Category Archives: Short bio

Tri Rismaharini, Sosok Wali Kota Perempuan yang Tegas dan Penuh Prestasi

Tri Rismaharini menjadi wali kota Surabaya yang dalam beberapa tahun belakang ini menjadi sering disorot karena berbagai prestasi yang beliau ukir. Tidak banyak pemimpin daerah yang bisa sukses seperti Risma, maka wajar rasanya jika kemudian banyak orang yang meniru keteladanan Risma dalam memimpin daerah. Di tangan Risma, Surabaya bisa berubah menjadi kota yang lebih rapi dan baik. Pemerintahan yang lebih bersih dan mengayomi masyarakat menjadi prinsip Risma selama menjadi wali kota. Jika kamu penasaran dengan sepak terjang pemimpin perempuan pertama yang dimiliki Surabaya ini, simak yuk kisah perjalanan Tri Rismaharini berikut!

  

Masa kecil dan pendidikan Tri Rismaharini

Tri Rismaharini atau yang lebih dikenal dengan nama Risma lahir di Kediri pada tanggal 20 November 1961. Beliau anak dari pasangan M. Chuzuzaini dan Siti Muajiatun. Ayah Risma adalah seorang PNS di kantor pajak. Kehidupan Risma di masa kecil terbilang sangat sederhana. Sosok ayah yang bekerja sebagai PNS menginspirasi Risma untuk bisa seperti sang ayah.

Risma tercatat menempuh pendidikan SD di Kediri, kemudian beliau melanjutkan SMP hingga kuliah di Surabaya. Semasa SMA, Risma pernah menjadi pelari andalan kota Surabaya. Selepas lulus SMA, Risma melanjutkan kuliah di Institut Teknologi Sepuluh November Surabaya dan mengambil jurusan arsitek. Tidak hanya sampai di situ, Risma juga kemudian kembali melanjutkan studi S2 di kampus yang sama dengan jurusan Manajemen Pembangunan Kota.

 

Karier sebagai PNS yang patut diteladani

Karier Risma berlabuh sebagai PNS seperti sang ayah. Bidang yang diambil pun tidak jauh dari pendidikan beliau di masa kuliah. Beberapa jabatan pernah Risma emban, antara lain Kepala Seksi Tata Ruang dan Tata Guna Tanah Badan Perencanaan Pembangunan Kota Surabaya, Kepala Seksi Pendataan dan Penyuluhan Dinas Bangunan Kota Surabaya, dan Kepala Cabang Dinas Pertamanan Kota Surabaya. Karier Risma makin meroket ketika bisa menjadi Kepala Bagian Bina Pembangunan, Kepala Bagian Penelitian dan Pengembangan, dan Kepala Dinas Kebersihan dan Pertamanan Kota Surabaya. Puncaknya, beliau berhasil menjadi Kepala Badan Perencanaan Pembangunan Kota Surabaya pada tahun 2008.

Kesungguhan Risma dalam berkarier bisa dilihat dari pencapaian beliau yang tidak biasa. Mungkin tidak banyak PNS yang bisa seperti Risma ini. Di tengah banyaknya pandangan negatif terhadap profesi PNS, sosok Risma bisa membuktikan bahwa bekerja sebagai PNS pun bisa sebagai salah satu bentuk mengabdi pada masyarakat.

 

Keterlibatan Risma dalam dunia politik

Kiprah baik Risma di dunia biroktasi mampu membuat PDI Perjuangan tertarik mencalonkan Risma sebagai wali kota Surabaya. Risma memang dikenal sebagai sosok yang bekerja keras, ulet, ceplas-ceplos, dan selalu memerhatikan wong cilik. Sebelumnya, Risma juga menangani penanganan kota Surabaya saat menjabat sebagai Kepala Dinas Kebersihan dan Pertamanan Kota Surabaya. Tidak heran jika kemudian warga Surabaya begitu jatuh cinta pada sosok Risma ini. Ketika PDI Perjuangan mengusung beliau sebagai calon wali kota, sudah pasti banyak warga Surabaya yang mendukung. Dalam partai, Risma dikenal juga cukup dekat dengan Megawati. Risma dipercaya sebagai juru kampanye nasional di wilayah Indonesia Timur, bahkan hingga Papua. Tidak hanya itu, Megawati juga pernah mengatakan bahwa beliau tidak menyesal memilih Risma sebagai kader dari PDI Perjuangan yang mewakili partai sebagai pemimpin daerah.

Keuletan, kesetiaan, dan kegigihan Risma dalam pekerjaan beliau ternyata membawa kepercayaan penuh dari warga Surabaya. Dari Risma, kamu bisa belajar bahwa ternyata sosok calon pemimpin pun memang harus yang bisa mengerti masyarakat dan berkontribusi untuk kotanya.

 

Perempuan pertama yang bisa menjadi wali kota Surabaya sepanjang sejarah

Akhirnya, Risma pun terpilih menjadi wali kota Surabaya pada usia 49 tahun untuk periode 2010-2015. Saat itu Risma bersama Bambang Dwi Hartono memenangkan 358.187 suara atau sekitar 38,53% dari total suara keseluruhan. Sejarah baru pun terukir. Risma menjadi wali kota perempuan pertama di Surabaya. Namun, Bambang Dwi Hartono mengundurkan diri dari jabatan wakil wali kota di tahun 2013 karena hendak mengikuti pemilihan gubernur Jawa Timur. Posisi wakil wali kota kemudian digantikan oleh Wisnu Sakti Buana.

Pada masa kepempinan Risma, kota Surabaya dirombak total. Berbekal pengalaman di Badan Perencanaan Pembangunan Kota Surabaya, Risma berhasil membuat kota Surabaya menjadi lebih rapi, asri, dan segar. Beberapa taman kota juga mulai dibangun, misalnya konsep all in one entertainment park yang dilakukan di taman bangkul di Jalan Darmo. Risma juga membangun jalur pedistrian di sepanjang Jalan Basuki Rahmat hingga di Jalan Tunjungan, Blauran, dan Panglima Sudirman. Taman-taman yang dulu mati kini justru menjadi tempat wajib bagi warga Surabaya untuk menghabiskan waktu bersama keluarga dan teman.

Risma juga membuat dobrakan untuk sistem pelayanan masyarakat. Di Suarabya, beliau menerapkan sistem respon cepat (central clearing house) yang terinspirasi dari respon pelanggan cepat dari sebuah restoran siap saji. Warga Surabaya bisa menyampaikan keluhan dan saran lewat telepon, sms, email, fax, hingga media sosial. Tidak sampai di situ, Risma juga membangun Broadband Learning Center untuk memberi pelatihan bagi petani agar terkoneksi dengan sistem pelayanan daring. Melalui sistem ini, petani dan pekerja sektor lain menjadi lebih mudah membangun akses pemasaran produk.

Bisa dibilang, Risma ini termasuk wali kota zaman now. Beliau mampu merangkul masyarakat tidak hanya lewat tatap muka langsung, melainkan juga menggunakan fasilitas internet yang makin canggih dan lebih dekat dengan anak muda. Risma tidak gaptek akan perkembangan zaman. Tidak banyak loh kepala daerah yang bisa seperti ini. Kepeduliaan beliau pada penataan kota juga berhasil membuat Surabaya menjadi kota yang lebih rapi. Dari hasil kerja keras beliau, bisa dilihat kalau Risma ini selalu bersungguh-sungguh pada pekerjaan dan mengemban amanah masyarakat Surabaya dengan baik.

 

Prestasi Risma sepanjang menjabat sebagai wali kota Surabaya

Surabaya berhasil memperoleh piala Adipura Kencana empat kali berturut-turut di tahun 2011 hingga 2014 untuk kategori kota metropolitan. Selain itu, pada tahun 2016 berhasil memperoleh piala Adipura Paripurna. Surabaya juga berhasil menjadi kota terbaik partisipasinya se-Asia Pasifik versi Citynet pada tahun 2012 karena keberhasilan pemerintah kota dan partisipasi masyarakat dalam mengelola lingkungan. Pada tahun 2013, Surabaya lagi-lagi berprestasi dengan memperoleh dua penghargaan pada Future Government Awards, yaitu data center dan inklusi digital. Penghargaan lain yang diterima Surabaya antara lain The 2013 Asian Townscape Award dari Perserikatan Bangsa-Bangsa untuk Taman Bangkul sebagai taman terbaik se-Asia dan penghargaan internasional Future City versi FutureGov untuk sistem pelayanan kemudahan investasi kota Surabaya.

Segudang prestasi Surabaya juga berpengaruh pada prestasi individu yang didapat Risma. Risma pernah terpilih sebagai Mayor of the Month (wali kota terbaik) pada Februari 2014. Beliau kembali dinobatkan sebagai wali kota terbaik ketiga dunia versi World City Mayors Foundation pada Februari 2015. Pengahargaan ini diberikan atas figur enerjik dan keuletan Risma dalam memimpin Surabaya. Risma dikenal menjadi sosok yang berani menutup kawasan lokalisasi terbesar di Asia Tenggara, Gang Dolly, dan respon cepatnya saat menangani korban insiden Air Asia QZ8501. Selain itu, Risma juga berhasil terpilih menjadi 50 tokoh paling berpengaruh di dunia versi majalah Fortune pada Maret 2015. Atas keberhasilan Risma dalam membangun Surabaya, presiden Jokowi memberikan tanda kehormatan Bintang Jasa Utama pada tanggal 13 Agustus 2015 bersama 14 tokoh lainnya. Keberhasilan Risma dalam memerangi praktik korupsi di Surabaya juga membawa beliau mendapat penghargaan anti korupsi dari Bung Hatta Anti Corruption Award.

Wah, tidak hanya membuat Surabaya menjadi salah satu ibukota lebih baik, kerja keras Risma mampu membawa prestasi tersendiri bagi Surabaya. Sosok tegas beliau juga dinilai mampu menginspirasi anak-anak muda Indonesia. Indonesia pasti bangga memiliki salah satu pemimpin daerah seperti Risma ini!

