Tag Archives: Anak Bangsa

Prabowo Subianto, Mantan prajurit yang sukses berpolitik

Panggung politik pasca reformasi memang tak bisa dilepaskan dari sosok Prabowo Subianto. Sebab, dengan partai Gerindra yang didirikannya, Prabowo yang juga seorang pengusaha dan mantan prajurit TNI ini pernah beberapa kali meramaikan kancah perpolitikan Indonesia dengan mencalonkan diri sebagai Presiden RI. Lalu seperti apakah kisah pria bernama lengkap Prabowo Subianto Djojohadikusumo yang pernah menjabat Komandan Jenderal Kopassus ini? Yuk ikuti kisahnya berikut ini.

Masa Kecil dan Remaja

Pria kelahiran Jakarta, 17 Oktober 1951 ini adalah putra dari pasangan Soemitro Djojohadikusumo dan Dora Marie Sigar atau Dora Soemitro. Masa kecil cucu dari Raden Mas Margono Djojohadikusumo, yang merupakan pendiri Bank Negara Indonesia dan salah satu anggota BPUPKI ini banyak dihabiskan di luar negeri. Pendidikan dasar Prabowo diselesaikan di Victoria Institution, Kuala Lumpur. Sementara itu untuk sekolah menengahnya diselesaikan di Zurich International School, Zurich. Dan untuk SMA-nya, Prabowo menyelesaikannya di American School, London. Setelah menempuh semua  pendidikan menengahnya, Prabowo melanjutkan pendidikannya di Akademi Militer Nasional, Magelang pada tahun 1970.

Karir Militer

Pendidikan militernya di Akademi Militer Nasional, Magelang diselesaikan Prabowo pada tahun 1974. Setelah itu pada tahun 1976, Prabowo ditugaskan menjadi Komandan Pleton Grup I Para Komando Komando Pasukan Sandhi Yudha (Kopassandha) sebagai bagian dari operasi Tim Nanggala di Timor Timur. Menariknya saat penugasan tersebut, Prabowo menjadi komandan termuda karena masih berusia 26 tahun. Tidak berhenti sampai disitu, di tahun 1983, Prabowo kembali lagi dipercaya sebagai Wakil Komandan Detasemen 81 Penanggulangan Teror (Gultor) Komando Pasukan Khusus (Kopassus).

Setelah mencapai jabatan Komandan Kopassus, tidak lama berselang yakni ditahun 1996 Prabowo dilantik jadi Komandan Jenderal Kopassus. Di tahun 1998, karir militer Prabowo semakin menanjak ketika dirinya menjabat Panglima Kostrad. Sayangnya saat menjabat Pangkostrad, pada 22 Mei 1998 Prabowo diberhentikan Presiden Habibie karena dianggap menggerakan pasukan di luar komando resmi Panglima ABRI ke Jakarta. Konon kabarnya setelah pemecatan tersebut, Prabowo berdebat sengit dengan Habibie. Setelah lengser sebagai Pangkostrad, Prabowo menempati posisi baru yakni Komandan Sekolah Staf Komando (Dansesko) ABRI. Ternyata setelah pemecatan sebagai Pangkostrad, masalah terus menghampiri Prabowo karena dirinya dituduh terlibat dalam penculikan aktivis saat masih menjabat sebagai Danjen Kopassus. Dari tuduhan tersebut, Prabowo harus menjalani sidang Dewan Kehormatan Perwira. Dari sininilah kemudian karir militer Prabowo terus mengalami penurunan dan akhirnya tamat. Meski pada akhirnya karir militer Prabowo harus selesai, tapi upaya dan usaha mencapai puncak prestasi yang dilakukan Prabowo harus diakui jempol.

Berkeluarga

Pada bulan Mei 1983, Prabowo menikahi Siti Hediati Hariyadi alias Titiek Soeharto yang merupakan putri alm. Mantan Presiden RI Soehato. Dari pernikahan tersebut, Prabowo dikaruniai seorang anak, Ragowo “Didiet” Hediprasetyo yang kini bekerja sebagai desainer di Perancis. Sayangnya pernikahan Prabowo harus kandas pada tahun 1998, tidak lama setelah Soeharto lengser dari RI-1.

Karir Bisnis

Setelah tidak lagi menjabat apapun di dunia militer, Probowo kembali menekuni bisnis, kali ini bersama adiknya, Hasyim, di di Yordania dan Jerman. Setidaknya total ada sekitar 27 perusahaan di Indonesia dan di luar negeri yang dipimpin oleh Prabowo. Beberapa perusahaan yang dipimpin Prabowo antara lain PT Jaladri Nusantara yang bergerak di bidang perikanan, PT. Tidar Kerinci Agung yang bergerak di bidang produksi minyak kelapa sawit dan juga PT Nusantara Energy yang bergerak dalam bidang pertambangan, pertanian, migas, pulp dan kehutanan. Awal mula karir Prabowo sebagai pengusaha dimulai mengakuisisi Kiani Kertas di Mangkajang, Kalimantan Timur, yang sebelumnya dimiliki Bob Hasan. Dengan pinjaman dari Bank Mandiri senilai Rp 1,8 Triliun, Prabowo mengakuisisi  Kiani Kertas dan mengubah namanya menjadi Kertas Nusantara. Kejeniusan Prabowo dalam memimpin dan menjalankan perusahaan harus diakui kepiawaiannya. Ini karena ia sukses mengembangkan bisnis lebih sukses dan lebih berjaya.

Karir Politik

Setelah beberapa tahun berada di luar negeri untuk berbisnis, Prabowo kembali ke Indonesia untuk berkarir di dunia politik. Pada tahun 2004, Prabowo melalui konvensi Partai Golkar bertarung mencalonkan diri sebagai calon presiden. Sayangnya dalam konvensi tersebut dirinya gagal karena kalah dari Wiranto. Meksi gagal, Prabowo tak putus asa. Prabowo kemudian membangun jaringan tani yang membuat dirinya terpilih menjadi Ketua Umum Himpunan Kerukunan Tani Indonesia (HKTI) 2004. Setelah itu bersama adiknya Hashim Djojohadikusumo, Muchdi Purwoprandjono, Fadli Zon dan beberapa nama lain, Prabowo pada tanggal 6 Februari 2008, mendirikan Partai Gerindra (Partai Gerakan Indonesia Raya). Setelah Partai Gerindra berdiri, Prabowo ditetapkan sebagai Ketua Dewan Pembina Dewan Pimpinan Pusat (DPP).

Pada Pilpres 2004, Prabowo mencalonkan diri sebagai wakil presiden dengan Megawati sebagai capresnya. Sayangnya pencalonan Prabowo tidak berhasil karena kalah bersain dengan SBY-Jusuf Kalla. Dalam pemilu 2009 sendiri, Partai Gerindra mendapatkan 4.646.406 suara (4,46 %) serta menempatkan 26 orang wakilnya di DPR RI. Kemudian pada Pilpres 2014, Prabowo kembali ke mencalonkan diri. Kali ini dirinya mencalonkan diri sebagai capres dengan Hatta Rajasa sebagai cawapresnya. Sayangnya lagi-lagi dirinya gagal karena kalah bersaing dengan Joko Widodo dan Jusuf Kalla. Dari apa yang dilakukan Prabowo dibidang politik ada sebuah pelajaran yang bisa kita petik. Bahwa harus terus ada semangat dan juga keseriusan dalam usaha yang dilakukan. Prabowo yang kalah dalam konvensi Partai Golkar sebagai capres, tidak langsung menyerah. Tapi Prabowo dengan rekan-rekannya mendirikan sendiri Partai Gerindra untuk kemudian bisa mengusung dirinya sebagai capres.

Najwa Shihab, Jurnalis cerdas yang begitu mencintai profesinya.

Dunia media sekarang ini berkembang pesat. Erat kaitannya media dengan kehidupan pers. Di Indonesia dunia pers berganti haluan menuju ke arah yang lebih demokratif selepas rezim Orde Baru.  Adalah seorang wanita muda yang baru saja bergabung menjadi seorang jurnalis di Metro TV pada tahun 2000, dia bernama Najwa Shihab. Wanita itu memulai karirnya sebagai reporter dan setelah 17 tahun berlalu, Najwa Shihab telah bertransformasi menjadi seorang jurnalis senior di Indonesia yang cakap, cerdas , handal dan tajam.

Najwa kecil yang pemalu

Najwa Shihab yang akrab dipanggil dengan sebutan Nana lahir di Makassar pada tanggal 16 September 1977. Ayahnya adalah seorang Menteri Agama pada era presiden Soeharto, yaitu Muhammad Quraish Shihab.  Najwa kecil dibesarkan dalam lingkungan yang religius dan ia bersekolah dari TK sampai SMA di sekolah Islam. Masa kecilnya sering berpindah-pindah kota mengikuti kerja dinas orang tuanya. Najwa kecil sebenarnya adalah anak yang pemalu.

Ada dua sosok penting yang menjadikan Najwa sebagai seorang wanita yang sukses. Sosok Ayah nya, Muh. Quraish Shihab,  yang seorang cendekiawan mengajarkan banyak falsafah-falsafah hidup positif pada Najwa. Najwa banyak diajarkan cara berperilaku yang sopan dan senantiasa rendah hati. Selain itu, dorongan sang Ibu, Fatmawaty Assegaf, untuk aktif mengikuti kegiatan-kegiatan di sekolah membuat Najwa mempunyai pergaulan yang cukup banyak semasa muda dan remaja. Sang Ibu kerap kali mendorong Najwa untuk mengikuti berbagai lomba semasa sekolah, seperti lomba membaca puisi dan mengikuti kegiatan organisasi.

Kadang perjalanan karir seseorang memang tidak bisa ditebak. Najwa tidak pernah bercita-cita menjadi seorang jurnalis. Najwa berkuliah di Fakultas Hukum Univesitas Indonesia dan tentu saja pilihan karirnya selepas berkuliah adalah menjadi praktisi hukum. Sewaktu masa kuliahnya hampir berakhir, Najwa memanfaatkan waktu senggangnya untuk magang menjadi reporter di stasiun RCTI. Selama 3 bulan magang ternyata Najwa menikmati sekali dinamika pekerjaan seorang reporter.  Belum lagi kesempatan Najwa waktu itu bisa meliput kejadian penting seperti kedatangan Kofi Annan ke Jakarta. Najwa pun mulai jatuh cinta terhadap dunia jurnalistik.

Bekerja sebagai reporter

Sebagai wanita muda yang baru lulus kuliah, Najwa tidak ingin membuang waktu untuk melakukan hal-hal yang kurang penting. Jiwa muda nya haus akan kesempatan. Meskipun kuliah hukum tidak berhubungan dengan dunia jurnalistik, Najwa tahu bahwa gairahnya di dunia pers begitu besar. Dunia jurnalistik juga membutuhkan pengetahuan luas dan kejelian menangkap sumber berita dan menulis topik berita, bekal pengetahuan dan pendidikan yang telah diraih Najwa menjadi modal utama untuk melenggang ke dunia karir. Najwa pun memutuskan untuk mengambil karir di bidang yang dia cintai.

Najwa Shihab pun resmi bergabung di Metro TV pada tahun 2000. Pada saat itu Metro TV merupakan stasiun TV yang baru berdiri. Kesempatan nya untuk menjadi jurnalis terbuka lebar. Najwa mulai dari bawah sebagai reporter dan mulai meliput kejadian-kejadian sehari-hari di Indonesia.

Sosok Najwa mulai mendapat perhatian umum pada tahun 2004 ketika dirinya meliput bencana tsunami di Aceh. Najwa begitu kaget melihat kondisi manusia di Aceh yang sangat porak- poranda. Tumpukan jenazah tergeletak sembarang di mana-mana, bala bantuan hampir tidak ada, kondisi kota yang benar-benar kacau dan para warga yang menangis tidak tahu harus mengadu ke mana. Najwa melakukan “live report” dengan sangat emosional sampai menangis. Diri nya melaporkan kondisi Aceh yang sangat parah dan  meminta bantuan kepada pemerintah untuk lebih sigap mengirim bantuan. Indonesia pun terhenyak melihat reportasi Najwa…..

