R.A. Kartini, Pahlawan Bagi Emansipasi Perempuan

Raden Adjeng Kartini adalah salah satu sosok pahlawan emansipasi perempuan di Indonesia. Keberadaan Kartini dianggap sebagai pionir pemikiran modern dan maju untuk perempuan Indonesia. Hidup di masa pingitan yang masih kental membuat Kartini begitu kritis dalam berpikir untuk memajukan kaum perempuan. Kartini memang tidak berperang layaknya pahlawan perempuan Indonesia lainnya. Namun, semangat Kartini yang berjuang di tengah hidup yang dibatasi pada akhirnya justru mampu mengisnpirasi perempuan-perempuan Indonesia yang hidup setelah beliau. Jika kamu mengenal Kartini hanya sebatas melalui lagu “Ibu Kita Kartini”, ada baiknya kamu juga belajar kehidupan Kartini yang menginspirasi ini. Simak ya!

  

Latar belakang keluarga Kartini

Raden Adjeng Kartini lahir di Jepara pada tanggal 21 April 1879. Beliau merupakan putri dari Raden Mas Adipati Ario Sosroningrat yang kalau itu masih menjadi patih sebelum diangkat menjadi Bupati Jepara. Ibu Kartini bernama M.A. Ngasirah. Ketika diangkat menjadi bupati, sang ayah diharuskan memiliki istri seorang bangsawan. Oleh sebab itu, sang ayah kembali menikah dengan R.A. Woerjan. Kartini merupakan anak kelima dari sebelas bersaudara kandung dan tiri. Beliau juga kakak perempuan tertua dalam keluarga.

Sejak kecil, Kartini sudah akrab dengan kehidupan ala bangsawan. Kedudukan perempuan yang saat itu masih berada di bawah laki-laki menyebabkan hidup Kartini masih sangat diatur oleh sang ayah.

 

Pendidikan yang sempat dicicipi Kartini

Kartini cukup beruntung karena berada di lingkungan keluarga yang masih peduli akan pendidikan. Kakek Kartini, Pangeran Ario Tjondronegoro IV, dikenal sebagai bupati pertama pada abad ke-19 yang memberikan pendidikan Barat kepada anak-anaknya. Tidak heran jika sang ayah pun kemudian sangat memerhatikan pendidikan Kartini dan saudara-saudara beliau. Kartini sempat bersekolah hingga usia 12 tahun dan bersekolah di Europese Lagere School (ELS). Selain itu, Kartini juga belajar bahasa Belanda sejak kecil.

Kartini tampak cinta pada pendidikan. Mungkin di masanya, beliau tidak rela harus putus sekolah di usia 12 tahun. Tentu masih banyak pengetahuan di luar sana yang ingin Kartini kecap. Kamu yang sudah diberi kebebasan menempuh pendidikan sudah sewajarnya tidak malas. Jika dibandingkan Kartini dulu, kamu tentu jauh lebih beruntung.

 

Hidup dalam pingitan tidak membuat Kartini terputus dengan dunia luar

Kartini pun akhirnya harus mengalami pingitan layaknya perempuan-perempuan lainnya. Namun, hidup dalam pingitan ternyata tidak membuat Kartini terisolasi dari kehidupan luar. Kartini mulai menulis surat kepada teman-teman korespondensi yang berasal dari Belanda. Kartini juga membaca banyak buku, majalah, dan koran Eropa. Dari situlah Kartini tertarik dengan kemajuan berpikir para perempuan Eropa. Hati beliau sedih melihat kondisi perempuan Indonesia yang masih jauh dari kata maju. Kartini berkeinganan memajukan perempuan pribumi layaknya pemikiran perempuan Eropa.

Di usia 20 tahun, Kartini membaca beberapa buku, antara lain “Max Havelaar”, “Surat-Surat Cinta” karya Multatuli, hingga roman-feminis karya Nyonya Goekoop de-Jong Van Beek. Semua buku-buku yang dibaca Kartini berbahasa Belanda. Kartini juga membaca surat kabar Semarang “De Locomotief” dan beberapa paket majalah langganan, salah satunya adalah majalah perempuan Belanda bernama “De Hollandsche Lelie”. Tulisan Kartini juga beberapa kali dimuat di majalah tersebut. Lewat buku dan majalah itulah, banyak tulisan Kartini yang menyuarakan emansipasi perempuan.

Hidup Kartini mungkin dikunci dari dunia luar sejak dini. Namun, pemikiran Kartini justru semakin terbuka melalui surat, majalah, dan buku yang menjadi sahabat beliau selama dalam pingitan. Kamu bisa melihat bahwa belajar tidak bisa terbatas ruang dan waktu. Selama ada niat, di situlah kesempatan untuk belajar selalu ada. Bahkan, lewat masa pingitan itulah ide emansipasi perempuan muncul pada diri Kartini.

 

Keinginan untuk melanjutkan sekolah yang tidak direstui

Banyaknya ilmu pengetahuan baru yang dipelajari Kartini membuat beliau memiliki keinginan untuk belajar kembali. Kartini pernah ingin melanjutkan studi di Eropa, tepatnya di Belanda. Namun, sang ayah menolak keinginan Kartini tersebut. Setelah itu, Kartini juga mengungkapkan keinginan untuk bersekolah di Betawi (Jakarta) untuk menjadi guru. Kemudian, sang ayah justru menjodohkan Kartini dengan Bupati Rembang bernama K.R.M. Adipati Ario Singgih Djojo Adhiningrat. Kartini akhirnya menikah di usia 24 tahun. Padahal, saat itu departemen pengajaran Belanda sudah membuka kesempatan bagi Kartini untuk belajar di Betawi.

Hidup sebagai perempuan di masa Kartini tentu tidak mudah. Tidak ada pilihan lain bagi seorang perempuan selain menuruti perintah orang tua. Keputusan Kartini untuk menuruti perintah sang ayah menjadi salah satu contoh bakti seorang perempuan. Bisa jadi mimpi Kartini sudah terkubur, namun rasa hormat beliau pada orang tua patut diteladani juga.

 

Saat sudah menikah, Kartini melanjutkan mimpi memajukan perempuan dengan mendirikan sekolah

Kartini memiliki kehidupan yang cukup bahagia setelah menikah. Beliau beruntung mendapatkan suami yang mengerti akan keinginan Kartini. Kartini dibebaskan untuk tetap belajar seperti yang beliau lakukan selama dipingit dulu. Bahkan, Kartini diperbolehkan mendirikan sebuah sekolah untuk kaum perempuan di Rembang. Sekolah tersebut terletak di sebelah timur gerbang kompleks kantor Kabupaten Rembang. Kini bangunan sekolah tersebut dinamakan Gedung Pramuka.

Cita-cita Kartini untuk melanjutkan pendidikan boleh pupus dan hancur. Namun, beliau tidak ingin banyak perempuan pribumi mengalami hal yang sama seperti beliau. Mendirikan sekolah merupakan salah satu cara Kartini untuk memajukan kaum perempuan pribumi. Di sekolah itulah Kartini ikut mengajar anak-anak perempuan pribumi. Beliau berharap cita-cita tentang emansipasi perempuan dapat tercapai melalui salah satu cara ini.

 

Surat-surat Kartini yang kemudian menjadi sebuah buku

Dari pernikahan beliau, Kartini dikaruniai seorang anak laki-laki yang lahir pada 13 September 1904. Sayangnya, empat hari setelah sang putra lahir, Kartini meninggal dunia. Kala itu beliau berusia 25 tahun. Kartini kemudian dimakamkan di Desa Bulu, Rembang.

Kepergian Kartini ternyata meninggalkan warisan begitu berharga untuk bangsa ini. Mr. J.H. Abendanon mengumpulkan surat-surat yang dikirimkan Kartini untuk teman-teman beliau di Eropa. Tidak hanya itu, Mr. J.H. Abendanon kemudian membukukan surat-surat Kartini tersebut dengan judul “Door Duisternis tot Licht” atau yang diartikan “Dari Kegelapan Menuju Cahaya”. Buku tersebut terbit pada tahun 1911 dan dicetak sebanyak lima kali.

Setelah itu, Balai Pustaka menerbitkannya juga dalam bahasa Melayu dengan judul “Habis Gelap Terbitlah Terang: Boeah Pikiran”. Pada tahun 1938, buku tersebut kembali muncul dengan judul “Habis Gelap Terbitlah Terang” versi Armijn Pane. Berbeda dengan buku-buku sebelumnya, Armijn Pane membagi buku ke dalam lima bab untuk menunjukkan cara berpikir Kartini selama berkorespondensi dengan teman-teman Eropa beliau.

Kemunculan surat-surat Kartini tersebut ternyata bisa mengubah pandangan Belanda terhadap perempuan pribumi. Bahkan, para tokoh kebangkitan nasional Indonesia juga terinspirasi melalui surat-surat Kartini. Pemikiran Kartini tersebut mungkin belum sempat beliau wujudkan semasa hidup. Namun, berkat pemikiran beliaulah pelan-pelan emansipasi perempuan bisa muncul di Indonesia. Bahkan, seorang tokoh politik etis bernama Van Deventer mendirikan Yayasan Kartini di Semarang yang kemudian berkembang di daerah lain, antara lain Surabaya, Yogyakarta, Malang, Madiun, dan Cirebon.

Atas jasa Kartini dalam memperjuangkan emansipasi perempuan, presiden Soekarno kala itu menetapkan Kartini sebagai pahlawan kemerdekaan nasional pada tahun 1964. Tidak hanya itu, hari lahir Kartini pada tanggal 21 April diperingati setiap tahun sebagai Hari Kartini.

 

Dari kehidupan Kartini, kamu dapat belajar bagaimana perjuangan untuk menyetarakan derajat antara laki-laki dan perempuan. Kamu kini tentu bisa menikmati pendidikan sebebas-bebasnya. Kamu memiliki kesempatan yang sama dengan laki-laki dalam berbagai hal. Tidak hanya itu, Kartini juga mengajarkan perempuan Indonesia untuk senantiasa belajar agar terus maju tanpa meninggalkan kodrat perempuan untuk selalu menghormati laki-laki. Rasanya tepat jika kamu jadikan Kartini sebagai tokoh perempuan teladan!

Joko Widodo, Presiden Indonesia yang Paling Merakyat

Joko Widodo atau yang lebih akrab di sapa Jokowi adalah presiden Indonesia ketujuh yang kini masih menjabat. Sepak terjang beliau begitu dikenal masyarakat dan kerap menjadi buah bibir. Siapa sangka kalangan pengusaha asal Solo ini bisa menjadi presiden Indonesia? Tentu kamu juga sudah akrab dengan gaya “blusukan” Jokowi yang sering muncul di televisi. Buat para generasi millennials, pasti nggak asing juga dengan kegiatan nge-vlog yang kadang beliau lakukan. Berawal dari walikota Solo hingga sekarang bisa menjadi presiden, benarkah perjalanan hidup Jokowi semulus yang orang duga? Kalau kamu bertanya-tanya bagaimana Jokowi bisa sampai menjadi presiden, berikut ini ada kisah perjalanan beliau yang semoga bisa menginspirasi kamu. Simak ya!

