yang pernah diikuti Jusuf Kalla antara lain Pelajar Islam Indonesia (PII) Cabang Sulawesi Selatan 1960 – 1964, Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) Cabang Makassar tahun 1965-1966 dan Kesatuan Aksi Mahasiswa Indonesia (KAMI). Bahkan karena aktifnya beliau di organisasi membuat Jusuf Kalla kemudian dijadikan Ketua Dewan Mahasiswa Universitas Hasanuddin tahun 1965-1966 serta serta Ketua Presidium Kesatuan Aksi Mahasiswa Indonesia (KAMI) peridoe 1967-1969.

Menjadi Pengusaha dan Berkeluarga

Lahir dari keluarga pengusaha membuat Jusuf Kalla punya kesempatan besar dan mudah untuk mendapatkan pengalaman bisnis. Insting bisnis Jusuf Kalla semakin kuat karena dirinya menimba ilmu di Fakultas Ekonomi Universitas Hasanuddin, Makassar (UNHAS). Selepas kuliah di UNHAS, Jusuf Kalla memutuskan untuk membantu bisnis orang tuanya di Kalla Group. Pada 27 Agustus 1967, Jusuf Kalla menikah dengan Hj. Mufidah Miad Saad. Dari pernikahannya tersebut, Jusuf Kalla dikaruniai seorang putra dan empat putri. Pada tahun 1968, Jusuf Kalla menjadi CEO NV Hadji Kalla dan menjadikan bisnis yang awalnya bergerak di sektor ekspor dan impor tersebut meluas ke berbagai bidang.

Perluasan bidang dari bisnis NV Hadji Kalla setelah dipimpin Jusuf Kalla antara lain konstruksi, perkapalan, perhotelan, kelapa sawit, telekomunikasi, real estate, peternakan udang dan penjualan kendaraan. Kesuksesan Jusuf Kalla dalam dunia bisnis membuatnya ditunjuk menjabat Ketua Kamar Dagang dan Industri Daerah (Kadinda) Sulawesi Selatan. Dan pada musyawarah September 2006, Jusuf Kalla ditunjuk kembali sebagai Ketua Ikatan Keluarga Alumni (IKA) di alamamaternya Universitas Hasanuddin. Sambil berbisnis dan menjadi pengusaha, Jusuf Kalla tak melupakan juga untuk menempuh pendidikan yang lebih tinggi dengan menempuh pascasarjana di The European Institute of Business Administration, Perancis pada tahun 1977. Dalam hal usahanya mencapai suskes, Jusuf Kalla memang patut dicontoh. Sebab Jusuf Kalla mengkombinasikan pengalaman bisnisnya dengan ilmu ekonomi yang didapatkannya di bangku perkuliahan.

Berkarir Politik

Setelah sekian lama menjalankan profesi pengusaha, Jusuf Kalla mulai tertarik dengan dunia politik dan melirik Jakarta sebagai gelanggangnya. Dengan modal sikapnya yang cepat menyelesaikan permasalahan dan profesional memang membuat banyak ruang dan pintu politik terbuka untuk dirinya di Jakarta. Tak tanggung-tanggung, Jusuf Kalla saat itu langsung ditunjuk Presiden Abdurrahman Wahid menjadi Menteri Perindustrian dan Perdagangan. Saat pemerintahan berganti ke Megawati Soekarnoputri, Jusuf Kalla pun kembali ditunjuk sebagai Menko Kesra. Karena ingin maju sebagai calon wakil presiden mendampingi Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) maka Jusuf Kalla pun mengundurkan diri sebagai Menko Kesra. Keberanian Jusuf Kalla untuk terjun ke dunia politik ini patut diacungi jempol. Sebab dengan latar belakang dibidang entrepreneur maka tidak semua orang bisa dengan mudah menembusnya.