Penghargaan yang diraih Najwa

Setelah liputan bencana tsunami di Aceh, nama Najwa mulai dikenal publik.  Najwa pun diberikan penghargaan oleh Persatuan Wartawan Indonesia (PWI) akan kontribusinya dalam membangkitkan rasa empati dan kemanusiaan masyarakat terhadap bencana Aceh. Di Metro TV, karir Najwa semakin berkembang. Beberapa program acara salah satunya Metro Hari Ini dan Suara Anda pernah dibawakan oleh Najwa. Wajah yang cantik dan cara berbicara yang sedikit cepat dan lugas merupakan ciri khas Najwa.  Tidak lama setelah itu, beberapa penghargaan diraih Najwa salah satunya Jurnalis Terbaik Metro TV ( 2006). Tahun 2009, Najwa dipercaya oleh Metro TV membawakan program talkshow berjudul “ Mata Najwa”. Program ini merupakan salah satu titik ukur keberhasilan karir Najwa di dunia jurnalistik…

Najwa di Mata Najwa

Di program ini, Najwa banyak menyoroti masalah seputar politik, ekonomi, tokoh nasional, korupsi, dan kemanusiaan. Di Mata Najwa, Najwa benar-benar menunjukan taring nya sebagai seorang jurnalis handal. Topik yang diangkat Najwa selalu yang ter up to date di masyarakat dan ia selalu berhasil menghadirkan tokoh-tokoh narasumber yang benar-benar berbobot untuk diwawancarai. Najwa senantiasa melontarkan pertanyaan-pertanyaan yang tajam dan menggelitik kepada sumber. Cara Najwa mengupas habis suatu topik adalah dengan kemahirannya mengajukan pertanyaan-pertanyaan yang sangat kritis kepada sumber. Najwa lihai menganalisa jawaban-jawaban yang diutarakan oleh para sumber. Najwa sering mencecar jawaban dari para sumber dengan cara yang elegan tapi lugas dan kritis.  Karakter Najwa sangat terbentuk kuat yang memberikan identitas tersendiri untuk program Mata Najwa. Terhitung tokoh-tokoh penting sudah diwawancarainya seperti Presiden RI ke 3 BJ Habibie, Presiden RI ke 5 Megawati Soekarnoputri, Mantan Wakil Presiden Boediono, Wakil Presiden Jusuf Kalla, Gubernur (sekarang Presiden) Joko Widodo dan mantan Gubernur Jakarta Basuki Tjahaja Purnama ( Ahok).

Keberhasilannya dalam Mata Najwa membuat beberapa penghargaan pun diraih Najwa. Ia meraih penghargaan sebagai Presenter Talkshow Berita dan Informasi Terfavorit versi Panasonic Gobel Award pada tahun 2015 dan 2017. Beberapa penghargaan bergengsi lainnya yaitu Young Global Leader Award dari World Economic Forum tahun 2011, The Influential Woman of The Year versi majalah Elle tahun 2016 dan masuk dalam daftar Most Progressive Figures versi majalah Forbes tahun 2015.

 

Najwa dan keluarga

Najwa yang bersuamikan Ibrahim Sjarief Assegaf dan mempunyai 1 orang anak memutuskan untuk hengkang dari Metro TV setelah 17 tahun berkarir di sana. Keputusannya untuk keluar dari Metro TV membuat orang bertanya-tanya jika ada konflik yang terjadi dengan stasiun TV yang sudah membesarkan namanya tersebut. Ada kasak-kusuk yang bilang kalau konflik terjadi karena keinginan Najwa untuk mewawancarai Novel Baswedan, seorang pemimpin KPK yang terkena kasus penganiyayaan, mendapat tentangan dari pimpinan Metro TV. Entah bagaimana yang benar, yang jelas Najwa membantah….

Menjadi Duta Buku Indonesia

Di balik sosoknya yang cerdas, Najwa mempunyai hobi membaca buku dari kecil. Ayahnya mempunyai banyak koleksi buku di rumahnya, dan sang Ayah senantiasa mendorong Najwa dan anak-anaknya untuk rajin membaca buku. Semasa muda, Najwa bahkan mempunyai perpustakaan kecil di rumahnya. Berkat kecintaannya pada buku, Najwa pun dinobatkan menjadi Duta Buku Indonesia, ia bertugas mengkampanyekan pentingnya membaca buku sekaligus menyalurkan bantuan buku sampai ke daerah terpencil di Indonesia.

Najwa Shihab adalah jurnalis yang begitu mencintai pekerjaannya. Dirinya sangat berkomitmen dengan bidang yang dikerjakannya. Selepas dari Metro TV, Najwa tetap menekuni dunia jurnalistik dan sekarang ia bergabung di Trans TV dengan kembali membawakan program Mata Najwa. Bisa dibilang Najwa Shihab adalah salah satu contoh Kartini masa kini, seorang istri dan ibu sekaligus wanita karir yang sangat berdedikasi melakukan hal-hal yang terbaik untuk keluarga dan pekerjaannya. Sikap penuh dedikasi, loyal, dan berwawasan luas adalah hal-hal yang patut dicontoh generasi muda sekarang dari seorang Najwa Shihab.

Eka Tjipta Widjaja, sang Taipan gigih yang bervisi luas

Pengusaha dan taipan papan atas Indonesia, Eka Tjipta Widjaja, merupakan salah satu pengusaha sukses yang membangun semua kerajaan bisnisnya dimulai dari nol. Kisah hidup susah dibalut kemiskinan merupakan lembaran awal cerita hidup seorang Eka Tjipta Widjaja yang lahir di propinsi Fujian, China pada tanggal 27 Februari 1921.  Sekarang pada umurnya yang sudah mencapai 97 tahun, Eka Tjipta tinggal melihat buah hasil kerja kerasnya yaitu kerajaan bisnisnya yang menggurita di dalam maupun luar negeri yang sekarang sudah dikendalikan oleh anak-anaknya.

Masa kecil yang susah dan miskin

Sepertinya mental kuat dan semangat pantang menyerah yang dimiliki seorang Eka Tjipta terlahir mulai dari masa kecilnya sebagai seorang imigran dari China yang datang ke Indonesia. Sewaktu masa revolusi di China yang rawan, penuh kejahatan dan kesusahan, Eka kecil terpaksa menaiki kapal laut menyebrangi lautan bersama sang Ibu untuk mengungsi ke Indonesia. Eka Tjipta Widjaja yang mempunyai nama asli Oei Ek Tjhong hanya berumur 9 tahun pada waktu itu. Sampailah mereka di kota Makassar dan langsung bergabung dengan sang Ayah yang memang sudah datang lebih dahulu.  Biaya perjalanan kapal laut yang dipakai untuk mengungsi pun didapat dari hasil berhutang kepada rentenir sebesar 150 dollar.

Siang malam Eka kecil membantu usaha ayah nya berdagang sambil bersekolah di Makassar. Kesulitan biaya membuat Eka terpaksa berhenti bersekolah hanya sampai bangku SD. Eka dan keluarga hidup amat sederhana. Selepas berhenti sekolah, Eka terpaksa berjualan biskuit, kue dan permen untuk membantu meringankan biaya hidup keluarganya. Apapun dilakoni nya termasuk mendekati pasukan tentara Jepang dan berbasa-basi dengan mereka sehingga Eka bisa diijinkan menjual pasokan semen, gula dan terigu yang dimiliki para tentara dengan harga yang masih baik di pasaran. Dari sang Ayah, Eka belajar ilmu berdagang, mental baja, dan keteguhan.

Pelan-pelan sedari muda Eka berdagang apapun yang bisa dijual. Ketrampilan berdagangnya makin terpoles, relasi dan pergaulannya semakin banyak dan strategi untung rugi berdagang dipelajari nya sejalan dengan waktu. Bisa dibilang masa remaja Eka dipenuhi dengan berdagang serabutan mulai dari kopra, gula, permen, sampai wijen. Ada saatnya Eka meraih keuntungan besar, meskipun sempat juga jatuh bangkrut  dan terpaksa menjual harta benda milik keluarganya. Di saat-saat kejatuhan, mental baja Eka tetap membuatnya maju terus pantang mundur. Dia tetap memutar otak nya untuk melihat dan mencari-cari kesempatan yang ada. Eka tidak mau menyerah begitu saja, dia bertekad untuk hidup keluar dari kemiskinan.

Memasuki dunia bisnis

Nasib baik mulai berpihak kepada Eka pada tahun 1980. Ia membeli lahan seluas 10 ribu hektar di Riau dan dengan kelihaiannya, Eka mengubah lahan tersebut menjadi lahan produktif yang menghasilkan kelapa sawit. Keuntungan besar pun diraih, bisnis nya pelan-pelan berkembang.  Dari kelapa sawit, ia membeli perkebunan teh dan mulai memproduksi teh. Mesin penggarapan kebun dan pengolahan dibelinya untuk produksi skala besar kelapa sawit dan teh. Tapi usaha-usaha bidang perkebunan yang membuahkan hasil yang menggiurkan tidak cukup membuat seorang Eka Tjipta Widjaja duduk terdiam puas menikmati hasil.

Semangat dan naluri tajam nya sebagai pebisnis terlampau kuat untuk hanya dibatasi oleh kesuksesan di satu bidang. Eka pun merambah bisnis lainnya, bisnis yang menjadi tolak ukur keberhasilan nya sebagai pengusaha papan atas.

Eka Tjipta Widjaja mengembangkan sayap bisnisnya ke bidang perbankan dengan membeli Bank Internasional Indonesia (BII). BII berkembang pesat dibawah pimpinan Eka, cabangnya bertambah menjadi puluhan cabang bahkan aset nya pun dikabarkan mencapai total kurang lebih 9 triliun rupiah. Gurita bisnis Eka Tjipta semakin luas ketika ia mengakuisisi PT Indah Kiat dan menjadikannya sebagai pabrik pengolahan pulp dan kertas terbesar di Indonesia.

Pendiri Sinar Mas Group

Eka Tjipta menjadi pionir pendiri Sinar Mas Group yang bergerak di bidang kertas, properti, perbankan, perkebunan, dan telekomunikasi. Di bawah naungan Sinar Mas Group, salah satu anak perusahannya juga tercatat sukses menelurkan bisnis di bidang properti. Tercatat ITC Mangga Dua merupakan salah satu proyek sukses yang dihasilkannya. Untuk sekarang ini, Sinar Mas Land yang merupakan salah satu perusahaan properti terbesar di Indonesia juga berkontribusi besar dalam mengembangkan kota satelit di Bumi Serpong Damai (BSD) yang terdiri dari perumahan, shopping mall, rumah sakit, sekolah dan pusat bisnis. Boleh dibilang, sosok anak-anak Eka mempunyai peranan penting dalam membesarkan Sinar Mas Group. Jabatan-jabatan penting di perusahaan-perusahaan yang ada di Sinar Mas dipegang oleh anak-anaknya.

Kehidupan pribadi dengan istri-istri dan anak-anak

Kehidupan pribadi Eka Tjipta Widjaja juga tidak lepas dari kontroversi seputar beberapa istri dan anak yang dimilikinya. Dari perbincangan orang-orang, Eka Tjipta dikenal mempunyai koleksi istri yang mencapai puluhan dan anak-anak yang juga mencapai puluhan jumlahnya. Tidak tahu apakah berita itu benar atau tidak, yang jelas Eka Tjipta tercatat mempunyai 2 orang istri resmi yaitu Trinidewi Lasuki dan Mellie Pirieh Widjaja.  Sekarang ini beberapa anak Eka seperti Muktar Widjaja, Teguh Ganda Widjaja, Frankie Oesman Widjaja, dan Sukmawati Widjaja memegang kendali bisnis penting di sektor-sektor berbeda di dalam naungan Sinar Mas Group.

Menjadi orang terkaya di Indonesia

Eka Tjipta Widjaja pernah dinobatkan sebagai orang terkaya nomor 1 di Indonesia menurut versi majalah Globe Asia 2012.  Sampai hari ini, Eka Tjipta Widjaja tetap masuk dalam daftar urutan atas orang-orang terkaya di Indonesia menurut versi majalah Forbes.  Anak-anak dan cucu –cucu nya lah yang sekarang meneruskan kerajaan bisnis yang diwarisi oleh seorang Eka Tjipta Widjaja.

