Mohammad Natsir, Sosok Muslim Teladan yang Berjiwa Nasionalis

Sejarah Indonesia tidak bisa lepas dari salah satu sosok iinspiratif ini. Beliau adalah Mohammad Natsir. Selain dikenal sebagai mantan perdana menteri Indonesia, Mohammad Natsir juga merupakan salah satu tokoh Muslim yang disegani di Indonesia. Bahkan, pendalaman beliau mengenai ajaran Islam dalam bernegara menjadi panutan bagi beberapa partai Islam yang kemudian berdiri. Meski begitu erat dengan ajaran Islam, bukan berarti Mohammad Natsir tak memiliki peran apapun di masa kemerdekaan Indonesia. Mungkin nama beliau tidak terlalu sering disebut dalam sejarah layaknya Soekarno, Mohammad Hatta, maupun Sutan Sjahrir. Namun, kamu perlu tahu bahwa Mohammad Natsir juga menjadi aktor penting dalam deretan peristiwa yang dialami Indonesia pasca kemerdekaan. Simak dulu yuk, kisah salah seorang tokoh Muslim yang paling disegani ini!

 

Akrab dengan ajaran Islam sejak remaja

Mohammad Natsir lahir pada tanggal 17 Juli 1908 di Solok, Sumatera Barat. Orang tua beliau bernama Mohammad Idris Sutan Saripado dan Khadijah. Mohammad Nastsir sempat mengenyam pendidikan di Sekolah Rakyat sebelum akhirnya pindah ke HIS. Pada tahun 1923, beliau melanjutkan pendidikan di MULO Padang. Di situ Mohammad Natsir bergabung dalam beberapa organisasi, seperti Pandu Nationale Islamietische Pavinderij dan Jong Islamieten Bond. Ketua Jong Islamieten Bond  dijabat beliau dari tahun 1928-1932. Setamat dari MULO, Mohammad Natsir pindah ke Bandung dan melanjutkan ke AMS dan lulus pada tahun 1930.

Ilmu tentang agama Islam semakin beliau perdalam saat di Bandung. Beberapa ilmu yang beliau pelajari antara lain tafsir Al-Quran, hukum Islam, dan dialektika. Mohammad Natsir pun sempat beguru pada Ahmad Hassan yang kemudian menjadi tokoh organisasi Islam bernama Persatuan Islam. Baik selama di Sumatera maupun Bandung, Mohammad Natsir memang sudah dekat dengan ajaran Islam. Nilai-nilai luhur Islam senantiasa menjadi pedoman beliau dalam hidup, bahkan mengenai kemerdekaan Indonesia kelak.

 

Keterlibatan Mohammad Natsir dalam politik melalui partai dan organisasi Islam

Mohammad Natsir dikenal memiliki kedekatan dengan beberapa tokoh Islam, salah satunya adalah Agus Salim. Sepanjang tahun 1930-an, bersama Agus Salim, beliau kerap bertukar pikiran tentang hubungan Islam dan negara yang kelak akan merdeka. Selain itu, keaktifan Mohammad Natsir di Partai Islam Indonesia membuatnya terpilih menjadi pimpinan partai tersebut untuk cabang di Bandung periode 1940-1942.

Mohammad Natsir bergabung dalam Majelis Islam A’la Indonesia selama masa kependudukan Jepang. Nama Majelis Islam A’la Indonesia kemudian berubah menjadi Majelis Syuro Muslimin Indonesia atau disingkat Masyumi. Saat itu Masyumi belum menjadi sebuah partai, melainkan hanya wadah bagi organisasi Islam yang diizinkan kala itu, yaitu Nahdlatul Ulama, Muhammadiyah, Persatuan Umat Islam, dan Persatuan Umat Islam Indonesia. Pada tahun 1945, Mohammad Natsir terpilih menjadi ketua Masyumi. Jabatan tersebut beliau pegang sampai pada tahun 1960 Masyumi dibubarkan oleh Soekarno.

Tumbuh dengan ajaran Islam sejak muda tidak membuat Mohammad Natsir menjadi anti ke-modern-an. Kala itu beliau percaya bahwa dalam Islam mengenal dua hal, yakni haq (baik) dan bathil (buruk). Segala hal dari Barat yang memang baik sudah sewajarnya diterima. Segala hal yang buruk lah yang harus dijauhkan. Jadi, bukan budaya “barat” atau “timur” yang membedakan sebuah perbuatan baik atau tidak. Keterbukaan pola pikir beliaulah yang membuat Mohammad Natsir bermimpi memadukan konsep pendidikan modern dengan unsur agama Islam di dalamnya. Bahkan, agama Islam inilah yang kelak ingin beliau bawa sebagai landasan bernegara.