 

Tri Rismaharini bukan hanya menjadi figur pemimpin yang sukses membangun daerahnya. Dari Risma, kamu bisa belajar ketekunan dan kegigihan dalam setiap pekerjaan. Lihat saja, setiap kesungguhan Risma nyatanya mampu membawa hasil yang baik. Semoga kisah beliau bisa menginspirasi kamu yah!

Chairul Tanjung, Lulusan Kedokteran Gigi yang Sukses Menjadi Pengusaha

Satu lagi sosok pengusaha yang cukup terkenal di Indonesia. Beliau adalah Chairul Tanjung. Pada tahun 2010, majalah Forbes menempatkan Chairul sebagai salah satu orang terkaya di dunia dengan berada di urutan ke-937. Satu tahun kemudian, total kekayaan Chairul meningkat dua kali lipat. Hingga akhirnya pada tahun 2014, kekayaan Chairul mencapai 4 miliar dollar Amerika Serikat dan menempati urutan ke-375 orang terkaya di dunia. Mungkin kamu hanya bisa melongo melihat angka-angka tadi. Lalu, muncul pertanyaan besar di benak kamu: bagaimana bisa Chairul sekaya itu? Kesuksesan Chairul hingga bisa menjadi salah satu orang terkaya di dunia tentu didapat dari hasil kerja keras beliau. Kalau penasaran, simak saja kisah perjalanan bisnis Chairul Tanjung berikut ini!

 

 Masa kecil dan pendidikan Chairul Tanjung

Chairul Tanjung lahir di Jakarta, 16 Juni 1952. Beliau lahir dari pasangan Abdul Ghafar Tanjung dan Halimah. Sang ayah merupakan seorang wartawan di masa orde lama yang menerbitkan sebuah surat kabar. Namun, usaha sang ayah terpaksa ditutup di era orde baru karena bersebrangan secara politik dengan Soeharto kala  itu. Chairul beserta keluarga terpaksa pindah ke kamar losmen kecil karena rumah mereka dijual.

Meski sempat merasakan hidup susah, Chairul beruntung karena masih bisa menamatkan pendidikan dengan baik. Tercatat, Chairul pernah bersekolah di SD dan SMP Van Lith. Chairul kemudian melanjutkan sekolah di SMA Negeri 1 Boedi Oetomo Jakarta. Selepas lulus SMA, Chairul berkuliah di fakultas kedokteran gigi di Universitas Indonesia.

 

Bakat berdagang sejak duduk di bangku kuliah

Kehidupan keluarga Chairul yang pas-pasan membuat Chairul harus membantu keluarga agar bisa memenuhi kebutuhan perkuliahan. Untuk itulah, Chairul sudah memulai berbisnis sejak kuliah. Chairul berjualan buku kuliah stensilan dan kaos di kampus. Selain itu, Chairul juga membuka jasa fotokopi di kampus. Meski harus berjualan sambil kuliah, Chairul tidak lalai pada pendidikan. Bahkan, Chairul mendapat gelar mahasiswa teladan tingkat nasional 1984-1985. Chairul juga berhasil menyelesaikan kuliah di tahun 1987.

Berdagang dan tetap berprestasi menjadi teladan dari Chairul yang bisa kamu contoh. Meski harus membagi fokusnya pada dua hal, Chairul bisa bertanggung jawab untuk tetap mengutamakan pendidikan. Tentu tidak banyak anak muda yang bisa seperti Chairul ini ya!

 

Awal karier bisnis Chairul Tanjung

Di masa kuliah, Chairul juga pernah mendirikan sebuah toko peralatan kedokteran dan laboratorium di bilangan Senen, Jakarta Pusat. Hanya saja, bisnis tersebut ternyata bangkrut. Lulus dari kuliah, Chairul mendirikan PT Pariarti Shindutama bersama tiga rekan beliau. Perusahaan tersebut memproduksi sepatu anak-anak untuk ekspor. Kali ini sebuah keberuntungan datang. Perusahaan yang baru berdiri tersebut langsung mendapatkan pesanan sebanyak 160 ribu pasang sepatu dari Italia. Di tengah perjalanan perusahaan tersebut, Chairul menemukan perbedaan visi dengan ketiga rekan beliau. Chairul lalu memutuskan untuk mundur dari perusahaan tersebut.

Tidak ada pengusaha yang langsung sukses dalam berbisnis. Chairul juga pernah mengalami susahnya berjualan sejak kuliah. Bahkan, Chairul harus gagal dalam usaha besar pertama yang beliau miliki. Dari Chairul, kamu belajar bahwa kegagalan adalah pelajaran terbaik untuk memulai kesuksesan.

 

Chairul Tanjung mulai mendirikan usaha sendiri

Setelah memilih berpisah dari rekan-rekan, Chairul mendirikan usaha sendiri. Beliau berfokus pada tiga bisnis, yaitu keuangan, properti, dan multimedia.  Perusahaan tersebut dinamakan Para Group. Perusahaan ini memiliki Para Inti Holdindo sebagai father holding company dengan beberapa sub holding, yaitu Para Global Investindo (bisnis keuangan), Para Inti Investindo (media dan investasi), serta Para Inti Propertindo (properti).

Di bidang properti dan investasi, terdapat beberapa perusahaan, antara lain Mega Indah Propertindo, Batam Indah Propertindo, dan Para Bandung Propertindo. Sementara untuk penyiaran dan multimedia, terdapat Trans TV, Trans 7, Trans Fashion, Trans Lifestyle, dan Trans Studio. Khusus di bidang finansial, ada Bank Mega, Asuransi Mega, dan Para Multi Finance. Para Group juga membeli sebagian saham Carrefour Indonesia pada tahun 2010. Di situ, Para Group memiliki saham sebesar 40%. Akuisisi Carrefour tersebut membuat Chairul mentransformasi Carrefour menjadi Transmart. Bukan hanya sebagai tempat belanja groseri, di Transmart pun menyediakan kebutuhan fashion dan kecantikan. Bahkan, kebutuhan elektronik juga tersedia. Yang paling menarik, ada fasilitas bermain untuk anak-anak juga di sana. Jadi, Chairul berhasil mengubah tempat berbelanja menjadi destinasi hangout keluarga.

Pada akhir tahun 2011, Chairul mersemikan perubahan Para Group menjadi CT Corp. CT Corp sendiri terdiri dari tiga perusahaan sub holding, yaitu Mega Corp, Trans Corp, dan CT Global Resources. Hingga kini, CT Corp masih terus berjaya sebagai salah satu perusahaan besar yang ada di Indonesia.

Berbagai pengalaman berjualan sejak muda tampaknya membuat Chairul sukses membangun perusahaan-perusahaan besar di Indonesia. Kebayang nggak mahasiswa yang dulu hanya berjualan di kampus bisa memiliki banyak perusahaan seperti sekarang?

 

Sempat menjadi menko perekonomian pada tahun 2014

Chairul sempat menjadi bagian dari jajaran menteri di Indonesia. Pada Mei 2014, Chairul Tanjung menggantikan posisi Hatta Rajasa sebagai menko perekonomian. Beliau menjabat menko perekonomian sejak 19 Mei hingga 27 Oktober 2014. Kiprah Chairul di dunia bisnis membuat presiden Susilo Bambang Yudhoyono kala itu mempercayakan posisi menko perekonomian kepada beliau.

 

Prinsip bisnis ala Chairul Tanjung

Bagi Chairul, poin penting dalam berbisnis adalah kemauan untuk mengembangkan jaringan. Mengenal banyak relasi juga menjadi salah satu kunci kesuksesan sebuah bisnis. Pertemanan yang baik jauh lebih mudah membantu berkembangnya suatu bisnis daripada terlalu banyak melihat peta persaingan saja. Bahkan, bagi Chairul, berteman dengan petugas pengantar surat juga merupakan hal yang penting. Melalui jejaring yang baik, mitra kerja yang handal pun lebih mudah didapat.

Bisnis memang membutuhkan modal yang besar. Namun, kerja keras dan kemauan juga menjadi modal utama untuk tetap bertahan dalam bisnis. Kebanyakan anak muda sekarang tidak sabar dalam menjalani bisnis. Chairul berpesan bahwa berbisnis itu tidak semudah membalikkan telapak tangan. Kesabaran dan pantang menyerah adalah kunci utama. Jangan terlalu sering mengmabil jalan instan dan tergesa-gesa karena bisnis tanpa rencana matang sama saja pelan-pelan mematikan usaha tersebut beberapa tahun kemudian. Lihat saja, Chairul Tanjung tidak langsung sukses saat awal membangun toko peralatan kedokteran dan laboratorium bukan?

 

Buat kamu yang sedang merintis sebuah usaha, semoga kisah Chairul Tanjung ini bisa menginspirasi kamu. Terima saja beberapa kegagalan dalam hidupmu, tetapi jangan lupa untuk bangkit kembali. Tekun, sabar, ulet, serta pantang menyerah adalah nilai-nilai dari Chairul Tanjung yang bisa kamu teladani untuk berbisnis.

Goenawan Mohammad, Wartawan yang Kritis

Mungkin tidak sedikit orang yang familiar dengan tulisan Catatan Pinggir yang selalu menyapa di halaman belakang harian mingguan Tempo. Atau cuitan di media sosial Twitter dari akun @gm_gm, yang tepat sasaran mengkritisi sebuah fenomena yang tengah berkembang; atau justru menjadi pencetus sebuah dialog panjang para pengguna Twitter lainnya. Ya, dia adalah Goenawan Mohammad. Wartawan senior, budayawan, sastrawan, dan berbagai aspek seni yang kental dengan sosoknya.

 

Pria bernama lengkap Goenawan Soesatyo Mohamad ini lahir di Karangasem, Batang, Jawa Tengah, pada 29 Juli 1941. Perjalanan karirnya banyak bersinggungan dengan dunia jurnalisme, sebagai wartawan handal dengan tulisan tajam dan intelek. Nama GM memang tidak asing lagi dengan Tempo, karena ia adalah salah satu founding father dari Tempo. Sosoknya beberapa kali didaulat menjadi Pemimpin Redaksi, posisi vital yang memegang kendali atas kebijakan redaksional Tempo. Hingga kini, gagasan-gagasan kritis GM masih dituangkannya dalam tulisan Catatan Pinggir yang setiap minggu bisa kamu temui di majalah Tempo.