Semangat dan kerja keras Eka memang patut dicontoh oleh generasi muda sekarang. Visi Eka sangatlah jauh ke depan, tidak terhenti hanya ingin menjadi kaya, tapi lebih kepada menciptakan dan membangun bangsa. Keberhasilan seorang Eka Tjipta mengajarkan kita bahwa kita tidak boleh berhenti bermimpi bahwa seseorang yang mulai dari nol dan tidak punya modal sekalipun mempunyai kesempatan yang sama dengan orang-orang yang lebih berada. Banyak generasi muda sekarang mempunyai keadaaan ekonomi yang jauh lebih baik dari Eka Tjipta semasa kecil tapi malah menyia-nyiakan waktu dan kesempatan. Kesempatan tidak datang dua kali, karena itu hargailah setiap kesempatan yang datang dengan semangat dan kerja keras. Jadilah seseorang yang bervisi luas, bekerja keras, dan tidak pernah menyerah.

Surya Paloh, dari Serambi Mekkah membawa Restorasi Indonesia

Dengan semangat pembaruan berslogan “Restorasi Indonesia”, Surya Dharma Paloh atau Surya Paloh bersama Sultan Hamengkubuwono X pda tahun 2010 mendirikan organisasi Nasdem yang kemudian berkembang menjadi Partai Nasdem (Nasional Demokrat). Sosok yang kemudian memimpin Partai Nasdem ini juga dikenal sebagai pengusaha dimana salah satu perusahaan yang dipimpinnya adalah Metro TV yang tergabung dalam Media Grup. Lalu bagaimana sebernarnya kisah dari sosok Surya Paloh ini? Mari simak pembahasannya berikut ini.

Masa Kecil dan Remaja

Surya Paloh lahir di pada 16 Juli 1951 di Kuta Raja, Kota Banda Aceh, Naangroe Aceh Darussalam. Saat bersekolah, Surya Paloh sudah terbiasa berjualan. Saat itu sambil sekolah, Surya Paloh sembari membawa beberapa barang seperti ikan asin, karung goni, teh dan lainnya. Dari sinilah bakat bisnis Surya Paloh muai terasah. Saat sekolah menengah di SMA Negeri 7 Medan, Insting bisnis Surya Paloh semakin berkembang baik. Hal ini terlihat ketika dirinya membuka perusahaan karoseri. Lagi-lagi kegiatan berbisnis ini dilakukan Surya Paloh sambil sekolah dan juga menjadi agen penjualan mobil. Selepas SMA,

Surya Paloh melanjutkan pendidikannya ke Universitas Sumatera Utara untuk mengambil Fakultas Hukum. Meski tak sampai lulus, tapi Surya Paloh melanjutkan studinya ke Universitas Islam Sumatera Utara dengan mengambil Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik. Dari fakultas inilah Surya Paloh mulai mengenal dan menyukai dunia politik. Sejak kuliah di Universitas Islam Sumatera Utara, Surya Paloh mulai aktif mengikuti organisasi yang menentang kebijakan-kebijakan salah dari pemerintahan Orde Lama. Salah satu organanisasi yang diikuti oleh Surya Paloh saat itu adalah Kesatuan Aksi Pemuda Pelajar Indonesia (KAPPI). Setelah KAPPI bubar, Surya Paloh menjadi Koordinator Pemuda dan Pelajar pada Sekretariat Bersama Golkar. Organisasi lain yang juga pernah dipimpin Surya Paloh adalah Putra-Putri ABRI (PP-ABRI) Sumatera Utara.

Menjadi Pebisnis

Sebagai pengusaha, karir Surya Paloh juga tak bisa dipandang sebelah mata. Sebab, suami dari Rosita Barrack ini punya talenta dan bakat berniaga yang mumpuni. Beberapa perusahaan yang pernah dikelola oleh Surya Paloh adalah PT Ika Diesel Bros yang merupakan usaha distributor mobil Ford dan Volkswagen. Ada juga Hotel Ika Darroy di Banda Aceh, Link Up Coy di Singapura yang bergerak di perdagangan umum dan lainnya. Tapi usaha yang kemudian mengangkat namannya lebih tinggi adalah penerbitan media. Hal ini dikarenakan bisnis di penerbitan media menurutnya sangat menantang dan memunculkan minatnya kembali pada dunia politik. Kemahiran bisnis Surya Paloh memang tak tiba-tiba saja muncul. Ini karena Surya Paloh memulainya sejak ia masih sekolah. Dari sini kita pun bisa mengambil pelajaran bahwa tidak ada sukses yang bisa diraih secara instan. Sukses yang sejati membutuhkan proses dan waktu yang didalamnya ada beragam tantangan yang harus ditaklukkan.

Bisnis di Media Massa

Saat itu Surya Paloh memulai bisnis penerbitan medianya pada masa orde baru sehingga banyak sekali tantangan dan rintangan yang harus dihadapi. Seperti kita tahu bahwa pemerintah orde baru sangat protektif pada setiap media massa yang membuat setiap pemimpin redaksi harus sangat berhati-hati ketika memuat berita. Surya Paloh sendiri memulai bisnis penerbitan media pada 2 Mei 1986 dengan mendirikan Surat Kabar Harian Prioritas. Meskipun popularitas koran Prioritas ini sudah menyebar ke berbagai daerah, namun sayangnya Prioritas tak bisa bertahan lama karena SIUPP-nya dicabut pemerintah. Dicabutnya SIUPP dari koran Prioritas ini disebabkan menurut pemerintah saat itu isi dari koran Prioritas tak sesuai dengan Kode Etik Jurnalisti Indonesia.

Meski ditutup oleh pemerintah, Surya Paloh tak menyerah. Sebab kemudian menghidupkan kembali Majalah Vista. Dan pada tahun 1989, Surya Paloh bekerja sama dengan Drs. T. Yously Syah untuk mendirikan dan mengelola Media Indonesia. Tidak hanya bekerjasama dengan Drs. T. Yously Syah, tapi Surya Paloh juga bermitra dengan 10 penerbit di daerah baik seperti Sumatera, Bali dan Sulawesi. Untuk mengembalikan popularitas medianya seperti kora Prioritas, Surya Paloh memboyong Media Indonesia ke Gedung Prioritas.

Dirikan Metro TV

Dibawah rezim orde baru, Surya Paloh terus mendapatkan pertentangan dan ancaman pembredelan dari pemerintah. Tapi dengan keberaniannya untuk terus memperjuangkan kebebasan pers dengan bersuara lewat media massa, Surya Paloh pun menemukan momentumnya untuk mendirikan stasiun televisi yang kemudian diberi nama Metro TV. Dengan sajian utama kanal berita, Metro TV menjadi stasiun televisi berita pertama di Indonesia dan juga stasiun televisi pertama yang menghadirkan siaran 24 jam nonstop. Selain mendirikan Metro TV, Surya Paloh yang punya ruang lebih luas setelah jatuhnya rezim Orde Baru juga menghadirkan koran Media Indonesia yang kini telah populer dan dikenal di seluruh Indonesia. Dari kisah Surya paloh membangun bisnis media massa-nya ini kita bisa mengambil hikmah bahwa hanya dengan kesungguhan dan semangat pantang menyerah, sebuah impian bisa diraih sesulit apapun itu rintangan yang menghadang.

Karir Politik

Setelah bisnis media massa telah sukses diraihnya, Surya Paloh melanjutkan petualang kehidupannya dengan terjun ke dunia politik yang diminatinya sejak dulu. Awalnya ia bergabung dengan Partai Golkar. Dengan keaktifannya, Surya Paloh pernah dijadikan Ketua Dewan Penasihat Partai Golkar periode 2004-2009. Karir politik Surya Paloh berlanjut ketika dirinya mendirikan organisasi Nasdem (Nasional Demokrat) bersama Sultan Hamengkubuwono X pada tanggal 1 Ferbruari 2010. Surya Paloh bersama Nasdem menggelorakan gerakan semangat pembaruan di Indonesia dengan slogan “Restorasi Indonesia”. Organisasi Nasdem yang awalnya tidak berorientasi politik kemudian pada 26 juli 2011 berubah menjadi partai politik dan turut berpartisipasi dalam pemilu pada 2014. Ketika Partai Nasdem dinyatakan lolos dalam verifikasi KPU sebagai peserta pemilu 9 april 2014, nama Surya Paloh semakin gencar terdengar di beberapa media. Kepopuleran Surya Paloh kemudian memunculkan spekulasi bahwa Surya Palon akan mencalonkan diri sebagai Capres. Tapi kenyataannya pada Pilpres 2014 hingga terpilihnya Joko Widodo sebagai Presiden RI, Partai Nasdem tidak mencalonkan Surya Paloh sebagai presiden.

Jusuf Kalla, “Saudagar” yang menjadi Wakil Presiden

Jusuf Kalla atau Dr. (H.C.) Drs. H. Muhammad Jusuf Kalla adalah seorang pengusaha, politisi yang saat ini menjabat Wakil Presiden. Bersama dengan Presiden Joko Widodo, Jusuf Kalla memimpin Kabinet Kerja periode 2014 – 2019. Dengan segala pengalaman organisasi, pemimpin perusahaan dan politik, Jusuf Kalla dapat menjadi sosok yang akan selalu diingat dalam sejarah bangsa. Lalu seperti apa kisah Jusuf Kalla yang berasal dari suku Bugis ini? Berikut kisahnya.

Masa Kecil dan Remaja Jusuf Kalla

Jusuf Kalla adalah anak ke-2 dari pasangan Haji Kalla dan Athirah yang lahir 15 Mei 1942 di Watampone, Kabupaten Bone, Sulawesi Selatan. Haji Kalla dan Athirah sendiri adalah seorang pengusaha keturunan Bugis dengan bisnisnya yang tergabung dalam bendera Kalla Group. Sejak menjadi siswa di SMA Negeri 3 Makassar hingga mahasiswa, pria yang akrab disapa Daeng Ucu ini selalu aktif dalam beberapa organisasi. Beberapa organisasi yang pernah diikuti Jusuf Kalla antara lain Pelajar Islam Indonesia (PII) Cabang Sulawesi Selatan 1960 – 1964, Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) Cabang Makassar tahun 1965-1966 dan Kesatuan Aksi Mahasiswa Indonesia (KAMI). Bahkan karena aktifnya beliau di organisasi membuat Jusuf Kalla kemudian dijadikan Ketua Dewan Mahasiswa Universitas Hasanuddin tahun 1965-1966 serta serta Ketua Presidium Kesatuan Aksi Mahasiswa Indonesia (KAMI) peridoe 1967-1969.

Menjadi Pengusaha dan Berkeluarga

Lahir dari keluarga pengusaha membuat Jusuf Kalla punya kesempatan besar dan mudah untuk mendapatkan pengalaman bisnis. Insting bisnis Jusuf Kalla semakin kuat karena dirinya menimba ilmu di Fakultas Ekonomi Universitas Hasanuddin, Makassar (UNHAS). Selepas kuliah di UNHAS, Jusuf Kalla memutuskan untuk membantu bisnis orang tuanya di Kalla Group. Pada 27 Agustus 1967, Jusuf Kalla menikah dengan Hj. Mufidah Miad Saad. Dari pernikahannya tersebut, Jusuf Kalla dikaruniai seorang putra dan empat putri. Pada tahun 1968, Jusuf Kalla menjadi CEO NV Hadji Kalla dan menjadikan bisnis yang awalnya bergerak di sektor ekspor dan impor tersebut meluas ke berbagai bidang.

Perluasan bidang dari bisnis NV Hadji Kalla setelah dipimpin Jusuf Kalla antara lain konstruksi, perkapalan, perhotelan, kelapa sawit, telekomunikasi, real estate, peternakan udang dan penjualan kendaraan. Kesuksesan Jusuf Kalla dalam dunia bisnis membuatnya ditunjuk menjabat Ketua Kamar Dagang dan Industri Daerah (Kadinda) Sulawesi Selatan. Dan pada musyawarah September 2006, Jusuf Kalla ditunjuk kembali sebagai Ketua Ikatan Keluarga Alumni (IKA) di alamamaternya Universitas Hasanuddin. Sambil berbisnis dan menjadi pengusaha, Jusuf Kalla tak melupakan juga untuk menempuh pendidikan yang lebih tinggi dengan menempuh pascasarjana di The European Institute of Business Administration, Perancis pada tahun 1977. Dalam hal usahanya mencapai suskes, Jusuf Kalla memang patut dicontoh. Sebab Jusuf Kalla mengkombinasikan pengalaman bisnisnya dengan ilmu ekonomi yang didapatkannya di bangku perkuliahan.