 

 Kehidupan sulit sudah akrab dengan Jokowi sejak kecil hingga remaja

Joko Widodo, atau yang akrab disapa Jokowi, lahir dari pasangan Noto Mihardjo dan Sidjiatmi pada tanggal 21 Juni 1961 di Surakarta. Jokowi merupakan sulung dari empat bersaudara dan menjadi anak laki-laki satu-satunya dalam keluarga. Kehidupan Jokowi di masa kecil tidaklah mudah. Kondisi ekonomi keluarga yang kurang membuat beliau harus berdagang, mengojek payung, hingga menjadi kuli panggul untuk sekadar memenuhi keperluan sekolah. Bahkan, sejak usia 12 tahun Jokowi sudah akrab dengan pekerjaan sebagai penggergaji. Jokowi sudah terbiasa berjalan kaki ke sekolah saat teman-temannya naik sepeda. Meski begitu, Jokowi tak pernah mengeluhkan keadaan. Jokowi tetap semangat bersekolah dan percaya suatu saat nanti nasib hidup beliau akan berubah lebih baik.

 

Sarjana pertanian yang sukses jadi pengusaha

Pasca lulus dari SMA Negeri 6 Surakarta, Jokowi melanjutkan pendidikan di Fakultas Kehutanan Universitas Gadjah Mada, Yogyakarta. Karena sudah akrab dengan “perkayuan” sejak kecil, Jokowi mengambil kesempatan sebaik-baiknya untuk belajar struktur kayu, pemanfaatan, dan teknologinya selama duduk di bangku kuliah. Setelah lulus pada tahun 1985, Jokowi sempat bekerja di sebuah BUMN, yaitu PT Kertas Kraft Aceh. Beliau ditempatkan di Hutan Pinus Merkusii, Aceh Tengah. Hanya saja Jokowi kemudian memilih pulang kembali ke Solo dan bekerja di usaha kayu milik sang paman, CV Roda Jati.

Berbekal dari pengalaman ikut usaha sang paman, Jokowi memberanikan diri membuka usaha sendiri bernama CV Rakabu. Bisnis kayu yang digeluti Jokowi bukan berarti selalu berjalan mulus. Banyak pasang surut yang dialami, misalnya beliau juga pernah tertipu dengan pesanan yang tidak dibayar. Namun, kegagalan demi kegagalan yang dialami beliau tidak membuat Jokowi pantang menyerah. Perlahan usaha Jokowi bangkit kembali di tahun 1990. Beliau pun kemudian dikenal menjadi salah satu pengusaha cukup sukses di Solo.

 

Awal berpolitik dengan menjadi walikota Solo

Pada akhirnya seorang pengusaha seperti Jokowi terjun pula ke dunia politik. Awal karier politik Jokowi adalah pada saat diusung PDI Perjuangan dan PKB untuk maju menjadi calon walikota Solo. Bersama F.X. Hadi Rudyatmo, Jokowi pun berhasil terpilih menjadi pemimpin Solo. Bukan hal mudah untuk memimpin kota Solo. Masyarakat kota Solo cenderung untuk sulit ditertibkan, padahal kondisi kota Solo saat itu butuh penataan yang baik. Pendekatan yang berbeda pun Jokowi lakukan untuk bisa mengatasi masalah di Solo.

Selama menjabat sebagai walikota Solo, banyak hal sudah Jokowi lakukan. Bus Batik Solo Trans diperkenalkan sebagai salah satu transportasi di kota tersebut. Berbagai kawasan di Solo mengalami peremajaan, antara lain Jalan Slamet Riyadi dan Ngarsopuro. Selain itu, Solo berhasil menjadi tuan rumah berbagai acara internasional. Yang paling fenomenal adalah pendekatan beliau pada para pedagang kaki lima (PKL) guna merelokasi kegiatan mereka. Solo pun menjadi kota yang lebih rapi tanpa perlu ada banyak “drama” satpol PP melawan PKL. Berkat berbagai prestasi tersebut, Jokowi terpilih kembali menjadi walikota Solo tahun 2010.

 

Nama Jokowi makin melejit karena prestasi. Beliau pun menjadi gubernur Jakarta.

Prestasi Jokowi tampaknya menjadi daya tarik bagi beberapa tokoh politik. Jokowi akhirnya dicalonkan menjadi gubernur Jakarta bersama Basuki Tjahaja Purnama (Ahok) sebagai calon wakil gubernur. Pemilihan kepala daerah (Pilkada) Jakarta sendiri berlangsung dalam dua putaran. Di putaran kedua, pasangan Jokowi-Ahok harus melawan pasangan Fauzi Bowo-Prijanto. Jokowi-Ahok akhirnya unggul atas lawannya. Jokowi pun resmi menjadi gubernur Jakarta setelah sebelumnya melepas jabatan sebagai walikota Solo.

Awal kepimpinan Jokowi sebagai gubernur Jakarta diawali dengan program bantuan sosial melalui Kartu Jakarta Sehat dan Kartu Jakarta Pintar. Beliau juga melakukan pembenahan saluran air Jakarta melalui program JEDI. Di bidang transportasi, Jokowi membuat program transportasi massal MRT Jakarta, meremajakan bus kecil, hingga penambahan armada bus Trans Jakarta. Bahkan, Jokowi juga mengusulkan sterlisasi jalur bus way agar jalur tersebut benar-benar hanya akan dilewati oleh Trans Jakarta, bukan transportasi lainnya.

Hal paling unik dari Jokowi adalah kebiasaan “blusukan”. Beliau suka terjun langsung ke lapangan untuk melihat perkembangan sebuah proyek atau sekadar memantau langsung kondisi masyarakat Jakarta. Banyak yang menganggap tindakan Jokowi ini hanya pencitraan semata. Namun, Jokowi tidak peduli dengan berbagai cibiran tersebut. Jokowi sendiri memang sudah terbiasa “blusukan” sejak masih menjadi walikota Solo. Bagi beliau, “blusukan” mendekatkan Jokowi dengan masyarakat sehingga bisa lebih sering mendengar keinginan mereka. Bisa jadi isu pencitraan muncul hanya karena publikasi kepada beliau yang jauh lebih banyak saat menjadi gubernur Jakarta dibandingkan saat masih menjadi walikota Solo. Sekarang coba kamu renungkan, berapa banyak pemimpin yang kini juga meniru gaya “blusukan” Jokowi?

 

Sosok pengusaha yang akhirnya bisa menjadi presiden Indonesia

Kepopuleran Jokowi pun benar-benar naik. Beberapa survei menyebutkan bahwa beliau menjadi kandidat kuat calon presiden Indonesia tahun 2014. Desas-desus tersebut belum bisa terbukti hingga akhirnya beliau benar-benar dicalonkan PDI Perjuangan untuk menjadi calon presiden. Banyak rintangan yang Jokowi hadapi saat menjadi calon presiden Indonesia ini. Jokowi sempat dinilai melanggar hukum perdata karena meninggalkan jabatan gubernur sebelum merealisasikan janjinya untuk program kerakyatan. Muncul pula banyak isu yang menyudutkan beliau, mulai dari sindiran sebagai capres boneka, tuduhan sebagai keturunan Tionghoa, hingga isu bahwa beliau merupakan antek asing. Berbagai isu negatif yang menimpa beliau tak membuat langkah Jokowi surut. Bersama Jusuf Kalla, Jokowi pun akhirnya sukses mengalahkan pasangan Prabowo Subianto-Hatta Rajasa. Keberhasilan Jokowi menjadi presiden menambah daftar keberagaman latar belakang presiden Indonesia. Ya, pengusaha kayu asal Solo ini berhasil menjadi presiden Indonesia. Siapa sangka si tukang gergaji di masa kecil kini bisa memimpin bangsa ini. Keyakinan Jokowi untuk bisa mengubah nasib menjadi baik pun berbuah menjadi kenyataan. Bahkan tak hanya itu, beliau juga berperan mengubah nasih banyak rakyat, baik di Solo, Jakarta, dan seluruh Indonesia.

 

Tantangan menjadi presiden Indonesia

Mirip dengan kebijakan saat menjadi gubernur Jakarta, Jokowi meluncurkan Kartu Indonesia Sehat, Kartu Indonesia Pintar, dan Kartu Keluarga Sejahtera. Jokowi juga sempat menaikkan harga BBM yang kemudian mendapat banyak respon negatif dari masyarakat. Padahal, dana subsidi BBM tersebut akan dialihkan untuk pembangunan infrastruktur dan kesehatan. Sektor kelautan pun menjadi perhatian tersendiri bagi Jokowi. Beliau menginstruksikan hukuman yang tegas bagi para pencuri ikan ilegal. Tak heran jika akhirnya menteri Susi Pudjiastuti juga gemar “menenggalamkan” kapal-kapal yang kerap melanggar aturan. Berbagai proyek pembangunan juga menjadi ciri khas dalam pemerintahan Jokowi ini, antara lain jalan tol Trans-Sumatra, Tol Solo-Kertasono, pelabuhan Makassar, dan masih banyak lagi.

Jokowi juga berusaha kembali mewujudkan swasembada pangan dengan cara melakukan pembukaan lahan sawah di berbagai daerah. Kebanyakan daerah tersebut berada di Sulawesi, Kalimantan, Sumatra, dan Papua. Jokowi membuat kejutan dengan membubarkan PETRAL (Pertama Energy Trading Ltd), anak perusahaan Pertamina yang diketahui sebagai sarang para mafia migas. Narkoba juga menjadi masalah yang paling disorot Jokowi. Beliau merasa bahwa narkoba sudah menghancurkan masa depan anak-anak muda Indonesia. Jokowi akhirnya menjatuhkan hukuman mati bagi para gembong narkoba.

Meski banyak melakukan perubahan, berbagai cibiran tetap saja menghampiri Jokowi. Bahkan, berbagai isu-isu masa kampanye pun kembali mencuat. Rasanya memang tidak pernah ada pemimpin yang sempurna untuk bangsa ini. Yang jelas, keberadaan Jokowi sebagai presiden telah menjadi terobosan baru dalam sejarah kepemimpinan di Indonesia. Kalaupun begitu banyak masalah yang belum bisa diselesaikan, bukankah hal tersebut juga pernah dialami oleh presiden-presiden sebelumnya?

 

Gaya kepemimpinan yang lain dari tokoh pemimpin lainnya

Bisa dibilang, Jokowi adalah pemimpin zaman now. Jika dilihat ke belakang, belum pernah ada pemimpin yang akrab dengan media sosial. Bahkan, kedekatan Jokowi dengan hal-hal kekinian membuat beliau mudah diterima oleh generasi millennials. Kegemaran Jokowi untuk “blusukan” juga jauh lebih disukai anak muda daripada politisi yang terlalu banyak debat kusir di televisi. Jokowi juga mendukung industri-industri kreatif yang kini sedang menjamur di kalangan anak muda. Jika dibandingkan presiden Indonesia sebelumnya, Jokowi merupakan sosok yang lebih tenang dan lebih banyak mendengarkan masyarakat. Jokowi juga jarang berpidato dengan berapi-api di depan massa. Bahkan, jarang sekali Jokowi terlihat perang sindiran dengan lawan politik. Bisa dibilang, Jokowi ini sosok pemimpin yang paling merakyat yang pernah dimiliki Indonesia. Percaya atau tidak, cibiran “blusukan” yang dikatakan membuang waktu dan pencitraan justru mulai dicontoh banyak pemimpin masa kini.