 

GM, Wartawan yang Menginspirasi

Mari menengok sedikit ke belakang, saat Goenawan Mohamad muda menjajaki karirnya sebagai wartawan. Di dunia jurnalistik namanya memang diperhitungkan. Ia memulai karirnya sebagai Redaktur Harian KAMI, Redaktur Majalah Horison, Pemimpin Redaksi Majalah Ekspres, dan Pemimpin Redaksi Majalah Swasembada. Tahun 1971 adalah momentum bersejarah saat Goen dan beberapa kawannya mendirikan Majalah Tempo. Di usianya yang menginjak 30 tahun, GM menjadi Pemimpin Redaksi Majalah Tempo.

 

Bukan mulus perjalanan GM menggawangi Tempo. Majalah yang dikenal dengan tulisan-tulisan tajamnya ini sempat dibredel pada tahun 1982. Kala itu, Tempo dinilai terlalu keras mengkritik pemerintah Orde Baru. Sempat dua kali dibredel, Tempo kembali terbit di tahun 1998. Setajam apa memangnya tulisan GM? Jangan kaget jika melihat bagaimana Goen lantang mengkritisi rezim Soeharto lewat tulisannya. Goen kerap mengkritik pemerintahan Soeharto yang dinilai menekan geliat ekonomi di Indonesia. Tak pelak, Tempo dianggap sebagai oposisi pemerintah.

 

Goen bukan tidak berjuang agar Tempo bisa kembali mendapat kebebasan pers. Peraih sederet penghargaan ini kala itu bergabung dengan Persatuan Wartawan Indonesia (PWI) sempat menempuh jalan organisasional, namun gagal. Tidak menyerah, bersama jurnalis lainnya Goen mendirikan Aliansi Jurnalis Independen (AJI). Tak puas di situ, pria yang sejak 2016 menjadi Komisaris Utama PT Tempo Inti Media Tbk ini juga menginisiasi berdirinya Institusi Studi Arus Informasi (ISAI) yang fokus pada rekam jejak kekerasan terhadap dunia pers tanah air.

 

Gagasan Cemerlang Tertuang di Buku

Kecintaan Goen pada dunia sastra dan jurnalistik telah terlihat dari masa kecilnya. Saat masih duduk di bangku Sekolah Dasar, Goen gemar menyimak acara puisi siaran di RRI. Saat kakaknya berlangganan majalah Kisah asuhan H.B. Jassin, Goen muda melahapnya dengan rakus. Saat usianya 17 tahun, pria asal Jawa Tengah ini mulai menulis. Berselang dua tahun, Goen menerjemahkan puisi Emily Dickinson, penyair ternama asal Amerika Serikat.

 

Sejak itu, deretan penghargaan akrab dengan dirinya. Ia pernah menjejakkan diri di Universitas Harvard lewat beasiswa Nieman Foundation. Tahun 1997, Goenawan mendapat penghargaan Louis Lyons Award dalam kategori Conscience in Journalism. Namanya juga pernah dinobatkan sebagai penerima Anugerah Hamengku Buwono IX di bidang kebudayaan. Di tahun 1999, Goen mengharumkan nama Indonesia lewat ajang penghargaan International Editor of the Year Award dari World Press Review. Wertheim Award dan Anugerah Sastra Dan David Prize pun juga pernah dikantonginya.

 

Begitu cemerlangnya gagasan Goen, beberapa kali dirinya menulis buku bertema sosial budaya. Tak hanya itu, sajak demi sajak puisi pun juga dirangkainya dengan apik dan memukau pembaca. Salah satu bukunya yang paling terkenal adalah seri Catatan Pinggir yang pertama kali dijadikan buku pada tahun 1982 silam. Beberapa kali, seri Catatan Pinggir ini dirilis ulang hingga beberapa jilid.

Deretan buku-buku lain karya Goen di antaranya adalah Empat Sajak dalam buku antologi “Manifestasi”; Asmaradana: Pilihan Sajak; Kata, Waktu; Setelah Revolusi Tak Ada Lagi, Tuhan & Hal-Hal yang Tak Selesai, dan masih banyak lagi deretan judul buku yang menjadi wadahnya menuangkan kreativitas. Meski memang, sosok GM juga kerap menuai kontroversi dari cuitan-cuitan atau tulisannya. Tidak sedikit yang menentang keras gagasan Goen dan terang-terangan mempertanyakan dasar dari tulisan-tulisannya

 

GM dan Komunitas Salihara

Kecintaan GM pada dunia budaya dan seni melabuhkannya pada Komunitas Salihara, sebuah tempat kesenian di kawasan Pasar Minggu, Jakarta Selatan. Komunitas Salihara mewadahi seniman dan budayawan dan kerap dijadikan tempat untuk membahas berbagai isu sosial budaya hingga HAM dan demokrasi. Goen pun menjadi langganan sebagai narasumber konferensi bergengsi, seperti di Gedung Putih pada tahun 2001.

 

30 tahun berkecimpung sebagai wartawan, nama Goenawan Mohamad menjadi salah satu jurnalis yang diperhitungkan. Namanya juga dikenal akrab di kalangan budayawan lewat jejak sejarah perlawanan terhadap Orde Baru. Kala itu, Goen merangkul berbagai kalangan mulai dari aktivis pro-demokrasi, seniman, juga seniman. Semuanya bergabung dalam satu cita-cita, menentang mereka yang berupaya membekap kebebasan berekspresi.

Mochtar Riady, Perantau yang penuh terobosan

Salah satu nama yang pernah diulas oleh Forbes dan termasuk jajaran orang terkaya di tanah air adalah Mochtar Riady. Namanya memang bergaung kencang di kalangan pebisnis dan dunia perbankan sebagai seorang yang hampir selalu bisa menyulap apapun menjadi rupiah. Pada 12 Mei 1929, Mochtar Riady hadir ke dunia. Dia lahir di sebuah kota dingin di Jawa Timur, yaitu Malang. Berasal dari keluarga Tionghoa, Mochtar Riady memiliki nama asli Lie Mo Tie. Kedua orang tuanya, Liapi dan Sibelau adalah pedagang yang merantau hingga berlabuh ke Malang pada tahun 1918.

 

Saat usianya masih 9 tahun, sang ibu meninggal. Bersama keluarganya, Mochtar hidup banting tulang memenuhi kebutuhan hidup. Namun bukan Mochtar namanya jika tidak memperlihatkan keuletan sejak usia dini. Kala usianya masih 10 tahun, Mochtar mengukir cita-citanya: menjadi seorang banker. Cita-cita ini terinspirasi saat Mochtar cilik melihat para pegawai Nederlandsche Handels Bank (NHB). Impian Mochtar sempat ditentang sang ayah, karena profesi bankir identik dengan mereka yang berada dan berpendidikan tinggi.

 

Akrab dengan Dunia Bisnis Sejak Belia

Perjalanan hidup ayah empat orang anak ini tak hanya di Indonesia. Saat berusia 18 tahun, Mochtar sempat dijebloskan ke penjara Lowokwaru, Malang, karena menentang pembentukan Negara Indonesia Timur. Kemudian ia dibuang ke Nanking, dan mengambil studi psikologi di University of Nanking. Tak rampung karena Nanking tengah dilanda perang, taipan tanah air ini juga sempat pindah ke Hong Kong hingga tahun 1950 sebelum kembali ke Indonesia.

 

Setahun setelah kembali ke Indonesia, Mochtar menikah dengan putri seorang pengusaha asal Jember yang bernama Suryawati Lidya. Dari pernikahannya, Mochtar dikaruniai empat orang anak yaitu Rosy Riady, Andrew Taufan Riady, Stephen Tjondro Riady, dan James Tjahaja Riady. Usai menikah, Mochtar terjun ke dunia bisnis dengan mengelola toko kecil hingga sukses. Hal ini mengingatkannya kembali pada impiannya menjadi bankir.

 

Tahun 1954, dalang kesuksesan Lippo Group ini pindah ke Jakarta. Awalnya dia merintis bisnis perusahaan pengangkutan kapal sederhana bersama temannya. Mulai berani, Mochtar membeli Bank Kemakmuran yang dilanda masalah dan menjadi direkturnya. Mochtar nyemplung ke dunia perbankan tanpa dasar pendidikan akuntansi atau finansial bank apapun. Hanya dalam waktu satu bulan, Mochtar yang buta membaca balance sheet bisa memahami pola kerja akuntansi perbankan. Berkat tangan dinginnya, bank ini pun menangguk kesuksesan.

 

Pada tahun 1964, Mochtar pindah ke Bank Buana dan menyelamatkan bank yang kala itu nyaris gulung tikar. Kebijakan berani Mochtar menurunkan suku bunga Bank Buana hingga 12 persen di saat bank lain berlomba-lomba menaikkan suku bunga, menjadi langkah awal yang ditempuhnya. Saat kondisinya mulai stabil, Mochtar mengambil kuliah malam di Fakultas Ekonomi Universitas Indonesia. Di sinilah dia mengenal pakar ekonomi Indonesia lainnya.

 

17 tahun kemudian, Mochtar pindah ke Panin Bank yang merupakan gabungan dari Bank Kemakmuran, Bank Industri Dagang Indonesia, dan Bank Industri Jaya. Di bawahnya, Bank Panin sukses hingga menyaingi BCA. Tujuh tahun berselang, Mochtar menjejakkan kakinya di BCA. Selama berada di BCA, Mochtar menjadi orang kepercayaan pendiri Salim Group, Soedono Salim. Pengalamannya selama hampir seperempat abad di dunia perbankan diterapkan saat di BCA. Hasilnya? Harga saham BCA melejit dari Rp12,8 miliar menjadi Rp5 triliun!