Berkarir Politik

Setelah sekian lama menjalankan profesi pengusaha, Jusuf Kalla mulai tertarik dengan dunia politik dan melirik Jakarta sebagai gelanggangnya. Dengan modal sikapnya yang cepat menyelesaikan permasalahan dan profesional memang membuat banyak ruang dan pintu politik terbuka untuk dirinya di Jakarta. Tak tanggung-tanggung, Jusuf Kalla saat itu langsung ditunjuk Presiden Abdurrahman Wahid menjadi Menteri Perindustrian dan Perdagangan. Saat pemerintahan berganti ke Megawati Soekarnoputri, Jusuf Kalla pun kembali ditunjuk sebagai Menko Kesra. Karena ingin maju sebagai calon wakil presiden mendampingi Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) maka Jusuf Kalla pun mengundurkan diri sebagai Menko Kesra. Keberanian Jusuf Kalla untuk terjun ke dunia politik ini patut diacungi jempol. Sebab dengan latar belakang dibidang entrepreneur maka tidak semua orang bisa dengan mudah menembusnya.

Kiprah di Pemilihan Presiden

Pada pemilihan presiden (Pilpres) 2004 yang diselenggarakan secara langsung oleh rakyat, Jusuf Kalla mencalonkan sebagai Wakil Presiden menadampingi SBY. Ketika hasil Pilpres menunjukkan SBY sebagai pemenangnya, maka otomatis Jusuf Kalla menjadi Wakil Presiden RI ke-10. Jelang Pilpres 2009, Jusuf Kalla yang sudah tidak berkoalisi dengan Partai Demokrat ditetapkan oleh Partai Golkar sebagai Calon Presiden. Untuk wakilnya, Jusuf Kalla menunjuk Wiranto selaku Ketua Umum Partai Hanura sebagai Cawapresnya. Sayangnya pada Pilpres 2009, Jusuf Kalla kalah dari pasangan SBY – Budiono. Kemudian dalam Pilpres 2014, Jusuf Kalla kembali berkiprah, kali ini menjadi Cawapres dari Joko Widodo. Pada pemilihan yang juga masih diselenggarakan secara langsung tersebut Jusuf Kalla kembali terpilih sebagai Wakil Presiden RI bersama Joko Widodo sebagai Presidennya. Gelanggang Politik dari Jusuf Kalla sampai detik ini bisa dibilang cemerlang. Meski pernah gagal ketika mencalonkan diri sebagai Presiden, tapi kesuksesan Jusuf Kalla menjadi Cawapres sebanyak dua kali terbilang cukup membanggakan.

Jabatan Lain Jusuf Kalla

Selain menjabat beberapa jabatan strategis di pemerintahan yang telah disebutkan, Jusuf Kalla juga pernah menjabat beberapa jabatan lain. Jabatan pertama yang pernah dipegang Jusuf Kalla adalah ketua umum Golongan Karya (Golkar) sejak Desember 2004 hingga 9 Oktober 2009 menggantikan Akbar Tanjung. Jabatan berikutnya yang juga pernah dipimpin Jusuf Kalla adalah ketua umum Palang Merah Indonesia (PMI) periode 2009-2014 setelah terpilih dalam Munas Palang Merah Indonesia XIX. Pada Munas XX PMI, Jusuf Kalla kembali lagi terpilih sebagai ketua umum Palang Merah Indonesia (PMI) periode 2014-2019. Jabatan lain yang juga pernah dijabat Jusuf Kalla adalah ketua umum Pengurus Pusat Dewan Masjid Indonesia periode 2012-2017 setelah terpilih dalam Muktamar VI DMI di Jakarta. Dari apa yang dialami dan dijalankan Jusuf Kalla, tentu kita harus menirunya. Karena meski sudah di usia yang tidak terbilang muda, Jusuf Kalla tak mau berdiam diri dengan tetap mau terus beraktivitas.

William Soeryadjaya, Sang Taipan Ulung yang Rendah Hati

20 Desember 1922 adalah tanggal bersejarah yang menjadi saksi lahirnya seorang anak bernama Tjia Kian Liong. Majalengka, Jawa Barat, menjadi tempatnya dilahirkan. Siapa sangka, hingga nyaris 96 tahun kemudian, sosok anak itu telah menjadi salah satu taipan ulung yang diperhitungkan di dunia. Ya, dialah William Soeryadjaya, pria kelahiran Majalengka Jawa Barat yang dikenal dengan keuletannya. Ternyata dalam nyaris satu abad semasa hidupnya, ada banyak dinamika yang menarik untuk kita simak, loh! Kesuksesannya bukan datang begitu saja, namun melewati serangkaian perjuangan yang tidak main-main! Yuk sama-sama kita simak perjalanan hidup William Soeryadjaya.

 

Kegetiran Hidup di Masa Kecil

Jika banyak anak lain mengisi masa kecilnya dengan bermain dan berlimpah kasih sayang dari keluarga, mungkin lain halnya dengan sosok William. Di usianya yang masih 12 tahun, kedua orang tuanya telah tiada. Hanya selang 7 tahun dari kondisinya yang yatim piatu, sekolahnya di Cirebon pun terpaksa putus di tengah jalan. Tak lagi mengenyam bangku sekolah, William cilik ditempa untuk menjadi seorang pedagang.

Masih di Cirebon, William pernah mengecap pengalaman menjadi seorang pedagang kertas. Tentu perjalanannya tidak mulus. Ia pun beralih menjadi pedagang benang tenun di kecamatan berjulukan kota dolar, Majalaya. Kota di tenggara Bandung ini memang dikenal sebagai sentra produsen kain tenun. Berhasil? Tidak juga. William banting setir menjadi pedagang hasil bumi. Apapun dilakoninya demi menghidupi dirinya bersama adik-adiknya. William tentu punya tanggung jawab yang cukup berat diembannya, terlebih dia adalah anak kedua dari lima bersaudara.

 

Naik Becak untuk Menikah

Siapa sangka sang konglomerat William Soeryadjaya dulu meminang istrinya, Lily Anwar, dengan menaiki becak ke kantor catatan sipil? Keduanya menikah pada 15 Januari 1947 dan berlangsung sangat sederhana. Hanya berangkat ke kantor catatan sipil mengenakan baju biasa, dan kembali pulang naik becak setelah resmi dinikahkan. Dari pernikahan ini, William dikaruniai 4 orang anak yaitu Edward Soeryadjaya, Edwin Soeryadjaya, Joyce, dan Judith.

 

Bertolak ke Belanda untuk Studi

Jatuh bangun menjadi pedagang membuahkan hasil bagi tokoh yang kini dikenal sebagai pebisnis kawakan ini. Meski sempat putus sekolah dan mati-matian bekerja untuk bertahan hidup, ternyata pendidikan masih jadi prioritas bagi William. Sekolah industri di Belanda bernama Middlebare Vakschool V/d Leder & Schoen Industrie Waalwijk menjadi pilihannya. Sekolah ini fokus mengajarkan tentang penyamakan kulit. Di usianya yang masih cukup muda, William sadar betul perlu membekali dirinya dengan skill untuk bisa survive di kemudian hari.

William tidak sendirian, keberangkatannya ke Belanda yang hanya selang 2 minggu dari tanggal pernikahannya, membawa serta sang istri. Mereka tinggal sederhana di Amsterdam dengan penuh kerja keras. Bahkan mereka sempat berjualan kacang dan rokok yang dikirim dari Bandung. Mereka tinggal di Belanda selama 2 tahun, mulai dari tahun 1947 hingga 1949.

Rampung sekolah di Belanda, William dan keluarganya pulang ke Indonesia saat usianya 27 tahun. Berbekal kemampuan yang ditempanya di Belanda, ia mendirikan industri penyamakan kulit, bekerja sama dengan seorang teman. Memang bakat berdagang dan keberanian mengambil keputusan telah tertanam di diri seorang William Soeryadjaya, 3 tahun kemudian ia mendirikan CV Sanggabuana yang berkecimpung di bidang ekspor-impor dan perdagangan umum. Namun roda hidup kembali berputar, William ditelikung oleh rekannya sendiri hingga mengalami kerugian yang tidak sedikit.

 

Melahirkan PT Astra Internasional

Satu kegagalan adalah alasan untuk kembali bangkit. Mungkin itu yang tertanam di benak William Soeryadjaya. Tak kapok berbisnis, berselang 5 tahun sejak ditipu teman sendiri, ia mendirikan PT Astra Internasional di tahun 1957. Tidak sendiri, William menggandeng adiknya Tjia Kian Tie dan temannya yang bernama Lim Peng Hong.

Apakah dulu PT Astra Internasional sudah sebesar ini? Tentu tidak. Dulunya, PT Astra hanya bergerak di bidang pemasaran minuman ringan dengan merek dagang Prem Club. Ditambah dengan ekspor hasil bumi. Barulah seiring berjalannya waktu, bidang pekerjaan PT Astra Internasional meluas hingga ke sektor peralatan berat, kayu, dan otomotif. Perusahaan besutan William naik daun, terutama di era Pemerintahan Orde Baru. Kala itu, dunia bisnis bergeliat di iklim yang sangat positif, didukung sentimen kebijakan dari negara.

Di tahun 1968 saja, PT Astra Internasional menjadi pemasok truk Chevrolet dengan kuantitas yang tidak sedikit, yaitu 800 unit. William membidik pasar di waktu yang tepat, right person at the right time. Truk pasokannya laris manis karena bertepatan dengan program rehabilitasi yang sedang gencar diadakan. Ditambah lagi kala itu, kurs dolar mencapai Rp378 per 1 dolar, melejit hampir 3 kali lipat dari kurs sebelumnya. Titik kesuksesan ini membawa PT Astra Internasional menjadi rekanan pemerintah dalam mendukung infrastruktur pembangunan.

 

Keuletan “Om William” untuk Astra

Semakin besar nama PT Astra Internasional, bidang pekerjaan yang diambil pun makin berani. Perusahaan yang dirintis dari nol ini mulai berani merakit sendiri truk Chevrolet. Naik daun, PT Astra Internasional kian berani merakit alat besar seperti Komatsu dan alat fotokopi Xerox. Tak berhenti sampai di situ. Mobil Toyota, Daihatsu, dan sepeda motor Honda juga dirakit sendiri. Di tahun 1984, omzet PT Astra Internasional menembus angka fantastis: 1,5 miliar dolar AS!

Dunia agrobisnis juga dirambah oleh PT Astra Internasional, dengan membuka pertanian kelapa dan singkong seluas 15.000 hektar di Lampung. Langkah ini merupakan gagasan untuk meningkatkan produksi sektor pertanian, senada dengan gagasan pemerintah kala itu. Tak hanya itu, di tahun yang sama yaitu 1984 William juga membeli Summa Handelsbank, bank asal Jerman. Keputusannya ini juga meninggalkan cerita baru yang cukup “kelam” dalam kehidupan Om William.

 

Bank Summa yang Terpuruk

Adalah Edward Soeryadjaya, putra sulung William yang dipercayanya untuk mengelola Bank Summa. Edward dinilainya sebagai orang yang tepat dan telah mengantoni gelar sarjana dari Ruhr University, Jerman Barat. Sang ayah memegang kepemilikan saham sebanyak 60 persen. Namun sayang, di tahun 1992, Bank Summa terbelit kredit macet senilai 1 triliun rupiah.

William turun tangan dan membantu penyelesaian utang bank milik putranya. 10 juta lembar saham PT Astra Internasional dilepas ke publik. Mau tidak mau, William harus rela melepas kendali trah Soeryadjaya atas PT Astra Internasional. Apalagi kala itu, PT Astra Internasional baru memasuki dunia saham di Bursa Efek Indonesia. Santer terdengar bahwa terpuruknya Bank Summa tak lepas dari “sabotase” beberapa pihak.