Kiprah di Pemilihan Presiden

Pada pemilihan presiden (Pilpres) 2004 yang diselenggarakan secara langsung oleh rakyat, Jusuf Kalla mencalonkan sebagai Wakil Presiden menadampingi SBY. Ketika hasil Pilpres menunjukkan SBY sebagai pemenangnya, maka otomatis Jusuf Kalla menjadi Wakil Presiden RI ke-10. Jelang Pilpres 2009, Jusuf Kalla yang sudah tidak berkoalisi dengan Partai Demokrat ditetapkan oleh Partai Golkar sebagai Calon Presiden. Untuk wakilnya, Jusuf Kalla menunjuk Wiranto selaku Ketua Umum Partai Hanura sebagai Cawapresnya. Sayangnya pada Pilpres 2009, Jusuf Kalla kalah dari pasangan SBY – Budiono. Kemudian dalam Pilpres 2014, Jusuf Kalla kembali berkiprah, kali ini menjadi Cawapres dari Joko Widodo. Pada pemilihan yang juga masih diselenggarakan secara langsung tersebut Jusuf Kalla kembali terpilih sebagai Wakil Presiden RI bersama Joko Widodo sebagai Presidennya. Gelanggang Politik dari Jusuf Kalla sampai detik ini bisa dibilang cemerlang. Meski pernah gagal ketika mencalonkan diri sebagai Presiden, tapi kesuksesan Jusuf Kalla menjadi Cawapres sebanyak dua kali terbilang cukup membanggakan.

Jabatan Lain Jusuf Kalla

Selain menjabat beberapa jabatan strategis di pemerintahan yang telah disebutkan, Jusuf Kalla juga pernah menjabat beberapa jabatan lain. Jabatan pertama yang pernah dipegang Jusuf Kalla adalah ketua umum Golongan Karya (Golkar) sejak Desember 2004 hingga 9 Oktober 2009 menggantikan Akbar Tanjung. Jabatan berikutnya yang juga pernah dipimpin Jusuf Kalla adalah ketua umum Palang Merah Indonesia (PMI) periode 2009-2014 setelah terpilih dalam Munas Palang Merah Indonesia XIX. Pada Munas XX PMI, Jusuf Kalla kembali lagi terpilih sebagai ketua umum Palang Merah Indonesia (PMI) periode 2014-2019. Jabatan lain yang juga pernah dijabat Jusuf Kalla adalah ketua umum Pengurus Pusat Dewan Masjid Indonesia periode 2012-2017 setelah terpilih dalam Muktamar VI DMI di Jakarta. Dari apa yang dialami dan dijalankan Jusuf Kalla, tentu kita harus menirunya. Karena meski sudah di usia yang tidak terbilang muda, Jusuf Kalla tak mau berdiam diri dengan tetap mau terus beraktivitas.

Soeharto, Kisah “Anak Desa” yang Bisa Menjadi Presiden Indonesia

Setelah era kepemimpinan Soekarno berakhir, Soeharto muncul sebagai sosok presiden kedua Indonesia. Berbeda dengan Soekarno, Soeharto hadir sebagai pemimpin dengan latar belakang militer. Sepanjang sejarah Indonesia, beliau menjadi satu-satunya presiden yang paling lama memimpin bangsa ini, yakni 32 tahun. Hal itulah yang membuat Soeharto menjadi sosok yang tidak mudah dilupakan oleh masyarakat Indonesia.

 

Dugaan korupsi sempat menjadi penutup cerita kepemimpinan beliau di Indonesia. Hingga sekarang, sosok Soeharto masih jadi perdebatan. Beberapa pihak menilai Soeharto menjadi bagian kelam sejarah bangsa ini, sementara sebagian yang lain memandang Soeharto sebagai salah satu sosok penting dalam pertumbuhan Indonesia. Menurut kamu, mana yang benar?

 

Terlepas dari semua berita kurang baik tentang Soeharto, pasti tetap ada sisi lain yang bisa kamu pelajari dari beliau. Bagaimana pun juga, kamu mungkin sempat merasakan dipimpin oleh mantan presiden ini. Simak dulu yuk, beberapa kisah perjalanan Soeharto berikut ini!