 

Jokowi memperoleh berbagai penghargaan dari kepemimpinan beliau

Kepemimpinan dan kepribadian unik Jokowi membawa beliau memperoleh beberapa penghargaan. Saat masih menjabat sebagai walikota Solo, Jokowi terpilih menjadi salah satu dari “10 Tokoh 2008” versi Majalah Tempo. Keberhasilan beliau merelokasi dan memberdayakan PKL membuahkan penghargaan internasional dari Kemitraan Pemerintahan Lokal Demokratis Asia Tenggara (Delgosea). Penghargaan Bintang Jasa Utama juga diperoleh Jokowi di tahun 2011. Penghargaan tersebut diberikan kepada warga sipil yang mengabdikan diri bagi masyarakat. Bahkan, Jokowi dinobatkan menjadi walikota terbaik ke-3 di dunia atas keberhasilan beliau memimpin kota Solo.

Jika sampai orang-orang di luar negeri saja memberikan penghargaan atas kinerja Jokowi, rasanya pantas jika sosok yang satu ini menjadi kebanggaan Indonesia. Kesuksesan Jokowi tentu bukan diraih secara instan. Semua beliau awali hanya dari membangun dan memberesken sebuah kota di Indonesia. Tanpa disadari, keberhasilan Jokowi inilah yang mementik semangat para pemimpin lain untuk bisa bekerja lebih keras dan bermanfaat bagi masyarakat.

 

Jokowi adalah salah satu sosok pemimpin fenomenal Indonesia. Banyak yang beranggapan bahwa karier politik Jokowi terlalu agak cepat dan instan. Namun, mungkin tidak banyak yang tahu juga bahwa beliau juga melalui proses yang begitu panjang sebelum menjadi presiden Indonesia. Pengalaman memimpin beberapa daerah dengan jejak rekam yang baik lah yang mampu membawa beliau sampai di posisi ini. Kisah perjuangan Jokowi ini semoga bisa menjadi inspirasi untuk kamu juga ya!

Pramoedya Ananta Toer, yang Tak Pernah Menyerah dalam Menulis

Nama Pramoedya Ananta Toer atau lebih populer dengan Pram tentu sudah tidak asing lagi bagi kamu. Beliau merupakan salah seorang penulis terbesar yang pernah dimiliki Indonesia. Tidak hanya itu, karya-karya Pram sudah diterjemahkan ke lebih dari 40 bahasa di seluruh dunia. Tetralogi “Pulau Buru” merupakan karya Pram yang paling terkenal karena dibuat saat mendekan di dalam tahanan di Pulau Buru. Bahkan, seri pertama yang berjudul “Bumi Manusia” hendak dibuat film. Kalau kamu sebagai anak zaman now belum begitu mengenal sosok Pram ini, ada baiknya kamu belajar beberapa kisah hidup beliau yang menginspirasi. Kesuksesan beliau sebagai penulis tentu tidak didapat dengan mudah. Simak ya kisah perjalanan Pramoedya Ananta Toer berikut ini!

 

 Latar belakang Pram dan kehidupan sekolahnya

Pramoedya Ananta Toer lahir di Blora pada tanggal 6 Februari 1925 dengan nama Pramoedya Ananta Mastoer. Nama keluarga “Mastoer” yang dirasa cukup aristokrastik membuat Pram memilih mengubah nama menjadi “Toer”. Ayah Pram adalah seorang guru, sementara sang ibu adalah seorang penjual nasi. Pram merupakan putra sulung dalam keluarganya.

Meski sang ayah berprofesi sebagai guru, ternyata tidak membuat Pram sukses dalam sekolahnya. Pram tercatat tiga kali tidak naik kelas saat duduk di bangku sekolah dasar. Ayah Pram sempat marah pada beliau dan menganggap Pram adalah anak bodoh. Pram kemudian tidak didaftarkan ke MULO (setara SMP) karena dianggap tidak mampu. Sang ibu kemudian memasukkan Pram ke Radio Vakschool (sekolah telegraf) di Surabaya. Kala itu Pram hampir gagal mengikuti ujian praktik lantaran keterbatasan biaya. Meski begitu, Pram akhirnya bisa lulus dari Radio Vakschool dengan nilai-nila cukup baik.

Siapa sangka sosok penulis terbesar di Indonesia ini justru pernah berulang kali tidak naik kelas? Kegagalan di masa lalu ternyata bukan jadi tolak ukur kegagalan di masa depan bukan?

 

Awal mula Pram mengenal dunia menulis dan kehidupan Pram pasca kemerdekaan Indonesia

Pram sempat dipenjara di masa pendudukan Belanda karena dugaan keterlibatan beliau dalam pasukan pejuang kemerdekaan. Kemudian Pram bekerja sebagai juru ketik surat kabar Jepang di Jakarta pada masa pendudukan Jepang. Mungkin dari sinilah awal mulai Pram menjadi terbiasa menulis.

Pasca kemerdekaan Indonesia, Pram kerap ikut kelompok militer di Jawa. Beliau bahkan masih sempat menulis cerpen dan buku di sepanjang karier militer beliau. Pram sempat tinggal di Belanda pada tahun 1050-an sebagai bagian dari program pertukaran budaya. Sekembalinya dari Belanda, Pram bergabung dengan Lekra. Lekra merupakan salah satu organisasi sayap kiri yang dulu sedang berkembang di Indonesia. Dari sinilah awal mula memburuknya Pram dengan presiden Soekarno kala itu.

Pram kemudian menjalin hubungan baik dengan beberapa penulis Tiongkok. Beliau mulai menelusuri penyiksaan beberapa kaum Tionghoa di Indonesia. Akhirnya, sebuah buku berjudul “Hoakiau di Indonesia” diterbitkan oleh Pram. Buku tersebut berisi tentang surat-suratnya dengan penulis Tionghoa yang membahas sejarah Tionghoa di Indonesia. Melalui buku tersebut, ada dua hal yang bisa diambil. Pertama, inilah buku pertama orang Indonesia yang menjelaskan sejarah masyarakat Tionghoa di Indonesia dan kedekatan budaya Tionghoa dan Indonesia. Kedua, sosok Pram menjadi salah satu contoh seorang intelektual Indonesia dengan pemikiran yang terilhami kebudayaan Cina. Akibat buku tersebut, Pram dinilai terlalu pro-komunis Tiongkok. Soekarno yang tidak menyukai hal tersebut langsung melarang buku “Hoakiau di Indonesia”. Tidak hanya itu, Pram pun ditahan tanpa peradilan dan dipenjara di Nusakambangan sebelum akhirnya dipindahkan ke Buru pada tahun 1960.

Kecintaan Pram pada dunia menulis dan ide-ide beliau yang kerap melawan pemerintah tampaknya tidak pernah menyurutkan semangat beliau. Meski telah dipenjara, Pram tidak jera untuk menulis.

 

Pram semakin akrab dengan penjara setelah untuk ketiga kalinya dipenjara di masa Orde Baru

Setelah setahun merasakan penjaran di era Soekarno, Pram akhirnya dibebaskan. Namun, tampaknya nasib Pram sudah ditakdirkan untuk “akrab” dengan penjara. Pada tahun 1965, lagi-lagi Pram harus kembali merasakan penjara di masa Orde Baru di bawah pemerintahan Soeharto. Kala itu Pram dituduh terlibat dalam peristiwa G30S/PKI. Mirisnya, lagi-lagi Pram dipenjara tanpa proses peradilan. Total Pram merasakan 14 tahun hidup sebagai tahanan politik di tiga tempat, yaitu Nusakambangan, Pulau Buru, dan Magelang.

Pram sempat dilarang menulis selama masa tahanannya tersebut. Namun, sifat “badung” Pram memang selalu muncul. Beliau tetap saja aktif menulis dan membaca selama hidup sebagai tahanan. Bahkan, beberapa karya besar justru lahir di masa penahanan tersebut, antara lain tetralogi “Pulau Buru”.

 

Tetralogi “Pulau Buru” menjadi salah satu karya besar Pram saat hidup di penjara

Dari sekian banyak karya yang ditulis oleh Pram, tetralogi “Pulau Buru” menjadi yang paling banyak dibicarakan karena buku-buku tersebut beliau tulis saat menjalani tahanan di Pulau Buru. Tetralogi “Pulau Buru” terdiri dari empat buku, yaitu “Bumi Manusia”, “Anak Semua Bangsa”, “Jejak Langkah”, dan “Rumah Kaca”. Keempat buku tersebut menceritakan seorang tokoh bernama Minke yang merupakan keturunan bangsawan Jawa. Tentu bukan hal mudah membuat sebuah karya besar di dalam penjara, apalagi Pram memang dilarang untuk menulis. Buku pertama “Bumi Manusia” pernah Pram bawakan sambil bercerita kepada rekan-rekan beliau di penjara. Sementara, ketiga buku lain bahkan sempat diselendupkan ke luar negeri dan diterbitkan dalam bahasa Inggris dan Indonesia. Tetralogi “Pulau Buru” sendiri nyaris tidak terselamatkan karena hampir dibakar oleh tentara. Pram sempat berujar bahwa karya beliau tidak bisa diterima di negeri sendiri, tapi malah diterjemahkan ke dalam 41 bahasa.

Pram dibebaskan pada tanggal 21 Desember 1979. Beliau mendapatkan surat pembebasan dan dinyatakan tidak terlibat dalam G30S/PKI. Hanya saja, beliau masih menjadi tahanan rumah dan menjalani wajib lapor ke Kodim Jakarta Timur selama kurang lebih dua tahun.

Hidup dalam penderitaan ternyata tidak membuat Pram berhenti berkarya. Siapa sangka justru karena penderitaan itulah lahir mahakarya besar yang justru membuat nama Pram harum hingga di luar negeri. Semangat Pram yang satu ini patut untuk kamu tiru nih!

 

Berbagai penghargaan yang pernah diterima Pram

Semasa hidup, Pram telah menghasilkan lebih dari 50 buku yang diterjemahkan ke dalam puluhan bahasa asing. Indonesia tentu bangga bisa memiliki penulis hebat seperti Pram ini. Berbagai penghargaan internasional juga sempat beliau dapatkan, antara lain Ramon Magsaysay Award di tahun 1995, Doctor of Humane Letters dari Universitas Michigan di tahun 1990, New York Foundation of the Arts Award tahun 2000, dan Centenario Pablo Neruda Awards pada tahun 2004. Selain itu, Pram juga berkali-kali dinominasikan untuk pengahrgaan Nobel Sastra. Hanya saja, Pram belum berhasil mendapatkan penghargaan tersebut.

Sempat ditolak di negeri sendiri nyatanya tidak membuat Pram patah arang. Beliau terus menyuarakan opini melalui karya-karya yang justru mampu disambut baik di luar negeri. Kecintaan Pram pada dunia sastra ternyata bisa berbuah manis ya!

 

Pram tetap aktif menulis hingga akhir hayatnya

Pram dikenal tetap aktif menulis hingga tua. Saat masih berstatus tahanan negara hingga tahun 1999, Pram tetap menulis karya-karya. Beliau menulis novel berjudul “Gadis Pantai” yang terinspirasi dari kisah nenek Pram. Ada pula karya lainnya, seperti “Arus Balik” dan “Nyanyi Sunyi Seorang Bisu”. Karya-karya Pram selalu identik dengan interaksi antarbudaya serta kritik politik. Meski kesehatan beliau semakin menurun karena komplikasi penyakit yang diderita, Pram tetap setia menulis. Pram kerap menulis artikel pendek yang mengkritik pemerintahan Indonesia.