Namun bukan William namanya jika tidak tangguh saat roda kehidupan (lagi-lagi) berada di bawah. Beberapa tahun kemudian, kejayaan bisnis kembali direnggutnya, termasuk lewat strategi memperluas sayap bisnis. Seiring dengan itu, tentu kemampuan PT Astra Internasional untuk menyerap pekerja usia produktif pun kian lebar. Inilah impian William sejak dulu, yaitu membuka lapangan pekerjaan di tengah tingginya angka pengangguran di tanah air.

 

Pribadi Religius yang Diidolakan Bawahan

Bukan rahasia lagi bahwa William Soeryadjaya adalah sosok yang religius. Menerapkan catur dharma dalam pekerjaannya, William benar-benar menghormati mereka yang berada di bawahnya. Mantan Direktur PT Astra Internasional yang bernama Maruli Gultom sempat berkisah, setiap hari Jumat selalu ada sesi agama untuk pegawai PT Astra Internasional. Saat lebaran pun, William menyempatkan menyalami karyawannya, mulai dari lantai 1 hingga lantai 4.

William selalu menjaga hubungan harmonis dengan karyawannya. Dalam perilakunya, Om William seakan menegaskan bahwa yang terpenting adalah kerja sama dalam tim yang sejahtera, bukan hanya hubungan pemilik dan pegawai di bawahnya.

 

Sosok Penuh Kepedulian yang Jadi Panutan

Meski menggawangi perusahaan kelas raksasa, William tak pernah luput untuk memperhatikan nasib para pengusaha kecil. Bukan rahasia lagi jika Om William kerap membuka peluang kerja sama antara perusahaan besar dan kecil. Sikap lain dari William yang juga menarik untuk diselami adalah kepeduliannya untuk dunia pendidikan. Institut Prasetya Mulya di Cilandak Jakarta Selatan berdiri di atas tanah miliknya yang dijual dengan harga sangat bersahabat.

Sosok William juga dikenal sangat dermawan. Bukan sekali dua kali dirinya memberi banyak uang saku untuk pegawai PT Astra Internasional. Bahkan Wakil Presiden RI, Jusuf Kalla, punya kenangan tersendiri soal ini. Kala itu, JK yang mengenal William sejak tahun 1968 mengajukan niat untuk menjadi agen PT Astra Internasional di Makassar. Tanpa banyak tanya, William setuju dan selalu menjaga hubungan kerja sama dengan baik. Bahkan ada hal sederhana yang membekas di benak JK hingga kini: kala itu William makan bersamanya di restoran, dan ada hidangan udang yang tidak habis. Tanpa segan William meminta pegawai membungkus dan dibaginya untuk kawan-kawan.

Di tangan dingin William pula lah lahir banyak pebisnis-pebisinis andal negeri ini. Sosok William Soeryadjaya menjadi panutan banyak pihak karena kedewasaannya dalam mengambil berbagai kebijakan bisnis. Belum lagi sosoknya yang bersahaja dan tak pernah tinggi hati. Bahkan hingga kini, nama William Soeryadjaya masih mendapat tempat dan kerap dibicarakan meski sosoknya telah tiada. Ia meninggal dunia pada hari Jumat, 2 April 2010 di RS Medistra Jakarta Selatan. Pelopor modernisasi industri otomotif nasional ini memang telah tutup usia, namun semangatnya terus membara dan jadi inspirasi.

 

Sri Mulyani Indrawati, Srikandi Pengawal Ekonomi Indonesia

Berkali-kali Indonesia dibuat bangga oleh Ibu Menteri yang satu ini. Nama Sri Mulyani memang sangat layak diperhitungkan. Terlebih perempuan kelahiran Lampung ini adalah orang Indonesia pertama yang pernah menjabat sebagai Direktur Pelaksana Bank Dunia. Seorang ekonom handal dan tokoh wanita Indonesia yang kiprahnya tidak main-main.

 

Sri Mulyani lahir pada 26 Agustus 1962 di Tanjung Karang, sudut Bandar Lampung. Kala masih kecil, Ani, panggilan akrabnya, tak pernah terlintas akan menjadi seorang Menteri saat telah dewas. Namun didikan keluarganya telah menanamkan semangat untuk terus berprestasi dan memprioritaskan pendidikan. Kedua orangtuanya adalah Profesor, yaitu Satmoko dan Retno Sriningsih. Keduanya adalah guru besar IKIP Semarang yang kini dikenal dengan nama Universitas Negeri Semarang. Dari 10 bersaudara, hampir semua saudara kandung Ani selalu mengantongi gelar master atau bahkan doktor

Kecintaan pada dunia pendidikan membuat kedua orangtua Ani menyarankannya untuk menjadi seorang dosen. Hal itu pula yang terlintas di benaknya, bahwa kelak akan berkarir sebagai seorang pendidik. Namun garis tangan berkata lain. Dari orangtuanya pula, ibu tiga orang anak ini diajarkan tiga prinsip hidup, yaitu hidup sederhana dan rukun; aktif di kegiatan non-akademis; dan hobi membaca. Suara Merdeka dan Kompas adalah “menu” yang wajib terhidang di tengah keluarga Satmoko.

 

Kedisiplinan dalam hal keilmuan juga yang tertanam di benak Sri Mulyani hingga kini. Selain itu, ia juga diajarkan untuk tepa sliro atau peduli kepada orang lain. Beruntung, istri Tony Sumartono ini dibebaskan untuk memilih profesi yang ditekuni. Hal ini pula yang ditanamkan Sri Mulyani dan suami untuk ketiga buah hati mereka.

 

Pendidikan Selalu Jadi Prioritas

Lampung dan Semarang adalah kota-kota yang pernah ditinggali Sri Mulyani di usia sekolahnya. Sejak SMA, namanya langganan bertengger sebgaia juara sekolah di SMA Negeri 3 Semarang. Tak hanya berprestasi di bidang akademis, kegiatan organisasi dan ekstrakurikuler pun aktif diikutinya. Rampung dari SMA, Ani bergabung ke Depok dengan almamater yellow jacket. Ia mengambil jurusan Ekonomi Program Studi Pembangunan (ESP) di Universitas Indonesia. Ekonom handal ini memang begitu  tergila-gila dengan dunia ekonomi hingga mengantongi gelar sarjana sebagai Lulusan Terbaik pada tahun 1986.

Rampung studi, Ani sempat menjadi peneliti di Lembaga Penelitian Ekonomi dan Masyarakat (LPEM) sembari menjadi asisten peneliti di kampusnya. Tak puas sampai di situ, gelar master pun dikejar oleh ahli finansial ini. University of Illinois Urbana-Champaign di Amerika Serikat menjadi pilihannya, dengan konsentrasi di bidang Public Finance dan Urban Economy. Di saat yang sama, suaminya juga menempuh program Master di bidang Manajemen Keuangan.

 

Saat tinggal di Amerika Serikat, keduanya hidup serba pas-pasan dengan mengandalkan beasiswa dan biaya dari menjual mobil sebelum berangkat ke Negeri Paman Sam. Rampung studi Master, Ani melanjutkan pendidikannya ke jenjang doktoral di universitas yang sama, sembari menjadi asisten dosen statistik di kampus. Amerika Serikat boleh jadi adalah tempat tak terlupakan baginya, karena di sinilah ia melahirkan putri sulungnya, Dewinta Illinia. Hanya dalam waktu empat tahun, gelar master dan doktor telah dikantongi Ibu Menteri yang satu ini.

 

Mengabdi ke Tanah Air

Kiprahnya saat kembali ke tanah air masih bersinggungan erat dengan dunia akademis dan research. Sosoknya kerap menjadi tujuan bagi mahasiswa-mahasiswa Indonesia yang akan mengambil beasiswa kuliah ke luar negeri. Tahukah kamu, Sri Mulyani juga pernah berkarir di perusahaan swasta, sebagai Komisaris di PT Astra Internasional dan Unilever Indonesia. Tahun 2002, Sri Mulyani pindah ke Washington DC dan menjadi Direktur Eksekutif IMF. Berselang dua tahun, Ani kembali ke Indonesia saat Presiden kala itu, Susilo Bambang Yudhoyono mengajaknya bergabung dalam Kabinet Indonesia Bersatu sebagai Menteri Negara Perencanaan Pembangunan Nasional Indonesia.

 

Karirnya di kabinet begitu cemerlang. Tahun 2008, Sri Mulyani juga menjabat sebagai PLT Menteri Koordinator Bidang Perekonomian merangkap sebagai Menteri Keuangan. Meski menjadi orang nomor satu di sektor keuangan, Sri Mulyani tetap pernah merasakan dilema. Kala itu dia sedang menghadiri rapat penting dengan pelaku usaha membicarakan krisis ekonomi tahun 2008. Di saat yang sama, sang ibu sedang kritis dengan jarak tempuh tidak begitu jauh, sekitar 45 menit. Namun tanggung jawabnya sebagai seorang menteri harus tetap dijalaninya, hingga kabar sang ibunda telah wafat.

Di tahun yang sama, skandal kasus Bank Century menyeret namanya. Ia dituding bersalah karena telah mengucurkan dana triliunan rupiah ke Bank Century. Menepis tudingan itu, Ani kala itu menyebut bahwa itu adalah satu-satunya strategi yang paling mungkin dilakukan untuk mencegah masalah kian merembet. Skandal ini membuat Sri Mulyani memutuskan untuk mundur dari Kabinet pada tahun 2009.

 

Setahun kemudian, dunia ternyata telah lama mengincar ekonom yang sangat cerdas ini. Bank Dunia menunjuknya sebagai Direktur Pelaksana. Ani kembali ke Amerika Serikat, merelakan berpisah dengan anak-anaknya yang kala itu tengah menempuh studi di tempat yang berbeda-beda. Hingga tahun 2016, Sri Mulyani kian bersinar lewat karirnya di Bank Dunia. Dia adalah perempuan dan orang Asia pertama yang berhasil dipercaya menduduki jabatan strategis tersebut. Di titik itu, pada tahun 2016, dirinya kembali ke Indonesia setelah didapuk sebagai Menteri Keuangan oleh Presiden Joko Widodo hingga periode tahun 2019.

Bank Dunia lewat Presidennya, Jim Yong Kim, kala itu mengenangnya sebagai sosok pemimpin yang selalu lantang menyuarakan kepedulian bagi masyarakat miskin dan sangat disegani. Hal ini disampaikan lewat surat dari Presiden Bank Dunia itu yang dikirim ke seluruh pegawai Bank Dunia.

 

Banggakan Indonesia

Bukan Sri Mulyani namanya jika tidak berhenti mengharumkan nama bangsa. Tahun 2006, dirinya dinobatkan sebgaai Menteri Keuangan Terbaik se-Asia oleh Emerging Markets di sela Sidang Tahunan Bank Dunia dan IMF di Singapura. Di tahun yang sama, majalah Euromoney juga menyebutnya sebagai Menteri Keuangan Terbaik. Hanya berselang dua tahun, majalah Forbes menyebutnya sebagai wanita paling berpengaruh di dunia. Majalah Globe Asia pun menyematkan predikat yang sama untuknya di tahun 2007.

 

Sri Mulyani Sebagai Seorang Ibu

Meski karirnya begitu cemerlang dan membanggakan, Ani tak pernah melupakan trahnya sebagai seorang istri dan ibu. Family comes first, itu prinsipnya dalam membesarkan ketiga buah hatinya. Bahkan hal-hal kecil selalu menjadi perhatiannya, seperti saat anak keduanya sedang mengikuti Ujian Nasional. Dirinya sempat khawatir bagaimana putranya menghadapi ujian Bahasa Indonesia, karena sehari-hari mereka terbiasa berkomunikasi dengan bahasa Inggris.

Komunikasi yang terbuka selalu ditekankan oleh Sri Mulyani dalam hubungan kedua orangtua dengan anak-anak mereka. Seperti saat putri sulungnya akan bertolak ke Australia menempuh studi sarjana, dengan terbuka Ani menjelaskan berapa dana yang mereka miliki dan menyematkan tanggung jawab untuk hidup hemat dan segera merampungkan studi di Benua Kanguru. Cara mendidik putra putri seperti yang diterapkan oleh kedua orangtua Sri Mulyani menurun hingga ke generasi berikutnya.

