Sutan Sjahrir, si “Pembangkang” yang Tak Letih Berjuang untuk Indonesia

Dari sekian banyak nama pahlawan yang dimiliki Indonesia, mungkin tak pernah terbesit dalam pikiranmu untuk menyebut nama Sutan Sjahrir. Pahlawan proklamasi tentu identik dengan Soekarno dan Hatta. Namun, tampaknya kamu perlu menengok juga sepak terjang Sutan Sjahrir. Beliau adalah perdana menteri pertama yang dimiliki Indonesia setelah merdeka. Mungkin beliau tidak hadir saat Soekarno dan Hatta memproklamasikan kemerdekaan Indonesia. Namun, Sutan Sjahrir juga merupakan aktor underground yang memiliki andil dalam kemerdekaan Indonesia. Bahkan, setelah Indonesia merdeka pun, Sutan Sjahrir memegang peranan yang penting.

Jika kamu mulai bertanya-tanya seperti apa sosok Sutan Sjahrir ini, simak saja ringkasan kisah hidupnya yang bisa kamu pelajari ini. Kamu akan menemukan  satu lagi tokoh hebat yang pernah dimiliki bangsa ini.

 

Dibesarkan dalam keluarga berkecukupan tak membuat Sutan Sjahir lupa diri

Sutan Sjahrir lahir pada tanggal 5 Maret 1909 di Padang Panjang. Beliau adalah anak dari Mohamad Rasad Gelar Maharajo Sutan dan Puti Siti Rabiah. Jabatan kepala jaksa yang dimiliki sang ayah membuat Sutan Sjahrir hidup dalam kecukupan. Beliau sukses lulus dari ELS, MULO, hingga AMS (setara SD, SMP, dan SMA). Rasa syukur atas kehidupan yang beliau miliki ditunjukkannya dengan kesungguhan selama bersekolah. Sutan Sjahrir adalah sosok yang cerdas dan aktif dalam berbagai kegiatan.

Di usia yang masih muda, yaitu 18 tahun, Sutan Sjahrir mendirikan sekolah untuk kaum miskin di Bandung yang diberi nama  Tjahja Volksuniversiteit (Universitas Rakyat Cahaya). Di usia itu juga Sutan Sjahrir dipercaya menjadi pengurus di Jong Indonesien yang kemudian berubah nama menjadi Pemuda Indonesia. Sutan Sjahrir bahkan berperan dalam terselenggaranya Kongres Pemuda II yang menghasilkan Sumpah Pemuda pada tahun 1928.

Rasanya tak banyak kata yang bisa menggambarkan Sutan Sjahrir muda ini selain cerdas, ulet, dermawan, hingga cinta tanah air. Coba bayangkan, bisakah anak muda zaman sekarang memiliki sifat layaknya Sutan Sjahrir ini?

 

Hampir sama seperti Mohammad Hatta, Sutan Sjahrir pun seorang aktivis organisasi saat kuliah di Belanda

Masih ingat kisah Mohammad Hatta yang mulai melek dunia politik ketika kuliah di Belanda? Begitu pula dengan Sutan Sjahrir ini. Sutan Sjahrir belajar buku dari tokoh-tokoh dunia seperti Friedrich Engels, Otto Bauer, Karl Marx, dan Rosa Luxemburg. Pengalaman beliau bekerja di sebuah perusahaan transportasi juga membuatnya sadar betapa begitu banyak ketidakadilan bagi kaum pekerja. Inilah yang kemudian membuat Sutan Sjahrir memiliki gagasan sosialis demokratis yang mengusung kesetaraan dan keadilan.

Sutan Sjahrir pun akhirnya bertemu dengan Mohammad Hatta yang saat itu menjadi pemimpin Perhimpunan Indonesia di Rotterdam. Bersama Mohammad Hatta, Sutan Sjahrir menerbitkan surat kabar Daulat Ra’jat untuk menyerukan pemberontakan kepada pemerintahan Belanda. Akhirnya, keduanya pun mendirikan PNI Baru yang memiliki cita-cita untuk menjadikan Indonesia merdeka seutuhnya.