 

Peran beliau pasca kemerdekaan Indonesia

Setelah Indonesia resmi memproklamasikan kemerdekaan pada 17 Agustus 1945, Mohammad Natsir resmi menjadi anggota Komite Nasional Indonesia Pusat (KNIP). Selain itu, beliau juga menjabat sebagai menteri penerangan mulai tahun 1946 hingga 1949. Mohammad Natsir merupakan salah satu tokoh yang tidak setuju dengan hasil keputusan Konferensi Meja Bundar (KMB) karena kala itu Irian Barat tidak dimasukkan ke dalam Republik Indonesia Serikat (RIS). Mohammad Hatta kemudian menugaskan Mohammad Natsir bersama Sri Sultan Hamengkubuwono IX melakukan lobi untuk menyelesaikan krisis di berbagai daerah yang ingin membubarkan diri dengan Indonesia. Maka, pada tanggal 3 April 1950, Mohammad Natsir mengajukan Mosi Integral Natsir dalam sidang pleno parlemen. Mosi tersebut berisi gagasan bersatunya kembali sistem pemerintahan Indonesia dalam sebuah kesatuan. Mosi ini akhirnya membawa bangsa Indonesia, yang sebelumnya berbentuk serikat, kembali dalam Negara Kesatuan Republik Indonesia. Keberhasilan Mohammad Natsir tersebut membuat beliau diangkat menjadi perdana menteri oleh Soekarno pada tahun 1950.

Namun, hubungan Mohammad Natsir dan Soekarno juga pernah memburuk karena ada perselisihan paham. Soekarno yang kala itu erat dengan paham nasionalisme kerap bergesekan dengan Mohammad Natsir yang cenderung mengajukan Islam sebagai dasar negara. Saat itu, Mohammad Natsir beranggapan bahwa Islam memiliki nilai-nilai sempurna bagi kehidupan bernegara dan dapat menjamin keragaman hidup antar berbagai golongan dengan penuh toleransi. Mohammad Natsir sendiri tidak menuntut Indonesia harus menjadi negara Islam, yang terpenting adalah berjalannya hukum Tuhan sebagai bentuk dari negara yang berdasarkan agama Islam. Singkatnya, negara hanya digunakan sebagai alat untuk mewujudkan nilai-nilai Islam. Sementara itu, Soekarno kerap mengkritik Islam sebagai ideologi. Perbedaan pandangan mengenai negara inilah yang akhirnya membuat Mohammad Natsir memutuskan mundur dari jabatan perdana menteri pada tahun 1951.

 

Sempat dipenjarakan di era demokrasi terpimpin dan kembali berkontribusi di masa Orde Baru

Perseteruan Mohammad Natsir dengan Soekarno tampaknya berlanjut di era demokrasi terpimpin. Mohammad Natsir kemudian bergabung dalam Pemerintah Revolusioner Republik Indonesia (PRRI). Saat itu PRRI menuntut adanya otonomi daerah yang lebih luas. Di mata Soekarno, hal ini dipandang sebagai salah satu pemberontakan. Mohammad Natsir pun ditangkap dan dipenjarakan di Malang pada tahun 1962 dan beliau baru dibebaskan saat masa Orde Baru dimulai di tahun 1966.

Lepas dari penjara tak membuat kecintaan Mohammad Natsir pada Islam berkurang. Beliau kembali aktif pada beberapa organisasi, seperti Majelis Ta’sisi Rabitah Alam Islami dan Majelis Ala al-Alami lil Masjid yang berpusat di Mekkah, Pusat Studi Islam Oxford (Oxford Centre for Islamic Studies) di Inggris, dan Liga Muslim Sedunia (World Muslim Congress) di Karachi, Pakistan. Selain itu, beliau membentuk Yayasan Dewan Dakwah Islamiyah Indonesia.

Pada awal masa Orde Baru inilah kontribusi Mohammad Natsir begitu besar untuk Indonesia. Kala itu beliau membantu mencairkan hubungan Indonesia dengan Malaysia melalui pengiriman nota kepada Tuanku Abdul Rahman. Tak hanya itu, Mohammad Natsir juga mengontak pemerintah Kuwait agar bersedia menanam modal di Indonesia. Berkat jasa beliau inilah, pelan-pelan hubungan Indonesia dengan beberapa negara pun kembali membaik pasca tragedi G30S/PKI.