 

Di bawah kelola Mochtar, BCA mendapat angin segar. Jumlah nasabahnya melonjak. Asetnya terus meningkat. BCA bahkan dinobatkan sebagai bank kliring terbesar kedua setelah Bank Indonesia. Gelar “The Magic Man of Bank Marketing” pun disematkan padanya. Hoki terus mengikuti langkah Mochtar, termasuk saat ia pindah ke Bank Perniagaan Asia hingga bisa berkolaborasi dengan Bank Umum Asia. Aset Bank Perniagaan Asia yang kala itu masih Rp16,3 miliar melambung menjadi Rp257,73 miliar di bawahnya. Di sinilah titik awal berdirinya Lippo Bank pada tahun 1989.

 

Mochtar Riady, The Man Behind Lippo Group

Di tangan Mochtar, Lippo Bank menjadi gurita finansial yang merambah berbagai bisnis mulai dari industri, energi, elektrik, finansial, infrastruktur, hingga properti. Krisis moneter hebat di Indonesia pada tahun 1997 memang sempat menggoyang Lippo Group. Namun lagi-lagi berkat tangan dingin Mochtar, dalam satu dekade Lippo Group berhasil bangkit.

 

Dalam bukunya Otobiografi Mochtar Riady: Manusia Ide yang terbit tahun 2016 lalu, yang paling tercatat adalah momen saat Lippo Bank mengambil alih tiga bidang lahan seluas 70 kilometer persegi di timur dan barat Jakarta. Lahan ini tandus, bahkan Mochtar awalnya tidak memiliki ide apa yang harus dilakukan terhadap lahan ini. Terinspirasi dari metode pengembangan lahan di Shenzen, Lippo menyulapnya menjadi Karawaci, cikal bakal bisnis properti Lippo. Pada tahun 2007, Mochtar juga strategis membidik lahan seluas 500 hektar menjadi area pemakaman mewah San Diego Hills di Karawang.

 

Lippo Group kini menjadi salah satu sektor usaha dengan 50 anak perusahaan, dan menjadi ladang bekerja bagi 50 ribu orang. Forbes mencatat kekayaan Mochtar Riady saat ini mencapai 2,9 triliun dolar. Pendapatan Lippo Group pun mencapai 7,5 triliun dengan cabang yang tersebar di Asia Pasifik. Anak-anak Mochtar Riady seperti Stephen dan James mewarisi bakat berbisnisnya, dan mengembangkan sektor usaha lain di berbagai negara. Bahkan cucu Mochtar yang bernama John Riady juga menjadi penerusnya dalam bisnis e-commerce MatahariMall dan merintis sentuhan digital di Bank Nobu.

 

Nama Mochtar Riady akan terus diperhitungkan sebagai sosok penuh ide. Hingga kini saja, Mochtar masih menyimpan lahan ratusan hektar di Cikarang dan Karawang. Saat yang lain belum terpikir, dirinya getol membeli lahan tandus sejak tahun 1990-an. Putranya, James Riady, kini mengelola megaproyek bernilai ratusan triliun rupiah di Cikarang yang digadang-gadang akan menjadi Kota Baru, Meikarta.

Sri Sultan Hamengkubuwono X, Menjadi Yogyakarta adalah Menjadi Indonesia

Yogyakarta menjadi destinasi liburan yang paling diburu oleh warga ibukota. Yogyakarta menawarkan banyak hal yang jarang ditemui di ibukota, antara lain kenyamanan, keramahtamahan, hingga kebudayaan lokal yang masih terasa hingga sekarang. Berkembangnya Yogyakarta tidak bisa lepas dari sosok Sultan yang memimpin daerah tersebut. Kini, Yogyakarta dipimpin oleh Sri Sultan Hamengkubuwono X. Tentu nama beliau sudah tidak asing lagi buat kamu bukan? Kali ini, kamu simak dulu deh kisah perjalanan Sri Sultan Hamengkubuwono X memimpin kota yang selalu istimewa ini!

  

Masa kecil dan pendidikan Sri Sultan Hamengkubuwono X

Sri Sultan Hamengkubuwono X lahir dengan nama Herjuno Darpito pada tanggal 2 April 1946 di Yogyakarta. Setelah dewasa, beliau bergelar KGPH Mangkubumi dan berganti menjadi KGPAA Hemengku Negara Sudidyo Rajaputra Nalendra ing Mataram saat dingkat menjadi putra mahkota. Sri Sultan Hamengkubuwono X pernah berkuliah di Universitas Gadjah Mada dan mengambil jurusan fakultas hukum. Selama menempuh pendidikan hukum, beliau mulai memiliki pola pikir modern untuk bisa memajukan Yogyakarta.

 

Menggantikan sang ayah pada tahun 1989 dan kemudian menjadi gubernur Daerah Istimewa Yogyakarta

Setelah sang ayah meninggal, Sri Sultan Hamengkubuwono X resmi menggantikan kedudukan sang ayah sebagai pemimpin Yogyakarta pada 7 Maret 1989. Setelah Paku Alam VIII wafat, Sri Sultan Hamengkubuwono X kemudian juga ditetapkan menjadi gubernur Daerah Istimewa Yogyakarta pada tahun 1998. Pada masa jabatan 1998-2003, Sri Sultan Hamengkubuwono X tidak didampingi wakil gubernur. Baru setelah itu, beliau kemudian didampingi Paku Alam IX sebagai wakil gubernur untuk periode 2003-2008.

Sebagai gubernur, Sri Sultan Hamengkubuwono X tidak pernah haus akan penghargaan atau pengakuan. Menurut beliau, Yogyakarta hanya membutuhkan sentuhan kasih dan hati nurani.

 

Sempat aktif dalam politik dengan bergabung dengan Partai Golkar

Sri Sultan Hamengkubuwono X pernah aktif dalam kepengurusan Partai Golkar. Beliau juga sempat menjabat sebagai Anggota Dewan Penasihat Partai Golkar. Meski aktif dalam kegiatan politik, Sri Sultan Hamengkubuwono X selalu memilih netral saat berada di pemerintahan. Hanya saja, keterlibatan beliau di Partai Golkar harus berhenti karena adanya Undang-Undang Keistimewaan Yogyakarta yang salah satunya berisi aturan berupa larangan gubernur yang dijabat Sri Sultan untuk ikut dan terjun ke dunia politik. Pada tahun 2012, Sri Sultan Hamengkubuwono X pun resmi keluar dari Partai Golkar.

Mungkin Sri Sultan Hamengkubuwono X memiliki sifat yang menurun dari sang ayah. Jika sang ayah menjadi pendukung Indonesia merdeka, maka Sri Sultan Hamengkubuwono X pernah memilih jalur politik sebagai bentuk kepedulian beliau dalam pemerintahan. Meski pada akhirnya harus keluar dari dunia politik, keterlibatan Sri Sultan Hamengkubuwono X dalam memajukan dan mendukung Indonesia tidaklah usai.

 

Sri Sultan Hamengkubuwono X aktif juga dalam berbagai kegiatan sosial dan budaya

Sri Sultan Hamengkubuwono X dikenal aktif dalam beberapa kegiatan birokrasi hingga sosial, khusunya di Yogyakarta. Beliau pernah menjadi ketua umum Kadinda Dareah Istimewa Yogyakarta. Selain itu, Sri Sultan Hamengkubuwono X juga pernah menjabat sebagai ketua umum KONI Daerah Istimewa Yogyakarta. Dalam perjalanan karier, beliau sempat menjabat sebagai direktur utama PT Punokawan dan presiden komisaris PG Madukismo.

Sri Sultan Hamengkubuwono X memberikan dukungan penuh pada seni pertujukan kontemporer dan tradisi sejak 1989 hingga sekarang. Hal ini membuat Sri Sultan Hamengkubuwono X mendapatkan gelar doktor kehormatan dari Institut Seni Indonesia (ISI) Yogyakarta. Sri Sultan Hamengkubuwono X juga pernah menuangkan pemikiran kritis beliau melalui karya ilmiah dengan judul “Kerangka Konsepsi Politik Indonesia” yang terbit pada tahun 1989 dan “Bercermin di Kalbu Rakyat” pada tahun 1999.

Bukan hanya sebagai Sultan di Yogyakarta, Sri Sultan Hamengkubuwono X juga menempatkan diri beliau lebih dekat dengan rakyat melalui ragam kegiatan seni, sosial, dan budaya. Karya ilmiah yang ditulis beliau menunjukkan kepedulian Sri Sultan Hamengkubuwono X pada pemerintahan Indonesia.

 

Pedoman Sri Sultan Hamengkubuwono X: menjadi Jogja, menjadi Indonesia

Dalam sebuah pembukaan Festival Kesenian Yogyakarta ke-29, Sri Sultan Hamengkubuwono X mecetuskan sebuah kalimat yang begitu diingat hingga sekarang. Kalimat tersebut berbunyi “Sudah semestinya keistimewaan Jogja adalah untuk Indonesia. Bahwa menjadi Jogja, adalah menjadi Indonesia”. “Menjadi Jogja, menjadi Indonesia” memberikan makna bahwa karakter-karakter khas Yogyakarta akan tetap selalu menguatkan Indonesia. Karakter-karakter yang dimaksud adalah menciptakan kenyamanan, mengajarkan keteladanan, mencerminkan gotong royong, dan memiliki jati diri kuat serta tetap terbuka.

Yogyakarta memang dikenal sebagai salah satu daerah di Indonesia yang memiliki keistimewaan dibandingkan daerah lainnya. Hingga kini, beberapa pro dan kontra tentang sosok pemimpin Sultan masih sering terdengar. Namun, Yogyakarta pun tetap menjadi bagian dari Indonesia sejak dulu hingga sekarang. Pernyataan Sri Sultan Hamengkubuwono X tadi menegaskan bahwa seistimewanya Yogyakarta, Yogyakarta tetaplah Indonesia.

 

Sri Sultan Hamengkubuwono X hingga kini masih menjabat sebagai pemimpin Yogyakarta. Yogyakarta telah tumbuh menjadi kota yang lebih rapi dan tetap terbuka pada perubahan zaman. Hingga kini Yogyakarta juga membantu perekonomian Indonesia, terutama di bidang pariwisata. Bahkan, banyak anak-anak di luar Yogyakarta berbondong-bondong ke kota pelajar ini untuk menempuh pendidikan. Semoga Yogyakarta selalu istimewa dan jadi kebanggaan Indonesia!