 

Hidup di desa dan tidak bisa meneruskan pendidikan

Soeharto lahir di Bantul pada tanggal 8 Juni 1921. Saat hidup di Wuryantoro, Soeharto memiliki kegemaran bertani. Soeharto yang kala itu duduk di Sekolah Rakyat (setara dengan SD saat ini) belajar bertani dari sang paman. Saat SMP, Soeharto kembali ke Yogyakarta dan bersekolah di SMP Muhammadiyah. Alasan Soeharto bersekolah di situ adalah karena di situlah beliau bisa bersekolah hanya dengan menggunakan sarung tanpa perlu memakai alas kaki. Namun, keterbatasan biaya membuat Soeharto gagal melanjutkan sekolah selepas tamat SMP. Apa daya, beliau pun kembali ke Wuryantoro dan diterima bekerja sebagai pembantu klerek sebuah bank desa.

Jika dibandingkan dengan Soekarno, tentu kehidupan masa kecil Soeharto jauh lebih susah. Beberapa anak seusia Soeharto mungkin akrab dengan buku sejak muda. Namun, Soeharto kebalikannya. Hidup di desa dan akrbab dengan bertani, siapa sangka sosok besar seperti Soeharto harus berawal dari kehidupan yang tidak mudah?

 

Militer menjadi awal dari perubahan kehidupan Soeharto

Awal karir militer Soeharto dimulai saat beliau diterima di Koninklijk Nederlands Indisce Leger (KNIL) alias tentara kerajaan Belanda. Karier beliau di militer pun cukup naik pesat. Beberapa posisi yang pernah Soeharto emban antara lain sersan tentara KNIL, komando peleton, komandan kompi PETA, komandan resimen dengan pangkat mayor, hingga batalyon dengan pangkat letnan kolonel.

Menilik kisah masa kecilnya yang tidak mudah, kesuksesan karier militer yang dimiliki Soeharto tentu berasal dari kerja keras yang dimilikinya. Jika saja Soeharto memilih menyerah pada nasibnya saat masih muda, mungkin beliau tidak akan pernah menjadi salah satu sosok besar Indonesia. Apakah kamu juga pernah berada di titik paling rendah dalam hidupmu? Sudahkah kamu tetap berjuang untuk hidupmu seperti Soeharto?

 

Kegigihannya di dunia militer membuatnya bisa menjadi presiden Indonesia

Soeharto juga berperan dalam serangan umum yang dilakukan di Yogyakarta pada tahun 1949. Tak lama setelah itu, pangkat Soeharto pun naik menjadi kolonel. Kariernya makin cemerlang saat tahun 1962 diangkat sebagai mayor jenderal dan menjadi Panglima Komando Mandala Pembebasan Irian Barat. Puncaknya, Soeharto kemudian dilantik menjadi Menteri Panglima Angkatan Darat. Inilah momen awal sebelum Soeharto menjadi presiden.

Sejak terpilih menjadi presiden pada tahun 1967 menggantikan Soekarno, terjadi perubahan gaya kepemimpinan di Indonesia. Jika sebelumnya Indonesia memiliki Soekarno yang selalu memiliki semangat berkobar, maka Soeharto hadir dengan ciri khas kedisiplinan yang tinggi. Background militer yang dimiliki membuat Soeharto terkenal tegas dalam peraturan yang dibuatnya. Misalnya, berpendapat di masa Orde Baru tentu tak sebebas sekarang. Media massa banyak yang di bawah pengawasan pemerintah. Sekilas, kamu akan melihat kediktatoran seorang Soeharto di masanya. Namun, coba deh direnungkan sejenak. Di era Soeharto, tidak banyak hoax atau komentar negatif yang belakangan ini justru muncul di era millennials ini. Itu karena semuanya terkontrol. Pertanyaannya, apakah kebebasan berpendapat yang kita miliki sekarang sudah digunakan sebaik-baiknya dengan bertanggung jawab? Apa iya kita butuh sosok diktator Soeharto kembali untuk membuat para netizen bisa “lebih tertib” berpendapat?

