Tag Archives: Artis

Christine Hakim, artis besar yang tetap humanis dan rendah hati

Dunia perfilman Indonesia tidak ada yang tidak mengenal seorang Christine Hakim sebagai seorang artis peran senior yang bisa dibilang sebagai salah satu artis film terbaik yang dimiliki Indonesia. Wanita yang bernama lengkap Herlina Christine Natalia Hakim ini kerap menampilkan kualitas akting yang berbobot di setiap film-film yang dibintanginya.  Christine yang lahir pada tanggal 25 Desember 1956 di Kuala Tungkal, Jambi ini memulai perjalanan karirnya sebagai seorang bintang film di luar perencanaan.

Masa kecil di Jambi dan pindah ke Jakarta

Sewaktu muda, Christine Hakim bercita-cita menjadi arsitek atau psikolog. Tidak pernah terbersit dalam benaknya bahwa kelak ia menjadi bintang film besar seperti sekarang ini. Christine yang lahir di kota kecil termasuk anak yang cukup pendiam, pemalu dan tidak menonjol. Di usianya yang  beranjak remaja, keluarga Christine pindah dari Jambi ke Jakarta, dan di Jakarta lah ia bertransformasi menjadi seorang yang mempunyai banyak teman dan pergaulan luas.

Christine mulai aktif bergabung menjadi pemain keyboard di salah satu band musik anak muda, Young Gipsy. Lama kelamaan, Christine juga merambah dunia permodelan dengan tampil di berbagai pemotretan majalah remaja. Wajahnya mulai beredar di majalah-majalah dan ada satu momen di mana kemunculannya di salah satu majalah remaja mengubah nasibnya dengan tidak disangka-sangka. Sosok Christine yang sedang berpose  tersebut menarik perhatian seorang sutradara yang sedang mencari peran utama wanita di film yang di sutradarainya.

Ditemukan oleh sang sutradara besar

Adalah sang sutradara yang bernama Teguh Karya sebagai orang yang bisa dibilang berjasa besar dalam membuka karir Christine di dunia perfilman. Secara langsung Teguh Karya meminta Christine untuk menjadi peran utama wanita di film Cinta Pertama yang di produksi pada tahun 1973. Itulah debut pertama Christine dalam berakting.  Meskipun tanpa pengalaman, tak diduga Christine bisa menampilkan akting yang sangat cemerlang, mengimbangi lawan mainnya Slamet Rahardjo dan Robby Sugara. Berkat aktingnya di film Cinta Pertama, Christine Hakim berhasil menyabet piala Citra sebagai Pemain Utama Wanita Terbaik di Festival Film Indonesia tahun 1974. Kedekatan Christine dengan Teguh Karya berlanjut sampai ke film-fim berikutnya yang disutradarai oleh Teguh.

Pencapaian besar Christine Hakim

Semenjak penghargaan bergengsi pertama yang diraih Christine, ia pun berturut-turut membintangi sejumlah film. Sebut saja beberapa film yang berhasil menghantarkan namanya kembali merebut piala Citra sebagai Pemeran Utama Wanita Terbaik di Festival Film Indonesia, yaitu Sesuatu yang Indah ( 1977), Pengemis dan Tukang Becak ( 1979), Di Balik Kelambu (1983), Kerikil-Kerikil Tajam (1985) dan Tjoet Nja Dhien ( 1988).

Christine cukup selektif dalam memilih film yang dibintanginya. Ia percaya bahwa sutradara yang baik akan menghasilkan film yang berkualitas baik pula. Christine Hakim pernah bekerja sama dengan sutradara-sutradara kenamaan tanah air, beberapa di antaranya adalah Sjumandjaja, Teguh Karya, Wim Umboh, Eros Djarot, Garin Nugroho dan Hanung Bramantyo.

Totalitas Christine dalam berakting

Seorang Christine Hakim selalu mempunyai totalitas akan apa yang dikerjakannya. Ia selalu berusaha menyelami karakter yang akan diperankannya. Di antara film-film  yang dibintangi Christine, beberapa di antaranya adalah film-film epik tokoh-tokoh nasional Indonesia seperti Tjoet Nja Dhien, Kartini, K.H. Hasyim Ashari dan Tjokroaminoto. Semuanya menuai pujian. Bisa jadi juga karakter dan wajah Christine dianggap pas mewakilkan karakter wanita Indonesia.  Di dalam diri Christine sendiri mengalir deras suku Minangkabau, Aceh dan Jawa, campuran dari kedua orangtuanya.

Kemampuan akting yang cemerlang yang dipelajari secara otodidak dan totalitas Christine dalam berakting membuatnya terpilih memerankan karakter Wayan seorang wanita Bali di dalam film Hollywood terkenal yaitu Eat, Pray, Love. Film dengan bintang utama yang diperankan Julia Roberts ini mengambil tempat syuting salah satunya di Bali. Tentunya Indonesia boleh berbangga hati dengan terpilihnya Christine Hakim sebagai salah satu pemeran di film ternama Hollywood tersebut. Tidak cukup itu saja, Christine kembali mendapat kehormatan dengan diundangnya ia sebagai juri dalam Cannes Film Festival tahun 2012. Menurut sejarah, belum ada orang Indonesia yang diundang sebagai juri sebelumnya dan Christine Hakim adalah orang Indonesia pertama yang mendapat kehormatan tersebut.

Menjadi duta UNESCO

Dengan segala atribut nama besarnya, Christine tetaplah seorang yang sangat humanis dan rendah hati. Ia tetap hidup membumi dan mengaku tetap belajar segala sesuatunya tentang hidup sampai umurnya sekarang ini. Semakin besar namanya, semakin ia melayani masyarakat. Christine yang bersuamikan Jerone Lezer sangat peduli terhadap pendidikan kaum muda. Ia mendirikan sekaligus berperan aktif di Yayasan Untukmu Guru yang bertujuan untuk memperbaiki kualitas sekolah dan pendidikan di daerah-daerah terpencil di Indonesia sekaligus memberikan sumbangan makanan kepada anak-anak yang kekurangan gizi. Berkat kontribusinya yang nyata pada dunia pendidikan dan anak-anak, maka pada tahun 2008, Christine Hakim mendapat kehormatan terpilih menjadi duta UNESCO yang bertugas mengurusi perkembangan dan peningkatan kualitas guru dan pendidikan di wilayah Asia Tenggara.

Christine Hakim adalah artis besar yang patut dicontoh oleh generasi muda sekarang. Selain semangat dan totalitasnya dalam mengerjakan sesuatu patut diacungi jempol, kerendah hatian  dan hidupnya yang membumi adalah salah satu contoh teladan, layaknya ilmu padi yang makin berisi makin tunduk, demikianlah seorang Christine Hakim.