Kecintaan Sutan Sjahrir akan bangsanya ternyata menular hingga saat beliau harus menempuh pendidikan di Belanda. Meski sudah tak lagi tinggal di tanah air, beliau tetap mengobarkan semangat kemerdekaan dan tidak henti untuk belajar. Lagi-lagi kamu dapat belajar sifat Sutan Sjahrir yang terpuji ini di usia beliau yang masih muda.

 

Lebih dulu kembali ke Batavia untuk meneruskan pergerakan PNI Baru

Jika Mohammad Hatta memilih untuk tetap di Belanda dulu sembari menyelesaikan studi, maka Sutan Sjahrir memiliki pemikiran yang lain. Beliau lebih dulu kembali ke Batavia dengan sebuah misi mulia, yaitu merekrut bibit-bibit muda untuk ikut serta dalam perjuangan kemerdekaan melalui PNI Baru. Kaderisasi yang dilakukan Sutan Sjahrir adalah dengan mengajarkan ide-ide Karl Marx yang mengusung kesejahteraan sosial, kesetaraan, serta kemandirian ekonomi. Gerakan bawah tanah yang dilakukan Sutan Sjahrir ini memang sempat membuat Belanda kewalahan.

Setelah Mohammad Hatta juga kembali dari Belanda, duet Sutan Sjahrir dan Mohammad Hatta menjadi semakin tak terpisahkan. Kaderisasi PNI Baru semakin berkembang hingga memiliki 1000 anggota. Meski dengan metode yang sangat jauh berbeda daripada PNI bentukan Soekarno, Sutan Sjahrir yakin bahwa dengan cara ini kemerdekaan Indonesia bisa didapat.

Berada di bawah bayang-bayang Mohammad Hatta tak menjadikan Sutan Sjahrir merasa rendah diri. Justru di saat sang senior sedang fokus pada pendidikannya, Sutan Sjahrir berinisiatif untuk lebih dulu menanam bibit muda yang akan menjadi senjata saat merebut kemerdekaan kelak. Di sini kamu melihat bahwa usia muda tak pernah menghambat seseorang untuk bisa berbuat hal yang lebih besar.

 

Pengasingan di Digul dan Banda Neira yang sempat membuat Sutan Sjahrir frustasi

Gerakan PNI Baru pun akhirnya benar-benar membuat Belanda gerah. Sutan Sjahrir pun akhirnya dipenjarakan di Penjara Glodok bersama rekan-rekan lain, termasuk Mohammad Hatta. Tak hanya itu, beliau pun akhirnya ikut diasingkan di Digul bersama Mohammad Hatta. Jika Mohammad Hatta yang introvert terlihat lebih santai dengan buku-bukunya selama di pengasingan, maka Sutan Sjahrir adalah seorang ekstrovert yang tidak terbiasa hidup jauh dari peradaban. Beberapa kali beliau tampak mencoba bertahan hidup dengan sering berbincang dan mengunjungi sesama rekan-rekan senasib di Digul. Mungkin dengan cara itulah beliau bisa bertahan hidup. Beliau juga sempat menyalurkan semangat hidupnya dengan mengajar anak-anak di Banda Neira. Hingga akhirnya pada tahun 1942, Sutan Sjahrir dibebaskan dari pengasingan saat Jepang sudah menduduki Indonesia.

Bisa dibayangkan, di tengah keputusasaan dalam menjalani hidup, sepercik semangat juang yang dimiliki Sutan Sjahrir bisa diubahnya menjadi kekuatan untuk melayani anak-anak di pengasingan. Pernahkah kamu melakukan hal bermanfaat untuk sesama ketika kamu berada di titik nadirmu?

 

Si “pembangkang” yang berbeda pandangan dengan Soekarno-Hatta saat masa pendudukan Jepang

Gaya berpikirnya yang kritis menyebabkan perbedaan pandangan muncul antara beliau dengan Soekarno dan Hatta. Jika kala itu Soekarno dan Hatta memilih untuk kooperatif dengan Jepang, maka Sjahrir memiliki pendapat lain. Bagi beliau, kemerdekaan masih bisa didapatkan tanpa harus “bersahabat” dengan Jepang. Maka, Sutan Sjahrir pun diam-diam membangun jaringan bawah tanah untuk tetap mengobarkan semangat kemerdekaan bagi para muda. Beliau aktif mengikuti perkembangan perang dunia lewat radio-radio yang bahkan mungkin tidak diketahui Soekarno maupun Hatta.