Jika disimak, Soeharto mungkin tidak bisa menjadi presiden Indonesia andai kala itu beliau kala itu memilih untuk pasrah menjadi seorang pembantu klerek. Beliau gigih memperbaiki kehidupan agar bisa keluar dari kemiskinan. Ketekunan beliau di dunia militer pulalah yang membawanya menjadi presiden Indonesia. Sekarang kamu tahu bahwa tidak ada hal yang mudah di dunia ini. Semua membutuhkan proses dan perjuangan yang panjang.

 

Selama menjabat presiden, Repelita menjadi program Soeharto yang paling dikenang

Kalau kamu masih ingat, di masa Soeharto erat sekali dengan Program Pembangunan Lima Tahun atau disingkat Repelita. Dampak Repelita saat itu begitu mengagumkan, terutama untuk perekonomian Indonesia. Kondisi negara yang sedang goyah membuat Soeharto harus mengembalikannya ke posisi yang lebih baik. Bukan dengan cara instan, Soeharto memilih membangun Indonesia secara bertahap. Tiap Repelita memiliki tujuan yang berbeda-beda. Pada Repelita I, Soeharto menitikberatkan pada sektor pertanian yang dianggap menjadi sumber kebutuhan pokok rakyat.

Pembangunan pulau-pulau di luar Jawa menjadi tujuan di Repelita II. Tujuannya agar pertumbuhan ekonomi bisa merata di Indonesia. Salah satu program yang sukses kala itu ada transmigrasi. Pada Repelita III, Soeharto menekankan industri padat karya untuk meningkatkan ekspor. Dengan berfokus pada industri padat karya, diharapkan akan terjadi pemerataan ekonomi bagi usaha kecil menengah. Kemudian, di Repelita IV, hal-hal perbaikan difokuskan pada pembuatan lapangan kerja baru dan industri. Terakhir, penekankan pada bidang transportasi, komunikasi, dan pendidikan dilakukan pada Repelita V.

Tentu tidak semua kebijakan di tiap-tiap Repelita bisa berjalan dengan baik, apalagi Indonesia juga pernah mengalami perekonomian yang buruk ketika laju inflasi sangat tinggi. Namun, kamu bisa belajar dari pola pikir Soeharto ini. Butuh rencana yang begitu matang untuk membangun sebuah negara. Tidak ada yang instan dalam sebuah perbaikan, bahkan tidak semua hal bisa diperbaiki bersama. Ada hikmah positif ketika Soeharto harus memimpin bangsa ini begitu lama. Soeharto mampu melaksanakan Repelita sesuai rencananya sedari awal menjabat presiden. Jika bercermin dengan kondisi Indonesia sekarang, mungkinkah sebuah rencana sebesar Repelita itu bisa dilaksanakan ketika pemimpinnya berganti-ganti?

 

Akhir dari kepemimpinan Soeharto dan peran Soeharto dalam pembangunan Indonesia

Tanggal 21 Mei 1998 menjadi akhir dari adidaya Soeharto. Soeharto resmi mengundurkan diri dari jabatan presiden setelah semakin banyaknya tuntutan banyak pihak, terutama mahasiswa, untuk mundur. Jabatan tersebut pun kemudian diserahkan kepada wakil presiden saat itu, B.J. Habibie.

Meski begitu banyak kontroversi selama hidupnya, setidaknya Soeharto juga pernah berjasa bagi Indonesia. Di masa Soeharto, Timor Timur dijadikannya provinsi ke-27 di Indonesia. Program Keluarga Berencana (KB) dengan semboyan “Dua Anak Cukup” juga merupakan ide Soeharto dalam mengendalikan ledakan penduduk di Indonesia. Selain itu, di era Soeharto lah muncul program Wajib Belajar Sembilan Tahun (WAJAR). Hal ini dilakukan untuk mendorong kesadaran masyarakat akan pentingnya pendidikan. Pengalaman putus sekolahnya dulu bisa jadi menjadi dasar Soeharto mencanangkan program ini.