Pada tanggal 30 April 2006, Pram mengembuskan napas terakhir di Jakarta. Kepergian beliau sempat meninggalkan duka mendalam bagi para seniman Indonesia. Karya-karya beliau menjadi bukti bahwa perjuangan menyuarakan pikiran tidak akan pernah bagi seorang penulis. Hingga kini, karya-karya Pram masih dinikmati oleh anak-anak muda. Ini jadi salah satu bukti bahwa raga Pram boleh sudah tidak ada, tetapi semangat beliau tidak akan hilang begitu saja untuk bangsa ini.

 

Pram telah menjadi salah satu sosok penulis yang bisa membawa harum nama bangsa Indonesia. Dari kisah hidup beliau, kamu bisa belajar bahwa menyerah akan keadaan bukanlah suatu keputusan yang tepat saat sedang putus asa. Jika saja dulu Pram menyerah menulis saat dipenjara, mungkin tidak pernah ada karya-karya hebat yang bisa dinikmnati bangsa ini hingga sekarang.

Anthony Salim, Pebisnis Lincah Tangkap Peluang

Hak waralaba perusahaan makanan cepat saji KFC, PT Bogasari Flour Mills produsen terigu terbesar dunia, hingga PT Indofood Sukses Makmur Tbk hanya beberapa dari perusahaan yang dikelola oleh Anthoni Salim. Namanya memang tidak asing lagi ya, karena beliau merupakan putra mahkota dari Salim Group. Ayahnya, Salim Sudono dikenal sebagai seorang pebisnis ulung tanah air. Anthoni pun meneruskan kiprah sang Ayah dalam mengelola gurita perusahaan milik Salim Group.

 

Berasal dari keluarga Tionghoa, Anthoni Salim lahir pada 25 Oktober 1949 dengan nama asli Liem Hong Sien. Ia pun menikah dengan Margaret Salim dan dikaruniai tiga orang anak yang diberi nama Axton Salim, Alston Salim, dan Astrid Salim. Berasal dari keluarga mapan, Anthoni kian memantapkan diri terjun ke dunia bisnis dengan berbekal ijazah dari North East Surrey College of Technology di Inggris. Kala itu, Anthoni mengambil konsentrasi jurusan bisnis.

 

Menjadi nahkoda kerajaan bisnis warisan sang Ayah menobatkannya sebagai salah satu pengusaha sukses di tanah air. Namanya masuk dalam kategori 10 tokoh bisnis paling berpengaruh versi Warta Ekonomi. Namanya juga langganan dalam daftar orang terkaya versi majalah Forbes. Kekayaannya membawa Anthoni Salim berada di urutan ketiga orang terkaya Indonesia dan urutan ke-33 di Asia pada tahun 2016 lalu.

 

Pasang Surut Anthoni Salim

Namun segala gelar glamor itu tak lepas dari perjuangan Anthoni Salim yang mati-matian mempertahankan aset-aset perusahaannya. Kala krisis moneter 1998, Salim Group yang kala itu masih dikelola Ayahnya sempat terpuruk. Demi mempertahankan diri, terpaksa mengajukan utang ke Bantuan Likuiditas Bank Indonesia (BLBI) senilai lebih dari Rp50 triliun. Utang ini diwarisi pula oleh pria berkacamata ini. Tak kehabisan akal, Anthoni melego beberapa anak perusahaan Salim Group seperti Bank BCA, PT Indocement, dan PT Indombil. Suka tidak suka, harus ada yang dilepas demi menutup utang yang tidak sedikit itu. Pada Maret 2004, Anthoni mengantoni surat keterangan lunas dari pemerintahan Megawati Soekarnoputri kala itu.

 

Namun demikian, Anthoni tak sembarangan melepas anak perusahaan Salim Group. Perusahaan dengan potensi tak main-main tetap dipertahankannya, seperti PT Indofood Sukses Makmur Tbk dan PT Bogasari Flour Mills. Indofood hingga kini masih memegang tampuk sebagai pemimpin industri makanan tanah air. Proses produksi dari hulu ke hilir dikelola dengan baik. Produk-produknya pun sudah menjadi bagian dari masyarakat Indonesia, bahkan dikenal dunia. Siapa yang tidak pernah mencoba Indomie, susu Indomilk, minyak goreng Bimoli, dan masih banyak lagi lainnya. Tidak heran jika kemudian pada tahun 2009 lalu, PT Indofood Sukses Makmur Tbk berhasil meraup laba bersih mencapai Rp2 triliun.

 

PT Bogasari Flour Mills juga perusahaan milik Anthoni yang menjadi produsen mi instan dan terigu terbesar di dunia. Dengan jeli Anthoni menerapkan strategi bisnis dan memperkuat brand awareness produk hasil dari anak perusahaan Salim Group. Bukan hal yang mengherankan jika kemudian Majalah Globe Asia menobatkannya sebagai pengusaha terkaya ketiga Indonesia. Kala itu, Anthoni tercatat memiliki harta nyaris Rp30 triliun. Dan belum lama ini, pada tahun 2017, Globe Asia juga merilis Power 50: The Most Influential Indonesians in 2017. Nama Anthoni mejeng di peringkat ke-43 dengan sederet prestasi dan disebut sebagai one of the most influential business conglomerates in Indonesia.

 

Tak Pernah Berpuas Diri

Telah menjadi salah satu konglomerat tanah air tak membuat Anthoni Salim berpuas diri. Ia terus mencari celah untuk melakukan ekspansi bisnis dalam iklim kompetisi yang sangat ketat. Contohnya saja pada tahun 2005, saat Anthoni menggandeng Nestle S.A. dalam joint venture demi memperlebar pangsa pasar kedua perusahaan raksasa di bidang makanan tersebut. Di bawah bendera PT Nestle Indofood Citarasa Indonesia, Anthoni ingin memberi nilai tambah bagi masyarakat, juga para pemegang saham.

 

PT Indofood Sukses Makmur Tbk terus mendulang kesuksesan di bawah kepemimpinan Anthoni Salim. Akuisisi dan kerja sama menjadi elemen dinamis yang ditembakkan Anthoni demi menggaet segmen pasar yang kian luas. Anthoni pula yang membeli saham China Minzhong Food Corporation Limited (CMFC), sebuah perusahaan yang bergerak di bidang pengolahan sayur. Saham PT Indofood Sukses Makmur Tbk di CMFC tidak main-main, mencapai 33,49 persen atau 219,5 juta lembar saham yang terdaftar di bursa saham Singapura. Kini Salim Group pun terus berbenah menuju era belanja digital lewat lini usaha di dalamnya.

 

Pada Oktober 2017, nama Anthoni Salim menjadi viral karena kasus dana hibah yang pertama kali terkuak di media sosial. Kasus ini bahkan disebut-sebut menyeret puluhan ribu orang yang diminta menyetor uang pangkal keanggotaan dan dana setoran, dengan iming-iming pencairan dana hibah. Namun hal ini dibantah oleh pihak Anthoni dan disebut sebagai hal yang mengada-ada.

 

Terlepas dari kontroversi dirinya, Anthoni Salim telah menahtakan diri sebagai salah satu pebisnis ulung tanah air yang beberapa kali mendapat gelar mentereng di tingkat dunia.

 

 

Tri Rismaharini, Sosok Wali Kota Perempuan yang Tegas dan Penuh Prestasi

Tri Rismaharini menjadi wali kota Surabaya yang dalam beberapa tahun belakang ini menjadi sering disorot karena berbagai prestasi yang beliau ukir. Tidak banyak pemimpin daerah yang bisa sukses seperti Risma, maka wajar rasanya jika kemudian banyak orang yang meniru keteladanan Risma dalam memimpin daerah. Di tangan Risma, Surabaya bisa berubah menjadi kota yang lebih rapi dan baik. Pemerintahan yang lebih bersih dan mengayomi masyarakat menjadi prinsip Risma selama menjadi wali kota. Jika kamu penasaran dengan sepak terjang pemimpin perempuan pertama yang dimiliki Surabaya ini, simak yuk kisah perjalanan Tri Rismaharini berikut!

  

Masa kecil dan pendidikan Tri Rismaharini

Tri Rismaharini atau yang lebih dikenal dengan nama Risma lahir di Kediri pada tanggal 20 November 1961. Beliau anak dari pasangan M. Chuzuzaini dan Siti Muajiatun. Ayah Risma adalah seorang PNS di kantor pajak. Kehidupan Risma di masa kecil terbilang sangat sederhana. Sosok ayah yang bekerja sebagai PNS menginspirasi Risma untuk bisa seperti sang ayah.

Risma tercatat menempuh pendidikan SD di Kediri, kemudian beliau melanjutkan SMP hingga kuliah di Surabaya. Semasa SMA, Risma pernah menjadi pelari andalan kota Surabaya. Selepas lulus SMA, Risma melanjutkan kuliah di Institut Teknologi Sepuluh November Surabaya dan mengambil jurusan arsitek. Tidak hanya sampai di situ, Risma juga kemudian kembali melanjutkan studi S2 di kampus yang sama dengan jurusan Manajemen Pembangunan Kota.

 

Karier sebagai PNS yang patut diteladani

Karier Risma berlabuh sebagai PNS seperti sang ayah. Bidang yang diambil pun tidak jauh dari pendidikan beliau di masa kuliah. Beberapa jabatan pernah Risma emban, antara lain Kepala Seksi Tata Ruang dan Tata Guna Tanah Badan Perencanaan Pembangunan Kota Surabaya, Kepala Seksi Pendataan dan Penyuluhan Dinas Bangunan Kota Surabaya, dan Kepala Cabang Dinas Pertamanan Kota Surabaya. Karier Risma makin meroket ketika bisa menjadi Kepala Bagian Bina Pembangunan, Kepala Bagian Penelitian dan Pengembangan, dan Kepala Dinas Kebersihan dan Pertamanan Kota Surabaya. Puncaknya, beliau berhasil menjadi Kepala Badan Perencanaan Pembangunan Kota Surabaya pada tahun 2008.

Kesungguhan Risma dalam berkarier bisa dilihat dari pencapaian beliau yang tidak biasa. Mungkin tidak banyak PNS yang bisa seperti Risma ini. Di tengah banyaknya pandangan negatif terhadap profesi PNS, sosok Risma bisa membuktikan bahwa bekerja sebagai PNS pun bisa sebagai salah satu bentuk mengabdi pada masyarakat.

 

Keterlibatan Risma dalam dunia politik

Kiprah baik Risma di dunia biroktasi mampu membuat PDI Perjuangan tertarik mencalonkan Risma sebagai wali kota Surabaya. Risma memang dikenal sebagai sosok yang bekerja keras, ulet, ceplas-ceplos, dan selalu memerhatikan wong cilik. Sebelumnya, Risma juga menangani penanganan kota Surabaya saat menjabat sebagai Kepala Dinas Kebersihan dan Pertamanan Kota Surabaya. Tidak heran jika kemudian warga Surabaya begitu jatuh cinta pada sosok Risma ini. Ketika PDI Perjuangan mengusung beliau sebagai calon wali kota, sudah pasti banyak warga Surabaya yang mendukung. Dalam partai, Risma dikenal juga cukup dekat dengan Megawati. Risma dipercaya sebagai juru kampanye nasional di wilayah Indonesia Timur, bahkan hingga Papua. Tidak hanya itu, Megawati juga pernah mengatakan bahwa beliau tidak menyesal memilih Risma sebagai kader dari PDI Perjuangan yang mewakili partai sebagai pemimpin daerah.