Ahmad Dahlan, Tokoh Muslim Pelopor Pembaruan Islam di Indonesia

Tentu kamu tahu keberadaan Muhammadiyah di Indonesia. Organisasi Islam besar di Indonesia ini memiliki ciri khusus, yakni membangun tata sosial dan pendidikan masyarakat Indonesia yang lebih maju dan terdidik melalui ajaran Islam. Kamu juga pasti banyak menemui beberapa sekolah dan perguran tinggi yang berada di bawah naungan Muhammadiyah. Namun, pernahkah kamu tahu siapa sosok di balik kejayaan Muhammadiyah masa kini? Ternyata Muhammadiyah juga sempat menemui beberapa tantangan di awal pembentukannya. Ahmad Dahlan adalah sosok di balik berdirinya Muhammadiyah. Nah, sekarang belajar sejenak yuk kisah hidup dan perjuangan Ahmad Dahlan dalam membangun sebuah mimpi besar di Indonesia!

 

Latar belakang dan masa muda Ahmad Dahlan

Ahmad Dahlan memikili nama kecil Muhammad Darwisy. Beliau lahir di Yogyakarta pada tanggal 1 Agustus 1868. Wajar rasanya jika kehidupan ajaran Islam sangat melekat pada Ahmad Dahlan karena beliau merupakan keturunan kedua belas dari Maulana Malik Ibrahim. Maulana Malik Ibrahim merupakan salah satu tokoh dari Wali Songo, pelopor penyebaran agama Islam di Jawa. Ahmad Dahlan menunaikan ibadah haji saat berusia 15 tahun dan memilih tinggal di Mekkah selama 5 tahun. Selama di Mekkah itu, beliau sering berinteraksi dengan para pemikir pembaharu Islam, seperti Muhammad Abduh, Al-Afghani, Rasyid Ridha, dan Ibnu Taimiyah. Dari situlah berbagai pemikiran tentang pembaharuan Islam mulai muncul sedikit demi sedikit pada diri Ahmad Dahlan. Sekembalinya pulang ke kampung halaman pada tahun 1888, nama beliau berganti dari Muhammad Darwisy menjadi Ahmad Dahlan. Ahmad Dahlan sempat kembali lagi ke Mekkah tahun 1903 dan menetap selama dua tahun. Beliau berguru pada Syeh Ahmad Khatib yang juga guru dari pendiri NU, KH. Hasyim Asyari.

 

 

Ahmad Dahlan sempat aktif di Boedi Oetomo

Pada tahun 1909, Ahmad Dahlan memutuskan untuk masuk ke Boedi Oetomo. Kala itu beliau bermaksud untuk mengajar agama. Kehadiran Ahmad Dahlan mampu memenuhi kebutuhan para anggota Boedi Oetomo dengan memberikan pelajaran-pelajaran. Para anggota Boedi Oetomo yang senang dengan kehadiran Ahmad Dahlan menyarankan beliau untuk membuka sekolah yang diatur dengan rapi dan bersifat permanen. Ahmad Dahlan merasa saran anggota Boedi Oetomo ini ada benarnya mengingat saat itu banyak pesanteren yang terpaksa tutup ketika kyai pemimpinnya meninggal. Sejak itu, Ahmad Dahlan bermimpi bisa membangun sebuah organisasi yang memfasilitasi pendidikan sekaligus pembaruan bagi umat Islam.

 

Mendirikan Muhammadiyah sebagai bentuk kepedulian pada pendidikan

Pada akhirnya, impian tersebut bisa Ahmad Dahlan wujudkan pada tahun 1912. Beliau mendirikan Muhammadiyah sebagai wujud cita-cita pembaruan Islam. Ahmad Dahlan berharap melalui Muhammadiyah, terdapat pembaruan cara berpikir dan beramal seturut ajaran Islam karena di masa tersebut masih banyak ajaran Islam yang banyak dipengaruhi hal-hal mistik. Beliau juga mengajak umat Islam untuk kembali hidup sesuai dengan Al-Quran dan Al-Hadits.

Pada awalnya kegiatan Muhammadiyah berkisar pada dakwah untuk perempuan dan kaum muda berupa pengajian Sidratul Muntaha. Selain itu, Muhammadiyah juga menunjukkan perannya dalam pendidikan melalui pendirian sekolah dasar dan sekolah lanjutan. Dengan ini, Ahmad Dahlan ingin menegaskan bahwa Muhammadiyah bukanlah organisasi politik, melainkan bersifat sosial dan bergerak di bidang pendidikan.

 

Banyak yang mencibir Ahmad Dahlan atas pendirian Muhammadiyah

Keinginan mulia Ahmad Dahlan untuk melakukan pembaruan Islam justru mendapat cibiran dari banyak pihak. Kebanyakan orang menganggap Ahmad Dahlan berusaha mendirikan sebuah agama baru yang menyalahi agama Islam. Kedekatan dengan anggota Boedi Oetomo membuat beliau dituduh sebagai kyai palsu. Bahkan, Ahmad Dahlan dianggap meniru cara orang Belanda karena kebetulan beliau sedang mengajar di OSVIA, sebuah sekolah khusus Belanda untuk anak-anak priyayi. Namun, semua cibiran dan rintangan yang harus beliau hadapi tak menyurutkan semangat Ahmad Beliau untuk semakin mengembangkan Muhammadiyah. Bagaimana pun juga, Muhammadiyah adalah salah satu jawaban dari masalah negara yang belum merdeka saat itu, yaitu membantu memberikan pendidikan.

 

Meski dibatasi oleh Belanda, Muhammadiyah justru terus berkembang

Tak hanya mendapat sindiran dari masyarakat, Muhammadiyah juga mendapat tekanan dari Belanda. Ahmad Dahlan meminta permohonan kepada pemerintah Hindia Belanda untuk mendapatkan badan hukum. Permohonan tersebut dikabulkan pada tahun 1914 dengan syarat Muhammadiyah hanya bergerak di Yogyakarta. Belanda memang cukup mencemaskan keberadaan Muhammadiyah ini. Hanya saja, pembatasan yang dilakukan Belanda ini ternyata tak membuat Muhammadiyah menjadi redup. Justru mulai bermunculan cabang Muhammadiyah di beberapa daerah, antara lain Srandakan, Wonosari, Imogiri, dan lain-lain. Agar tidak tampak mencolok di depan Belanda, Ahmad Dahlan menyarankan agar cabang Muhammadiyah di luar Yogyakarta memakai nama lain.

Ide pembaruan Islam disampaikan Ahmad Dahlan melalui tabligh yang beliau lakukan di berbagai kota serta melalui relasi dagang yang dimiliki beliau. Ulama-ulama dari berbagai daerah pun kemudian berdatanga untuk memberikan dukungan pada Muhammadiyah. Sudah dipastikan Muhammadiyah kian berkembang di seluruh daerah. Maka, pada tahun 1921, Ahmad Dahlan mengajukan permohonan kepada pemerintah Hindia Belanda untuk mendirikan cabang-cabang Muhammadiyah. Ajaibnya, permohonan tersebut akhirnya dikabulkan oleh Belanda. Semangat, perjuangan, penolakan pada sindiran negatif, serta kegigihan telah mengantar Ahmad Dahlan semakin mendekat pada impian pembaruan Islam. Inilah beberapa contoh sikap Ahmad Dahlan yang bisa kamu teladani.

 

Ahmad Dahlan juga dikenal sering berdialog dengan tokoh agama lain

Sejak saat itu, Ahmad Dahlan mulai dikenal sebagai tokoh Muslim yang berbeda dari yang lain. Pembaruan Islam yang beliau bawa telah berpengaruh pada pengikutnya kala itu. Indonesia yang sedang berada dalam penjajahan pun pelan-pelan mulai memunculkan tokoh-tokoh Islam intelektual yang turut menjadi pejuang di masa pergerakan nasional. Selain itu, sebagai seorang Islam, Ahmad Dahlan juga dikenal memiliki pola pikir yang terbuka. Beliau pernah bersahabat dan aktif berdialog dengan salah seorang tokoh pastur bernama Pastur Van Lith. Pastur Van Lith merupakan tokoh keagamaan Katholik yang berada di Muntilan. Bahkan, Ahmad Dahlan kala itu tidak ragu memasuki Gereja dengan memakai pakaian hajinya. Di saat banyaknya isu tentang keagamaan di masa kini, sepertinya Indonesia butuh sosok seperti Ahmad Dahlan ini yang mampu memandang keberagaman sebagai salah satu jalan untuk tumbuh dan berkembang bersama.

 

Sosok yang menjadi pelopor pembaharuan Islam

Kebangkitan umat Islam di masa penjajahan tidak bisa lepas dari sosok Ahmad Dahlan. Lewat pembaruan Islam yang diusung, beliau mampu menggerakkan umat Islam untuk bangkit dari nasib sebagai orang terjajah dan harus berbuat banyak untuk lepas dari penjajahan. Melalui Muhammadiyah pula, usaha amal sosial dan pendidikan bagi Indonesia dapat terpenuhi. Bahkan, Aisyiyah (Muhammadiyah untuk kaum perempuan) juga menjadi pelopor kebangkitan perempuan untuk mengecap pendidikan agar setingkat dengan kaum pria. Untuk semua jasa itulah, akhirnya Ahmad Dahlan memperoleh gelar pahlawan nasional pada tahun 1961.

 

Tentu tidak mudah untuk menjadi berbeda layaknya Ahmad Dahlan ini. Ide dan pemikiran tak biasa Ahmad Dahlan memang sempat membawa beliau menjadi bulan-bulanan di negeri sendiri. Namun, sekali lagi, keteguhan dan sifat pantang menyerah beliau telah mampu membuktikkan bahwa tidak ada yang bisa menghalangi niat baik untuk membangun bangsa. Semoga kamu bisa belajar banyak dari sosok pendiri Muhammadiyah ini.