Nah, coba direnungkan kembali. Tanpa Soeharto, mungkin perkembangan Indonesia juga tidak akan sampai di titik sekarang ini. Dalam rentang waktu 32 tahun kemimpinannya, tentu banyak juga hal yang beliau sumbangkan buat Indonesia. Bayangkan jika dulu tidak ada program wajib belajar, adakah orang Indonesia zaman sekarang bisa melek dan peduli pentingnya pendidikan?

 

Bagaimana? Sudahkah lelah berdebat tentang sosok Soeharto? Ambillah sisi positif dari kehidupan Soeharto yang bisa kamu jadikan contoh. Rasanya setiap manusia di dunia ini diciptakan untuk tujuan tersendiri. Begitu pula dengan Soeharto. Berangkat dari seorang anak desa, ternyata kisah pahit semasa kecilnya dijadikan Tuhan untuk membuat Soeharto mengubah hidupnya menjadi lebih baik. Bukan hanya hidupnya, melainkan juga bangsa ini.

Sri Sultan Hamengkubuwana IX, Figur Pemimpin yang Mencintai Rakyat dan Tanah Air

Yogyakarta dikenal dengan keistimewaannya. Yogyakarta menjadi satu-satunya daerah di Indonesia yang dipimpin oleh sosok Sultan. Hingga kini, sosok Sultan juga menjadi gubernur di Yogyakarta. Salah satu sosok Sultan yang paling dikenang tentunya Sri Sultan Hamengkubuwana IX. Ya, beliau adalah ayah dari Sri Sultan Hamengkubuwana X yang saat ini memimpin Yogyakarta. Selain dikenal sebagai Sultan yang peduli akan rakyat, Sri Sultan Hamengkubuwana IX juga merupakan figur pemimpin teladan yang pernah dimiliki Indonesia. Meski berstatus memimpin kerajaan, beliau juga ikut memperjuangkan dan mempertahankan kemerdekaan Indonesia. Simak yuk, kisah perjalanan hidup Sri Sultan Hamengkubuwana IX yang juga pernah menjadi wakil presiden Indonesia berikut ini!

  

Masa kecil Sri Sultan Hamengkubuwana IX

Sri Sultan Hamengkubuwana IX yang memiliki nama kecil Raden Mas Dorodjatun lahir pada tanggal 12 April 1912. Beliau merupakan anak dari pasangan Sri Sultan Hamengkubuwana VIII dan permaisuri Kangjeng Raden Ayu Adipati Anom Hamengkunegara. Kehidupan masa kecil Sri Sultan Hamengkubuwana IX tidak hanya berada di lingkungan keraton saja. Beliau sudah merasakan kehidupan modern dengan pergaulan yang luas. Sri Sultan Hamengkubuwana IX tidak tinggal bersama dengan orang tua sejak usia 4 tahun. Beliau dititipkan di keluarga Mulder, seorang Belanda yang tinggal di Yogyakarta. Sri Sultan Hamengkubuwana IX menyelesaikan pendidikan dasar di Yogyakarta dan melanjutkan ke Hoogere Burgerschool di Semarang. Kemudian, beliau ke Bandung untuk melanjutkan studi di Hoogere Burgerschool (HBS). Sri Sultan Hamengkubuwana IX pergi ke Belanda untuk berkuliah di Universitas Leiden, Belanda dengan megambil jurusan Indologi yang mempelajari hukum dan ekonomi.

Ternyata menjadi salah satu penghuni keraton tidak menjamin kehidupan menjadi serba mudah. Sri Sultan Hamengkubuwana IX bahkan sudah harus pisah dengan orang tua sejak kecil. Tampaknya beliau dididik untuk bisa mengenal dunia di luar keraton lebih dekat.