Keuletan, kesetiaan, dan kegigihan Risma dalam pekerjaan beliau ternyata membawa kepercayaan penuh dari warga Surabaya. Dari Risma, kamu bisa belajar bahwa ternyata sosok calon pemimpin pun memang harus yang bisa mengerti masyarakat dan berkontribusi untuk kotanya.

 

Perempuan pertama yang bisa menjadi wali kota Surabaya sepanjang sejarah

Akhirnya, Risma pun terpilih menjadi wali kota Surabaya pada usia 49 tahun untuk periode 2010-2015. Saat itu Risma bersama Bambang Dwi Hartono memenangkan 358.187 suara atau sekitar 38,53% dari total suara keseluruhan. Sejarah baru pun terukir. Risma menjadi wali kota perempuan pertama di Surabaya. Namun, Bambang Dwi Hartono mengundurkan diri dari jabatan wakil wali kota di tahun 2013 karena hendak mengikuti pemilihan gubernur Jawa Timur. Posisi wakil wali kota kemudian digantikan oleh Wisnu Sakti Buana.

Pada masa kepempinan Risma, kota Surabaya dirombak total. Berbekal pengalaman di Badan Perencanaan Pembangunan Kota Surabaya, Risma berhasil membuat kota Surabaya menjadi lebih rapi, asri, dan segar. Beberapa taman kota juga mulai dibangun, misalnya konsep all in one entertainment park yang dilakukan di taman bangkul di Jalan Darmo. Risma juga membangun jalur pedistrian di sepanjang Jalan Basuki Rahmat hingga di Jalan Tunjungan, Blauran, dan Panglima Sudirman. Taman-taman yang dulu mati kini justru menjadi tempat wajib bagi warga Surabaya untuk menghabiskan waktu bersama keluarga dan teman.

Risma juga membuat dobrakan untuk sistem pelayanan masyarakat. Di Suarabya, beliau menerapkan sistem respon cepat (central clearing house) yang terinspirasi dari respon pelanggan cepat dari sebuah restoran siap saji. Warga Surabaya bisa menyampaikan keluhan dan saran lewat telepon, sms, email, fax, hingga media sosial. Tidak sampai di situ, Risma juga membangun Broadband Learning Center untuk memberi pelatihan bagi petani agar terkoneksi dengan sistem pelayanan daring. Melalui sistem ini, petani dan pekerja sektor lain menjadi lebih mudah membangun akses pemasaran produk.

Bisa dibilang, Risma ini termasuk wali kota zaman now. Beliau mampu merangkul masyarakat tidak hanya lewat tatap muka langsung, melainkan juga menggunakan fasilitas internet yang makin canggih dan lebih dekat dengan anak muda. Risma tidak gaptek akan perkembangan zaman. Tidak banyak loh kepala daerah yang bisa seperti ini. Kepeduliaan beliau pada penataan kota juga berhasil membuat Surabaya menjadi kota yang lebih rapi. Dari hasil kerja keras beliau, bisa dilihat kalau Risma ini selalu bersungguh-sungguh pada pekerjaan dan mengemban amanah masyarakat Surabaya dengan baik.

 

Prestasi Risma sepanjang menjabat sebagai wali kota Surabaya

Surabaya berhasil memperoleh piala Adipura Kencana empat kali berturut-turut di tahun 2011 hingga 2014 untuk kategori kota metropolitan. Selain itu, pada tahun 2016 berhasil memperoleh piala Adipura Paripurna. Surabaya juga berhasil menjadi kota terbaik partisipasinya se-Asia Pasifik versi Citynet pada tahun 2012 karena keberhasilan pemerintah kota dan partisipasi masyarakat dalam mengelola lingkungan. Pada tahun 2013, Surabaya lagi-lagi berprestasi dengan memperoleh dua penghargaan pada Future Government Awards, yaitu data center dan inklusi digital. Penghargaan lain yang diterima Surabaya antara lain The 2013 Asian Townscape Award dari Perserikatan Bangsa-Bangsa untuk Taman Bangkul sebagai taman terbaik se-Asia dan penghargaan internasional Future City versi FutureGov untuk sistem pelayanan kemudahan investasi kota Surabaya.

Segudang prestasi Surabaya juga berpengaruh pada prestasi individu yang didapat Risma. Risma pernah terpilih sebagai Mayor of the Month (wali kota terbaik) pada Februari 2014. Beliau kembali dinobatkan sebagai wali kota terbaik ketiga dunia versi World City Mayors Foundation pada Februari 2015. Pengahargaan ini diberikan atas figur enerjik dan keuletan Risma dalam memimpin Surabaya. Risma dikenal menjadi sosok yang berani menutup kawasan lokalisasi terbesar di Asia Tenggara, Gang Dolly, dan respon cepatnya saat menangani korban insiden Air Asia QZ8501. Selain itu, Risma juga berhasil terpilih menjadi 50 tokoh paling berpengaruh di dunia versi majalah Fortune pada Maret 2015. Atas keberhasilan Risma dalam membangun Surabaya, presiden Jokowi memberikan tanda kehormatan Bintang Jasa Utama pada tanggal 13 Agustus 2015 bersama 14 tokoh lainnya. Keberhasilan Risma dalam memerangi praktik korupsi di Surabaya juga membawa beliau mendapat penghargaan anti korupsi dari Bung Hatta Anti Corruption Award.

Wah, tidak hanya membuat Surabaya menjadi salah satu ibukota lebih baik, kerja keras Risma mampu membawa prestasi tersendiri bagi Surabaya. Sosok tegas beliau juga dinilai mampu menginspirasi anak-anak muda Indonesia. Indonesia pasti bangga memiliki salah satu pemimpin daerah seperti Risma ini!

 

Tri Rismaharini bukan hanya menjadi figur pemimpin yang sukses membangun daerahnya. Dari Risma, kamu bisa belajar ketekunan dan kegigihan dalam setiap pekerjaan. Lihat saja, setiap kesungguhan Risma nyatanya mampu membawa hasil yang baik. Semoga kisah beliau bisa menginspirasi kamu yah!

Chairul Tanjung, Lulusan Kedokteran Gigi yang Sukses Menjadi Pengusaha

Satu lagi sosok pengusaha yang cukup terkenal di Indonesia. Beliau adalah Chairul Tanjung. Pada tahun 2010, majalah Forbes menempatkan Chairul sebagai salah satu orang terkaya di dunia dengan berada di urutan ke-937. Satu tahun kemudian, total kekayaan Chairul meningkat dua kali lipat. Hingga akhirnya pada tahun 2014, kekayaan Chairul mencapai 4 miliar dollar Amerika Serikat dan menempati urutan ke-375 orang terkaya di dunia. Mungkin kamu hanya bisa melongo melihat angka-angka tadi. Lalu, muncul pertanyaan besar di benak kamu: bagaimana bisa Chairul sekaya itu? Kesuksesan Chairul hingga bisa menjadi salah satu orang terkaya di dunia tentu didapat dari hasil kerja keras beliau. Kalau penasaran, simak saja kisah perjalanan bisnis Chairul Tanjung berikut ini!

 

 Masa kecil dan pendidikan Chairul Tanjung

Chairul Tanjung lahir di Jakarta, 16 Juni 1952. Beliau lahir dari pasangan Abdul Ghafar Tanjung dan Halimah. Sang ayah merupakan seorang wartawan di masa orde lama yang menerbitkan sebuah surat kabar. Namun, usaha sang ayah terpaksa ditutup di era orde baru karena bersebrangan secara politik dengan Soeharto kala  itu. Chairul beserta keluarga terpaksa pindah ke kamar losmen kecil karena rumah mereka dijual.

Meski sempat merasakan hidup susah, Chairul beruntung karena masih bisa menamatkan pendidikan dengan baik. Tercatat, Chairul pernah bersekolah di SD dan SMP Van Lith. Chairul kemudian melanjutkan sekolah di SMA Negeri 1 Boedi Oetomo Jakarta. Selepas lulus SMA, Chairul berkuliah di fakultas kedokteran gigi di Universitas Indonesia.

 

Bakat berdagang sejak duduk di bangku kuliah

Kehidupan keluarga Chairul yang pas-pasan membuat Chairul harus membantu keluarga agar bisa memenuhi kebutuhan perkuliahan. Untuk itulah, Chairul sudah memulai berbisnis sejak kuliah. Chairul berjualan buku kuliah stensilan dan kaos di kampus. Selain itu, Chairul juga membuka jasa fotokopi di kampus. Meski harus berjualan sambil kuliah, Chairul tidak lalai pada pendidikan. Bahkan, Chairul mendapat gelar mahasiswa teladan tingkat nasional 1984-1985. Chairul juga berhasil menyelesaikan kuliah di tahun 1987.

Berdagang dan tetap berprestasi menjadi teladan dari Chairul yang bisa kamu contoh. Meski harus membagi fokusnya pada dua hal, Chairul bisa bertanggung jawab untuk tetap mengutamakan pendidikan. Tentu tidak banyak anak muda yang bisa seperti Chairul ini ya!

 

Awal karier bisnis Chairul Tanjung

Di masa kuliah, Chairul juga pernah mendirikan sebuah toko peralatan kedokteran dan laboratorium di bilangan Senen, Jakarta Pusat. Hanya saja, bisnis tersebut ternyata bangkrut. Lulus dari kuliah, Chairul mendirikan PT Pariarti Shindutama bersama tiga rekan beliau. Perusahaan tersebut memproduksi sepatu anak-anak untuk ekspor. Kali ini sebuah keberuntungan datang. Perusahaan yang baru berdiri tersebut langsung mendapatkan pesanan sebanyak 160 ribu pasang sepatu dari Italia. Di tengah perjalanan perusahaan tersebut, Chairul menemukan perbedaan visi dengan ketiga rekan beliau. Chairul lalu memutuskan untuk mundur dari perusahaan tersebut.

Tidak ada pengusaha yang langsung sukses dalam berbisnis. Chairul juga pernah mengalami susahnya berjualan sejak kuliah. Bahkan, Chairul harus gagal dalam usaha besar pertama yang beliau miliki. Dari Chairul, kamu belajar bahwa kegagalan adalah pelajaran terbaik untuk memulai kesuksesan.

 

Chairul Tanjung mulai mendirikan usaha sendiri

Setelah memilih berpisah dari rekan-rekan, Chairul mendirikan usaha sendiri. Beliau berfokus pada tiga bisnis, yaitu keuangan, properti, dan multimedia.  Perusahaan tersebut dinamakan Para Group. Perusahaan ini memiliki Para Inti Holdindo sebagai father holding company dengan beberapa sub holding, yaitu Para Global Investindo (bisnis keuangan), Para Inti Investindo (media dan investasi), serta Para Inti Propertindo (properti).

Di bidang properti dan investasi, terdapat beberapa perusahaan, antara lain Mega Indah Propertindo, Batam Indah Propertindo, dan Para Bandung Propertindo. Sementara untuk penyiaran dan multimedia, terdapat Trans TV, Trans 7, Trans Fashion, Trans Lifestyle, dan Trans Studio. Khusus di bidang finansial, ada Bank Mega, Asuransi Mega, dan Para Multi Finance. Para Group juga membeli sebagian saham Carrefour Indonesia pada tahun 2010. Di situ, Para Group memiliki saham sebesar 40%. Akuisisi Carrefour tersebut membuat Chairul mentransformasi Carrefour menjadi Transmart. Bukan hanya sebagai tempat belanja groseri, di Transmart pun menyediakan kebutuhan fashion dan kecantikan. Bahkan, kebutuhan elektronik juga tersedia. Yang paling menarik, ada fasilitas bermain untuk anak-anak juga di sana. Jadi, Chairul berhasil mengubah tempat berbelanja menjadi destinasi hangout keluarga.