Liem Sioe Liong, konglomerat penggerak ekonomi bangsa

Liem Sioe Liong atau juga dikenal dengan nama Sudono Salim adalah pengusaha konglomerat yang sukses mendirikan bisnis di Indonesia juga di luar Indonesia. Om Liem, banyak orang menyapanya dengan panggilan itu, pernah menjadi konglomerat paling kaya se Indonesia. Kehidupan sukses nya berbanding terbalik dengan masa muda nya yang penuh kesusahan. Lahir di Fuqing, Cina pada tanggal 19 Juli 1916, siapa sangka pemuda yang berimigrasi dari Cina naik kapal layar ke Surabaya ini berhasil mengubah nasib dan garis hidupnya yang penuh kemelaratan menjadi seorang konglomerat sukses.

Melarikan diri dari Cina ke Kudus

Ketika Cina diserbu tentara Jepang pada Perang Dunia ke 2 tahun 1938,kehidupan politik dan keamanan di Cina bergejolak. Situasi yang semakin mencekam memaksa Om Liem muda yang baru berumur 21 tahun meninggalkan kampung halamannya di Fuqing dan menyusul kakak nya, Liem Sioe Hie, yang sudah lebih dahulu ber imigrasi ke Indonesia sejak tahun 1922 dan tinggal menetap di kota Kudus. Ia memberanikan diri menumpang kapal Belanda yang menuju ke Indonesia dan hidup terluntang-lantung di atas kapal selama sebulan lebih. Sesampainya di pelabuhan Surabaya, ia pun masih harus menunggu selama 4 hari dengan kondisi yang minim ala kadarnya sebelum akhirnya dijemput oleh sang kakak dan menuju ke Kudus.

Kota Kudus yang dari dahulu sudah menjamur industri rokok kretek membutuhkan banyak bahan baku tembakau dan cengkeh. Om Liem muda yang saat itu bekerja di pabrik tahu dan kerupuk,  mulai mempelajari cara menjadi pemasok tembakau dan cengkeh kepada pabrik-pabrik kretek lokal. Dia memutar otak supaya bisa mendapat hasil bumi yang murah dan bisa dijual lagi dengan untung kepada pabrik-pabrik kretek tersebut. Otaknya cukup licin. Om Liem mengambil pasokan dari luar pulau dengan harga yang jauh lebih murah, seperti Sulawesi, Maluku dan Sumatra, dan menyelundupkannya ke Kudus. Cara Om Liem bergaul dan menjalin relasi cukup luwes. Bisnis logistik tembakau Om Lie pun lama-lama berkembang dan menjadi lumayan sukses. Om Liem juga berjualan kain tekstil yang dia dapatkan secara murah dengan mengimpor dari Shanghai. Pelan tapi pasti, bisnis dan kehidupan Om Liem mulai meningkat.

Berbisnis kebutuhan tentara dan pindah ke Jakarta

Akan tetapi bisnis Om Liem yang mulai membaik terpaksa harus ditelan kebangkrutan ketika Jepang mulai masuk menjajah Indonesia tahun 1940 an. Usaha tembakau dan cengkehnya seret. Om Liem harus menjual semuanya dan kembali lagi mulai dari awal. Tahun 1945 ketika Jepang meninggalkan Indonesia, Om Liem mulai berbisnis logistik kebutuhan tentara. Dia banyak bergaul dengan perwira-perwira TNI termasuk salah satunya Letkol Soeharto.

Untuk mencari kesempatan bisnis yang lebih baik, Om Liem bertekad pindah ke Jakarta. Pada saat itu, Om Liem telah menikah dengan seorang wanita dari Lasem bernama Liem Kiem Nio atau dikenal dengan nama Lilani. Om Liem memboyong istrinya pindah ke Jakarta dan memulai hidup baru. Semenjak menikah dan pindah ke Jakarta tahun 1952, Om Liem mulai menapaki bisnis di bidang perbankan. Dia bersama karyawan kepercayaannya, Mochtar Riady, mendirikan Bank Central Asia. Bisnis perbankan yang dititinya sukses.

Pertemanan dengan Soeharto

Pada tahun 1968, Om Liem mendirikan pabrik perdagangan terigu yaitu PT Bogasari. Pabrik terigu ini mencetak sukses besar dan nama Om Liem semakin dikenal. Di balik kesuksesannya, rupanya ada orang yang berjasa membuka jalan bagi Om Liem untuk meraih kesempatan dan relasi bisnis yang besar. Orang itu adalah Soeharto, yang dikenalnya semasa berbisnis pasokan logistik tentara tahun 1945.  Persahabatannya dengan Soeharto berlanjut sampai ketika Soeharto diangkat menjadi Presiden RI menggantikan Soekarno. Dari Soeharto lah, Om Liem mendapat kesempatan berkenalan dengan pengusaha-pengusaha setempat dan mendapatkan kemudahan ijin-ijin usaha demi melancarkan bisnisnya.

Berkat jasa Soeharto, Om Liem diperkenalkan dengan Djuhar Sutanto dan membentuk CV. Waringin Kentjana yang bergerak di bidang ekspor impor komoditas. Sejalan dengan waktu, Om Liem menambah kongsi dengan 2 pengusaha lainnya yaitu Sudwikatmono dan Ibrahim Risjad dan membentuk Salim Grup. Kwartet pengusaha yang dipimpin Om Liem ini berekspansi dengan juga mendirikan pabrik semen Indocement pada tahun 1974. Salim Grup  terus mengembangkan sayap bisnisnya dan pada tahun 1990 Salim Grup mendirikan PT Indofood yang bergerak dibidang pangan dan sekaligus terigu. Salah satu produk Indofood yang tercatat menuai sukses besar bahkan sampai sekarang adalah Indomie, mie instan sejuta umat.

Kedekatannya dengan Soeharto, sang penguasa Orde Baru, memang melicinkan jalannya menuju kesuksesan. Banyak berita beredar bahwa Soeharto dan anak-anaknya juga mendapat saham dan keutungan dari perusahan Om Liem dengan timbal balik berupa kemudahan ijin-ijin usaha dan koneksi yang diberikan Soeharto. Om Liem sering menyangkal mengenai hal itu dan berkata bahwa hubungannya dengan Soeharto tidak lebih dari hubungan persahabatan biasa. Era 1990 an adalah puncak jaya-jayanya Om Liem. Om Liem sempat dinobatkan menjadi orang terkaya di Indonesia bahkan juga masuk ke dalam 100 orang terkaya di dunia menurut versi majalah Forbes.

Masa tua di Singapura

Tahun 1998, secara mengejutkan Soeharto lengser dan rumah Om Liem di Gunung Sahari dibakar dan dihancurkan massa. Untung saja Om Liem sedang berada di Singapura pada waktu itu. Seiring dengan lengsernya Soeharto, pamor kerajaan bisnis Salim Grup mulai turun. Krisis moneter yang terjadi tahun 1998 memaksa Salim Grup menjual beberapa banyak anak-anak perusahaannya, beberapa di antaranya adalah BCA, Indocement dan Indomobil , demi membayar hutang. Tidak lama setelah itu, Om Liem banyak tinggal di Singapura dan hanya pulang ke Indonesia sesekali saja. Usianya nya pun mulai tua. Tampuk kepemimpinan perusahaan pun dia serahkan ke anaknya,  Anthoni Salim. Adapun anak anak Om Liem lainnya seperti Albert Salim, Andre Salim dan Mira Salim juga turun berkecimpung dalam Salim Grup.

Masa tua Om Liem dihabiskan di Singapura. Ia wafat di Singapura pada tanggal 11 Juni 2012. Ratusan bahkan ribuan pelayat datang memberikan penghormatan terakhir. Sosok Om Liem begitu meninggalkan kesan mendalam. Meskipun namanya sangat besar, Om Liem terkenal sederhana, tidak suka publisitas dan tidak suka difoto. Orangnya sangat ramah dan luwes dalam bergaul, tidak heran koneksi dan relasinya sangat luas. Di balik itu, orang banyak mengagumi teladan semangat kerja keras, kegigihan dan ketekunan Om Liem dalam membangun kerajaan bisnisnya. Sosoknya pantas dijadikan teladan. Indonesia pantas berbangga dengan kehadiran Om Liem sebagai penggerak ekonomi Indonesia.

Susi Pudjiastuti, Menteri Eksentrik yang Berani

“Tenggelamkan!” sudah menjadi semacam slogan yang kerap dikumandangkan oleh Menteri Kelautan dan Perikanan, Susi Pudjiastuti. Sosok Ibu Menteri yang satu ini memang stealing the spotlight, sangat menarik perhatian karena sosoknya yang nyentrik dan berani dalam menerapkan kebijakan. Dari deretan menteri-menteri dalam Kabinet Kerja Jokowi-JK, bisa dibilang Susi yang selalu mengeluarkan gebrakan dan tidak ragu berargumen. Kehadirannya sebagai pemimpin di kabinet pemerintahan memberi warna baru yang tidak biasa dan menggelitik.

 

Susi lahir di Pangandaran, Jawa Barat pada 15 Januari 1965. Kedua orangtuanya telah lama tinggal di Pangandaran, sebagai pedagang ternak sapi dan kerbau dari Jawa Tengah dan dijual di Jawa Barat. Suami dari Susi adalah seorang pilot asal Jerman bernama Christian von Strombeck yang sempat bekerja di Industri Pesawat Terbang Nusantara (IPTN). Sebelumnya, Susi juga dua kali menjalani rumah tangga namun gagal. Menteri pemberani ini kini menjadi ibu tunggal dari tiga orang anak, yaitu Panji Hilmansyah, Nadine Kaiser, dan Alvy Xavier.

 

Pendidikan Tinggi Bukan Jaminan

Susi juga adalah bukti nyata bahwa pendidikan tinggi tidak selamanya menjamin kesuksesan. Setelah merampungkan SMP, Susi memang langsung melanjutkan ke jenjang SMA, namun tidak selesai. Ia dikeluarkan karena kala itu dinilai terlalu aktif dengan gerakan Golput yang dilarang pada masa Orde Baru. Tanpa mengantongi ijazah, Susi cukup jeli mencari peluang bisnis yang bisa menghasilkan pundi-pundi rupiah.