 

Diangkat menjadi Sultan di tahun 1940

Sri Sultan Hamengkubuwana IX kembali ke tanah air setelah sang ayah wafat pada 22 Oktober 1939. Pada tanggal 18 Maret 1940, beliau diangkat menjadi Sultan menggantikan ayah. Kala itu beliau berusia 28 tahun. Sri Sultan Hamengkubuwana IX dikenal menentang penjajahan Belanda. Selain itu, beliau juga salah satu sosok yang mendorong kemerdekaan Indonesia. Sri Sultan Hamengkubuwana IX juga tercatat pernah melakukan negosiasi dengan diplomat Belanda Dr. Lucien Adam mengenai otonomi atau keistimewaan Yogyakarta. Di masa pendudukan Jepang, Sri Sultan Hamengkubuwana IX melarang pengiriman romusha untuk Jepang. Beliau kemudian mengadakan proyek saluran irigasi Selokan Mataram.

Bayangkan, di usia yang masih mudah Sri Sultan Hamengkubuwana IX sudah mengemban tanggung jawab memimpin Yogyakarta. Beliau juga harus memimpin di masa penjajahan Belanda dan Jepang. Keberanian beliau menolak romusha menjadi bukti bahwa Sri Sultan Hamengkubuwana IX menyayangi rakyat dengan memberikan pekerjaan yang bukan di bawah kekuasaan penjajah.

 

Sri Sultan Hamengkubuwana IX memiliki peranan dalam mempertahankan kemerdekaan Indonesia

Menjadi negara yang baru saja merdeka tentu memiliki banyak masalah. Perekonomian adalah salah satu masalah terbesar saat itu. Kas negara hampir kosong, kekeringan hampir terjadi di mana-mana, dan bahan pangan yang sangat langka. Kala itu, Sri Sultan Hamengkubuwana IX berinisiatif menyumbangkan 6 juta Gulden untuk membiayai kebutuhan pemerintahan serta kebutuhan hidup para pegawai pemerintahan lainnya. Selain itu, Sri Sultan Hamengkubuwana IX juga mengundang presiden Soekarno untuk memimpin dari Yogyakarta pasca Belanda menguasai Jakarta pada Agresi Militer Belanda I.

Tidak hanya itu, Sri Sultan Hamengkubuwana IX menjadi saksi dari Agresi Militer Belanda II pada 19 Desember 1948 yang menyerang ibukota Yogyakarta. Kedudukan Sri Sultan Hamengkubuwana IX yang tidak ditangkap oleh Belanda memberikan keuntungan tersendiri. Sri Sultan Hamengkubuwana IX secara diam-diam memberikan bantuan logistik kepada para pejuang perang dan pejabat pemerintah RI.

Pada Februari 1949, Sri Sultan Hamengkubuwana IX menghubungi Panglima Besar Soedirman untuk membahas serangan umum terhadap Belanda. Setelah perundingan singkat tersebut, Sri Sultan Hamengkubuwana IX meminta Letkol Soeharto untuk memimpin serangan tersebut. Serangan yang kemudian dikenal dengan Serangan Umum Sebelas Maret ini berhasil menguasai Yogyakarta selama 6 jam dan membuat Belanda harus menarik pasukannya dari sana.

Perjuangan Sri Sultan Hamengkubuwana IX ternyata tidak berhenti setelah Indonesia merdeka. Rasa cinta beliau pada Indoensia tampak ketika Sri Sultan Hamengkubuwana IX berusaha selalu membantu Indonesia selama beliau sanggup, bahkan memakai uang pribadi. Tetap berjuang meski dalam tekanan menjadi ciri khas Sri Sultan Hamengkubuwana IX. Tidak banyak pemimpin bisa melakukan hal seperti ini.