 

Bangsa ini patut berbangga memiliki anak bangsa yang inspiratif seperti Sri Mulyani. Berkat kebijakan-kebijakan strategisnya, tak terhitung berapa kali Indonesia berhasil lolos dari krisis yang mengancam. Menteri enerjik ini juga hobi menulis. Dalam akun Instagramnya, Ani kerap menuangkan pemikirannya atau pesan yang ingin disampaikannya pada masyarakat lewat tulisan tangannya di agenda.

Teruslah menginspirasi ya, Bu Menteri!

Susilo Bambang Yudhoyono

Susilo Bambang Yudhoyono atau akrab disebut SBY adalah Presiden Republik Indonesia ke-6 dari kalangan milter. Sepak terjangnya di dunia militer dan politik yang cemerlang membuat SBY tak bisa terlupakan begitu saja oleh masyarakat dan bangsa Indonesia. Bagaimana tidak, berbagai prestasi militer yang pernah dicatatkannya dan puncak karir politiknya dengan menjadi Presiden RI dua periode berturut-turut, menjadikan SBY sebagai sosok yang selalu berpengaruh. Lalu seperti apa kisah lengkap dari Susilo Bambang Yudhoyono yang merupakan Presiden pertama Indonesia yang dipilih melalui jalur pemilu ini? Yuk simak ulasannya berikut ini.

 

Masa Kecil dan Remaja Susilo Bambang Yudhoyono

Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) adalah anak tunggal dari pasangan R. Soekotjo dan Sitti Habibah yang lahir di Pacitan, Jawa Timur, 9 September 1949. Ayah SBY yakni Soekotjo adalah seorang tentara pensiuan dengan pangkat letnan satu. Sementara itu ibunya yakni Siti Habibah adalah putri salah seorang pendiri pondok pesantren di Pacitan. Darah militer dari ayahnya membuat SBY sejak kecil sudah bermimpi dan bercita-cita menjadi tentara. Pengenalan dunia militer SBY dimulai saat dirinya masih duduk di sekolah dasar kelas 5 dengan mengenal sekolah tentara yang ada di Magelang. Sayangnya selepas SMA, SBY terlambat mendaftar sekolah di AKABRI (Akademi Angkatan Bersenjata Republik Indonesia) dan membuat dirinya masuk di Institut 10 November Surabaya (ITS). Dari pendidikan di ITS yang tak berlangsung lama, SBY kemudian masuk Pendidikan Guru Sekolah Lanjutan Pertama (PGSLP). Nah ketika di PGSLP inilah SBY terpikirkan kembali tentang cita-citanya untuk masuk AKABRI dan menjadi tentara.

Tempuh Pendidikan Militer

Ketika berusia 21 tahun di tahun 1970, SBY masuk sekolah tentara AKABRI. Di AKBRI ini SBY dikenal sebagai prajurit yang sangat disiplin dan rajin. Dengan kedisplinannya dan sikap rajinnya tersebut, saat kelulusan, SBY terpilih sebagai lulusan terbaik AKABRI angkatan 1973. Sebagai lulusan terbaik, SBY berhasil menyabet penghargaan yang sering diidam-idamkan taruna yakni penghargaan Adhi Makayasa. Selain itu SBY juga diganjar juga dengan penghargaan Tri Sakti Wiratama yang diberikan pada taruna yang berprestasi dengan nilai tertinggi dalam hal gabungan mental, fisik serta kecerdasan intelektual seorang taruna. Dari kisah ini tentu kita bisa mengambil pelajaran bahwa hanya dengan kedisplinan, kerja keras dan kesungguhan, maka impian dan segala pencapaian bisa diraih.

Berkarir Militer dan Tetap Belajar

Setelah lulus AKABRI dari tahun 1974-1976, SBY memulai karir militernya di Dan Tonpan Yonif Linud 330 Kostrad. Tak puas dengan karirnya di AKABRI, pada tahun 1976 SBY melanjutkan pendidikannya di Airborne School dan US Army Rangers, American Language Course (Lackland-Texas), Airbone and Ranger Course (Fort Benning) Amerika Serikat. Selepas itu, SBY kembali meniti karir militernya di Dan Tonpan Yonif 305 Kostrad, Dan Tn Mo 81 Yonif Linud 330 Kostrad (1977), Pasi-2/Ops Mabrigif Linud 17 Kujang I Kostrad (1977-1978), Dan Kipan Yonif Linud 330 Kostrad (1979-1981), Paban Muda Sops SUAD (1981-1982), Komandan Sekolah Pelatih Infanteri (1983-1985), Dan Yonif 744 Dam IX/Udayana (1986-1988), dan Paban Madyalat Sops Dam IX/Udayana (1988).

Karir SBY terus berlanjut di tahun 1989 hingga tahun 1993 dengan menjadi Dosen Seskoad Pangab, Dan Brigif LInud 17 Kujang 1 Kostrad serta Chief Military Observer United Nation Peace Forces (UNPF) di Bosnia-Herzegovina (1995-1996). SBY yang juga pernah ditugaskan dalam Operasi Seroja di Timor-Timur pada tahun 1979-1980 dan 1986-1988 ini juga meniti karier di Kasdam Jaya (1996), dan juga Pangdam II/Sriwijaya sekaligus Ketua Bakorstanasda. Di tahun 1997, dengan pangkat Letnan Jenderal, SBY diangkat sebagai Kepala Staf Teritorial (Kaster) TNI. Hingga pada 1 April 2001, SBY pensiun dari kemiliteran karena dirinya diangkat sebagai menteri.

Meski sudah memiliki karir yang lumayan baik, tapi SBY masih belum puas dengan pencapaiannya. Maka dari itu dirinya kemudian kembali belajar di Infantry Officer Advanced Course (Fort Benning) Amerika Serikat pada tahun 1982-1984. Di tahun 1984, SBY juga sempat kursus senjata antitank di Belgia dan Jerman dan juga kursus Komando Batalyon di tahun 1985. Di tahun 1988-1989 SBY juga belajar di Sekolah Staf dan Komando Angkatan Darat serta di US Command and General Staff College (Fort Leavenwort) Kansas Amerika Serikat di tahun 1991. Dari apa yang dilakukan SBY ini kita bisa mendapatkan pelajaran bahwa pendidikan adalah sesuatu yang harus selalu diusahakan selama nyawa masih dikandung badan.

Menikah dan Raih Gelar Doktor

Pada 30 Juli 1976, SBY menikah dengan Kristiani Herawati yang merupakan anak dari Jenderal (purn) Sarwo Edhi Wibowo. Dari pernikahannya tersebut, SBY dikaruniai dua anak laki-laki yakni Agus Harimurti Yudhoyono dan Edhie Baskoro Yudhoyono. Pada 3 Oktober 2004, SBY meraih gelar doktor (Ph.D.) dari Institut Pertanian Bogor (IPB) dalam bidang Ekonomi Pertanian. Sementara itu pada 15 Desember 2005, SBY kembali menerima gelar doktor kehormatan di bidang ilmu politik, kali ini dari Universitas Thammasat di Bangkok, Thailand.

Karir Politik dn Menjadi Presiden RI ke-6

Karir politik SBY dimulai dari tahun 1998 di masa Reformasi dengan menjadi ketua Fraksi ABRI di MPR. Pada tahun 1999, setelah Abdurrahman Wahid terpilih sebagai presiden, SBY ditunjuk sebagai Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral Indonesia dan menjadi Menkopolsoskam. Saat Megawati menjadi Presiden, SBY kembali ditunjuk sebagai Menko Polhukam. Namun di tahun 2004 di akhir kepemimpinan Megawati, SBY mengundurkan diri dari kabiner dan mendirikan Partai Demokrat. Pada pemilu 2004, SBY diusung Partai Demokrat sebagai calon presiden. Dengan berpasangan dengan Jusuf Kalla, SBY menjadi Presiden RI ke-6 setelah mememangkan pemilihan presiden (pilpres) yang dipilih secara langsung oleh rakyat.

 

Pada pilpres di tahun 2009, SBY yang saat itu berpasangan dengan Budiono kembali menang dan menjadi Presiden untuk periode keduanya. Setelah kedua dua periode, sesuai undang-undang, SBY tidak bisa mencalonkan diri sebagai Presiden. Dan sebagai penggantinya pada pilpres tahun 2014, terpilih Joko Widodo sebagai Presiden RI. Meski tidak lagi menjadi Presiden, SBY tetap menjalankan karir politiknya dengan menjadi Ketua Umum Majelis Tinggi DPP Partai Demokrat (2010-2015) dan Ketua Umum DPP Partai Demokrat (2015-2020).

Megawati Soekarnoputri, Cerminan Sosok Perempuan Tangguh Indonesia

Kehebatan Soekarno yang pernah memimpin bangsa ini menurun pada anaknya. Putri beliau yang bernama Megawati Soekarnoputri menjadi presiden kelima Indonesia sekaligus menjadi satu-satunya presiden perempuan dalam sejarah kemerdekaan perempuan. Kemunculan Megawati saat itu di saat Indonesia sedang membangun kembali keadaan di era reformasi. Apakah kamu tahu bahwa karir Megawati hingga bisa menjadi seorang presiden ternyata dilalui dengan tidak mudah? Jangan dikira hanya karena berstatus sebagai anak mantan presiden, jalan Megawati mulus dan lancar. Berikut ini kisah perjuangan Megawati yang bisa kamu jadikan inspirasi, terutama bagi kaum perempuan. Simak ya!

  

Masa kecil Megawati Soekarnoputri sebagai anak presiden pertama Indonesia

Dari namanya saja, sudah jelas bahwa Megawati Soekarnoputri merupakan anak dari presiden pertama Indonesia, Soekarno. Megawati lahir dari sang ibu, Fatmawati, pada 23 Januari 1947 di Yogyakarta. Beliau lahir pada saat Agresi Militer Belanda dan ayahnya sedang diasingkan ke Pulau Bangka. Masa kecil Megawati banyak dihabiskan di Istana Negara. Sejak SD hingga SMA beliau menempuh pendidikan di Perguruan Cikini. Banyak orang yang mengatakan bahwa Megawati benar-benar merupakan titisan Soekarno. Dibandingkan dengan saudara-saudaranya, Megawati lebih mengikuti jejak sang ayah. Perjuangan bersama sang ayah di masa kecil bisa jadi membuat Megawati menjadi sosok perempuan yang kuat, berani, dan teguh. Bisa jadi teladan buat perempuan masa kini, nih!

 

Tak pernah bisa menyelesaikan pendidikan kuliah, Megawati justru aktif di organisasi

Selepas lulus SMA pada tahun 1965, Megawati melanjutkan kuliah di Fakultas Pertanian Universitas Padjajaran, Bandung. Namun, hanya sekitar dua tahun saja Megawati berkuliah di situ. Situasi politik nasional yang sedang memanas kala itu membuatnya terpaksa tak melanjutkan kuliah. Megawati kemudian kembali berkuliah di Fakultas Psikologi, Universitas Indonesia setelah situasi politik mereda. Lagi-lagi Megawati tak mampu menyelesaikan studinya. Pada tahun 1970, sang ayah meninggal dunia dan Megawati sempat dirundung duka mendalam.

Salah satu alasan mengapa Megawati kerap gagal di perkuliahannya adalah karena keterlibatan beliau dengan organisasi. Sifat Soekarno tampaknya menurun pada diri Megawati ini. Tercatat sejak masih berkuliah di Universitas Padjajaran, Megawati aktif bergabung dalam Gerakan Mahasiswa Nasional Indonesia (GMNI). Di organisasi inilah jiwa perjuangan dan politik Megawati terbentuk. Meski harus dua kali gagal menyelesaikan kuliah, siapa sangka pilihan Megawati untuk berani berpolitik justru menjadi awal kesuksesan beliau kelak.

 

Awal berpolitik bersama Partai Demokrasi Indonesia (PDI) hingga berubah menjadi PDI Perjuangan

Perjuangan politik Megawati berbuah manis. Tahun 1986 menjadi tahun pertamanya terjun ke dunia politik. Kala itu beliau bergabung dengan Partai Demokrasi Indonesia. Di tahun tersebut, Megawati berhasil menjadi wakil ketua PDI cabang Jakarta Pusat. Tidak hanya itu, dalam jangka waktu setahun, Megawati sudah menjadi anggota DPR RI periode 1987-1992.