Tahun 1983, dengan modal pas-pasan Susi menjadi pengepul ikan di Pangandaran. Ia mengumpulkan uang Rp750.000 untuk memulai berbisnis. Dari modal yang seadanya, ternyata bisnisnya berkembang pesat hingga bisa mendirikan pabrik pengolahan ikan di tahun 1996. Pabrik ini diberi nama PT ASI Pudjiastuti Marine Product dengan produk unggulan berupa lobster. Jangan salah, bisnis besutan Susi ini merangkul segmen pasar Asia hingga Amerika. Tidak kehilangan akal, Susi mencari cara bagaimana agar bisa lebih mudah mengangkut ikan.

Transportasi adalah jawabannya. Itulah mengapa pada tahun 2004, Susi membeli sebuah Cessna Caravan dengan harga Rp20 miliar. Untuk bisa menebus dengan harga yang tidak sedikit itu, Susi meminjam uang dari  bank. Pesawat ini kemudian digunakannya untuk mengangkut ikan segar tangkapan nelayan dan lobster dari berbagai pasar di Indonesia. Terbanglah produk-produk dari “Susi Brand” ke berbagai kota di Indonesia dan luar negeri.

 

Susi Air yang Bersejarah

Apakah nama dari pesawat Cessna Caravan yang bersejarah ini? Tentu saja Susi Air. Pada saat tsunami Aceh terjadi pada 26 Desember 2004, Susi Air mencetak sejarah. Hanya Cessna miliknya yang menjadi pesawat pertama berhasil mencapai lokasi bencana dan memberikan bantuan untuk korban. Dari sinilah Susi terbersit peluang baru, untuk merambah bisnis penyewaan pesawat.

Dalam waktu tiga tahun, perusahaan penerbangan Susi Air kian berkembang. Dari hanya sebuah pesawat Cessna Caravan, meningkat menjadi 14 pesawat yang disebar di Papua, Balikpapan, Jawa, dan Sumatera. Terus bergeliat, Susi Air memiliki 32 pesawat Cessna Grand Caravan, 9 pesawat Pilatus Porter, 1 pesawat Diamond Star, dan 1 buah pesawat Diamond Twin Star. Tahun 2008 Susi juga mengembangkan bisnis aviasinya di bawah bendera PT ASI Pudjiastuti Flying School dengan membuka sekolah pilot Susi Flying School. Meski merintis semua bisnisnya di bidang pelelangan ikan dan sewa pesawat dari nol, ada titik saat Susi harus melepasnya.

 

Memasuki Kabinet sebagai Menteri

Susi ditunjuk oleh Presiden Joko Widodo dan Wakil Presiden Jusuf Kalla sebagai Menteri Kelautan dan Perikanan dalam Kabinet Kerja. Untuk menghindari konflik kepentingan, Susi dengan berani melepaskan diri dari posisinya di perusahaan Susi Air dan PT ASI Pudjiastuti Marine. Dirinya resmi dilantik sebagai menteri pada 26 Oktober 2014. Tentu Susi sempat heran bagaimana mungkin dirinya yang tidak lulus SMA ini didaulat menjadi menteri, bahkan ia menyebut dirinya sebagai “orang setengah gila”. Presiden Jokowi menjawab bahwa negeri ini memang butuh orang-orang gila.

Sebagai menteri, Susi dikenal dengan gaya eksentrik dan beraninya. Kebijakannya berani dan tidak kenal kompromi, seperti menenggelamkan kapal asing yang masuk perairan Indonesia tanpa izin, juga perihal alat tangkap yang digunakan oleh para nelayan.

Semasa menjadi menteri Susi tak segan terjun langsung ke laut dan berhadapan dengan nelayan untuk berdialog. Sosoknya yang vokal banyak menuai sorotan, termasuk pujian dari banyak khalayak. Tahun 2016 lalu, gelar doktor Honoris Causa diberikan padanya oleh Universitas Diponegoro. Hal ini seakan mematahkan semua tanda tanya dari masyarakat yang pernah memprotes mengapa memilih menteri yang hanya lulusan SMP. Puluhan penghargaan lain juga pernah diterimanya atas kiprahnya yang menginspirasi sebagai Menteri Kelautan dan Perikanan.

 

Di luar hobinya memberantas illegal fishing, Susi adalah kolektor peta sejak kecil. Dia memiliki ratusan peta dengan kabupaten terpampang satu persatu. Selain itu hobi yang memacu adrenalin juga menjadi favoritnya, seperti berselancar dan segala hal yang berbau laut. Mengendarai motor trail pun sudah tidak asing lagi baginya. Sosoknya juga dikenal sebagai pribadi yang hangat dan sangat dekat dengan anak-anak serta cucunya. Terus menginspirasi dan menjalankan amanat dengan caramu sendiri ya, Bu Susi!

Susi Susanti, ratu bulutangkis yang berkomitmen penuh membela Indonesia

Menyebut nama Susi Susanti memang tidak pernah lepas dari dunia bulu tangkis Indonesia. Wanita yang berasal dari Tasikmalaya dan lahir pada tanggal 11 Februari 1971 ini merupakan ratu bulutangkis Indonesia dan sepertinya belum ada yang bisa menandingi  apalagi menyamai kehebatannya sampai sekarang. Karirnya di dunia bulutangkis diawali dengan kecintaannya bermain bulu tangkis di kampung halamannya, tapi siapa sangka kalau bakat disertai dengan keseriusannya berlatih menjadikannya sebagai pemain badminton yang sangat mahir dan berprestasi.

Awal mula karir badminton

Wanita bernama lengkap Lucia Francisca Susi Susanti ini mempunyai hobi bermain bulutangkis semenjak bersekolah di bangku SD.  Ayah Susi mempunyai peran besar dalam mengenalkan Susi kepada dunia bulutangkis. Selepas sekolah, sang Ayah sering mengajak Susi bermain sekaligus melatih dasar-dasar bermain badminton. Sang Ayah juga yang mendaftarkan Susi ke klub bulutangkis di kota nya. Hobi yang didasarkan kecintaan ini pertama kali mulai terasah dari klub bulutangkis milik pamannya yaitu PB Tunas Tasikmalaya. Menyadari betapa gairahnya begitu besar untuk lebih memperdalam ilmu bulutangkis, Susi muda yang pada tahun 1985 masih duduk di kelas 2 SMP pun pindah ke Jakarta dan bersekolah di Pelatnas, sekolah khusus atlet.

Perjuangan Susi Susanti dimulai dari bersekolah di sekolah atlet Pelatnas  yang  mengharuskannya tinggal di asrama. Kehidupan di asrama khusus atlet sangatlah disiplin. Susi tidak bisa sembarangan bermain atau pun melakukan hal-hal lain seperti anak-anak muda pada umumnya.  Dia harus mengikuti peraturan makan, jam berlatih dan jam tidur yang sudah diatur sedemikian ketat nya. Di sini lah Susi benar-benar ditempa untuk belajar hidup disiplin dan teratur. Semangat berjuang dan mental kuat pun digodok, bayangkan saja Susi harus berlatih secara intensif enam hari dalam seminggu, Senin sampai Sabtu mulai dari pagi sampai sore yang diselingi dengan jam istirahat sejenak.

Prestasi yang diraih

Bakat dan keseriusan Susi dalam berlatih mulai membuahkan hasil.. Dimulai dari tahun 1989, Susi Susanti menjuarai piala Sudirman di Jakarta. Semenjak itu prestasi Susi kian berkibar dengan menjuarai piala All England secara berturut-turut mulai dari tahun 1990 sampai tahun 1994.  Tidak cukup itu saja, Susi semakin unjuk gigi dengan menjuarai titel Badminton World Grand Prix, tidak tanggung-tanggung dimulai dari tahun 1990 berturut-turut sampai tahun 1994, dan juga tahun 1996. Titel pemain terbaik untuk IBF World Championship tahun 1993 juga disematkan kepada Susi Susanti. Pada tahun 1994, Indonesia pun berbangga hati karena berkat Susi Susanti dan tim nya, Indonesia berhasil merebut piala Uber yang biasa diraih secara bertahan oleh team China. Piala Uber pun kembali diraih Susi Susanti pada tahun 1996.

 

Susi Susanti dengan sang pelatih

Ada seorang pelatih yang berjasa besar membesarkan nama Susi di dunia badminton, dia adalah Liang Chiu Sia. Dibawah bimbingan pelatih Liang Chiu Sia, Susi digembleng secara keras dan disiplin. Dari tangan sang pelatih, Susi dilatih ketahanan, stamina dan strategi bermain. Hasil gemblengan sang pelatih pun ternyata berbuah manis. LSusi Susanti dengan perawakannya yang kurus dan tinggi badan 162 cm sangat memikat hati penonton dengan kemahirannya mengembalikan shutlecock dari lawan melalui reli-reli pajang dan lihainya mencuri kesempatan untuk membuat smash yang sangat tepat dan menohok. Pembawaan Susi sangat tenang, jarang dia menampilkan emosi ataupun kekecewaan sangat tengah bertanding. Meskipun skor kadang tertinggal jauh dari lawan, Susi Susanti tetap terlihat tenang. Dengan ciri khas servis nya yang tinggi, Susi terus melancarkan strategi untuk memaksa lawan bermain reli panjang yang menguras tenaga dan stamina lawan dan akhirnya Susi pun bisa memenangi pertandingan.  Beruntung Susi mempunyai stamina yang sangat baik sehingga dia tetap percaya diri dalam bermain dan tidak mudah lelah oleh waktu permainan yang panjang.