 

Sempat beberapa kali duduk di pemerintahan, yaitu menjadi menteri dan wakil presiden

Sri Sultan Hamengkubuwana IX juga sempat memegang jabatan penting di pemerintahan semasa hidup. Beliau tercatat menjadi menteri negara di era kabinet Sjahrir, Amir Sjarifuddin, dan Hatta. Jabatan lain yang pernah dipegang antara lain menteri pertahanan di era kabinet Hatta, menteri pertahanan RIS, wakil perdana menteri kabinet Natsir, ketua Badan Pemeriksa Keuangan, menko pembangunan, dan wakil perdana menteri bidang ekononomi. Sri Sultan Hamengkubuwana IX juga pernah menjabat sebagai wakil presiden Indonesia mendampingi Soeharto mulai 25 Maret 1973 hingga 23 Maret 1978. Faktor kesehatan menjadi alasan Sri Sultan Hamengkubuwana IX mengundurkan diri menjadi wakil presiden Indonesia setelah sebelumnya menjabat selama 5 tahun.

Tidak heran rasanya jika pada akhirnya Sri Sultan Hamengkubuwana IX bisa dipercaya untuk menjabat posisi di pemerintahan. Sepak terjang beliau di masa sebelum dan setelah Indonesia merdeka bisa dijadikan bentuk loyalitas beliau kepada negara.

 

Sosok yang menjadi Bapak Pramuka Indonesia

Sri Sultan Hamengkubuwana IX dikenal aktif mengikuti gerakan kepanduan sejak muda. Pada 9 Maret 1961, Soekarno membentuk Panitia Pembetukan Gerakan Pramuka. Sri Sultan Hamengkubuwana IX masuk di dalam anggota panitia tersebut bersama Prof. Prijono (Menteri P dan K), Dr.A. Azis Saleh (Menteri Pertanian), dan Achmadi (Menteri Transmigrasi, Koperasi dan Pembangunan Masyarakat Desa). Panitia ini bertugas mengolah anggaran dasar gerakan pramuka. Pada tanggal 14 Agustus 1961, dilakukan penganugerahan Panji Kepramukaan serta pelantikan Majelis Pemimpin Nasional, Kwarnas, dan Kwarnari Gerakan Pramuka. Sri Sultan Hamengkubuwana IX kemudian menjabat sebagai Ketua Kwarnas sekaligus Wakil Ketua I Mapinas. Jabatan Ketua Kwarnas beliau pegang selama 4 periode bertutut-turut, yaitu 1961-1963, 1963-1967, 1967-1970, dan 1970-1974.

Sri Sultan Hamengkubuwana IX juga mendapatkan penghargaan Bronze Wolf Award dari World Organization of the Scout Movement (WOSM) pada tahun 1973. Itu merupakan penghargaan tertinggi dan satu-satunya dari World Organization of the Scout Movement (WOSM) kepada orang-orang yang berjasa besar dalam pengembangan kepramukaan. Atas jasa-jasa Sri Sultan Hamengkubuwana IX itulah, beliau kemudian dikukuhan sebagai Bapak Pramuka Indonesia pada Munas Gerakan Pramuka tahun 1988.

Sri Sultan Hamengkubuwana IX menghembuskan napas terakhir pada 2 Oktober 1988. Beliau meninggal dunia di George Washington University Medical Center, Amerika Serikat karena serangan jantung. Begitu banyak hal-hal positif yang ditinggalkan Sri Sultan Hamengkubuwana IX. Beliau salah satu tokoh pejuang kesultanan yang begitu mencintai Indonesia.

 

Sosok raja yang dimiliki Sri Sultan Hamengkubuwana IX mencerminkan kecintaan beliau pada rakyat. Meski hidup sebagai raja atas Yogyakarta, beliau juga tidak meninggalkan cinta untuk tanah air. Sri Sultan Hamengkubuwana IX menjadi salah satu figur pemimpin Indonesia yang rendah hati dan patut diteladani. Semoga kisah perjalanan hidup beliau juga bisa menginspirasi kamu ya!