Selanjutnya, Megawati terpilih menjadi ketua umum PDI pada tahun 1993 secara aklamasi. Di masa tersebut, pemerintah era Soeharto tidak puas dengan hasil tersebut. Megawati akhirnya didongkel dalam Kongres PDI tahun 1996 di Surabaya. Posisi ketua umum PDI pun kembali jatuh pada Soerjadi. Tak puas dengan hasil Kongres Medan, Megawati tetap kekeuh pada jabatan ketua umum dan tetap menduduki kantor PDI di Jalan Diponegoro. Sebuah kerusuhan akhirnya terjadi ketika kantor tersebut diserang oleh kelompok Soerjadi. Beberapa pendukung Megawati tewas. Bahkan, kerusuhan ini berbuntut menjadi kerusuhan massal dan dikenal sebagai Peristiwa 27 Juli.

Langkah Megawati seolah tak terhenti. Beliau menempuh jalur hukum untuk menyelesaikan kasus tersebut, tetapi masih gagal. Dengan adanya dualisme kepemimpinan, Megawati pun memilih untuk mengadakan kongres dan mengganti nama PDI menjadi PDI Perjuangan pada tahun 1998. Dari partai inilah akhirnya perjuangan Megawati yang sesungguhnya dimulai. Berbekal keberanian melawan ketidakadilan, Megawati percaya partai bentukan beliau ini mampu menjadi partai yang layak diperhitungkan pada Pemilu 1999. Rasanya memang layak jika dikatakan bahwa Megawati termasuk salah satu perempuan berani yang dimiliki Indonesia.

 

Kemenangan PDI Perjuangan dalam Pemilu 1999 dan keberhasilan Megawati menjadi wakil presiden Indonesia

Harapan Megawati menemukan titik terang pada Pemilu 1999. Pemilu yang untuk pertama kalinya diikuti oleh banyak partai tersebut akhirnya membawa PDI Perjuangan memenangkan Pemilu dengan perolehan 33% suara. Meski tidak memanangkan suara secara telak, sosok Megawati menjadi perhatian khusus para tokoh politik kala itu. Pendukung Megawati kala itu mendesak agar beliau terpilih menjadi presiden Indonesia.

Namun, keinginan para pendukung Megawati tersebut tidak langsung terwujud. Pada Sidang Umum MPR, Megawati kalah tipis dalam pemilihan presiden saat bersaing dengan Gus Dur. Akhirnya, Gus Dur terpilih menjadi presiden Indonesia dan Megawati menjadi wakil presiden Indonesia. Untuk pertama kalinya seorang perempuan berhasil menjadi sosok yang diperhitungkan di dunia politik hingga mampu menjadi wakil presiden. Keberanian Megawati kala itu bisa jadi membuka peluang bagi perempuan lain untuk bisa menjadi pemimpin layaknya beliau.

 

Sejarah baru untuk Indonesia. Megawati menjadi presiden perempuan Indonesia.

Rasanya Megawati tidak perlu menunggu lima tahun untuk memperoleh kesempatan menjadi presiden. Gus Dur kala itu sedang tidak mendapat dukungan penuh lantaran dekrit pembubaran DPR yang dibuat beliau. Saat Gus Dur lengser 23 Juli 2001, Megawati pun naik menjadi presiden menggantikan posisi beliau. Indonesia kembali menorehkan sejarah baru ketika seorang perempuan bisa menjadi presiden. Megawati adalah perempuan pertama Indonesia yang bisa memimpin bangsa ini. Sosok Megawati menjadi bukti bahwa perempuan pun bisa menjadi pemimpin.

Megawati segera membentuk kabinet baru yang bernama Kabinet Gotong Royong. Pemilihan nama ini berdasarkan pertimbangan bahwa banyak partai yang berasal dari kabinet tersebut yang bersama membangun Indonesia. Megawati mengawali kepemimpinan Indonesia dengan beberapa masalah, antara lain banyak konflik daerah (Ambon, Poso, Sampang) dan konflik politik akibat lengsernya Gus Dur. Meski begitu, beberapa perubahan juga pernah dilakukan di masa kepemimpinan Megawati.

 

Perubahan di era kepemimpinan Megawati

Di bidang ekonomi, Megawati berhasil menaikkan pendapatan per kapita dan kurs rupiah juga sempat semakin membaik. Selain itu, kinerja ekspor dan impor naik cukup signifikan. Sebuah kebijakan privatisasi BUMN sempat Megawati laksanakan yang mana dalam kebijakan tesebut Megawati menjual perusahaan negara dengan tujuan melindungi perusahaan dari intervensi politik dan mengurangi beban negara. Hasilnya, pertumbuhan ekonomi Indonesia menjadi 4,1%.

Kiprah Megawati juga berlanjut di bidang sosial dan pendidikan. Departemen Pendidikan Nasional kala itu merekrut guru-guru untuk ditempatkan di daerah konflik Aceh. Di era Megawati pula, nama Daerah Istimewa Aceh berubah menjadi Nangroe Aceh Darussalam. Niat kuat Megawati untuk mempertahanka Aceh ditunjukkan dengan memberi pendidikan yang baik bagi anak-anak daerah konflik. Meski begitu, Indonesia sempat kehilangan Pulau Sipadan dan Ligitan yang masuk ke wilayah Malaysia di era Megawati.

Dua perubahan besar sempat Megawati buat. Pertama adalah pembentukan Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK). KPK ini dibuat karena Megawati kala itu melihat institusi jaksa dan polri yang terlalu kotor. Hanya saja, di masa kepemimpinan Megawati, KPK belum bekerja secara efektif. Perubahan besar kedua adalah memutuskan untuk melaksanakan Pemilu dua periode, yaitu pemilu legislatif dan pemilihan presiden langsung. Keterbukaan Megawati akan demokrasi sangat tampak di kebijakan ini. Untuk pertama kalinya sepanjang sejarah kemerdekaan Indonesia, rakyat Indonesia bisa memilih presiden secara langsung.

Peran Megawati dalam perkembangan Indonesia tidak bisa diabaikan. Meski ada pihak yang memandang Pemilu dua periode merupakan pemborosan, hal tersebut justru menjadi bukti bahwa demokrasi di Indonesia benar-benar terwujud.

 

Gagal terpilih lagi menjadi presiden, Megawati justru mencetak kader-kader pemimpin luar biasa

Inisiatif menyelenggarakan pemilihan presiden langsung ternyata tidak membawa Megawati kembali menjadi presiden di periode selanjutnya. Beliau kalah dari Susilo Bambang Yudhoyno yang merupakan mantan menteri koordinator di era pemerintahan Megawati. Susilo Bambang Yudhoyono pun resmi menjadi presiden Indonesia pada tahun 2004.

Meski tak lagi menjadi presiden, semangat Megawati untuk berjuang tidak berhenti. Beliau masih menjabat sebagai ketua umu PDI Perjuangan hingga sekarang. Tercatat beliau sukses menciptakan kader-kader PDI Perjuangan yang sukses menjadi bupati, walikota, gubernur, hingga presiden. Joko Widodo merupakan salah satu kader PDI Perjuangan yang dibilang sukses. Berawal dari walikota Solo, Joko Widodo berhasil menjadi gubernur DKI Jakarta bersama Basuki Tjahaja Purnama. Tak hanya sampai di situ, PDI Perjuangan kemudian mengusung Joko Widodo dan Jusuf Kalla sebagai pasangan capres dan cawapres pada pemilihan presiden tahun 2014. Pasangan tersebut pun sukses memenangi pemilihan presiden langsung.

Inilah bukti bahwa sikap perjuangan, kerja keras, keteguhan, serta gotong royong yang selalu dibawa Megawati mampu memberikan kontribusi buat bangsa ini. Inilah putri Soekarno yang tangguh dan mampu mewakili karakter perempuan untuk era sekarang.

 

Dari Megawati, kamu bisa belajar untuk menjadi pribadi yang pantang menyerah. Perjuangan memang tidak akan memberi hasil yang instan. Jangan pernah mengganggap dirimu tidak bisa melakukan banyak hal hanya karena kamu perempuan. Megawati membuktikkan bahwa perempuan pun layak untuk menjadi seorang pemimpin. Ya, Megawati adalah sosok perempuan tangguh yang dimiliki Indonesia.

Abdurrahman Wahid, Figur “Anak Pesantren” yang Bisa Jadi Presiden

Kamu ingat kata-kata “gitu aja kok repot”? Ya, kata-kata unik dan penuh sindiran tersebut pernah dilontarkan oleh satu presiden Indonesia, yaitu Abdurrahman Wahid. Abdurrahman Wahid, atau yang lebih dikenal dengan nama Gus Dur, menjadi salah satu presiden paling “unik” yang dimiliki Indonesia. Meski tidak terlalu lama menjabat presiden Indonesia, beliau melakukan perubahan yang cukup besar di masa reformasi pasca runtuhnya rezim Soeharto. Sosok “anak pesantren” ini bahkan juga begitu dihargai hingga ke luar negeri. Penasaran ingin lebih dekat dengan Gus Dur? Yuk, simak kisah perjalanan hidupnya, mulai dari sebagai anak pesantren hingga menjadi presiden Indonesia!

  

Masa kecil Gus Dur yang erat dengan dunia pesantren

Abdurrahman Wahid alias Gus Dur lahir di Jombang pada tanggal 7 September 1940. Gus Dur lahir dari keluarga yang terhormat dalam komunitas Muslim di Jawa Timur. Kakek dari ayahnya adalah K.H. Hasyim Asyari, yang merupakan pendiri Nahdlatul Ulama (NU). Sementara ayah Gus Dur, K.H. Wahid Hasyim, pernah menjabat sebagai menteri agama pada tahun 1949. Tak heran jika pada akhirnya Gus Dur tumbuh dengan ajaran Muslim yang begitu kental.

Gus Dur pindah ke Jakarta pada tahun 1944 saat sang ayah terpilih menjadi ketua Partai Masyumi. Sempat kembali lagi ke Jombang, akhirnya Gus Dur kembali mengikuti sang ayah ketika beliau terpilih menjadi menteri agama. Semasa di Jakarta itu, Gus Dur diberi banyak bacaan oleh K.H. Wahid Hasyim, antara lain koran, majalah, hingga buku non-Muslim. Bacaan-bacaan tersebut diberikan kepada Gus Dur agar bisa memperluas pengetahuan. Setelah K.H. Wahid Hasyim meninggal pada tahun 1953, sang ibu mengirimkan Gus Dur ke Yogyakarta untuk meneruskan pendidikan di Pondok Pesantren Krapyak sekaligus belajar di SMP. Gus Dur kemudian pergi ke Magelang pada tahun 1957 untuk menempuh pendidikan di Pesantren Tegalrejo. Kemudian, Gus Dur kembali ke Jombang, tepatnya ke Pesantren Tambakberas untuk melanjutkan pendidikan sekaligus bekerja sebagai guru.

 

Anak pesantren yang memilih melanjutkan pendidikan di luar negeri

Meski tumbuh besar di lingkungan pesantren, hal tersebut tak membuat Gus Dur berhenti belajar. Gus Dur menerima beasiswa dari Kementrian Agama pada tahun 1963 dan melanjutkan studi Islam di Universitas Al Azhar, Mesir. Gus Dur juga aktif menjadi jurnalis dalam Asosiasi Pelajar Indonesia. Tak hanya itu, Gus Dur dipekerjakan di Kedutaan Besar Indonesia. Beliau sempat diperintahkan melakukan investigasi terhadap pelajar universitas dan memberikan laporan kedudukan politik mereka pasca kejadian G30S/PKI.

Kesibukan di luar kegiatan belajar serta kondisi negara Indonesia yang sedang tidak menentu membuat Gus Dur sulit berkonsentrasi pada pendidikan beliau. Gus Dur dinyatakan gagal dan harus mengulang belajar. Untung saja ada beasiswa di Universitas Baghdad yang menyelamatkan nasib pendidikan beliau. Gus Dur belajar dari kesalahan sebelumnya dan akhirnya mampu menyelesaikan pendidikan pada tahun 1970.