Pada akhir tahun 2011, Chairul mersemikan perubahan Para Group menjadi CT Corp. CT Corp sendiri terdiri dari tiga perusahaan sub holding, yaitu Mega Corp, Trans Corp, dan CT Global Resources. Hingga kini, CT Corp masih terus berjaya sebagai salah satu perusahaan besar yang ada di Indonesia.

Berbagai pengalaman berjualan sejak muda tampaknya membuat Chairul sukses membangun perusahaan-perusahaan besar di Indonesia. Kebayang nggak mahasiswa yang dulu hanya berjualan di kampus bisa memiliki banyak perusahaan seperti sekarang?

 

Sempat menjadi menko perekonomian pada tahun 2014

Chairul sempat menjadi bagian dari jajaran menteri di Indonesia. Pada Mei 2014, Chairul Tanjung menggantikan posisi Hatta Rajasa sebagai menko perekonomian. Beliau menjabat menko perekonomian sejak 19 Mei hingga 27 Oktober 2014. Kiprah Chairul di dunia bisnis membuat presiden Susilo Bambang Yudhoyono kala itu mempercayakan posisi menko perekonomian kepada beliau.

 

Prinsip bisnis ala Chairul Tanjung

Bagi Chairul, poin penting dalam berbisnis adalah kemauan untuk mengembangkan jaringan. Mengenal banyak relasi juga menjadi salah satu kunci kesuksesan sebuah bisnis. Pertemanan yang baik jauh lebih mudah membantu berkembangnya suatu bisnis daripada terlalu banyak melihat peta persaingan saja. Bahkan, bagi Chairul, berteman dengan petugas pengantar surat juga merupakan hal yang penting. Melalui jejaring yang baik, mitra kerja yang handal pun lebih mudah didapat.

Bisnis memang membutuhkan modal yang besar. Namun, kerja keras dan kemauan juga menjadi modal utama untuk tetap bertahan dalam bisnis. Kebanyakan anak muda sekarang tidak sabar dalam menjalani bisnis. Chairul berpesan bahwa berbisnis itu tidak semudah membalikkan telapak tangan. Kesabaran dan pantang menyerah adalah kunci utama. Jangan terlalu sering mengmabil jalan instan dan tergesa-gesa karena bisnis tanpa rencana matang sama saja pelan-pelan mematikan usaha tersebut beberapa tahun kemudian. Lihat saja, Chairul Tanjung tidak langsung sukses saat awal membangun toko peralatan kedokteran dan laboratorium bukan?

 

Buat kamu yang sedang merintis sebuah usaha, semoga kisah Chairul Tanjung ini bisa menginspirasi kamu. Terima saja beberapa kegagalan dalam hidupmu, tetapi jangan lupa untuk bangkit kembali. Tekun, sabar, ulet, serta pantang menyerah adalah nilai-nilai dari Chairul Tanjung yang bisa kamu teladani untuk berbisnis.

Goenawan Mohammad, Wartawan yang Kritis

Mungkin tidak sedikit orang yang familiar dengan tulisan Catatan Pinggir yang selalu menyapa di halaman belakang harian mingguan Tempo. Atau cuitan di media sosial Twitter dari akun @gm_gm, yang tepat sasaran mengkritisi sebuah fenomena yang tengah berkembang; atau justru menjadi pencetus sebuah dialog panjang para pengguna Twitter lainnya. Ya, dia adalah Goenawan Mohammad. Wartawan senior, budayawan, sastrawan, dan berbagai aspek seni yang kental dengan sosoknya.

 

Pria bernama lengkap Goenawan Soesatyo Mohamad ini lahir di Karangasem, Batang, Jawa Tengah, pada 29 Juli 1941. Perjalanan karirnya banyak bersinggungan dengan dunia jurnalisme, sebagai wartawan handal dengan tulisan tajam dan intelek. Nama GM memang tidak asing lagi dengan Tempo, karena ia adalah salah satu founding father dari Tempo. Sosoknya beberapa kali didaulat menjadi Pemimpin Redaksi, posisi vital yang memegang kendali atas kebijakan redaksional Tempo. Hingga kini, gagasan-gagasan kritis GM masih dituangkannya dalam tulisan Catatan Pinggir yang setiap minggu bisa kamu temui di majalah Tempo.

 

GM, Wartawan yang Menginspirasi

Mari menengok sedikit ke belakang, saat Goenawan Mohamad muda menjajaki karirnya sebagai wartawan. Di dunia jurnalistik namanya memang diperhitungkan. Ia memulai karirnya sebagai Redaktur Harian KAMI, Redaktur Majalah Horison, Pemimpin Redaksi Majalah Ekspres, dan Pemimpin Redaksi Majalah Swasembada. Tahun 1971 adalah momentum bersejarah saat Goen dan beberapa kawannya mendirikan Majalah Tempo. Di usianya yang menginjak 30 tahun, GM menjadi Pemimpin Redaksi Majalah Tempo.

 

Bukan mulus perjalanan GM menggawangi Tempo. Majalah yang dikenal dengan tulisan-tulisan tajamnya ini sempat dibredel pada tahun 1982. Kala itu, Tempo dinilai terlalu keras mengkritik pemerintah Orde Baru. Sempat dua kali dibredel, Tempo kembali terbit di tahun 1998. Setajam apa memangnya tulisan GM? Jangan kaget jika melihat bagaimana Goen lantang mengkritisi rezim Soeharto lewat tulisannya. Goen kerap mengkritik pemerintahan Soeharto yang dinilai menekan geliat ekonomi di Indonesia. Tak pelak, Tempo dianggap sebagai oposisi pemerintah.

 

Goen bukan tidak berjuang agar Tempo bisa kembali mendapat kebebasan pers. Peraih sederet penghargaan ini kala itu bergabung dengan Persatuan Wartawan Indonesia (PWI) sempat menempuh jalan organisasional, namun gagal. Tidak menyerah, bersama jurnalis lainnya Goen mendirikan Aliansi Jurnalis Independen (AJI). Tak puas di situ, pria yang sejak 2016 menjadi Komisaris Utama PT Tempo Inti Media Tbk ini juga menginisiasi berdirinya Institusi Studi Arus Informasi (ISAI) yang fokus pada rekam jejak kekerasan terhadap dunia pers tanah air.

 

Gagasan Cemerlang Tertuang di Buku

Kecintaan Goen pada dunia sastra dan jurnalistik telah terlihat dari masa kecilnya. Saat masih duduk di bangku Sekolah Dasar, Goen gemar menyimak acara puisi siaran di RRI. Saat kakaknya berlangganan majalah Kisah asuhan H.B. Jassin, Goen muda melahapnya dengan rakus. Saat usianya 17 tahun, pria asal Jawa Tengah ini mulai menulis. Berselang dua tahun, Goen menerjemahkan puisi Emily Dickinson, penyair ternama asal Amerika Serikat.

 

Sejak itu, deretan penghargaan akrab dengan dirinya. Ia pernah menjejakkan diri di Universitas Harvard lewat beasiswa Nieman Foundation. Tahun 1997, Goenawan mendapat penghargaan Louis Lyons Award dalam kategori Conscience in Journalism. Namanya juga pernah dinobatkan sebagai penerima Anugerah Hamengku Buwono IX di bidang kebudayaan. Di tahun 1999, Goen mengharumkan nama Indonesia lewat ajang penghargaan International Editor of the Year Award dari World Press Review. Wertheim Award dan Anugerah Sastra Dan David Prize pun juga pernah dikantonginya.

 

Begitu cemerlangnya gagasan Goen, beberapa kali dirinya menulis buku bertema sosial budaya. Tak hanya itu, sajak demi sajak puisi pun juga dirangkainya dengan apik dan memukau pembaca. Salah satu bukunya yang paling terkenal adalah seri Catatan Pinggir yang pertama kali dijadikan buku pada tahun 1982 silam. Beberapa kali, seri Catatan Pinggir ini dirilis ulang hingga beberapa jilid.

Deretan buku-buku lain karya Goen di antaranya adalah Empat Sajak dalam buku antologi “Manifestasi”; Asmaradana: Pilihan Sajak; Kata, Waktu; Setelah Revolusi Tak Ada Lagi, Tuhan & Hal-Hal yang Tak Selesai, dan masih banyak lagi deretan judul buku yang menjadi wadahnya menuangkan kreativitas. Meski memang, sosok GM juga kerap menuai kontroversi dari cuitan-cuitan atau tulisannya. Tidak sedikit yang menentang keras gagasan Goen dan terang-terangan mempertanyakan dasar dari tulisan-tulisannya

 

GM dan Komunitas Salihara

Kecintaan GM pada dunia budaya dan seni melabuhkannya pada Komunitas Salihara, sebuah tempat kesenian di kawasan Pasar Minggu, Jakarta Selatan. Komunitas Salihara mewadahi seniman dan budayawan dan kerap dijadikan tempat untuk membahas berbagai isu sosial budaya hingga HAM dan demokrasi. Goen pun menjadi langganan sebagai narasumber konferensi bergengsi, seperti di Gedung Putih pada tahun 2001.

 

30 tahun berkecimpung sebagai wartawan, nama Goenawan Mohamad menjadi salah satu jurnalis yang diperhitungkan. Namanya juga dikenal akrab di kalangan budayawan lewat jejak sejarah perlawanan terhadap Orde Baru. Kala itu, Goen merangkul berbagai kalangan mulai dari aktivis pro-demokrasi, seniman, juga seniman. Semuanya bergabung dalam satu cita-cita, menentang mereka yang berupaya membekap kebebasan berekspresi.

Mochtar Riady, Perantau yang penuh terobosan

Salah satu nama yang pernah diulas oleh Forbes dan termasuk jajaran orang terkaya di tanah air adalah Mochtar Riady. Namanya memang bergaung kencang di kalangan pebisnis dan dunia perbankan sebagai seorang yang hampir selalu bisa menyulap apapun menjadi rupiah. Pada 12 Mei 1929, Mochtar Riady hadir ke dunia. Dia lahir di sebuah kota dingin di Jawa Timur, yaitu Malang. Berasal dari keluarga Tionghoa, Mochtar Riady memiliki nama asli Lie Mo Tie. Kedua orang tuanya, Liapi dan Sibelau adalah pedagang yang merantau hingga berlabuh ke Malang pada tahun 1918.

 

Saat usianya masih 9 tahun, sang ibu meninggal. Bersama keluarganya, Mochtar hidup banting tulang memenuhi kebutuhan hidup. Namun bukan Mochtar namanya jika tidak memperlihatkan keuletan sejak usia dini. Kala usianya masih 10 tahun, Mochtar mengukir cita-citanya: menjadi seorang banker. Cita-cita ini terinspirasi saat Mochtar cilik melihat para pegawai Nederlandsche Handels Bank (NHB). Impian Mochtar sempat ditentang sang ayah, karena profesi bankir identik dengan mereka yang berada dan berpendidikan tinggi.

 

Akrab dengan Dunia Bisnis Sejak Belia

Perjalanan hidup ayah empat orang anak ini tak hanya di Indonesia. Saat berusia 18 tahun, Mochtar sempat dijebloskan ke penjara Lowokwaru, Malang, karena menentang pembentukan Negara Indonesia Timur. Kemudian ia dibuang ke Nanking, dan mengambil studi psikologi di University of Nanking. Tak rampung karena Nanking tengah dilanda perang, taipan tanah air ini juga sempat pindah ke Hong Kong hingga tahun 1950 sebelum kembali ke Indonesia.