Mungkin di sinilah sosok Sjahrir menjadi tak secemerlang Soekarno ataupun Hatta. Namun jangan salah, gerakan bawah tanah yang dipelopori Sutan Sjahrir inilah yang kemudian menjadi awal mula munculnya pemuda-pemuda berani di balik peristiwa proklamasi kemerdekaan Indonesia. Keyakinan dan semangat Sutan Sjahrir ini patut ditiru anak muda sekarang. Berbeda haluan bukan berarti berbeda tujuan. Mempersiapkan jalan yang sama baiknya justru jauh lebih baik daripada hanya berdiam diri.

 

Pasca Indonesia merdeka, Sutan Sjahrir berperan penting dalam perjuangan pengakuan kedaulatan Indonesia di mata dunia

Proklamasi kemerdekaan Indonesia pun akhirnya digaungkan pada 17 Agustus 1945. Indonesia yang kala itu membutuhkan pengakuan kedaulatan internasional terselamatkan oleh sosok Sutan Sjahrir. Terpilih sebagai perdana menteri Indonesia, Sutan Sjahrir segera bergerak untuk mempertahankan kemerdekaan Indonesia.

Saat itu Indonesia memberikan bantuan kepada India yang sedang krisis pangan. Dari situlah Indonesia mulai memperoleh simpatik dari Inggris. Di luar dugaan, India pun akhirnya bisa lepas dari kolonial Inggris. Tak hanya itu, Jawaharlal Nehru yang menjabat sebagai perdana menteri India mengundang Indonesia di Konferensi Hubungan Negara-Negara Asia di New Delhi. Sutan Sjahrir pun cerdik memanfaatkan momen tersebut untuk melancarkan diplomasi untuk memperoleh pengakuan dunia atas Indonesia. Sutan Sjahrir juga berperan dalam perundingan Linggarjati bersama Belanda hingga akhirnya Indonesia resmi memperoleh kedaulatan dari hasil Konferensi Meja Bundar yang diikuti Mohammad Hatta.

Terlihat bahwa Sutan Sjahrir adalah sosok pejuang diplomasi. Beliau tidak menggunakan senjata atau peperangan dalam upaya mempertahan kemerdekaan. Segala hal yang dilakukan Sutan Sjahrir selalu dipelajari terlebih dahulu dengan bekal ilmu dan pengalaman. Sungguh pantas bila Sutan Sjahrir disebut sebagai tokoh cerdik Indonesia.

 

Perlahan tak lagi menjadi bagian politik Indonesia, Sutan Sjahrir pun meninggal saat menjalani pengasingan

Sayangnya, karier Sutan Sjahrir sebagai perdana menteri Indonesia pun akhirnya meredup. Bahkan, hubungan beliau dengan presiden Soekarno pun menjadi tidak baik. Partai Sosialis Indonesia yang dibentuknya gagal dalam Pemilu 1955. Nama Sutan Sjahrir pun kian meredup.

Pada tahun 1962, terjadi peristiwa percobaan pembunuhan pada presiden Soekarno. Dalam peristiwa tersebut, Sutan Sjahrir dituduh sebagai dalangnya. Beliau pun akhirnya dijadikan tahanan di Madiun dan Kebayoran Baru. Sutan Sjahrir pun mengalami penurunan fisik yang menyebabkan beliau terkena serangan stroke. Karena kesehatan yang makin memburuk, beliau dibawa ke Swiss untuk pengobatan. Namun, pada tahun 1966, Sutan Sjahrir meninggal dengan masih berstatus tahanan. Untuk mengenang jasa beliau, gelar pahlawan nasional pun diberikan Soekarno kepada Sutan Sjahrir.

 

Mungkin sosok Sutan Sjahrir cocok untuk dijadikan panutan bagi anak generasi zaman now yang cenderung sedang berapi-api dalam meraih impian. Jika Sutan Sjahrir yang sejak muda saja bisa membuat perubahan untuk bangsa ini, bukan tak mungkin kamu juga bisa melakukannya di masa kini.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *