Tag Archives: Goenawan Mohammad

Goenawan Mohammad, Wartawan yang Kritis

Mungkin tidak sedikit orang yang familiar dengan tulisan Catatan Pinggir yang selalu menyapa di halaman belakang harian mingguan Tempo. Atau cuitan di media sosial Twitter dari akun @gm_gm, yang tepat sasaran mengkritisi sebuah fenomena yang tengah berkembang; atau justru menjadi pencetus sebuah dialog panjang para pengguna Twitter lainnya. Ya, dia adalah Goenawan Mohammad. Wartawan senior, budayawan, sastrawan, dan berbagai aspek seni yang kental dengan sosoknya.

 

Pria bernama lengkap Goenawan Soesatyo Mohamad ini lahir di Karangasem, Batang, Jawa Tengah, pada 29 Juli 1941. Perjalanan karirnya banyak bersinggungan dengan dunia jurnalisme, sebagai wartawan handal dengan tulisan tajam dan intelek. Nama GM memang tidak asing lagi dengan Tempo, karena ia adalah salah satu founding father dari Tempo. Sosoknya beberapa kali didaulat menjadi Pemimpin Redaksi, posisi vital yang memegang kendali atas kebijakan redaksional Tempo. Hingga kini, gagasan-gagasan kritis GM masih dituangkannya dalam tulisan Catatan Pinggir yang setiap minggu bisa kamu temui di majalah Tempo.

 

GM, Wartawan yang Menginspirasi

Mari menengok sedikit ke belakang, saat Goenawan Mohamad muda menjajaki karirnya sebagai wartawan. Di dunia jurnalistik namanya memang diperhitungkan. Ia memulai karirnya sebagai Redaktur Harian KAMI, Redaktur Majalah Horison, Pemimpin Redaksi Majalah Ekspres, dan Pemimpin Redaksi Majalah Swasembada. Tahun 1971 adalah momentum bersejarah saat Goen dan beberapa kawannya mendirikan Majalah Tempo. Di usianya yang menginjak 30 tahun, GM menjadi Pemimpin Redaksi Majalah Tempo.

 

Bukan mulus perjalanan GM menggawangi Tempo. Majalah yang dikenal dengan tulisan-tulisan tajamnya ini sempat dibredel pada tahun 1982. Kala itu, Tempo dinilai terlalu keras mengkritik pemerintah Orde Baru. Sempat dua kali dibredel, Tempo kembali terbit di tahun 1998. Setajam apa memangnya tulisan GM? Jangan kaget jika melihat bagaimana Goen lantang mengkritisi rezim Soeharto lewat tulisannya. Goen kerap mengkritik pemerintahan Soeharto yang dinilai menekan geliat ekonomi di Indonesia. Tak pelak, Tempo dianggap sebagai oposisi pemerintah.

 

Goen bukan tidak berjuang agar Tempo bisa kembali mendapat kebebasan pers. Peraih sederet penghargaan ini kala itu bergabung dengan Persatuan Wartawan Indonesia (PWI) sempat menempuh jalan organisasional, namun gagal. Tidak menyerah, bersama jurnalis lainnya Goen mendirikan Aliansi Jurnalis Independen (AJI). Tak puas di situ, pria yang sejak 2016 menjadi Komisaris Utama PT Tempo Inti Media Tbk ini juga menginisiasi berdirinya Institusi Studi Arus Informasi (ISAI) yang fokus pada rekam jejak kekerasan terhadap dunia pers tanah air.

 

Gagasan Cemerlang Tertuang di Buku

Kecintaan Goen pada dunia sastra dan jurnalistik telah terlihat dari masa kecilnya. Saat masih duduk di bangku Sekolah Dasar, Goen gemar menyimak acara puisi siaran di RRI. Saat kakaknya berlangganan majalah Kisah asuhan H.B. Jassin, Goen muda melahapnya dengan rakus. Saat usianya 17 tahun, pria asal Jawa Tengah ini mulai menulis. Berselang dua tahun, Goen menerjemahkan puisi Emily Dickinson, penyair ternama asal Amerika Serikat.

 

Sejak itu, deretan penghargaan akrab dengan dirinya. Ia pernah menjejakkan diri di Universitas Harvard lewat beasiswa Nieman Foundation. Tahun 1997, Goenawan mendapat penghargaan Louis Lyons Award dalam kategori Conscience in Journalism. Namanya juga pernah dinobatkan sebagai penerima Anugerah Hamengku Buwono IX di bidang kebudayaan. Di tahun 1999, Goen mengharumkan nama Indonesia lewat ajang penghargaan International Editor of the Year Award dari World Press Review. Wertheim Award dan Anugerah Sastra Dan David Prize pun juga pernah dikantonginya.

 

Begitu cemerlangnya gagasan Goen, beberapa kali dirinya menulis buku bertema sosial budaya. Tak hanya itu, sajak demi sajak puisi pun juga dirangkainya dengan apik dan memukau pembaca. Salah satu bukunya yang paling terkenal adalah seri Catatan Pinggir yang pertama kali dijadikan buku pada tahun 1982 silam. Beberapa kali, seri Catatan Pinggir ini dirilis ulang hingga beberapa jilid.

Deretan buku-buku lain karya Goen di antaranya adalah Empat Sajak dalam buku antologi “Manifestasi”; Asmaradana: Pilihan Sajak; Kata, Waktu; Setelah Revolusi Tak Ada Lagi, Tuhan & Hal-Hal yang Tak Selesai, dan masih banyak lagi deretan judul buku yang menjadi wadahnya menuangkan kreativitas. Meski memang, sosok GM juga kerap menuai kontroversi dari cuitan-cuitan atau tulisannya. Tidak sedikit yang menentang keras gagasan Goen dan terang-terangan mempertanyakan dasar dari tulisan-tulisannya

 

GM dan Komunitas Salihara

Kecintaan GM pada dunia budaya dan seni melabuhkannya pada Komunitas Salihara, sebuah tempat kesenian di kawasan Pasar Minggu, Jakarta Selatan. Komunitas Salihara mewadahi seniman dan budayawan dan kerap dijadikan tempat untuk membahas berbagai isu sosial budaya hingga HAM dan demokrasi. Goen pun menjadi langganan sebagai narasumber konferensi bergengsi, seperti di Gedung Putih pada tahun 2001.

 

30 tahun berkecimpung sebagai wartawan, nama Goenawan Mohamad menjadi salah satu jurnalis yang diperhitungkan. Namanya juga dikenal akrab di kalangan budayawan lewat jejak sejarah perlawanan terhadap Orde Baru. Kala itu, Goen merangkul berbagai kalangan mulai dari aktivis pro-demokrasi, seniman, juga seniman. Semuanya bergabung dalam satu cita-cita, menentang mereka yang berupaya membekap kebebasan berekspresi.