 

Setahun setelah kembali ke Indonesia, Mochtar menikah dengan putri seorang pengusaha asal Jember yang bernama Suryawati Lidya. Dari pernikahannya, Mochtar dikaruniai empat orang anak yaitu Rosy Riady, Andrew Taufan Riady, Stephen Tjondro Riady, dan James Tjahaja Riady. Usai menikah, Mochtar terjun ke dunia bisnis dengan mengelola toko kecil hingga sukses. Hal ini mengingatkannya kembali pada impiannya menjadi bankir.

 

Tahun 1954, dalang kesuksesan Lippo Group ini pindah ke Jakarta. Awalnya dia merintis bisnis perusahaan pengangkutan kapal sederhana bersama temannya. Mulai berani, Mochtar membeli Bank Kemakmuran yang dilanda masalah dan menjadi direkturnya. Mochtar nyemplung ke dunia perbankan tanpa dasar pendidikan akuntansi atau finansial bank apapun. Hanya dalam waktu satu bulan, Mochtar yang buta membaca balance sheet bisa memahami pola kerja akuntansi perbankan. Berkat tangan dinginnya, bank ini pun menangguk kesuksesan.

 

Pada tahun 1964, Mochtar pindah ke Bank Buana dan menyelamatkan bank yang kala itu nyaris gulung tikar. Kebijakan berani Mochtar menurunkan suku bunga Bank Buana hingga 12 persen di saat bank lain berlomba-lomba menaikkan suku bunga, menjadi langkah awal yang ditempuhnya. Saat kondisinya mulai stabil, Mochtar mengambil kuliah malam di Fakultas Ekonomi Universitas Indonesia. Di sinilah dia mengenal pakar ekonomi Indonesia lainnya.

 

17 tahun kemudian, Mochtar pindah ke Panin Bank yang merupakan gabungan dari Bank Kemakmuran, Bank Industri Dagang Indonesia, dan Bank Industri Jaya. Di bawahnya, Bank Panin sukses hingga menyaingi BCA. Tujuh tahun berselang, Mochtar menjejakkan kakinya di BCA. Selama berada di BCA, Mochtar menjadi orang kepercayaan pendiri Salim Group, Soedono Salim. Pengalamannya selama hampir seperempat abad di dunia perbankan diterapkan saat di BCA. Hasilnya? Harga saham BCA melejit dari Rp12,8 miliar menjadi Rp5 triliun!

 

Di bawah kelola Mochtar, BCA mendapat angin segar. Jumlah nasabahnya melonjak. Asetnya terus meningkat. BCA bahkan dinobatkan sebagai bank kliring terbesar kedua setelah Bank Indonesia. Gelar “The Magic Man of Bank Marketing” pun disematkan padanya. Hoki terus mengikuti langkah Mochtar, termasuk saat ia pindah ke Bank Perniagaan Asia hingga bisa berkolaborasi dengan Bank Umum Asia. Aset Bank Perniagaan Asia yang kala itu masih Rp16,3 miliar melambung menjadi Rp257,73 miliar di bawahnya. Di sinilah titik awal berdirinya Lippo Bank pada tahun 1989.

 

Mochtar Riady, The Man Behind Lippo Group

Di tangan Mochtar, Lippo Bank menjadi gurita finansial yang merambah berbagai bisnis mulai dari industri, energi, elektrik, finansial, infrastruktur, hingga properti. Krisis moneter hebat di Indonesia pada tahun 1997 memang sempat menggoyang Lippo Group. Namun lagi-lagi berkat tangan dingin Mochtar, dalam satu dekade Lippo Group berhasil bangkit.

 

Dalam bukunya Otobiografi Mochtar Riady: Manusia Ide yang terbit tahun 2016 lalu, yang paling tercatat adalah momen saat Lippo Bank mengambil alih tiga bidang lahan seluas 70 kilometer persegi di timur dan barat Jakarta. Lahan ini tandus, bahkan Mochtar awalnya tidak memiliki ide apa yang harus dilakukan terhadap lahan ini. Terinspirasi dari metode pengembangan lahan di Shenzen, Lippo menyulapnya menjadi Karawaci, cikal bakal bisnis properti Lippo. Pada tahun 2007, Mochtar juga strategis membidik lahan seluas 500 hektar menjadi area pemakaman mewah San Diego Hills di Karawang.

 

Lippo Group kini menjadi salah satu sektor usaha dengan 50 anak perusahaan, dan menjadi ladang bekerja bagi 50 ribu orang. Forbes mencatat kekayaan Mochtar Riady saat ini mencapai 2,9 triliun dolar. Pendapatan Lippo Group pun mencapai 7,5 triliun dengan cabang yang tersebar di Asia Pasifik. Anak-anak Mochtar Riady seperti Stephen dan James mewarisi bakat berbisnisnya, dan mengembangkan sektor usaha lain di berbagai negara. Bahkan cucu Mochtar yang bernama John Riady juga menjadi penerusnya dalam bisnis e-commerce MatahariMall dan merintis sentuhan digital di Bank Nobu.

 

Nama Mochtar Riady akan terus diperhitungkan sebagai sosok penuh ide. Hingga kini saja, Mochtar masih menyimpan lahan ratusan hektar di Cikarang dan Karawang. Saat yang lain belum terpikir, dirinya getol membeli lahan tandus sejak tahun 1990-an. Putranya, James Riady, kini mengelola megaproyek bernilai ratusan triliun rupiah di Cikarang yang digadang-gadang akan menjadi Kota Baru, Meikarta.

Sri Sultan Hamengkubuwono X, Menjadi Yogyakarta adalah Menjadi Indonesia

Yogyakarta menjadi destinasi liburan yang paling diburu oleh warga ibukota. Yogyakarta menawarkan banyak hal yang jarang ditemui di ibukota, antara lain kenyamanan, keramahtamahan, hingga kebudayaan lokal yang masih terasa hingga sekarang. Berkembangnya Yogyakarta tidak bisa lepas dari sosok Sultan yang memimpin daerah tersebut. Kini, Yogyakarta dipimpin oleh Sri Sultan Hamengkubuwono X. Tentu nama beliau sudah tidak asing lagi buat kamu bukan? Kali ini, kamu simak dulu deh kisah perjalanan Sri Sultan Hamengkubuwono X memimpin kota yang selalu istimewa ini!

  

Masa kecil dan pendidikan Sri Sultan Hamengkubuwono X

Sri Sultan Hamengkubuwono X lahir dengan nama Herjuno Darpito pada tanggal 2 April 1946 di Yogyakarta. Setelah dewasa, beliau bergelar KGPH Mangkubumi dan berganti menjadi KGPAA Hemengku Negara Sudidyo Rajaputra Nalendra ing Mataram saat dingkat menjadi putra mahkota. Sri Sultan Hamengkubuwono X pernah berkuliah di Universitas Gadjah Mada dan mengambil jurusan fakultas hukum. Selama menempuh pendidikan hukum, beliau mulai memiliki pola pikir modern untuk bisa memajukan Yogyakarta.

 

Menggantikan sang ayah pada tahun 1989 dan kemudian menjadi gubernur Daerah Istimewa Yogyakarta

Setelah sang ayah meninggal, Sri Sultan Hamengkubuwono X resmi menggantikan kedudukan sang ayah sebagai pemimpin Yogyakarta pada 7 Maret 1989. Setelah Paku Alam VIII wafat, Sri Sultan Hamengkubuwono X kemudian juga ditetapkan menjadi gubernur Daerah Istimewa Yogyakarta pada tahun 1998. Pada masa jabatan 1998-2003, Sri Sultan Hamengkubuwono X tidak didampingi wakil gubernur. Baru setelah itu, beliau kemudian didampingi Paku Alam IX sebagai wakil gubernur untuk periode 2003-2008.

Sebagai gubernur, Sri Sultan Hamengkubuwono X tidak pernah haus akan penghargaan atau pengakuan. Menurut beliau, Yogyakarta hanya membutuhkan sentuhan kasih dan hati nurani.

 

Sempat aktif dalam politik dengan bergabung dengan Partai Golkar

Sri Sultan Hamengkubuwono X pernah aktif dalam kepengurusan Partai Golkar. Beliau juga sempat menjabat sebagai Anggota Dewan Penasihat Partai Golkar. Meski aktif dalam kegiatan politik, Sri Sultan Hamengkubuwono X selalu memilih netral saat berada di pemerintahan. Hanya saja, keterlibatan beliau di Partai Golkar harus berhenti karena adanya Undang-Undang Keistimewaan Yogyakarta yang salah satunya berisi aturan berupa larangan gubernur yang dijabat Sri Sultan untuk ikut dan terjun ke dunia politik. Pada tahun 2012, Sri Sultan Hamengkubuwono X pun resmi keluar dari Partai Golkar.

Mungkin Sri Sultan Hamengkubuwono X memiliki sifat yang menurun dari sang ayah. Jika sang ayah menjadi pendukung Indonesia merdeka, maka Sri Sultan Hamengkubuwono X pernah memilih jalur politik sebagai bentuk kepedulian beliau dalam pemerintahan. Meski pada akhirnya harus keluar dari dunia politik, keterlibatan Sri Sultan Hamengkubuwono X dalam memajukan dan mendukung Indonesia tidaklah usai.

 

Sri Sultan Hamengkubuwono X aktif juga dalam berbagai kegiatan sosial dan budaya

Sri Sultan Hamengkubuwono X dikenal aktif dalam beberapa kegiatan birokrasi hingga sosial, khusunya di Yogyakarta. Beliau pernah menjadi ketua umum Kadinda Dareah Istimewa Yogyakarta. Selain itu, Sri Sultan Hamengkubuwono X juga pernah menjabat sebagai ketua umum KONI Daerah Istimewa Yogyakarta. Dalam perjalanan karier, beliau sempat menjabat sebagai direktur utama PT Punokawan dan presiden komisaris PG Madukismo.

Sri Sultan Hamengkubuwono X memberikan dukungan penuh pada seni pertujukan kontemporer dan tradisi sejak 1989 hingga sekarang. Hal ini membuat Sri Sultan Hamengkubuwono X mendapatkan gelar doktor kehormatan dari Institut Seni Indonesia (ISI) Yogyakarta. Sri Sultan Hamengkubuwono X juga pernah menuangkan pemikiran kritis beliau melalui karya ilmiah dengan judul “Kerangka Konsepsi Politik Indonesia” yang terbit pada tahun 1989 dan “Bercermin di Kalbu Rakyat” pada tahun 1999.

Bukan hanya sebagai Sultan di Yogyakarta, Sri Sultan Hamengkubuwono X juga menempatkan diri beliau lebih dekat dengan rakyat melalui ragam kegiatan seni, sosial, dan budaya. Karya ilmiah yang ditulis beliau menunjukkan kepedulian Sri Sultan Hamengkubuwono X pada pemerintahan Indonesia.