 

Aktivitas selepas lulus dari luar negeri

Sekembalinya di Jakarta, Gus Dur bergabung ke Lembaga Penelitian, Pendidikan dan Penerangan Ekonomi dan Sosial (LP3ES), organisasi yang terdiri dari kaum intelektual muslim progresif dan sosial demokrat. Gus Dur kembali aktif menjadi kontributor di majalah bernama Prisma. Sempat ingin kembali bersekolah di luar negeri, akhirnya Gus Dur mengurungkan niatnya karena ingin fokus membangun pesantren di Indonesia. Kondisi pesantren yang makin memprihatinkan membuat Gus Dur ingin lebih lama berada di Indonesia.

Satu-satunya pekerjaan yang saat itu Gus Dur andalkan adalah menjadi seorang jurnalis. Beliau juga sering mendapatkan undangan untuk menghadiri seminar. Hanya saja pekerjaan jurnalis dirasa sulit untuk memenuhi kebutuhan hidup. Maka, Gus Dur pun mengajar di Pesantren Tambakberas dan guru kitab Al Hikam untuk menambah penghasilan. Lulusan dari universitas luar negeri dan memiliki kecerdasan di luar orang rata-rata tampaknya tak membuat Gus Dur lupa diri. Bahkan, pekerjaan beliau pun masih sangat erat hubungannya dengan masyarakat. Apalagi beliau memiliki cita-cita mulia untuk memperbaiki kondisi pesantren Indonesia.

 

Sempat berkali-kali menolak, akhirnya Gus Dur terlibat di dalam Nahdlatul Ulama

Saking ingin fokusnya ke pesantren, Gus Dur memang berkali-kali menolak ajakan kakeknya untuk bergabung di Nahdlatul Ulama (NU). Namun, akhirnya Gus Dur menerima tawaran ini dan memutuskan untuk pindah dari Jombang ke Jakarta. Kondisi NU yang saat itu tengah stagnan membuat Gus Dur membentuk Tim Tujuh guna mengerjakan isu reformasi dan mengihupkan kembali NU. Saat Soeharto terpilih kembali sebagai presiden untuk keempat kalinya di tahun 1983, Gus Dur bersama Tim Tujuh ditugaskan untuk menyiapkan respon NU. Soeharto menetapkan Pancasila sebagai ideologi negara dan hal itu dipandang baik oleh Gus Dur sehingga NU pun menerima ideologi tersebut.

Gus Dur terpilih menjadi ketua NU pada tahun 1984 dan kemudian menjadi anggota MPR Golkar. Saat itu tampak Gus Dur banyak memberi dukungan pada rezim pemerintahan. Meski begitu, Gus Dur juga sempat mengkritik pemerintah perihal pembangunan Waduk Kedungombo yang didanai Bank Dunia.

Gus Dur kembali terpilih menjadi ketua NU di tahun 1989. Kala itu, Gus Dur menolak ajakan Soeharto untuk bergabung dalam Ikatan Cendekiawan Muslim Indonesia (ICMI) yang merupakan organisasi bentukan Soeharto untuk menarik simpati Muslim akibat keterlibatannya dalam pertempuran politik denga ABRI. Bahkan, Gus Dur justru membentuk Forum Demokrasi yang terdiri dari berbagai intelektual dari komunitas religius dan sosial. Organisasi ini jelas tidak disetujui oleh pemerintah sehingga pemerintah pun menghentikan pertemuan yang diadakan Forum Demokrasi jelang Pemilu 1992.

Pada tahun 1994, Soeharto berusaha menghalangi terpilihnya kembali Gus Dur sebagai ketua NU. Namun, pada akhirnya Gus Dur justru kembali terpilih. Bahkan, Gus Dur bergabung bersama tokoh yang mengkritisi kebijakan pemerintahan Soeharto, antara lain Megawati Soekarnoputri dan Amien Rais pada tahun 1996. Kondisi kesehatan Gus Dur yang sempat memburuk di tahun 1998 membuat beliau tidak bisa ikut berjuang penuh di masa reformasi hingga akhirnya Soeharto mengundurkan diri pada Mei 1998.

Sekilas, sosok Gus Dur tampak mudah berubah. Sempat mendukung Soeharto, justru di kemudian hari menjadi melawan Soeharto. Pada dasarnya, Gus Dur hanya memiliki pendirian bahwa yang baik harus diikuti, yang tidak baik harus dilawan. Oleh sebab itu, ketika rezim Soeharto mulai menunjukkan tanda-tanda tidak sehat, Gus Dur pun berupaya untuk melakukan perlawanan.

 

Pembentukan PKB dan keterlibatan Gus Dur dalam dunia politik

Setelah jatuhnya rezim Soeharto, banyak partai baru mulai bermunculan. Gus Dur sempat diminta orang-orang NU untuk membuat sebuah partai. Pada Juli 1998, Gus Dur menyetujui pembentukan Partai Kebangkitan Bangsa (PKB). Meski didominasi oleh anggota NU, PKB sangat terbuka untuk semua orang yang ingin bergabung. Gus Dur bersama Megawati, Amien, dan Sultan Hamengkubowono X kembali menyatakan komitmen untuk reformasi pada November 1998. Akhirnya, pada tahun 1999, PKB resmi menyatakan Gus Dur sebagai kandidat pemilihan presiden. Berpolitik menjadi salah satu pilihan Gus Dur untuk melanjutkan perjuangan reformasi.

 

Gus Dur menjadi presiden pertama Indonesia yang berasal dari pesantren

PKB memenangkan 12% suara dalam Pemilu legislatif 1999. PDIP yang kala itu memperoleh 33% suara diperkirakan bisa membawa Megawati memenangkan pemilihan presiden pada sidang umum MPR. PDIP yang tidak memiliki kursi mayoritas penuh membuatnya harus beraliansi dengan PKB. Amien Rais pun membuat koalisi partai-partai Muslim dan mengusulkan Gus Dur sebagai kandidat pemilihan presiden.

Sidang MPR menolak pidato pertanggungjawaban Habibie pada Oktober 1999 dan membuat Habibie mundur dari jabatan presiden. MPR kembali kembali berkumpul untuk memilih presiden baru dan Gus Dur pun terpilih dengan 373 suara, unggul 20 suara dari Megawati Soekarnoputri. Megawati pun akhirnya terpilih menjadi wakil presiden mendampingi Gus Dur.

Setelah sebelumnya presiden Indonesia sempat berasal dari kaum cendekiawan dan militer, untuk pertama kalinya seorang anak pesantren berhasil menjadi presiden Indonesia. Meski berasal dari lingkungan pesantren, ternyata pola pikir Gus Dur yang terbuka mampu membawa beliau menjadi salah satu tokoh politik terbaik yang dimiliki Indonesia.

 

Keunikan Gus Dur selama menjabat sebagai presiden Indonesia

Semasa pemerintahan Gus Dur, banyak perubahan besar yang dianggap “nyentrik”. Pertama, beliau membubarkan Departemen Penerangan yang merupakan senjata rezim Soeharto serta Departemen Sosial yang dianggap korup. Kedua, Gus Dur melakukan pendekatan lembut pada Aceh dan Irian Jaya yang kala itu hendak memisahkan diri dari Indonesia. Ketiga, Gus Dur juga dikenal suka memecat menteri. Dua menteri yang dipecat kala itu adalah Jusuf Kalla (Menteri Negara Perindustrian dan Perdagangan) dan Laksamana Sukardi (Menteri Negara BUMN), keduanya dipecat dengan alasan dugaan kasus korupsi. Keempat, Gus Dur menjadi presiden pertama yang menjadikan Tahun Baru Imlek menjadi hari libur nasional. Umat Konghucu pun diperkenankan untuk beribadah di era Gus Dur.

Selain itu, Gus Dur dikenal sebagai presiden yang ceplas-ceplos dalam berbicara. Slogan “Gitu saja kok repot” seolah menjadi ciri khas yang tidak bisa lepas dari Gus Dur. Ketika beliau tidak menyukai sesuatu, beliau akan dengan tegas menunjukkannya. Tak heran jika sifat beliau yang apa adanya tersebut membuat Gus Dur kurang disukai oleh banyak pihak, bahkan oleh kalangan menteri sendiri. Mungkin sosok Gus Dur menjadi salah satu cerminan Indonesia yang memiliki banyak keragaman. Dalam kondisi tertentu, tidak semua pendapat harus sama. Gus Dur yang gemar mengeluarkan pendapat dengan keras rasanya belum siap diterima oleh sebagian masyarakat Indonesia.

 

Isu-isu buruk mulai muncul hingga akhirnya Gus Dur pun diturunkan dari jabatan presiden

Gus Dur sempat tersandung isu skandal yang diduga melibatkan beliau, yaitu skandal buloggate dan skandal bruneigate. Pada dua kasus tersebut, Gus Dur dituduh menyimpan uang untuk kepentingan dirinya sendiri. Isu inilah yang pada akhirnya menjadi salah satu senjata untuk menurunkan beliau dari jabatan sebagai presiden Indonesia.

Selain kedua isu tersebut, alasan kuat yang membuat Gus Dur harus segera dilengserkan adalah dikeluarkannya dekrit pembubaran DPR. Isi dekrit tersebut adalah: 1) Membubarkan MPR/DPR, 2) Mengembalikan kedaulatan ke tangan rakyat dengan mempercepat Pemilu satu tahun, dan 3) Membekukan Partai Golkar sebagai bentuk perlawanan terhadap sidang istimewa MPR. Namun, dekrit tersebut tidak mendapat dukungan sama sekali. Pada 23 Juli 2001, Gus Dur pun resmi dilengserkan dan diganti oleh Megawati Soekarnoputri.

Dekrit yang dikeluarkan Gus Dur memang agak kontroversial. Namun, coba kamu renungkan sejenak. Saat itu Gus Dur sering sekali menyindir kinerja anggota MPR dengan kalimat “Anggota MPR seperti anak TK”. Jika melihat kelakuan para wakil rakyat yang sering ketiduran saat sedang ada rapat atau sidang, mungkinkah sindiran Gus Dur tersebut ada benarnya? Anggap saja dekrit presiden yang sempat Gus Dur keluarkan sebagai pegingat para wakil rakyat agar bisa bekerja lebih baik ya.

 

Berbagai penghargaan yang berhasil diperoleh Gus Dur

Pasca pensiun, Gus Dur tetap aktif di PKB. Meski sempat terjadi perpecahan di tubuh PKB, Gus Dur kembali terpilih menjadi Ketua Dewan Penasihat PKB dan Alwi Shihab sebagai Ketua PKB. Gus Dur juga sempat mengajukan diri kembali menjadi presiden di Pemilu Presiden tahun 2004. Namun, beliau gagal karena tidak bisa lolos pemeriksaan medis. Pada Agustus 2005, Gus Dur memimpin Koalisi Nusantara Bangkit Bersatu yang mengkritik kebijakan pemerintahan Susilo Bambang Yudhoyono perihal pencabutan subsidi BBM. Tokoh yang bersama Gus Dur dalam koalisi tersebut adalah Try Sutrisno, Wiranto, Akbar Tanjung, dan Megawati.

Gus Dur meninggal pada 30 Desember 2009 karena komplikasi penyakit yang beliau derita. Beberapa penghargaan sempat beliau peroleh, antara lain Tasrif Award-AJI sebagai Pejuang Kebebasan Pers 2006, dinobatkan sebagai “Bapak Tionghoa” oleh Tokoh Tionghoa Semarang, penghargaan dari Simon Wiesenthal Center atas kepedulian Gus Dur pada penegakan HAM, dan penghargaan lainnya. Beberapa gelar doktor kehormatan juga beliau dapat dari berbagai universitas dunia.

 

Gus Dur adalah salah satu tokoh unik yang dimiliki Indonesia. Beberapa tokoh pun mengenang beliau sebagai sosok yang jujur dan apa adanya, meski perkataan beliau terdengar menyakitkan. Keterbukaan beliau pada beragam perbedaan telah membuka mata banyak orang Indonesia sehingga bisa menerima perbedaan-perbedaan tersebut seperti sekarang. Meski banyak yang kurang menyukai Gus Dur saat menjadi presiden, sosok beliau begitu dikenang sebagai selah satu presiden terbaik yang pernah dimiliki Indonesia.