Susi dan medali emas Olimpiade

Mental baja Susi kembali diuji saat mengikuti pertandingan memperebutkan medali emas Olimpiade di Barcelona pada tahun 1992.  Pada Olimpiade di Barcelona, cabang permainan bulutangkis memulai debutnya sebagai cabang permainan resmi di area Olimpiade. Indonesia pun tidak pernah meraih medali emas di Olimpiade sebelumnya.  Cabang bulutangkis tentu saja menjadi cabang yang sangat diandalkan Indonesia untuk merebut emas, dan otomatis Susi Susanti sebagai pemain nomor satu dunia saat itu sangat diharapkan untuk bisa mengharumkan nama Indonesia di kancah internasional. Beban berat dan tekanan ada di pundak Susi. Namun dengan mental baja, strategi bermain yang cerdas, gerak kaki yang lincah dan stamina tubuh yang sangat kuat, Susi Susanti berhasil mengalahkan Bang Soo Hyun asal Korea Selatan dalam pertandingan final. Susi pun berhasil mengharumkan nama Indonesia dengan medali emas yang diraihnya di Olimpiade Barcelona tahun 1992. Susi Susanti menyaksikan sendiri dengan titikan air mata berlinang melihat bendera Indonesia berkibar di atas panggung piala. Sungguh membanggakan momen yang baru terjadi sekali itu dan segenap Indonesia pun ikut terharu dan berbangga hati.

Kehidupan Susi bersama keluarga

Kisah cinta Susi cukup menarik. Susi menikah dengan Alan Budikusuma pada tahun 1997. Alan Budikusuma juga seorang pemain bulutangkis putra handal yang sama-sama merebut emas pada final tunggal putra di Olimpiade Barcelona. Sewaktu menikah, mereka dijuluki “Pengantin Olimpiade” dan acara pernikahan mereka menyita perhatian khalayak umum saat itu. Tidak lama setelah menikah dan hamil anak pertama, Susi Susanti pun menyatakan diri untuk gantung raket pada tahun 1998.

 

Komitmen Susi di dunia badminton Indonesia

Kontribusi Susi Susanti di dunia bulutangkis Indonesia tidak berhenti sampai di situ saja. Bersama dengan Alan, mereka berdua mendirikan Olympic Badminton Hall, semacam gedung klub pembinaan dan pelatihan bulu tangkis yang berlokasi di Kelapa Gading. Susi sepertinya tetap tidak ingin hidup jauh-jauh dari dunia badminton. Pada tahun 2002, pasangan Susi dan Alan meluncurkan produk raket badminton bermerek “Astec” singkatan dari Alan Susi Technology. Susi juga bekerja sama dengan Elizabeth Latief mendirikan tempat pijat “Fontana” yang mengkhususkan layanan sport massage untuk para pelanggan.

Susi Susanti yang sudah dikaruniai tiga anak ini tetap menunjukan perhatian dan komitmennya terhadap dunia bulutangkis Indonesia. Sekarang ini, Susi menjabat sebagai Kepala Bidang Pembinaan dan Prestasi PP PBSI dan bertanggung jawab untuk membina dan mengembangkan bibit-bibit muda atlet bulutangkis Indonesia. Prestasi dan kontribusi Susi Susanti yang besar terhadap dunia bulutangkis membuatnya meraih penghargaan IBF Hall Of Fame pada tahun 2004, sebuah penghargaan bergengsi, legendaris dan membanggakan yang bisa dicapai seorang atlet bulutangkis dari Indonesia.

Bagi para atlet muda, tentu Susi Susanti patut dijadikan inspirasi akan kegigihan, kedisiplinan dan semangat juangnya. Setelah namanya besar, Susi tetap tidak lupa akan asalnya. Susi tetap berkomitmen penuh memajukan dunia bulutangkis Indonesia ke kancah internasional.  Seorang Susi haruslah dijadikan teladan atas kedisiplinan, semangat juang dan komitmennya. Indonesia patut berbangga akan seorang Susi Susanti yang berjasa besar mengharumkan nama Indonesia di arena badminton dunia.

Christine Hakim, artis besar yang tetap humanis dan rendah hati

Dunia perfilman Indonesia tidak ada yang tidak mengenal seorang Christine Hakim sebagai seorang artis peran senior yang bisa dibilang sebagai salah satu artis film terbaik yang dimiliki Indonesia. Wanita yang bernama lengkap Herlina Christine Natalia Hakim ini kerap menampilkan kualitas akting yang berbobot di setiap film-film yang dibintanginya.  Christine yang lahir pada tanggal 25 Desember 1956 di Kuala Tungkal, Jambi ini memulai perjalanan karirnya sebagai seorang bintang film di luar perencanaan.

Masa kecil di Jambi dan pindah ke Jakarta

Sewaktu muda, Christine Hakim bercita-cita menjadi arsitek atau psikolog. Tidak pernah terbersit dalam benaknya bahwa kelak ia menjadi bintang film besar seperti sekarang ini. Christine yang lahir di kota kecil termasuk anak yang cukup pendiam, pemalu dan tidak menonjol. Di usianya yang  beranjak remaja, keluarga Christine pindah dari Jambi ke Jakarta, dan di Jakarta lah ia bertransformasi menjadi seorang yang mempunyai banyak teman dan pergaulan luas.

Christine mulai aktif bergabung menjadi pemain keyboard di salah satu band musik anak muda, Young Gipsy. Lama kelamaan, Christine juga merambah dunia permodelan dengan tampil di berbagai pemotretan majalah remaja. Wajahnya mulai beredar di majalah-majalah dan ada satu momen di mana kemunculannya di salah satu majalah remaja mengubah nasibnya dengan tidak disangka-sangka. Sosok Christine yang sedang berpose  tersebut menarik perhatian seorang sutradara yang sedang mencari peran utama wanita di film yang di sutradarainya.

Ditemukan oleh sang sutradara besar

Adalah sang sutradara yang bernama Teguh Karya sebagai orang yang bisa dibilang berjasa besar dalam membuka karir Christine di dunia perfilman. Secara langsung Teguh Karya meminta Christine untuk menjadi peran utama wanita di film Cinta Pertama yang di produksi pada tahun 1973. Itulah debut pertama Christine dalam berakting.  Meskipun tanpa pengalaman, tak diduga Christine bisa menampilkan akting yang sangat cemerlang, mengimbangi lawan mainnya Slamet Rahardjo dan Robby Sugara. Berkat aktingnya di film Cinta Pertama, Christine Hakim berhasil menyabet piala Citra sebagai Pemain Utama Wanita Terbaik di Festival Film Indonesia tahun 1974. Kedekatan Christine dengan Teguh Karya berlanjut sampai ke film-fim berikutnya yang disutradarai oleh Teguh.

Pencapaian besar Christine Hakim

Semenjak penghargaan bergengsi pertama yang diraih Christine, ia pun berturut-turut membintangi sejumlah film. Sebut saja beberapa film yang berhasil menghantarkan namanya kembali merebut piala Citra sebagai Pemeran Utama Wanita Terbaik di Festival Film Indonesia, yaitu Sesuatu yang Indah ( 1977), Pengemis dan Tukang Becak ( 1979), Di Balik Kelambu (1983), Kerikil-Kerikil Tajam (1985) dan Tjoet Nja Dhien ( 1988).

Christine cukup selektif dalam memilih film yang dibintanginya. Ia percaya bahwa sutradara yang baik akan menghasilkan film yang berkualitas baik pula. Christine Hakim pernah bekerja sama dengan sutradara-sutradara kenamaan tanah air, beberapa di antaranya adalah Sjumandjaja, Teguh Karya, Wim Umboh, Eros Djarot, Garin Nugroho dan Hanung Bramantyo.

Totalitas Christine dalam berakting

Seorang Christine Hakim selalu mempunyai totalitas akan apa yang dikerjakannya. Ia selalu berusaha menyelami karakter yang akan diperankannya. Di antara film-film  yang dibintangi Christine, beberapa di antaranya adalah film-film epik tokoh-tokoh nasional Indonesia seperti Tjoet Nja Dhien, Kartini, K.H. Hasyim Ashari dan Tjokroaminoto. Semuanya menuai pujian. Bisa jadi juga karakter dan wajah Christine dianggap pas mewakilkan karakter wanita Indonesia.  Di dalam diri Christine sendiri mengalir deras suku Minangkabau, Aceh dan Jawa, campuran dari kedua orangtuanya.

Kemampuan akting yang cemerlang yang dipelajari secara otodidak dan totalitas Christine dalam berakting membuatnya terpilih memerankan karakter Wayan seorang wanita Bali di dalam film Hollywood terkenal yaitu Eat, Pray, Love. Film dengan bintang utama yang diperankan Julia Roberts ini mengambil tempat syuting salah satunya di Bali. Tentunya Indonesia boleh berbangga hati dengan terpilihnya Christine Hakim sebagai salah satu pemeran di film ternama Hollywood tersebut. Tidak cukup itu saja, Christine kembali mendapat kehormatan dengan diundangnya ia sebagai juri dalam Cannes Film Festival tahun 2012. Menurut sejarah, belum ada orang Indonesia yang diundang sebagai juri sebelumnya dan Christine Hakim adalah orang Indonesia pertama yang mendapat kehormatan tersebut.

Menjadi duta UNESCO

Dengan segala atribut nama besarnya, Christine tetaplah seorang yang sangat humanis dan rendah hati. Ia tetap hidup membumi dan mengaku tetap belajar segala sesuatunya tentang hidup sampai umurnya sekarang ini. Semakin besar namanya, semakin ia melayani masyarakat. Christine yang bersuamikan Jerone Lezer sangat peduli terhadap pendidikan kaum muda. Ia mendirikan sekaligus berperan aktif di Yayasan Untukmu Guru yang bertujuan untuk memperbaiki kualitas sekolah dan pendidikan di daerah-daerah terpencil di Indonesia sekaligus memberikan sumbangan makanan kepada anak-anak yang kekurangan gizi. Berkat kontribusinya yang nyata pada dunia pendidikan dan anak-anak, maka pada tahun 2008, Christine Hakim mendapat kehormatan terpilih menjadi duta UNESCO yang bertugas mengurusi perkembangan dan peningkatan kualitas guru dan pendidikan di wilayah Asia Tenggara.

Christine Hakim adalah artis besar yang patut dicontoh oleh generasi muda sekarang. Selain semangat dan totalitasnya dalam mengerjakan sesuatu patut diacungi jempol, kerendah hatian  dan hidupnya yang membumi adalah salah satu contoh teladan, layaknya ilmu padi yang makin berisi makin tunduk, demikianlah seorang Christine Hakim.