 

Pedoman Sri Sultan Hamengkubuwono X: menjadi Jogja, menjadi Indonesia

Dalam sebuah pembukaan Festival Kesenian Yogyakarta ke-29, Sri Sultan Hamengkubuwono X mecetuskan sebuah kalimat yang begitu diingat hingga sekarang. Kalimat tersebut berbunyi “Sudah semestinya keistimewaan Jogja adalah untuk Indonesia. Bahwa menjadi Jogja, adalah menjadi Indonesia”. “Menjadi Jogja, menjadi Indonesia” memberikan makna bahwa karakter-karakter khas Yogyakarta akan tetap selalu menguatkan Indonesia. Karakter-karakter yang dimaksud adalah menciptakan kenyamanan, mengajarkan keteladanan, mencerminkan gotong royong, dan memiliki jati diri kuat serta tetap terbuka.

Yogyakarta memang dikenal sebagai salah satu daerah di Indonesia yang memiliki keistimewaan dibandingkan daerah lainnya. Hingga kini, beberapa pro dan kontra tentang sosok pemimpin Sultan masih sering terdengar. Namun, Yogyakarta pun tetap menjadi bagian dari Indonesia sejak dulu hingga sekarang. Pernyataan Sri Sultan Hamengkubuwono X tadi menegaskan bahwa seistimewanya Yogyakarta, Yogyakarta tetaplah Indonesia.

 

Sri Sultan Hamengkubuwono X hingga kini masih menjabat sebagai pemimpin Yogyakarta. Yogyakarta telah tumbuh menjadi kota yang lebih rapi dan tetap terbuka pada perubahan zaman. Hingga kini Yogyakarta juga membantu perekonomian Indonesia, terutama di bidang pariwisata. Bahkan, banyak anak-anak di luar Yogyakarta berbondong-bondong ke kota pelajar ini untuk menempuh pendidikan. Semoga Yogyakarta selalu istimewa dan jadi kebanggaan Indonesia!

Ahmad Dahlan, Tokoh Muslim Pelopor Pembaruan Islam di Indonesia

Tentu kamu tahu keberadaan Muhammadiyah di Indonesia. Organisasi Islam besar di Indonesia ini memiliki ciri khusus, yakni membangun tata sosial dan pendidikan masyarakat Indonesia yang lebih maju dan terdidik melalui ajaran Islam. Kamu juga pasti banyak menemui beberapa sekolah dan perguran tinggi yang berada di bawah naungan Muhammadiyah. Namun, pernahkah kamu tahu siapa sosok di balik kejayaan Muhammadiyah masa kini? Ternyata Muhammadiyah juga sempat menemui beberapa tantangan di awal pembentukannya. Ahmad Dahlan adalah sosok di balik berdirinya Muhammadiyah. Nah, sekarang belajar sejenak yuk kisah hidup dan perjuangan Ahmad Dahlan dalam membangun sebuah mimpi besar di Indonesia!

 

Latar belakang dan masa muda Ahmad Dahlan

Ahmad Dahlan memikili nama kecil Muhammad Darwisy. Beliau lahir di Yogyakarta pada tanggal 1 Agustus 1868. Wajar rasanya jika kehidupan ajaran Islam sangat melekat pada Ahmad Dahlan karena beliau merupakan keturunan kedua belas dari Maulana Malik Ibrahim. Maulana Malik Ibrahim merupakan salah satu tokoh dari Wali Songo, pelopor penyebaran agama Islam di Jawa. Ahmad Dahlan menunaikan ibadah haji saat berusia 15 tahun dan memilih tinggal di Mekkah selama 5 tahun. Selama di Mekkah itu, beliau sering berinteraksi dengan para pemikir pembaharu Islam, seperti Muhammad Abduh, Al-Afghani, Rasyid Ridha, dan Ibnu Taimiyah. Dari situlah berbagai pemikiran tentang pembaharuan Islam mulai muncul sedikit demi sedikit pada diri Ahmad Dahlan. Sekembalinya pulang ke kampung halaman pada tahun 1888, nama beliau berganti dari Muhammad Darwisy menjadi Ahmad Dahlan. Ahmad Dahlan sempat kembali lagi ke Mekkah tahun 1903 dan menetap selama dua tahun. Beliau berguru pada Syeh Ahmad Khatib yang juga guru dari pendiri NU, KH. Hasyim Asyari.

 

 

Ahmad Dahlan sempat aktif di Boedi Oetomo

Pada tahun 1909, Ahmad Dahlan memutuskan untuk masuk ke Boedi Oetomo. Kala itu beliau bermaksud untuk mengajar agama. Kehadiran Ahmad Dahlan mampu memenuhi kebutuhan para anggota Boedi Oetomo dengan memberikan pelajaran-pelajaran. Para anggota Boedi Oetomo yang senang dengan kehadiran Ahmad Dahlan menyarankan beliau untuk membuka sekolah yang diatur dengan rapi dan bersifat permanen. Ahmad Dahlan merasa saran anggota Boedi Oetomo ini ada benarnya mengingat saat itu banyak pesanteren yang terpaksa tutup ketika kyai pemimpinnya meninggal. Sejak itu, Ahmad Dahlan bermimpi bisa membangun sebuah organisasi yang memfasilitasi pendidikan sekaligus pembaruan bagi umat Islam.

 

Mendirikan Muhammadiyah sebagai bentuk kepedulian pada pendidikan

Pada akhirnya, impian tersebut bisa Ahmad Dahlan wujudkan pada tahun 1912. Beliau mendirikan Muhammadiyah sebagai wujud cita-cita pembaruan Islam. Ahmad Dahlan berharap melalui Muhammadiyah, terdapat pembaruan cara berpikir dan beramal seturut ajaran Islam karena di masa tersebut masih banyak ajaran Islam yang banyak dipengaruhi hal-hal mistik. Beliau juga mengajak umat Islam untuk kembali hidup sesuai dengan Al-Quran dan Al-Hadits.

Pada awalnya kegiatan Muhammadiyah berkisar pada dakwah untuk perempuan dan kaum muda berupa pengajian Sidratul Muntaha. Selain itu, Muhammadiyah juga menunjukkan perannya dalam pendidikan melalui pendirian sekolah dasar dan sekolah lanjutan. Dengan ini, Ahmad Dahlan ingin menegaskan bahwa Muhammadiyah bukanlah organisasi politik, melainkan bersifat sosial dan bergerak di bidang pendidikan.

 

Banyak yang mencibir Ahmad Dahlan atas pendirian Muhammadiyah

Keinginan mulia Ahmad Dahlan untuk melakukan pembaruan Islam justru mendapat cibiran dari banyak pihak. Kebanyakan orang menganggap Ahmad Dahlan berusaha mendirikan sebuah agama baru yang menyalahi agama Islam. Kedekatan dengan anggota Boedi Oetomo membuat beliau dituduh sebagai kyai palsu. Bahkan, Ahmad Dahlan dianggap meniru cara orang Belanda karena kebetulan beliau sedang mengajar di OSVIA, sebuah sekolah khusus Belanda untuk anak-anak priyayi. Namun, semua cibiran dan rintangan yang harus beliau hadapi tak menyurutkan semangat Ahmad Beliau untuk semakin mengembangkan Muhammadiyah. Bagaimana pun juga, Muhammadiyah adalah salah satu jawaban dari masalah negara yang belum merdeka saat itu, yaitu membantu memberikan pendidikan.

 

Meski dibatasi oleh Belanda, Muhammadiyah justru terus berkembang

Tak hanya mendapat sindiran dari masyarakat, Muhammadiyah juga mendapat tekanan dari Belanda. Ahmad Dahlan meminta permohonan kepada pemerintah Hindia Belanda untuk mendapatkan badan hukum. Permohonan tersebut dikabulkan pada tahun 1914 dengan syarat Muhammadiyah hanya bergerak di Yogyakarta. Belanda memang cukup mencemaskan keberadaan Muhammadiyah ini. Hanya saja, pembatasan yang dilakukan Belanda ini ternyata tak membuat Muhammadiyah menjadi redup. Justru mulai bermunculan cabang Muhammadiyah di beberapa daerah, antara lain Srandakan, Wonosari, Imogiri, dan lain-lain. Agar tidak tampak mencolok di depan Belanda, Ahmad Dahlan menyarankan agar cabang Muhammadiyah di luar Yogyakarta memakai nama lain.

Ide pembaruan Islam disampaikan Ahmad Dahlan melalui tabligh yang beliau lakukan di berbagai kota serta melalui relasi dagang yang dimiliki beliau. Ulama-ulama dari berbagai daerah pun kemudian berdatanga untuk memberikan dukungan pada Muhammadiyah. Sudah dipastikan Muhammadiyah kian berkembang di seluruh daerah. Maka, pada tahun 1921, Ahmad Dahlan mengajukan permohonan kepada pemerintah Hindia Belanda untuk mendirikan cabang-cabang Muhammadiyah. Ajaibnya, permohonan tersebut akhirnya dikabulkan oleh Belanda. Semangat, perjuangan, penolakan pada sindiran negatif, serta kegigihan telah mengantar Ahmad Dahlan semakin mendekat pada impian pembaruan Islam. Inilah beberapa contoh sikap Ahmad Dahlan yang bisa kamu teladani.

 

Ahmad Dahlan juga dikenal sering berdialog dengan tokoh agama lain

Sejak saat itu, Ahmad Dahlan mulai dikenal sebagai tokoh Muslim yang berbeda dari yang lain. Pembaruan Islam yang beliau bawa telah berpengaruh pada pengikutnya kala itu. Indonesia yang sedang berada dalam penjajahan pun pelan-pelan mulai memunculkan tokoh-tokoh Islam intelektual yang turut menjadi pejuang di masa pergerakan nasional. Selain itu, sebagai seorang Islam, Ahmad Dahlan juga dikenal memiliki pola pikir yang terbuka. Beliau pernah bersahabat dan aktif berdialog dengan salah seorang tokoh pastur bernama Pastur Van Lith. Pastur Van Lith merupakan tokoh keagamaan Katholik yang berada di Muntilan. Bahkan, Ahmad Dahlan kala itu tidak ragu memasuki Gereja dengan memakai pakaian hajinya. Di saat banyaknya isu tentang keagamaan di masa kini, sepertinya Indonesia butuh sosok seperti Ahmad Dahlan ini yang mampu memandang keberagaman sebagai salah satu jalan untuk tumbuh dan berkembang bersama.

 

Sosok yang menjadi pelopor pembaharuan Islam

Kebangkitan umat Islam di masa penjajahan tidak bisa lepas dari sosok Ahmad Dahlan. Lewat pembaruan Islam yang diusung, beliau mampu menggerakkan umat Islam untuk bangkit dari nasib sebagai orang terjajah dan harus berbuat banyak untuk lepas dari penjajahan. Melalui Muhammadiyah pula, usaha amal sosial dan pendidikan bagi Indonesia dapat terpenuhi. Bahkan, Aisyiyah (Muhammadiyah untuk kaum perempuan) juga menjadi pelopor kebangkitan perempuan untuk mengecap pendidikan agar setingkat dengan kaum pria. Untuk semua jasa itulah, akhirnya Ahmad Dahlan memperoleh gelar pahlawan nasional pada tahun 1961.

 

Tentu tidak mudah untuk menjadi berbeda layaknya Ahmad Dahlan ini. Ide dan pemikiran tak biasa Ahmad Dahlan memang sempat membawa beliau menjadi bulan-bulanan di negeri sendiri. Namun, sekali lagi, keteguhan dan sifat pantang menyerah beliau telah mampu membuktikkan bahwa tidak ada yang bisa menghalangi niat baik untuk membangun bangsa. Semoga kamu bisa belajar banyak dari sosok pendiri Muhammadiyah ini.