 

Semasa hidup, Mohammad Natsir aktif menulis tentang ajaran Islam

Mohammad Natsir sudah akrab dengan dunia kepenulisan sejak masih duduk di AMS. Pada tahun 1929 hingga 1935, beliau mendirikan surat kabar bernama Pembela Islam. Selain itu, beliau aktif menulis tentang padangan Islam di berbagai surat kabar, misalnya Pandji Islam, Pedoman Masyarakat, dan Al-Manar. Karya-karya Mohammad Natsir selalu seputar pemikiran Islam, budaya, hingga hubungan Islam dengan politik. Mohammad Natsir pun dikenal sebagai salah satu tokoh Muslim yang disegani hingga sekarang. Keteguhan beliau pada ajaran Islam dianggap sebagai teladan yang tepat untuk hidup bernegara yang berasaskan Pancasila.

 

Kepedulian akan pendidikan membuat beliau mendirikan perguruan tinggi Islam

Tak hanya berpolitik, Mohammad Natsir juga peduli pada pendidikan Indonesia. Beliau memiliki cita-cita membangun pendidikan Indonesia dengan nilai-nilai akhlak dari Islam. Pada tahun 1932, Mohammad Natsir juga memimpin Lembaga Pendidikan Islam yang dikena dengan nama Pendis. Kelak, Pendis inilah yang menjadi cikal bakal lahirnya Universitas Islam Bandung (Unisba). Selanjutnya, Masyumi mengadakan sebuah rapat pada tahun 1945 yang menghasilkan dua keputusan. Pertama, membentuk barisan untuk melawan sekutu. Sedangkan yang kedua adalah mendirikan perguruan tinggi Islam bernama Sekolah Tinggi Islam (STI). Tujuan didirikannya STI ini adalah untuk memberikan pendidikan tinggi tentang agama Islam agar kelak dapat bermanfaat bagi masyarakat. Saat itu STI diketuai oleh Mohammad Hatta dengan Mohammad Natsir sebagai wakilnya. Seiring perkembangan yang ada, nama STI pun berubah menjadi Universitas Islam Indonesia yang kini dikenal berlokasi di Yogyakarta.

 

Sempat dituduh pemberontak di negeri sendiri, Mohammad Natsir justru banyak dihargai di luar negeri

Mohammad Natsir dikenal terlalu sering berselisih dengan presiden, baik Soekarno maupun Soeharto. Perbedaan pandangan tentang politik membuat keduanya sering menganggap Mohammad Natsir adalah sebuah ancaman yang bisa mengubah ideologi negara. Namun, siapa sangka justru Mohammad Natsir sangat dikenal di negara-negara lain. Sosok Mohammad Natsir dianggap sebagai politisi yang paling menonjol untuk mendukung pembaruan Islam. Beliau sempat menerima penghargaan bintang Nican Istikhar dari Raja Tunisia atas jasanya membantu perjuangan kemerdekaan Afrika Utara. Pada tahun 1980, penghargaan lain yang didapat adalah Jaa-izatul Malik Faisal al-Alamiyah. Di tahun yang sama pula Mohammad Natsir memperoleh penghargaan Faisal Award dari Raja Fahd di Arab Saudi. Puncaknya, beliau mendapat dua gelar kehormatan pada tahun 1991 di Malaysia. Pertama adalah di bidang sastra dari Universitas Kebangsaan Malaysia. Kedua adalah dalam bidang pemikiran Islam dari Universitas Sains Malaysia.

Mohammad Natsir meninggal pada tanggal 6 Februari 1993 di Jakarta. Beliau mendapat gelar pahlawan Indonesia setelah 15 tahun kematian beliau, yaitu pada tanggal 10 November 2008. Di masa kepemimpinan B.J. Habibie, Mohammad Natsir juga sempat mendapat penghargaan Bintang Republik Indonesia Adipradana. Kejadian yang ironi ini semoga bisa menjadi pelajaran berharga bagi Indonesia. Hingga sekarang memang banyak anak bangsa yang sulit mendapat pengakuan di Indonesia, tapi justru bisa lebih dihargai di luar negeri.

 

Akhir-akhir ini begitu banyak peristiwa di Indonesia yang sering mengadu domba antar umat beragama. Sosok Mohammad Natsir ini mengingatkan kita bahwa keberagaman apapun yang dimiliki bangsa ini, jangan pernah lupa pada bangsa ini berbentuk Negara Kesatuan Republik Indonesia. Jangan sampai NKRI yang pernah diusahakan mati-matian oleh Mohammad Natsir justru mudah terpecah belah hanya karena isu-isu keagamaan.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *