Soeharto, Kisah “Anak Desa” yang Bisa Menjadi Presiden Indonesia

Setelah era kepemimpinan Soekarno berakhir, Soeharto muncul sebagai sosok presiden kedua Indonesia. Berbeda dengan Soekarno, Soeharto hadir sebagai pemimpin dengan latar belakang militer. Sepanjang sejarah Indonesia, beliau menjadi satu-satunya presiden yang paling lama memimpin bangsa ini, yakni 32 tahun. Hal itulah yang membuat Soeharto menjadi sosok yang tidak mudah dilupakan oleh masyarakat Indonesia.

 

Dugaan korupsi sempat menjadi penutup cerita kepemimpinan beliau di Indonesia. Hingga sekarang, sosok Soeharto masih jadi perdebatan. Beberapa pihak menilai Soeharto menjadi bagian kelam sejarah bangsa ini, sementara sebagian yang lain memandang Soeharto sebagai salah satu sosok penting dalam pertumbuhan Indonesia. Menurut kamu, mana yang benar?

 

Terlepas dari semua berita kurang baik tentang Soeharto, pasti tetap ada sisi lain yang bisa kamu pelajari dari beliau. Bagaimana pun juga, kamu mungkin sempat merasakan dipimpin oleh mantan presiden ini. Simak dulu yuk, beberapa kisah perjalanan Soeharto berikut ini!

 

Hidup di desa dan tidak bisa meneruskan pendidikan

Soeharto lahir di Bantul pada tanggal 8 Juni 1921. Saat hidup di Wuryantoro, Soeharto memiliki kegemaran bertani. Soeharto yang kala itu duduk di Sekolah Rakyat (setara dengan SD saat ini) belajar bertani dari sang paman. Saat SMP, Soeharto kembali ke Yogyakarta dan bersekolah di SMP Muhammadiyah. Alasan Soeharto bersekolah di situ adalah karena di situlah beliau bisa bersekolah hanya dengan menggunakan sarung tanpa perlu memakai alas kaki. Namun, keterbatasan biaya membuat Soeharto gagal melanjutkan sekolah selepas tamat SMP. Apa daya, beliau pun kembali ke Wuryantoro dan diterima bekerja sebagai pembantu klerek sebuah bank desa.

Jika dibandingkan dengan Soekarno, tentu kehidupan masa kecil Soeharto jauh lebih susah. Beberapa anak seusia Soeharto mungkin akrab dengan buku sejak muda. Namun, Soeharto kebalikannya. Hidup di desa dan akrbab dengan bertani, siapa sangka sosok besar seperti Soeharto harus berawal dari kehidupan yang tidak mudah?

 

Militer menjadi awal dari perubahan kehidupan Soeharto

Awal karir militer Soeharto dimulai saat beliau diterima di Koninklijk Nederlands Indisce Leger (KNIL) alias tentara kerajaan Belanda. Karier beliau di militer pun cukup naik pesat. Beberapa posisi yang pernah Soeharto emban antara lain sersan tentara KNIL, komando peleton, komandan kompi PETA, komandan resimen dengan pangkat mayor, hingga batalyon dengan pangkat letnan kolonel.

Menilik kisah masa kecilnya yang tidak mudah, kesuksesan karier militer yang dimiliki Soeharto tentu berasal dari kerja keras yang dimilikinya. Jika saja Soeharto memilih menyerah pada nasibnya saat masih muda, mungkin beliau tidak akan pernah menjadi salah satu sosok besar Indonesia. Apakah kamu juga pernah berada di titik paling rendah dalam hidupmu? Sudahkah kamu tetap berjuang untuk hidupmu seperti Soeharto?

 

Kegigihannya di dunia militer membuatnya bisa menjadi presiden Indonesia

Soeharto juga berperan dalam serangan umum yang dilakukan di Yogyakarta pada tahun 1949. Tak lama setelah itu, pangkat Soeharto pun naik menjadi kolonel. Kariernya makin cemerlang saat tahun 1962 diangkat sebagai mayor jenderal dan menjadi Panglima Komando Mandala Pembebasan Irian Barat. Puncaknya, Soeharto kemudian dilantik menjadi Menteri Panglima Angkatan Darat. Inilah momen awal sebelum Soeharto menjadi presiden.

Sejak terpilih menjadi presiden pada tahun 1967 menggantikan Soekarno, terjadi perubahan gaya kepemimpinan di Indonesia. Jika sebelumnya Indonesia memiliki Soekarno yang selalu memiliki semangat berkobar, maka Soeharto hadir dengan ciri khas kedisiplinan yang tinggi. Background militer yang dimiliki membuat Soeharto terkenal tegas dalam peraturan yang dibuatnya. Misalnya, berpendapat di masa Orde Baru tentu tak sebebas sekarang. Media massa banyak yang di bawah pengawasan pemerintah. Sekilas, kamu akan melihat kediktatoran seorang Soeharto di masanya. Namun, coba deh direnungkan sejenak. Di era Soeharto, tidak banyak hoax atau komentar negatif yang belakangan ini justru muncul di era millennials ini. Itu karena semuanya terkontrol. Pertanyaannya, apakah kebebasan berpendapat yang kita miliki sekarang sudah digunakan sebaik-baiknya dengan bertanggung jawab? Apa iya kita butuh sosok diktator Soeharto kembali untuk membuat para netizen bisa “lebih tertib” berpendapat?

Jika disimak, Soeharto mungkin tidak bisa menjadi presiden Indonesia andai kala itu beliau kala itu memilih untuk pasrah menjadi seorang pembantu klerek. Beliau gigih memperbaiki kehidupan agar bisa keluar dari kemiskinan. Ketekunan beliau di dunia militer pulalah yang membawanya menjadi presiden Indonesia. Sekarang kamu tahu bahwa tidak ada hal yang mudah di dunia ini. Semua membutuhkan proses dan perjuangan yang panjang.

 

Selama menjabat presiden, Repelita menjadi program Soeharto yang paling dikenang

Kalau kamu masih ingat, di masa Soeharto erat sekali dengan Program Pembangunan Lima Tahun atau disingkat Repelita. Dampak Repelita saat itu begitu mengagumkan, terutama untuk perekonomian Indonesia. Kondisi negara yang sedang goyah membuat Soeharto harus mengembalikannya ke posisi yang lebih baik. Bukan dengan cara instan, Soeharto memilih membangun Indonesia secara bertahap. Tiap Repelita memiliki tujuan yang berbeda-beda. Pada Repelita I, Soeharto menitikberatkan pada sektor pertanian yang dianggap menjadi sumber kebutuhan pokok rakyat.

Pembangunan pulau-pulau di luar Jawa menjadi tujuan di Repelita II. Tujuannya agar pertumbuhan ekonomi bisa merata di Indonesia. Salah satu program yang sukses kala itu ada transmigrasi. Pada Repelita III, Soeharto menekankan industri padat karya untuk meningkatkan ekspor. Dengan berfokus pada industri padat karya, diharapkan akan terjadi pemerataan ekonomi bagi usaha kecil menengah. Kemudian, di Repelita IV, hal-hal perbaikan difokuskan pada pembuatan lapangan kerja baru dan industri. Terakhir, penekankan pada bidang transportasi, komunikasi, dan pendidikan dilakukan pada Repelita V.

Tentu tidak semua kebijakan di tiap-tiap Repelita bisa berjalan dengan baik, apalagi Indonesia juga pernah mengalami perekonomian yang buruk ketika laju inflasi sangat tinggi. Namun, kamu bisa belajar dari pola pikir Soeharto ini. Butuh rencana yang begitu matang untuk membangun sebuah negara. Tidak ada yang instan dalam sebuah perbaikan, bahkan tidak semua hal bisa diperbaiki bersama. Ada hikmah positif ketika Soeharto harus memimpin bangsa ini begitu lama. Soeharto mampu melaksanakan Repelita sesuai rencananya sedari awal menjabat presiden. Jika bercermin dengan kondisi Indonesia sekarang, mungkinkah sebuah rencana sebesar Repelita itu bisa dilaksanakan ketika pemimpinnya berganti-ganti?

 

Akhir dari kepemimpinan Soeharto dan peran Soeharto dalam pembangunan Indonesia

Tanggal 21 Mei 1998 menjadi akhir dari adidaya Soeharto. Soeharto resmi mengundurkan diri dari jabatan presiden setelah semakin banyaknya tuntutan banyak pihak, terutama mahasiswa, untuk mundur. Jabatan tersebut pun kemudian diserahkan kepada wakil presiden saat itu, B.J. Habibie.

Meski begitu banyak kontroversi selama hidupnya, setidaknya Soeharto juga pernah berjasa bagi Indonesia. Di masa Soeharto, Timor Timur dijadikannya provinsi ke-27 di Indonesia. Program Keluarga Berencana (KB) dengan semboyan “Dua Anak Cukup” juga merupakan ide Soeharto dalam mengendalikan ledakan penduduk di Indonesia. Selain itu, di era Soeharto lah muncul program Wajib Belajar Sembilan Tahun (WAJAR). Hal ini dilakukan untuk mendorong kesadaran masyarakat akan pentingnya pendidikan. Pengalaman putus sekolahnya dulu bisa jadi menjadi dasar Soeharto mencanangkan program ini.

Nah, coba direnungkan kembali. Tanpa Soeharto, mungkin perkembangan Indonesia juga tidak akan sampai di titik sekarang ini. Dalam rentang waktu 32 tahun kemimpinannya, tentu banyak juga hal yang beliau sumbangkan buat Indonesia. Bayangkan jika dulu tidak ada program wajib belajar, adakah orang Indonesia zaman sekarang bisa melek dan peduli pentingnya pendidikan?

 

Bagaimana? Sudahkah lelah berdebat tentang sosok Soeharto? Ambillah sisi positif dari kehidupan Soeharto yang bisa kamu jadikan contoh. Rasanya setiap manusia di dunia ini diciptakan untuk tujuan tersendiri. Begitu pula dengan Soeharto. Berangkat dari seorang anak desa, ternyata kisah pahit semasa kecilnya dijadikan Tuhan untuk membuat Soeharto mengubah hidupnya menjadi lebih baik. Bukan hanya hidupnya, melainkan juga bangsa ini.

Sri Sultan Hamengkubuwana IX, Figur Pemimpin yang Mencintai Rakyat dan Tanah Air

Yogyakarta dikenal dengan keistimewaannya. Yogyakarta menjadi satu-satunya daerah di Indonesia yang dipimpin oleh sosok Sultan. Hingga kini, sosok Sultan juga menjadi gubernur di Yogyakarta. Salah satu sosok Sultan yang paling dikenang tentunya Sri Sultan Hamengkubuwana IX. Ya, beliau adalah ayah dari Sri Sultan Hamengkubuwana X yang saat ini memimpin Yogyakarta. Selain dikenal sebagai Sultan yang peduli akan rakyat, Sri Sultan Hamengkubuwana IX juga merupakan figur pemimpin teladan yang pernah dimiliki Indonesia. Meski berstatus memimpin kerajaan, beliau juga ikut memperjuangkan dan mempertahankan kemerdekaan Indonesia. Simak yuk, kisah perjalanan hidup Sri Sultan Hamengkubuwana IX yang juga pernah menjadi wakil presiden Indonesia berikut ini!

  

Masa kecil Sri Sultan Hamengkubuwana IX

Sri Sultan Hamengkubuwana IX yang memiliki nama kecil Raden Mas Dorodjatun lahir pada tanggal 12 April 1912. Beliau merupakan anak dari pasangan Sri Sultan Hamengkubuwana VIII dan permaisuri Kangjeng Raden Ayu Adipati Anom Hamengkunegara. Kehidupan masa kecil Sri Sultan Hamengkubuwana IX tidak hanya berada di lingkungan keraton saja. Beliau sudah merasakan kehidupan modern dengan pergaulan yang luas. Sri Sultan Hamengkubuwana IX tidak tinggal bersama dengan orang tua sejak usia 4 tahun. Beliau dititipkan di keluarga Mulder, seorang Belanda yang tinggal di Yogyakarta. Sri Sultan Hamengkubuwana IX menyelesaikan pendidikan dasar di Yogyakarta dan melanjutkan ke Hoogere Burgerschool di Semarang. Kemudian, beliau ke Bandung untuk melanjutkan studi di Hoogere Burgerschool (HBS). Sri Sultan Hamengkubuwana IX pergi ke Belanda untuk berkuliah di Universitas Leiden, Belanda dengan megambil jurusan Indologi yang mempelajari hukum dan ekonomi.

Ternyata menjadi salah satu penghuni keraton tidak menjamin kehidupan menjadi serba mudah. Sri Sultan Hamengkubuwana IX bahkan sudah harus pisah dengan orang tua sejak kecil. Tampaknya beliau dididik untuk bisa mengenal dunia di luar keraton lebih dekat.

 

Diangkat menjadi Sultan di tahun 1940

Sri Sultan Hamengkubuwana IX kembali ke tanah air setelah sang ayah wafat pada 22 Oktober 1939. Pada tanggal 18 Maret 1940, beliau diangkat menjadi Sultan menggantikan ayah. Kala itu beliau berusia 28 tahun. Sri Sultan Hamengkubuwana IX dikenal menentang penjajahan Belanda. Selain itu, beliau juga salah satu sosok yang mendorong kemerdekaan Indonesia. Sri Sultan Hamengkubuwana IX juga tercatat pernah melakukan negosiasi dengan diplomat Belanda Dr. Lucien Adam mengenai otonomi atau keistimewaan Yogyakarta. Di masa pendudukan Jepang, Sri Sultan Hamengkubuwana IX melarang pengiriman romusha untuk Jepang. Beliau kemudian mengadakan proyek saluran irigasi Selokan Mataram.

Bayangkan, di usia yang masih mudah Sri Sultan Hamengkubuwana IX sudah mengemban tanggung jawab memimpin Yogyakarta. Beliau juga harus memimpin di masa penjajahan Belanda dan Jepang. Keberanian beliau menolak romusha menjadi bukti bahwa Sri Sultan Hamengkubuwana IX menyayangi rakyat dengan memberikan pekerjaan yang bukan di bawah kekuasaan penjajah.

 

Sri Sultan Hamengkubuwana IX memiliki peranan dalam mempertahankan kemerdekaan Indonesia

Menjadi negara yang baru saja merdeka tentu memiliki banyak masalah. Perekonomian adalah salah satu masalah terbesar saat itu. Kas negara hampir kosong, kekeringan hampir terjadi di mana-mana, dan bahan pangan yang sangat langka. Kala itu, Sri Sultan Hamengkubuwana IX berinisiatif menyumbangkan 6 juta Gulden untuk membiayai kebutuhan pemerintahan serta kebutuhan hidup para pegawai pemerintahan lainnya. Selain itu, Sri Sultan Hamengkubuwana IX juga mengundang presiden Soekarno untuk memimpin dari Yogyakarta pasca Belanda menguasai Jakarta pada Agresi Militer Belanda I.

Tidak hanya itu, Sri Sultan Hamengkubuwana IX menjadi saksi dari Agresi Militer Belanda II pada 19 Desember 1948 yang menyerang ibukota Yogyakarta. Kedudukan Sri Sultan Hamengkubuwana IX yang tidak ditangkap oleh Belanda memberikan keuntungan tersendiri. Sri Sultan Hamengkubuwana IX secara diam-diam memberikan bantuan logistik kepada para pejuang perang dan pejabat pemerintah RI.

Pada Februari 1949, Sri Sultan Hamengkubuwana IX menghubungi Panglima Besar Soedirman untuk membahas serangan umum terhadap Belanda. Setelah perundingan singkat tersebut, Sri Sultan Hamengkubuwana IX meminta Letkol Soeharto untuk memimpin serangan tersebut. Serangan yang kemudian dikenal dengan Serangan Umum Sebelas Maret ini berhasil menguasai Yogyakarta selama 6 jam dan membuat Belanda harus menarik pasukannya dari sana.

Perjuangan Sri Sultan Hamengkubuwana IX ternyata tidak berhenti setelah Indonesia merdeka. Rasa cinta beliau pada Indoensia tampak ketika Sri Sultan Hamengkubuwana IX berusaha selalu membantu Indonesia selama beliau sanggup, bahkan memakai uang pribadi. Tetap berjuang meski dalam tekanan menjadi ciri khas Sri Sultan Hamengkubuwana IX. Tidak banyak pemimpin bisa melakukan hal seperti ini.

 

Sempat beberapa kali duduk di pemerintahan, yaitu menjadi menteri dan wakil presiden

Sri Sultan Hamengkubuwana IX juga sempat memegang jabatan penting di pemerintahan semasa hidup. Beliau tercatat menjadi menteri negara di era kabinet Sjahrir, Amir Sjarifuddin, dan Hatta. Jabatan lain yang pernah dipegang antara lain menteri pertahanan di era kabinet Hatta, menteri pertahanan RIS, wakil perdana menteri kabinet Natsir, ketua Badan Pemeriksa Keuangan, menko pembangunan, dan wakil perdana menteri bidang ekononomi. Sri Sultan Hamengkubuwana IX juga pernah menjabat sebagai wakil presiden Indonesia mendampingi Soeharto mulai 25 Maret 1973 hingga 23 Maret 1978. Faktor kesehatan menjadi alasan Sri Sultan Hamengkubuwana IX mengundurkan diri menjadi wakil presiden Indonesia setelah sebelumnya menjabat selama 5 tahun.

Tidak heran rasanya jika pada akhirnya Sri Sultan Hamengkubuwana IX bisa dipercaya untuk menjabat posisi di pemerintahan. Sepak terjang beliau di masa sebelum dan setelah Indonesia merdeka bisa dijadikan bentuk loyalitas beliau kepada negara.

 

Sosok yang menjadi Bapak Pramuka Indonesia

Sri Sultan Hamengkubuwana IX dikenal aktif mengikuti gerakan kepanduan sejak muda. Pada 9 Maret 1961, Soekarno membentuk Panitia Pembetukan Gerakan Pramuka. Sri Sultan Hamengkubuwana IX masuk di dalam anggota panitia tersebut bersama Prof. Prijono (Menteri P dan K), Dr.A. Azis Saleh (Menteri Pertanian), dan Achmadi (Menteri Transmigrasi, Koperasi dan Pembangunan Masyarakat Desa). Panitia ini bertugas mengolah anggaran dasar gerakan pramuka. Pada tanggal 14 Agustus 1961, dilakukan penganugerahan Panji Kepramukaan serta pelantikan Majelis Pemimpin Nasional, Kwarnas, dan Kwarnari Gerakan Pramuka. Sri Sultan Hamengkubuwana IX kemudian menjabat sebagai Ketua Kwarnas sekaligus Wakil Ketua I Mapinas. Jabatan Ketua Kwarnas beliau pegang selama 4 periode bertutut-turut, yaitu 1961-1963, 1963-1967, 1967-1970, dan 1970-1974.

Sri Sultan Hamengkubuwana IX juga mendapatkan penghargaan Bronze Wolf Award dari World Organization of the Scout Movement (WOSM) pada tahun 1973. Itu merupakan penghargaan tertinggi dan satu-satunya dari World Organization of the Scout Movement (WOSM) kepada orang-orang yang berjasa besar dalam pengembangan kepramukaan. Atas jasa-jasa Sri Sultan Hamengkubuwana IX itulah, beliau kemudian dikukuhan sebagai Bapak Pramuka Indonesia pada Munas Gerakan Pramuka tahun 1988.

Sri Sultan Hamengkubuwana IX menghembuskan napas terakhir pada 2 Oktober 1988. Beliau meninggal dunia di George Washington University Medical Center, Amerika Serikat karena serangan jantung. Begitu banyak hal-hal positif yang ditinggalkan Sri Sultan Hamengkubuwana IX. Beliau salah satu tokoh pejuang kesultanan yang begitu mencintai Indonesia.

 

Sosok raja yang dimiliki Sri Sultan Hamengkubuwana IX mencerminkan kecintaan beliau pada rakyat. Meski hidup sebagai raja atas Yogyakarta, beliau juga tidak meninggalkan cinta untuk tanah air. Sri Sultan Hamengkubuwana IX menjadi salah satu figur pemimpin Indonesia yang rendah hati dan patut diteladani. Semoga kisah perjalanan hidup beliau juga bisa menginspirasi kamu ya!

Mohammad Natsir, Sosok Muslim Teladan yang Berjiwa Nasionalis

Sejarah Indonesia tidak bisa lepas dari salah satu sosok iinspiratif ini. Beliau adalah Mohammad Natsir. Selain dikenal sebagai mantan perdana menteri Indonesia, Mohammad Natsir juga merupakan salah satu tokoh Muslim yang disegani di Indonesia. Bahkan, pendalaman beliau mengenai ajaran Islam dalam bernegara menjadi panutan bagi beberapa partai Islam yang kemudian berdiri. Meski begitu erat dengan ajaran Islam, bukan berarti Mohammad Natsir tak memiliki peran apapun di masa kemerdekaan Indonesia. Mungkin nama beliau tidak terlalu sering disebut dalam sejarah layaknya Soekarno, Mohammad Hatta, maupun Sutan Sjahrir. Namun, kamu perlu tahu bahwa Mohammad Natsir juga menjadi aktor penting dalam deretan peristiwa yang dialami Indonesia pasca kemerdekaan. Simak dulu yuk, kisah salah seorang tokoh Muslim yang paling disegani ini!

 

Akrab dengan ajaran Islam sejak remaja

Mohammad Natsir lahir pada tanggal 17 Juli 1908 di Solok, Sumatera Barat. Orang tua beliau bernama Mohammad Idris Sutan Saripado dan Khadijah. Mohammad Nastsir sempat mengenyam pendidikan di Sekolah Rakyat sebelum akhirnya pindah ke HIS. Pada tahun 1923, beliau melanjutkan pendidikan di MULO Padang. Di situ Mohammad Natsir bergabung dalam beberapa organisasi, seperti Pandu Nationale Islamietische Pavinderij dan Jong Islamieten Bond. Ketua Jong Islamieten Bond  dijabat beliau dari tahun 1928-1932. Setamat dari MULO, Mohammad Natsir pindah ke Bandung dan melanjutkan ke AMS dan lulus pada tahun 1930.

Ilmu tentang agama Islam semakin beliau perdalam saat di Bandung. Beberapa ilmu yang beliau pelajari antara lain tafsir Al-Quran, hukum Islam, dan dialektika. Mohammad Natsir pun sempat beguru pada Ahmad Hassan yang kemudian menjadi tokoh organisasi Islam bernama Persatuan Islam. Baik selama di Sumatera maupun Bandung, Mohammad Natsir memang sudah dekat dengan ajaran Islam. Nilai-nilai luhur Islam senantiasa menjadi pedoman beliau dalam hidup, bahkan mengenai kemerdekaan Indonesia kelak.

 

Keterlibatan Mohammad Natsir dalam politik melalui partai dan organisasi Islam

Mohammad Natsir dikenal memiliki kedekatan dengan beberapa tokoh Islam, salah satunya adalah Agus Salim. Sepanjang tahun 1930-an, bersama Agus Salim, beliau kerap bertukar pikiran tentang hubungan Islam dan negara yang kelak akan merdeka. Selain itu, keaktifan Mohammad Natsir di Partai Islam Indonesia membuatnya terpilih menjadi pimpinan partai tersebut untuk cabang di Bandung periode 1940-1942.

Mohammad Natsir bergabung dalam Majelis Islam A’la Indonesia selama masa kependudukan Jepang. Nama Majelis Islam A’la Indonesia kemudian berubah menjadi Majelis Syuro Muslimin Indonesia atau disingkat Masyumi. Saat itu Masyumi belum menjadi sebuah partai, melainkan hanya wadah bagi organisasi Islam yang diizinkan kala itu, yaitu Nahdlatul Ulama, Muhammadiyah, Persatuan Umat Islam, dan Persatuan Umat Islam Indonesia. Pada tahun 1945, Mohammad Natsir terpilih menjadi ketua Masyumi. Jabatan tersebut beliau pegang sampai pada tahun 1960 Masyumi dibubarkan oleh Soekarno.

Tumbuh dengan ajaran Islam sejak muda tidak membuat Mohammad Natsir menjadi anti ke-modern-an. Kala itu beliau percaya bahwa dalam Islam mengenal dua hal, yakni haq (baik) dan bathil (buruk). Segala hal dari Barat yang memang baik sudah sewajarnya diterima. Segala hal yang buruk lah yang harus dijauhkan. Jadi, bukan budaya “barat” atau “timur” yang membedakan sebuah perbuatan baik atau tidak. Keterbukaan pola pikir beliaulah yang membuat Mohammad Natsir bermimpi memadukan konsep pendidikan modern dengan unsur agama Islam di dalamnya. Bahkan, agama Islam inilah yang kelak ingin beliau bawa sebagai landasan bernegara.

 

Peran beliau pasca kemerdekaan Indonesia

Setelah Indonesia resmi memproklamasikan kemerdekaan pada 17 Agustus 1945, Mohammad Natsir resmi menjadi anggota Komite Nasional Indonesia Pusat (KNIP). Selain itu, beliau juga menjabat sebagai menteri penerangan mulai tahun 1946 hingga 1949. Mohammad Natsir merupakan salah satu tokoh yang tidak setuju dengan hasil keputusan Konferensi Meja Bundar (KMB) karena kala itu Irian Barat tidak dimasukkan ke dalam Republik Indonesia Serikat (RIS). Mohammad Hatta kemudian menugaskan Mohammad Natsir bersama Sri Sultan Hamengkubuwono IX melakukan lobi untuk menyelesaikan krisis di berbagai daerah yang ingin membubarkan diri dengan Indonesia. Maka, pada tanggal 3 April 1950, Mohammad Natsir mengajukan Mosi Integral Natsir dalam sidang pleno parlemen. Mosi tersebut berisi gagasan bersatunya kembali sistem pemerintahan Indonesia dalam sebuah kesatuan. Mosi ini akhirnya membawa bangsa Indonesia, yang sebelumnya berbentuk serikat, kembali dalam Negara Kesatuan Republik Indonesia. Keberhasilan Mohammad Natsir tersebut membuat beliau diangkat menjadi perdana menteri oleh Soekarno pada tahun 1950.

Namun, hubungan Mohammad Natsir dan Soekarno juga pernah memburuk karena ada perselisihan paham. Soekarno yang kala itu erat dengan paham nasionalisme kerap bergesekan dengan Mohammad Natsir yang cenderung mengajukan Islam sebagai dasar negara. Saat itu, Mohammad Natsir beranggapan bahwa Islam memiliki nilai-nilai sempurna bagi kehidupan bernegara dan dapat menjamin keragaman hidup antar berbagai golongan dengan penuh toleransi. Mohammad Natsir sendiri tidak menuntut Indonesia harus menjadi negara Islam, yang terpenting adalah berjalannya hukum Tuhan sebagai bentuk dari negara yang berdasarkan agama Islam. Singkatnya, negara hanya digunakan sebagai alat untuk mewujudkan nilai-nilai Islam. Sementara itu, Soekarno kerap mengkritik Islam sebagai ideologi. Perbedaan pandangan mengenai negara inilah yang akhirnya membuat Mohammad Natsir memutuskan mundur dari jabatan perdana menteri pada tahun 1951.

 

Sempat dipenjarakan di era demokrasi terpimpin dan kembali berkontribusi di masa Orde Baru

Perseteruan Mohammad Natsir dengan Soekarno tampaknya berlanjut di era demokrasi terpimpin. Mohammad Natsir kemudian bergabung dalam Pemerintah Revolusioner Republik Indonesia (PRRI). Saat itu PRRI menuntut adanya otonomi daerah yang lebih luas. Di mata Soekarno, hal ini dipandang sebagai salah satu pemberontakan. Mohammad Natsir pun ditangkap dan dipenjarakan di Malang pada tahun 1962 dan beliau baru dibebaskan saat masa Orde Baru dimulai di tahun 1966.

Lepas dari penjara tak membuat kecintaan Mohammad Natsir pada Islam berkurang. Beliau kembali aktif pada beberapa organisasi, seperti Majelis Ta’sisi Rabitah Alam Islami dan Majelis Ala al-Alami lil Masjid yang berpusat di Mekkah, Pusat Studi Islam Oxford (Oxford Centre for Islamic Studies) di Inggris, dan Liga Muslim Sedunia (World Muslim Congress) di Karachi, Pakistan. Selain itu, beliau membentuk Yayasan Dewan Dakwah Islamiyah Indonesia.

Pada awal masa Orde Baru inilah kontribusi Mohammad Natsir begitu besar untuk Indonesia. Kala itu beliau membantu mencairkan hubungan Indonesia dengan Malaysia melalui pengiriman nota kepada Tuanku Abdul Rahman. Tak hanya itu, Mohammad Natsir juga mengontak pemerintah Kuwait agar bersedia menanam modal di Indonesia. Berkat jasa beliau inilah, pelan-pelan hubungan Indonesia dengan beberapa negara pun kembali membaik pasca tragedi G30S/PKI.

 

Semasa hidup, Mohammad Natsir aktif menulis tentang ajaran Islam

Mohammad Natsir sudah akrab dengan dunia kepenulisan sejak masih duduk di AMS. Pada tahun 1929 hingga 1935, beliau mendirikan surat kabar bernama Pembela Islam. Selain itu, beliau aktif menulis tentang padangan Islam di berbagai surat kabar, misalnya Pandji Islam, Pedoman Masyarakat, dan Al-Manar. Karya-karya Mohammad Natsir selalu seputar pemikiran Islam, budaya, hingga hubungan Islam dengan politik. Mohammad Natsir pun dikenal sebagai salah satu tokoh Muslim yang disegani hingga sekarang. Keteguhan beliau pada ajaran Islam dianggap sebagai teladan yang tepat untuk hidup bernegara yang berasaskan Pancasila.

 

Kepedulian akan pendidikan membuat beliau mendirikan perguruan tinggi Islam

Tak hanya berpolitik, Mohammad Natsir juga peduli pada pendidikan Indonesia. Beliau memiliki cita-cita membangun pendidikan Indonesia dengan nilai-nilai akhlak dari Islam. Pada tahun 1932, Mohammad Natsir juga memimpin Lembaga Pendidikan Islam yang dikena dengan nama Pendis. Kelak, Pendis inilah yang menjadi cikal bakal lahirnya Universitas Islam Bandung (Unisba). Selanjutnya, Masyumi mengadakan sebuah rapat pada tahun 1945 yang menghasilkan dua keputusan. Pertama, membentuk barisan untuk melawan sekutu. Sedangkan yang kedua adalah mendirikan perguruan tinggi Islam bernama Sekolah Tinggi Islam (STI). Tujuan didirikannya STI ini adalah untuk memberikan pendidikan tinggi tentang agama Islam agar kelak dapat bermanfaat bagi masyarakat. Saat itu STI diketuai oleh Mohammad Hatta dengan Mohammad Natsir sebagai wakilnya. Seiring perkembangan yang ada, nama STI pun berubah menjadi Universitas Islam Indonesia yang kini dikenal berlokasi di Yogyakarta.

 

Sempat dituduh pemberontak di negeri sendiri, Mohammad Natsir justru banyak dihargai di luar negeri

Mohammad Natsir dikenal terlalu sering berselisih dengan presiden, baik Soekarno maupun Soeharto. Perbedaan pandangan tentang politik membuat keduanya sering menganggap Mohammad Natsir adalah sebuah ancaman yang bisa mengubah ideologi negara. Namun, siapa sangka justru Mohammad Natsir sangat dikenal di negara-negara lain. Sosok Mohammad Natsir dianggap sebagai politisi yang paling menonjol untuk mendukung pembaruan Islam. Beliau sempat menerima penghargaan bintang Nican Istikhar dari Raja Tunisia atas jasanya membantu perjuangan kemerdekaan Afrika Utara. Pada tahun 1980, penghargaan lain yang didapat adalah Jaa-izatul Malik Faisal al-Alamiyah. Di tahun yang sama pula Mohammad Natsir memperoleh penghargaan Faisal Award dari Raja Fahd di Arab Saudi. Puncaknya, beliau mendapat dua gelar kehormatan pada tahun 1991 di Malaysia. Pertama adalah di bidang sastra dari Universitas Kebangsaan Malaysia. Kedua adalah dalam bidang pemikiran Islam dari Universitas Sains Malaysia.

Mohammad Natsir meninggal pada tanggal 6 Februari 1993 di Jakarta. Beliau mendapat gelar pahlawan Indonesia setelah 15 tahun kematian beliau, yaitu pada tanggal 10 November 2008. Di masa kepemimpinan B.J. Habibie, Mohammad Natsir juga sempat mendapat penghargaan Bintang Republik Indonesia Adipradana. Kejadian yang ironi ini semoga bisa menjadi pelajaran berharga bagi Indonesia. Hingga sekarang memang banyak anak bangsa yang sulit mendapat pengakuan di Indonesia, tapi justru bisa lebih dihargai di luar negeri.

 

Akhir-akhir ini begitu banyak peristiwa di Indonesia yang sering mengadu domba antar umat beragama. Sosok Mohammad Natsir ini mengingatkan kita bahwa keberagaman apapun yang dimiliki bangsa ini, jangan pernah lupa pada bangsa ini berbentuk Negara Kesatuan Republik Indonesia. Jangan sampai NKRI yang pernah diusahakan mati-matian oleh Mohammad Natsir justru mudah terpecah belah hanya karena isu-isu keagamaan.

Jenderal Soedirman, Panglima Besar pertama dan termuda

Jika menyebutkan nama Soedirman, apa yang muncul pertama kali di benak kamu? Pastinya sosok tentara Indonesia yang gagah berani ya! Soedirman memang merupakan salah satu pahlawan Indonesia yang dikenal karena keberanian beliau dalam mempertahankan kemerdekaan Indonesia. Perang gerilya juga populer karena beliau. Perang gerilya merupakan suatu strategi perang yang dilakukan secara sembunyi-sembunyi dan penuh kecepatan. Taktik perang ini dirasa ampuh untuk melumpuhkan musuh dalam jumlah yang cukup besar. Soedirman inilah tokoh di balik taktik perang gerilya tersebut. Buat kamu yang penasaran dengan tentara gagah berani ini, simak yuk kisah perjalanan dan perjuangan Soedirman berikut ini!

  

Masa kecil dan remaja yang dididik dengan nilai-nilai kepahlawanan dan patriotisme

Soedirman lahir di Rembang pada tanggal 24 Januari 1916. Beliau lahir dari pasangan Karsid Kartawiraji dan Siyem. Karena kondisi keuangan orang tua yang kurang baik, Soedirman kemudian diasuh oleh Raden Cokrosunaryo, seorang camat. Soedirman kembali mengikuti keluarga beliau di Cilacap pasca Cokrosunaryo pensiun dari camat.

Soedirman dibesarkan dengan kisah-kisah kepahlawanan, tata krama priyayi, serta kerja keras. Selain itu, Soedirman juga dididik Islam dengan baik. Soedirman sempat menempuh pendidikan di sekolah menengah Taman Siswa sebelum dipindahkan ke sekolah menengah Wirotomo. Selama bersekolah, sosok Soedirman dikenal cerdas dan aktif dengan kegiatan di luar belajar, misalnya mengaji, sepak bola, hingga bermusik.

Selepas lulus dari Wirotomo, Soedirman memimpin Hizboel Wathan (organisasi kepanduan putra milik Muhammadiyah) cabang Cilacap. Di situ Soedirman menekankan perlunya pendidikan agama pada anggota muda, sedangkan disiplin militer beliau ajarkan pada anggota yang lebih tua. Nilai-nilai mulia dari agama dan kepahlawanan yang pernah Soedirman dapatkan langsung beliau bagi pada anggota organisasi. Beliau berharap agar anak-anak muda pun juga bisa menumbuhkan nilai luhur layaknya yang beliau miliki sejak kecil. Bisa jadi inspirasi nih, menebar nilai-nilai kebaikan pada orang lain. Ya nggak?

 

Soedirman sempat mendedikasikan hidup untuk mengajar

Soedirman berkesempatan belajar satu tahun di Kweeschool (sekolah guru) di Surakarta. Keterbatasan biaya membuat beliau tidak bisa melanjutkan pendidikan. Soedirman pun kembali ke Cilacap dan mengajar di sebuah sekolah dasar Muhammadiyah. Sama seperti yang beliau lakukan di Hizboel Wathan, Soedirman mengajarkan pelajaran moral kepada para murid. Selain itu, jiwa nasionalisme juga Soedirman tanamkan selama mendidik murid-murid. Meski bergaji sangat kecil, Soedirman tetap mengajar dengan giat dan penuh semangat. Berkat ketekunan dan keikhlasan dalam mengajar, Soedirman pun diangkat menjadi kepala sekolah.

Soedirman menjadikan pendidikan sebagai media untuk menebar kebaikan. Bagi Soedirman, pendidikan bukan hanya sebagai sarana memperpintar diri. Pendidikan di masa itu adalah wadah paling tepat untuk mengajar dan membentuk tunas-tunas pejuang bangsa dengan semangat nasionalisme dan patriotisme. Mungkin zaman sekarang tidak banyak guru yang bisa seperti Soedirman ini. Ketulusan beliau dalam bekerja patut jadi teladan buat kamu.

 

Pembela Tanah Air (PETA) menjadi awal perkenalan Soedirman dengan kemiliteran

Pada masa pendudukan Jepang di tahun 1943, Soedirman menjabat selama satu tahun sebagai perwakilan di dewan karesidenan yang dijalankan Jepang bernama Syu Sangikai. Pada tahun 1944, Soedirman kemudian diminta untuk bergabung dengan Pembela Tanah Air (PETA). Tujuan Jepang medirikan PETA adalah untuk mengalau serangan invasi sekutu dan merekrut pemuda yang masih “bersih” dari Belanda. Soedirman mendapat jabatan daidanco (komandan) dan dilatih dengan orang lain yang berpangkat sama. Di pelatihan tersebut, Soedirman dipersenjatai dengan peralatan yang disita dari Belanda.

Pemberontakan dari tentara PETA pada tanggal 21 April 1945 membuat Jepang memerintahkan Soedirman untuk menangani hal tersebut. Soedirman berhasil meredam pemberontakan tersebut. Meski sempat mendapat kepercayaan dari Jepang, kubu Jepang tetap cemas tentang dukungan Soedirman pada kemerdekaan Indonesia. Soedirman dan beberapa anak buah beliau kemudian dikirim ke Bogor untuk pelatihan. Padahal tujuan awal pemindahan beliau tersebut hanya untuk diasingkan sementara.

Berada di bawah naungan pasukan bentukan Jepang tak membuat Soedirman kehilangan semangat nasionalisme. Bahkan, melalui PETA lah Soedirman berusaha mencuri sebanyak-banyaknya ilmu militer yang kelak bisa beliau gunakan untuk berjuang demi kemerdekaan Indonesia.

 

Panglima besar tentara pertama di Indonesia

Soedirman memilih lari dari kamp pelatihan di Bogor dan menuju Jakarta untuk menemui Soekarno pasca proklamasi kemerdekaan Indonesia. Soekarno kemudian meminta Soedirman mengelola Badan Keamanan Rakyat (BKR) yang bertugas sebagai “wadah militer” pertama Indonesia dalam usaha mempertahankan kemerdekaan. Akhirnya, Soekarno kemudian membentuk Tentara Keamanan Rakyat (TKR) pada 5 Oktober 1945 . Letnan Jenderal Oerip Soemohardjo dipilih menjadi pemimpin sementara. Di bulan itulah pasukan Inggris yang bertugas melucuti tentara Jepang dan memulangkan tentara Belanda tiba di Semarang dan bergerak menuju Magelang. Inggris justru kembali mempersenjatai tentara Belanda dan berencana mendirikan pangkalan militer di Magelang. Soedirman yang kala itu menjabat sebagai kolonel mengirim pasukan untuk mengusir mereka. Misi Soedirman ini membawa tentara Eropa menarik diri ke Ambarawa.

Pada 12 November 1945, Soedirman terpilih menjadi pemimpin TKR setelah unggul tipis atas Oerip Soemohardjo  melalui pemungutan suara. Karena kondisi negara yang belum stabil dan keraguan Soekarno akan kepemimpinan Soedirman, pengangkatan Soedirman sebagai pemimpin TKR pun tertunda. Di tengah kondisi tersebut, Soedirman justru memerintahkan pasukan beliau untuk menyerang sekutu di Ambarawa. Tentara Indonesia yang hanya dipersenjatai bambu runcing dan katana sitaan Belanda harus melawan tentara Inggris dengan segudang senjata modern. Soedirman ikut bertempur di barisan depan dan memimpin pengepungan selama empat hari sehingga sekutu pun mundur ke Semarang.

Berkat keberhasilan Soedirman inilah akhirnya Soedirman dikukuhkan sebagai panglima besar TKR pada 18 Desember 1945. Beliau lah panglima besar tentara yang dimiliki Indonesia. Soedirman tidak ambil pusing pada jabatan yang belum resmi diberikan kepada beliau. Bagi Soedirman, keutuhan negara jauh lebih penting daripada sekadar jabatan. Kesetiaan dan patriotisme Soedirman ini patut untuk dicontoh ya!

 

Masa-masa mempertahankan kemerdekaan Indonesia dan penyakit TBC yang diderita Soedirman

Jika perundingan dan diplomasi dilakukan sebagai salah satu upaya untuk mempertahankan kemerdekaan, maka Soedirman berada di barisan untuk mempertahankan Indonesia dari serangan sekutu. Soedirman saat itu dikenal sebagai salah satu tokoh yang lantang menentang isi perjanjian Linggarjati pada 25 Maret 1947. Soedirman kemudian berusaha mengonsolidasikan TKR dengan beberapa laskar dan melaksanakan reorganisasi militer. Pada tanggal 3 Juni 1947, Tentara Nasional Indonesia (TNI) diresmikan. TNI berisi TKR dan tentara dari kelompok laskar. Belanda pun melancarkan Agresi Militer pertama pada 21 Juli 1947 dan berhasil menguasai sebagian besar Jawa dan Sumatera. Soedirman menyerukan kepada para tentara agar melakukan perlawanan, tetapi upaya beliau berpidato melalui RRI gagal mendorong tentara untuk menyerang karena mereka belum siap.

Belanda sempat melakukan gencatan senjata. Di saat itulah Soedirman kemudian memanggil gerilyawan Indonesia yang bersembunyi untuk kembali ke wilayah yang dikuasai Indonesia. Inilah upaya awal Soedirman untuk kembali membentuk suatu pasukan karena beliau yakin bahwa Belanda kelak akan kembali melancarkan serangan. Namun, pada 18 September 1948 justru muncul pemberontakan di Madiun di bawah pimpinan Sjarifuddin (mantan perdana Menteri Indonesia yang digulingkan akibat keterlibatan di Perjanjian Renville). Soedirman yang sedang sakit memerintahkan Nasution untuk meredamkan pemberontakan.

Pemberontakan di Madiun dan ketidakstabilan politik membuat kesehatan Soedirman semakin menurun. Soedirman terkena TBC dan harus menjalani pengempesan paru-paru kanan di Rumah Sakit Panti Rapih. Dalam kondisi sakit, Soedirman tetap aktif berkomunikasi dengan Nasution untuk membahas rencana perang. Rasa sakit tidak menghalangi Soedirman untuk tetap berkontribusi penuh pada negara. Meski harus terkapar di rumah sakit, semangat beliau justru mampu menular kepada tentara lain.

 

Berjuang di perang gerilya dengan kondisi kesehatan yang buruk

Hal yang paling ditakutkan Soedirman pun tiba. Belanda melancarkan Agresi Militer kedua. Pada tanggal 19 Desember 1948, Belanda justru berhasil menduduki ibukota Yogyakarta. Soedirman segera menyiarkan berita lewat RRI bahwa tentara siap melawan sebagai gerilyawan. Meski dokter melarang Soedirman untuk berperang, hal tersebut dihiraukan Soedirman. Beliau ikut maju dalam perang gerilya melawan Belanda.

Soedirman meninggalkan Yogyakarta untuk memimpin langsung perang gerilya. Tujuh bulan lamanya beliau bergerilya di seluruh wilayah Indonesia. Bayangkan, dengan kondisi beliau yang tengah memburuk karena TBC, beliau harus berpindah-pindah sembari ditandu dan dikawal tentara lain. Soedirman juga aktif memberi perintah pada pasukan TNI lewat radio-radio. Semangat juang Soedirman inilah yang membuat para gerilyawan tidak putus asa atau hilang harapan. Meski begitu, Belanda juga ikut-ikutan menyebarkan propaganda bahwa telah menangkap Soedirman agar para gerilyawan patah semangat.

Puncaknya adalah peristiwa Serangan Umum 1 Maret 1949 yang merupakan hasil rencana pembahasan antara Soedirman, Hutagalung, Bambang Sugeng, dan beberapa pejabat pemerintahan. Serangan di bawah pimpinan Letkol Soeharto ini berhasil menduduki dan merebut kembali Yogyakarta dalam waktu enam belas jam. Belanda pun mulai memundurkan pasukannya sesuai Perjanjian Roem Royen. Soedirman yang diminta untuk kembali ke Yogyakarta sempat menolak dengan alasan malas bertemu para kalangan politisi yang banyak terlibat perundingan dengan Belanda.

Pengorbanan Soedirman ini bukanlah sekadar untuk mencari perhatian masyarakat. Kondisi kesehatan yang sudah sangat memburuk justru menjadi pelecut semangat untuk memberikan kontribusi lewat cara yang nyata. Tidak pernah ikut campur di dunia politik jadi pilihan Soedirman. Bagi beliau, mempertahankan kemerdekaan dengan keringat sendiri jauh lebih berarti daripada harus bernegosiasi terus-menerus dengan penjajah.

 

Selesainya masa perang menjadi akhir bakti Soedirman untuk Indonesia

Perjuangan Soedirman melawan penyakit TBC belum berakhir. Beliau keluar masuk Rumah Sakit Panti Rapih berkali-kali. Beliau kemudian dipindahkan ke sebuah rumah di Magelang pada Desember 1949. Di saat itu pulalah Indonesia mengadakan Konferensi Meja Bundar (KMB) dengan Belanda. Akhirnya kedaulatan penuh kemerdekaan Indonesia pun diperoleh pada tanggal 27 Desember 1949. Di tengah perjuangan melawan penyakit TBC, Soedirman mendapat hadiah berupa kedaulatan penuh kemerdekaan Indonesia. Perjuangan perang gerilya belia selama ini akhirnya menghasilkan hasil yang manis pula lewat KMB.

Namun, Soedirman wafat pada tanggal 29 Januari 1950. Kabar duka ini membuat rakyat Indonesia bersedih karena di saat perjuangan mempertahankan kemerdekaan usai, justru negara harus kehilangan salah satu sosok pejuang. Jenazah Soedirman yang dibawa di Yogyakarta langsung dipadati banyak pelayat. Beliau kemudian disemayamkan di Taman Makam Pahlawan Semaki.

Sungguh luar biasa melihat kegigihan dan semangat Soedirman hingga akhir hayat. Tetap berjuang di tengah rasa sakit dan tidak pernah memikirkan kepentingan sendiri menjadikan sosok Soedirman sangat dikenang sebagai panglima besar terbaik yang dimiliki Indonesia. Tak heran jika sampai sekarang sosok Soedirman tetap dikenang sebagai pahlawan paling gagah berani dan rela berkorban.

 

Keberanian, kesetiaan, nasionalisme, dan patriotisme adalah nilai-nilai luhur dari Soedirman yang bisa kamu tiru. Pengorbanan untuk negara di atas kepentingan pribadi juga bisa kamu jadikan inspirasi untuk ikut berjuang membangun bangsa ini di masa kini. Semoga kisah Soedirman ini bisa jadi inspirasi untuk kamu ya!

Tan Malaka: Sosok Pejuang Kemerdekaan yang Namanya (Hampir) Hilang dari Sejarah Indonesia

Kisah perjuangan kemerdekaan Indonesia bisa jadi tidak bisa lepas dari nama Soekarno, Mohammad Hatta, hingga Sutan Sjahrir. Namun, siapa sangka ada satu nama lagi yang hampir “terlupakan”. Sosok tersebut bernama Tan Malaka. Mungkin sebagian besar dari kamu akan mengernyitkan dahi ketika mendengar nama tersebut. Tak seperti Soekarno dan Mohammad Hatta yang pernah menjadi presiden dan wakil presiden atau Sutan Sjahrir yang sempat menjadi perdana menteri, Tan Malaka bahkan tidak pernah mencicipi posisi penting apapun pasca kemerdekaan Indonesia. Padahal, beliau juga ikut memperjuangkan dan mempertahankan kemerdekaan Indonesia meski dengan cara yang berbeda. Lalu, siapa Tan Malaka dan apa kontribusinya untuk bangsa ini? Yuk, simak kisah perjalanan sosok yang hampir terlupakan oleh Indonesia berikut ini!

  

Pemuda asal Sumatera Barat yang mampu menempuh pendidikan di Belanda

Tan Malaka lahir pada tanggal 2 Juni 1897 di Nagari Pandam Gadang, Suliki, Sumatera Barat. Tan Malaka tinggal di surau sejak usia 5 tahun dan belajar ilmu agama serta pencak silat. Pada tahun 1908, beliau mendaftar ke Kweekschool (sekolah calon guru). Tan Malaka gemar bahasa Belanda dan memiliki nilai-nilai yang bagus di mata pelajaran tersebut. Guru beliau pun menyarankan Tan Malaka untuk menjadi guru bahasa Belanda. Bak gayung bersambut, doa sang guru dan impian Tan Malaka pun terkabul. Berkat dukungan dari engku (kakek) di kampungnya, Tan Malaka bisa melanjutkan pendidikan di Belanda. Beliau kemudian diterima di Rijkskweekschool di kota Haarlem.

 

Awal perkenalan Tan Malaka pada paham sosialisme dan komunisme

Kala itu, dampak revolusi industri masih terasa di akhir abad 19 dan awal abad 20. Dunia berkembang dengan cepat, mulai dari penemuan telepon, telegraf, mobil, hingga pesawat terbang. Namun, ada dampak sosial yang tidak kalah memprihatinkan, yaitu harga barang jatuh, usaha kecil bangkrut, upah buruh murah, hingga kesenjanga sosial antara pengusaha dan buruh. Fenomena tersebut melahirkan berbagai pemahaman baru yang dicetuskan oleh filsafat ekonomi dan politik, yaitu ideologi sosialisme dan komunisme. Ideologi tersebut menegakkan keadilan bagi para buruh dan kaum tertindas.

Di saat itulah sosok Tan Malaka mulai penasaran dengan ideologi sosialisme dan komunisme. Pemikiran beliau kala itu dipengaruhi oleh buku-buku karya Karl Marx, Friedrich Engels, Vladimir Lenin, dan lain-lain. Sampai pada akhirnya Tan Malaka bertemu dengan Henk Sneevliet, tokoh komunis yang baru saja mendirikan Indische Sociaal-Democratische Vereeniging (ISDV). Keprihatinan Tan Malaka akan kondisi kaum buruh kala itu menyulutkan semangat beliau untuk mampu menegakkan keadilan bagi para buruh.

 

Menjadi guru untuk anak-anak buruh dan perjuangan awal beliau Tan Malaka bersama ISDV

Bentuk dukungan Tan Malaka pada kaum buruh kemudian beliau tunjukkan dengan menjadi guru bahasa Melayu untuk anak-anak buruh perkebunan teh dan tembakau di Sanembah, Sumatera Utara. Dari mengajar ini, Tan Malaka melihat langsung penderitaan kaum buruh yang sering ditipu karena buta huruf dan tidak bisa berhitung. Pengalaman mengajar ini akhirnya menginspirasi Tan Malaka untuk melawan kolonialisme.

Tan Malaka lalu memutuskan bergabung dengan ISDV yang cukup radikal melawan kolonial Belanda. Gerakan ISDV yang sempat mati nyatanya justru semakin berkembang. Pada tahun 1920, ISDV resmi berganti nama menjadi Perkumpulan Komunis di Hindia (PKH). Tan Malaka kemudian pindah ke Jawa untuk berjuang bersama PKH hasil bentukan Serikat Islam (SI) dengan ISDV. Hanya saja, duet SI dan PKH akhirnya harus bubar jalan lantaran pandangan sosialis dan komunis yang tidak sejalan dengan SI.

PKH yang sempat dipimpin Semaoen memiliki kinerja yang serba hati-hati dan menghindari konflik dengan kolonial. Hal ini tidak sejalan dengan pemikiran Tan Malaka kala itu. Ketika Semaoen harus menghandiri konferensi di Moskow, Tan Malaka mengambil alih PKH dan langsung mengambil jalur radikal melawan kolonial. Tindakan Tan Malaka yang terang-terangan melawan kolonial ini membuat Belanda mengasingkan beliau ke Belanda agar tidak bisa memimpin pemberontakan lagi. Tan Malaka benar-benar menjadi sosok pembela kaum buruh. Bahkan, beliau sampai tidak memperhatikan keselamatan diri. Rasa peduli pada sesama yang dimiliki beliau bisa jadi contoh untuk pemuda zaman sekarang.

 

Meski diasingkan ke Belanda, Tan Malaka tak pernah kapok berjuang

Diasingkan ke Belanda bukan berarti Tan Malaka tinggal diam. Beliau bahkan tidak kapok berjuang di pengasingan. Malaka justru bergabung dalam Partai Komunis Belanda dan bertemu Darsono (mantan tokoh di SI) di Berlin. Bersama Darsono, Tan Malaka ikut bergabung di Communist International (Comintern). Selama di Comintern, Tan Malaka sempat mengikuti Kongres Internasional Comintern dan ditugaskan menjadi agen Comintern di Asia Tenggara yang bermarkas di Kanton, Tiongkok. Di sanalah muncul sebuah karya Tan Malaka yang justru kelak menjadi inspirasi bagi bapak negara Indonesia.

 

Buku Naar de Republiek Indonesia jadi awal mimpi Tan Malaka akan kemerdekaan Indonesia

Pada tahun 1925, Tan Malaka menulis buku berjudul Naar de Republiek atau dalam bahasa Indonesia artinya menjadi Menuju Republik Indonesia. Tan Malaka mengemukakan analisa tentang dunia politik dunia saat itu melalui buku ini. Di buku tersebut Tan Malaka juga menulis bahwa persaingan kekuatan ekonomi Jepang dan Amerika akan berujung pada Perang Pasifik dan itu bisa menjadi kesempatan Indonesia untuk melakukan revolusi melawan Belanda. Dari sinilah gagasan perjuangan menuju negara bernama Indonesia harus direalisasikan. Frasa “Republik Indonesia” muncul pertama kali di buku Tan Malaka ini.

Apa yang diramalkan Tan Malaka di buku tersebut menjadi kenyataan. Muncullah Perang Pasifik di rangkaian Perang Dunia II dan di situlah peluang bagi para bapak negara untuk merealisasikan mimpi kemerdekaan Indonesia. Siapa sangka ide awal sebuah nama “Republik Indonesia” justru muncul dari sosok Tan Malaka. Impian besarnya lepas dari kolonial mampu membuat beliau menuangkan pemikiran ke dalam buku yang ternyata bisa menginspirasi para bapak negara kala itu (Soekarno, Mohammad Hatta, Sutan Sjahrir).

 

Si “pembuat onar” yang ikut aktif dalam usaha mempertahankan kemerdekaan Indonesia

Setelah sempat bersembunyi dari Belanda, akhirnya Tan Malaka kembali ke tanah air saat Belanda berhasil diusir oleh Jepang. Namun, Tan Malaka kembali muncul saat Soekarno dan Mohammad Hatta sukses memproklamasikan kemerdekaan. Hanya saja, lagi-lagi sifat berontak Tan Malaka muncul. Di saat pemerintah berusaha mempertahankan kemerdekaan Indonesia melalui berbagai macam perundingan, Tan Malaka merasa hal tersebut tidak perlu dilakukan. Kalau perlu, lebih baik mati-matian mempertahankan kemerdekaan dengan perang melawan sekutu yang hendak merebut kembali Indonesia.

Tan Malaka ikut dalam perjuangan bersama rakyat di Surabaya. Kemudian beliau melanjutkan perjuangan di Purwokerto dan membentuk perkumpulan yang dinamakan Persatuan Perjuangan (PP). Ironisnya, pemerintah Indonesia justru menganggap PP sebagai pembangkang yang tidak menurut pada kebijakan pemerintah pusat. Beberapa pemimpin PP pun ditangkap oleh Sutan Sjahrir, termasuk beliau. Tan Malaka tercatat dijebloskan ke penjara selama dua setengah tahun tanpa diadili.

Ketika pada akhirnya banyak perundingan yang justru merugikan Indonesia, Tan Malaka memang sebelumnya sudah memprediksi hal tersebut. Bagi Tan Malaka, berunding kembali dengan penjajah hanya akan membuka potensi kehilangan kemerdekaan kembali. Sebuah ucapan beliau yang hingga sekarang masih dikenang adalah: “Tuan rumah tak akan berunding dengan maling yang menjarah rumahnya”. Tan Malaka makin gencar mengumpulkan kekukatan rakyat melalui berbagai gerakan untuk merebut kembali keutuhan bangsa. Gerakan-gerakan tersebut antara lain Gerakan Revolusi Rakyat (GRR), PARI, sampai Murba (Partai Musyawarah Rakyat Banyak). Lagi-lagi Tan Malaka dicap sebagai “pembuat onar” oleh pemerintah. Kepedulian Tan Malaka untuk mempertahankan kemerdekaan Indonesia ternyata tidak selalu bisa dipandang baik oleh orang banyak. Padahal niat Tan Malaka sama seperti tokoh Indonesia lainnya, yakni keutuhan Indonesia. Meski begitu, perjuangan Tan Malaka tetap patut diacungi jempol.

 

Kerap tidak sejalan dengan pemerintah, Tan Malaka dianggap pemberontak oleh pemerintah. Bahkan, namanya hampir hilang dari sejarah Indonesia

Tan Malaka semakin “menjadi” dengan membentuk pasukan dan menghimpun kekuatan di Kediri untuk menghadapi Agresi Militer Belanda II pada Desember 1948. Dalam kondisi Indonesia yang sedang goyang tersebut, Tan Malaka justru melanjutkan perjuangan bersama pasukannya dengan cara yang cukup keras, antara lain tidak mengakui perjanjian Linggarjati dan Renville, menghancurkan negara boneka bentukan Belanda, hingga mengabaikan seluruh ajakan perundingan. Cara ekstrim ala Tan Malaka ini ternyata ampuh membakar semangat rakyat Indonesia.

Semangat membara Tan Malaka ini justru dianggap berbahaya oleh pemerintah. Tan Malaka resmi menjadi buruan pemerintah sejak itu. Pada bulan Februari 1949, Tan Malaka ditangkap di Kediri dan ditembak mati di sana. Soekarno sempat memberikan gelar Pahlawan Nasional pada Tan Malaka di tahun 1963. Namun, di era Soeharto, nama Tan Malaka disembunyikan dari sejarah Indonesia hingga hampir nyaris jarang terdengar hingga sekarang.

 

Dari kisah Tan Malaka kamu bisa belajar bahwa begitu banyak orang yang memang berjuang untuk kemerdekaan Indonesia. Masing-masing dari founding father Indonesia tentu memiliki pemikiran yang berbeda sehingga tidak selamanya mereka selalu sejalan. Namun, perlu diingat bahwa apapun bentuk perjuangan mereka, tujuannya adalah satu: kemerdekaan Indonesia. Entah menjadi pahlawan ataupun tidak, semoga kisah Tan Malaka bisa menjadi inspirasi tersendiri buatmu. Perjuangan beliau untuk kaum tertindas patut kamu teladani.

HOS Tjokroaminoto, Pahlawan Peretas Jalan Kesetaraan

Dari deretan pahlawan nasional republik ini, nama Raden Hadji Oemar Said Tjokroaminoto layak menjadi figur napak tilas yang menginspirasi. Beliau lahir di Bakur, Madiun, Jawa Timur, pada 16 Agustus 1882. Di usia 52 tahun, Tjokroaminoto tutup usia di Yogyakarta tepatnya pada 17 Desember 1934. Bapak tokoh pergerakan ini adalah anak kedua dari 12 bersaudara, dari ayah R.M. Tjokroamiseno, merupakan seorang pejabat pemerintahan kala itu. Kakeknya, R.M. Adipati Tjokronegoro juga pernah menjadi Bupati Ponorogo. Ya, Tjokroaminoto datang dari kemapanan keluarga bangsawan, yang membuatnya gerah dan berani meretas jalan kesetaraan.

 

Tjokroaminoto memang hanya 52 tahun berada di dunia. Namun di usianya yang tak panjang itu, sosoknya berjasa membentuk fondasi awal NKRI. Tidak salah jika gelar bapak tokoh pergerakan disematkan kepadanya. Sebut saja Soekarno, Musso, dan Kartosuwiryo para tokoh yang memiliki ideologinya masing-masing; adalah murid dari Tjokroaminoto.

 

Sebagai anak yang berasal dari keluarga bangsawan, Tjokroaminoto menamatkan studinya dari sekolah administrasi pemerintahan di Magelang, Jawa Tengah. Sempat menjadi pegawai pemerintah sebagai juru tulis Patih Ngawi selama 3 tahun, sebelum diangkat menjadi Patih. Di titik inilah kemudian Tjokro memutuskan pindah ke Semarang dan Surabaya, melakoni berbagai hal hingga menjadi buruh untuk merasakan penderitaan mereka. Keputusan besarnya ini sempat membuatnya bentrok dengan sang mertua, Raden Mas Mangoensoemo yang kala itu menjabat sebagai Wakil Bupati Ponorogo. Tjokro menganggap mertuanya terlalu menghamba kepada penjajah. Seiring dengan pengalamannya, Tjokro kian dikenal dengan prinsip kesetaraannya, bahwa semua orang sederajat tanpa terkecuali.

 

Tjokroaminoto Peretas Jalan Kesetaraan

Semasa hidupnya, Tjokroaminoto lantang menentang feodalisme. Pidato dan tulisan-tulisannya menggambarkan semangatnya untuk kesetaraan bangsa Indonesia dengan Belanda. Sekitar tahun 1916, Tjokroaminoto kian gerah dengan kenyataan bahwa republik ini dimanfaatkan oleh penjajah, tanpa ada hak untuk kaum pribuminya sendiri.

Sebelumnya pada bulan Mei tahun 1912, Tjokroaminoto diajak bergabung oleh Samanhoedi ke dalam organisasi Sarekat Islam (SI). Organisasi ini terdaftar resmi di penguasa Belanda di Solo pada 11 November 1911. Di sinilah Tjokroaminoto berjasa membentuk fondasi organisasi yang jelas. Namun ia bekerja bukan menentang Belanda dengan frontal, dirinya juga berkolaborasi dengan penasehat Gubernur Jenderal Belanda kala itu yang bernama Douwes Adolf Rinkes, untuk memperluas jangkauan Sarekat Islam. Hasilnya pun tidak sia-sia. Hanya dalam waktu 4 tahun setelah didirikan, cabangnya berkembang hingga 180 dengan jumlah anggota tak kurang dari 700 ribu orang.

 

Semangat Kebangsaan Sarekat Islam

Dengan tekun Tjokroaminoto membangun Sarekat Islam dengan semangat meniadakan hierarki antara Jawa dan Belanda. Setiap kali organisasi ini berkumpul dengan Tjokroaminoto sebagai pemberi pidato, pasti di situ pula orang memadati sembari membawa bendera SI. Dalam buku Seri Bapak Bangsa: Tjokroaminoto rilis dari Tempo, disebutkan bahwa pidato Tjokroaminoto selalu menyihir, hingga ia dijuluki “Ratu Adil” oleh rakyat Indonesia, dan “Raja Tanpa Mahkota” oleh Belanda.

 

Awalnya organisasi Sarekat Islam dibuat oleh Samanhoedi, seorang saudagar batik Laweyan, Solo, dengan misi menyiasati persaingan perdagangan dengan Cina dengan pedagang bumiputra. Kesenjangan antara Cina dan pribumi terjadi sejak Revolusi 1911, saat pedagang Cina menganggap remeh pegadang tanah air.

 

Ditambah lagi ulah ningrat Solo yang kerap mengabaikan hak rakyat kecil. Feodalisme dijunjung tinggi, seperti melarang penggunaan batik motif tertentu seperti kawung, sidomukti, parang rusak, dan sidoluhur yang diklaim hanya untuk kalangan bangsawan. Kentalnya feodalisme yang sangat bertentangan dengan nurani Tjokroaminoto. Namun berkat sentuhan Tjokro, SI menjadi salah satu organisasi politik yang sangat diperhitungkan. Sarekat Islam adalah organisasi pergerakan nasional pertama yang bercita-cita mewujudkan kemerdekaan Indonesia.

 

Tjokroaminoto, “Pahlawan Islam Jang Oetama”

Gatotkoco Sarekat Islam ini meninggalkan kemapanan dan hidup sederhana bersama keluarganya, yaitu sang istri Soeharsikin dan kelima buah hatinya, Oetari, Oetarjo Anwar, Harsono, Islamiyah, dan Sujud Ahmad. Di tengah perkampungan padat Gang VII Peneleh kota Surabaya mereka bermukim. Tidak sendirian, tentu saja. Di bagian belakang rumah, ada ruangan-ruangan yang disekat sebagai kamar kos para pemuda yang kerap juga mencatatkan namanya di sejarah Indonesia, seperti Soekarno, Soeharman Kartowisastro, Muso, hingga Alimin. Sang proklamator, Soekarno, dititipkan oleh ayahnya, Raden Soekemi pada Tjokroaminoto, sahabatnya. Bahkan Oetari, putri sulung Tjokroaminoto kelak dipersunting oleh Soekarno. Kala itu, Tjokroaminoto menjadi “pembimbing” mereka. Tempat ini kelak dijuluki “sekolah politik” para pemuda dan selalu tercantum dalam catatan sejarah.

 

Kongres ke-19 Partai Sarekat Islam Indonesia pada 3 hingga 12 Maret 1933 merupakan momentum awal bangsa Indonesia memasuki periode politik. Tjokro masih memperjuangkan cita-citanya: bumiputra berdiri sejajar dengan pemerintah Belanda. Hingga 14 tahun usia SI, semangat Tjokroaminoto selalu menjadi bahan bakar yang mengobarkan semangat para anggotanya. Sikap kritisnya lantang disuarakan. Tulisannya yang mendobrak feodalisme dimuat di halaman depan surat kabar. SI terus berkembang, hingga beranggotakan 20 ribu orang. Gerakannya pun kian lama kian radikal.

 

Begitu menginspirasinya Tjokro, di tahun 1930-an berdirilah sekolah-sekolah Tjokroaminoto di banyak wilayah. Hal utama yang diajarkan adalah bahwa keutamaan, kebesaran, kemuliaan, dan keberanian bisa dicapai lewat ilmu ketuhanan. Dalam bukunya yang berjudul Islam dan Sosialisme, Tjokro menuliskan:

Bagi kita, ta’ ada Socialisme atau rupa-rupa isme lainnja, jang lebih baik, lebih elok dan lebih mulia, melainkan Socialisme jang berdasar Islam itulah sadja.”

 

Tidak berlebihan jika pidato Tjokroaminoto bisa menyihir ribuan orang. Bahkan dari sosoknya, Soekarno meniru gaya berpidato yang juga menggugah. Sang ahli pidato ini menguasai banyak bahasa. Sebut saja Belanda, Inggris, Jawa, dan Melayu. Di sisi lain, Tjokro juga pandai bermain galeman. Tari jawa dan wayang juga merupakan dua hal yang dia gemari.

 

Tjokroaminoto Dikenang dengan Sikap “Egaliter”

Salah satu hal yang membuat Tjokro lebih dikenal di kalangan puluhan ribu anggota SI dibandingkan dengan pendirinya sekalipun adalah sikapnya yang egaliter. Tjokro begitu peduli terhadap penderitaan rakyat. Perbedaan status, posisi, hingga latar belakang pendidikan tidak pernah menjadi pertimbangan yang membuat bias cara pandang Tjokro.

 

Ialah yang memperjuangkan 8 program perjuangan hak rakyat, yang di dalamnya mengusung penghapusan kerja paksa dan sistem yang membatasi ruang gerak rakyat. Diskriminasi penerimaan murid di sekolah juga diminta untuk musnah. Pendidikan terus diperjuangkan oleh Tjokro, bahkan hingga beasiswa bagi pemuda tanah air untuk belajar di luar negeri.

 

Puncaknya saat kongres kedua SI di Yogyakarta pada April 1914. Saat itu, anggota telah membengkak menjadi 440 ribu orang, dan sepakat memilih Tjokro sebagai ketua baru Central Sarekat Islam (CSI). Padahal kala itu, pendiri SI, Samanhoedi menyatakan masih ingin menjadi ketua. Bahkan nama Tjokroaminoto lebih populer dibandingkan dengan pendiri organisasi ini sendiri. Namun tentu roda hidup tak selamanya berada di atas. Seiring dengan berjalannya waktu, geliat SI mandeg. Pengaruh Tjokro mulai memudar. Anggota menilai Tjokro tidak memberi gagasan baru. Hal ini berimbas pula pada kondisi finansial organisasi. Tjokro pun turun dari sorotan ketenaran.

 

Akhir Usia di Yogyakarta

Yogyakarta hampir selalu menjadi rumah kedua Tjokroaminoto semasa memperjuangkan sayap organisasi SI. Di kota ini pula ia menikah lagi dengan Rostinah, sepeninggal istrinya tahun 1921 lalu. Tjokro bertemu dengan istri keduanya, seorang pesinden, di Pakualaman. Di Yogyakarta pula sang Raja Tanpa Mahkota ini menghembuskan nafas terakhirnya. Sakit ginjal dan maag kronis yang dideritanya membawanya pada akhir usia di tanggal 17 Desember 1934. Sang peretas jalan kesetaraan ini dikebumikan di pemakaman umum Kuncen, Kampung Pakuncen, Wirobrajan, Yogyakarta.

Sutan Sjahrir, si “Pembangkang” yang Tak Letih Berjuang untuk Indonesia

Dari sekian banyak nama pahlawan yang dimiliki Indonesia, mungkin tak pernah terbesit dalam pikiranmu untuk menyebut nama Sutan Sjahrir. Pahlawan proklamasi tentu identik dengan Soekarno dan Hatta. Namun, tampaknya kamu perlu menengok juga sepak terjang Sutan Sjahrir. Beliau adalah perdana menteri pertama yang dimiliki Indonesia setelah merdeka. Mungkin beliau tidak hadir saat Soekarno dan Hatta memproklamasikan kemerdekaan Indonesia. Namun, Sutan Sjahrir juga merupakan aktor underground yang memiliki andil dalam kemerdekaan Indonesia. Bahkan, setelah Indonesia merdeka pun, Sutan Sjahrir memegang peranan yang penting.

Jika kamu mulai bertanya-tanya seperti apa sosok Sutan Sjahrir ini, simak saja ringkasan kisah hidupnya yang bisa kamu pelajari ini. Kamu akan menemukan  satu lagi tokoh hebat yang pernah dimiliki bangsa ini.

 

Dibesarkan dalam keluarga berkecukupan tak membuat Sutan Sjahir lupa diri

Sutan Sjahrir lahir pada tanggal 5 Maret 1909 di Padang Panjang. Beliau adalah anak dari Mohamad Rasad Gelar Maharajo Sutan dan Puti Siti Rabiah. Jabatan kepala jaksa yang dimiliki sang ayah membuat Sutan Sjahrir hidup dalam kecukupan. Beliau sukses lulus dari ELS, MULO, hingga AMS (setara SD, SMP, dan SMA). Rasa syukur atas kehidupan yang beliau miliki ditunjukkannya dengan kesungguhan selama bersekolah. Sutan Sjahrir adalah sosok yang cerdas dan aktif dalam berbagai kegiatan.

Di usia yang masih muda, yaitu 18 tahun, Sutan Sjahrir mendirikan sekolah untuk kaum miskin di Bandung yang diberi nama  Tjahja Volksuniversiteit (Universitas Rakyat Cahaya). Di usia itu juga Sutan Sjahrir dipercaya menjadi pengurus di Jong Indonesien yang kemudian berubah nama menjadi Pemuda Indonesia. Sutan Sjahrir bahkan berperan dalam terselenggaranya Kongres Pemuda II yang menghasilkan Sumpah Pemuda pada tahun 1928.

Rasanya tak banyak kata yang bisa menggambarkan Sutan Sjahrir muda ini selain cerdas, ulet, dermawan, hingga cinta tanah air. Coba bayangkan, bisakah anak muda zaman sekarang memiliki sifat layaknya Sutan Sjahrir ini?

 

Hampir sama seperti Mohammad Hatta, Sutan Sjahrir pun seorang aktivis organisasi saat kuliah di Belanda

Masih ingat kisah Mohammad Hatta yang mulai melek dunia politik ketika kuliah di Belanda? Begitu pula dengan Sutan Sjahrir ini. Sutan Sjahrir belajar buku dari tokoh-tokoh dunia seperti Friedrich Engels, Otto Bauer, Karl Marx, dan Rosa Luxemburg. Pengalaman beliau bekerja di sebuah perusahaan transportasi juga membuatnya sadar betapa begitu banyak ketidakadilan bagi kaum pekerja. Inilah yang kemudian membuat Sutan Sjahrir memiliki gagasan sosialis demokratis yang mengusung kesetaraan dan keadilan.

Sutan Sjahrir pun akhirnya bertemu dengan Mohammad Hatta yang saat itu menjadi pemimpin Perhimpunan Indonesia di Rotterdam. Bersama Mohammad Hatta, Sutan Sjahrir menerbitkan surat kabar Daulat Ra’jat untuk menyerukan pemberontakan kepada pemerintahan Belanda. Akhirnya, keduanya pun mendirikan PNI Baru yang memiliki cita-cita untuk menjadikan Indonesia merdeka seutuhnya.

Kecintaan Sutan Sjahrir akan bangsanya ternyata menular hingga saat beliau harus menempuh pendidikan di Belanda. Meski sudah tak lagi tinggal di tanah air, beliau tetap mengobarkan semangat kemerdekaan dan tidak henti untuk belajar. Lagi-lagi kamu dapat belajar sifat Sutan Sjahrir yang terpuji ini di usia beliau yang masih muda.

 

Lebih dulu kembali ke Batavia untuk meneruskan pergerakan PNI Baru

Jika Mohammad Hatta memilih untuk tetap di Belanda dulu sembari menyelesaikan studi, maka Sutan Sjahrir memiliki pemikiran yang lain. Beliau lebih dulu kembali ke Batavia dengan sebuah misi mulia, yaitu merekrut bibit-bibit muda untuk ikut serta dalam perjuangan kemerdekaan melalui PNI Baru. Kaderisasi yang dilakukan Sutan Sjahrir adalah dengan mengajarkan ide-ide Karl Marx yang mengusung kesejahteraan sosial, kesetaraan, serta kemandirian ekonomi. Gerakan bawah tanah yang dilakukan Sutan Sjahrir ini memang sempat membuat Belanda kewalahan.

Setelah Mohammad Hatta juga kembali dari Belanda, duet Sutan Sjahrir dan Mohammad Hatta menjadi semakin tak terpisahkan. Kaderisasi PNI Baru semakin berkembang hingga memiliki 1000 anggota. Meski dengan metode yang sangat jauh berbeda daripada PNI bentukan Soekarno, Sutan Sjahrir yakin bahwa dengan cara ini kemerdekaan Indonesia bisa didapat.

Berada di bawah bayang-bayang Mohammad Hatta tak menjadikan Sutan Sjahrir merasa rendah diri. Justru di saat sang senior sedang fokus pada pendidikannya, Sutan Sjahrir berinisiatif untuk lebih dulu menanam bibit muda yang akan menjadi senjata saat merebut kemerdekaan kelak. Di sini kamu melihat bahwa usia muda tak pernah menghambat seseorang untuk bisa berbuat hal yang lebih besar.

 

Pengasingan di Digul dan Banda Neira yang sempat membuat Sutan Sjahrir frustasi

Gerakan PNI Baru pun akhirnya benar-benar membuat Belanda gerah. Sutan Sjahrir pun akhirnya dipenjarakan di Penjara Glodok bersama rekan-rekan lain, termasuk Mohammad Hatta. Tak hanya itu, beliau pun akhirnya ikut diasingkan di Digul bersama Mohammad Hatta. Jika Mohammad Hatta yang introvert terlihat lebih santai dengan buku-bukunya selama di pengasingan, maka Sutan Sjahrir adalah seorang ekstrovert yang tidak terbiasa hidup jauh dari peradaban. Beberapa kali beliau tampak mencoba bertahan hidup dengan sering berbincang dan mengunjungi sesama rekan-rekan senasib di Digul. Mungkin dengan cara itulah beliau bisa bertahan hidup. Beliau juga sempat menyalurkan semangat hidupnya dengan mengajar anak-anak di Banda Neira. Hingga akhirnya pada tahun 1942, Sutan Sjahrir dibebaskan dari pengasingan saat Jepang sudah menduduki Indonesia.

Bisa dibayangkan, di tengah keputusasaan dalam menjalani hidup, sepercik semangat juang yang dimiliki Sutan Sjahrir bisa diubahnya menjadi kekuatan untuk melayani anak-anak di pengasingan. Pernahkah kamu melakukan hal bermanfaat untuk sesama ketika kamu berada di titik nadirmu?

 

Si “pembangkang” yang berbeda pandangan dengan Soekarno-Hatta saat masa pendudukan Jepang

Gaya berpikirnya yang kritis menyebabkan perbedaan pandangan muncul antara beliau dengan Soekarno dan Hatta. Jika kala itu Soekarno dan Hatta memilih untuk kooperatif dengan Jepang, maka Sjahrir memiliki pendapat lain. Bagi beliau, kemerdekaan masih bisa didapatkan tanpa harus “bersahabat” dengan Jepang. Maka, Sutan Sjahrir pun diam-diam membangun jaringan bawah tanah untuk tetap mengobarkan semangat kemerdekaan bagi para muda. Beliau aktif mengikuti perkembangan perang dunia lewat radio-radio yang bahkan mungkin tidak diketahui Soekarno maupun Hatta.

Mungkin di sinilah sosok Sjahrir menjadi tak secemerlang Soekarno ataupun Hatta. Namun jangan salah, gerakan bawah tanah yang dipelopori Sutan Sjahrir inilah yang kemudian menjadi awal mula munculnya pemuda-pemuda berani di balik peristiwa proklamasi kemerdekaan Indonesia. Keyakinan dan semangat Sutan Sjahrir ini patut ditiru anak muda sekarang. Berbeda haluan bukan berarti berbeda tujuan. Mempersiapkan jalan yang sama baiknya justru jauh lebih baik daripada hanya berdiam diri.

 

Pasca Indonesia merdeka, Sutan Sjahrir berperan penting dalam perjuangan pengakuan kedaulatan Indonesia di mata dunia

Proklamasi kemerdekaan Indonesia pun akhirnya digaungkan pada 17 Agustus 1945. Indonesia yang kala itu membutuhkan pengakuan kedaulatan internasional terselamatkan oleh sosok Sutan Sjahrir. Terpilih sebagai perdana menteri Indonesia, Sutan Sjahrir segera bergerak untuk mempertahankan kemerdekaan Indonesia.

Saat itu Indonesia memberikan bantuan kepada India yang sedang krisis pangan. Dari situlah Indonesia mulai memperoleh simpatik dari Inggris. Di luar dugaan, India pun akhirnya bisa lepas dari kolonial Inggris. Tak hanya itu, Jawaharlal Nehru yang menjabat sebagai perdana menteri India mengundang Indonesia di Konferensi Hubungan Negara-Negara Asia di New Delhi. Sutan Sjahrir pun cerdik memanfaatkan momen tersebut untuk melancarkan diplomasi untuk memperoleh pengakuan dunia atas Indonesia. Sutan Sjahrir juga berperan dalam perundingan Linggarjati bersama Belanda hingga akhirnya Indonesia resmi memperoleh kedaulatan dari hasil Konferensi Meja Bundar yang diikuti Mohammad Hatta.

Terlihat bahwa Sutan Sjahrir adalah sosok pejuang diplomasi. Beliau tidak menggunakan senjata atau peperangan dalam upaya mempertahan kemerdekaan. Segala hal yang dilakukan Sutan Sjahrir selalu dipelajari terlebih dahulu dengan bekal ilmu dan pengalaman. Sungguh pantas bila Sutan Sjahrir disebut sebagai tokoh cerdik Indonesia.

 

Perlahan tak lagi menjadi bagian politik Indonesia, Sutan Sjahrir pun meninggal saat menjalani pengasingan

Sayangnya, karier Sutan Sjahrir sebagai perdana menteri Indonesia pun akhirnya meredup. Bahkan, hubungan beliau dengan presiden Soekarno pun menjadi tidak baik. Partai Sosialis Indonesia yang dibentuknya gagal dalam Pemilu 1955. Nama Sutan Sjahrir pun kian meredup.

Pada tahun 1962, terjadi peristiwa percobaan pembunuhan pada presiden Soekarno. Dalam peristiwa tersebut, Sutan Sjahrir dituduh sebagai dalangnya. Beliau pun akhirnya dijadikan tahanan di Madiun dan Kebayoran Baru. Sutan Sjahrir pun mengalami penurunan fisik yang menyebabkan beliau terkena serangan stroke. Karena kesehatan yang makin memburuk, beliau dibawa ke Swiss untuk pengobatan. Namun, pada tahun 1966, Sutan Sjahrir meninggal dengan masih berstatus tahanan. Untuk mengenang jasa beliau, gelar pahlawan nasional pun diberikan Soekarno kepada Sutan Sjahrir.

 

Mungkin sosok Sutan Sjahrir cocok untuk dijadikan panutan bagi anak generasi zaman now yang cenderung sedang berapi-api dalam meraih impian. Jika Sutan Sjahrir yang sejak muda saja bisa membuat perubahan untuk bangsa ini, bukan tak mungkin kamu juga bisa melakukannya di masa kini.

Ki Hadjar Dewantara, Sebagai Bapak Pendidikan Nasional, Mengajarkan Semangat Berjuang Melalui Pendidikan

Apa yang paling kamu ingat dari sosok Ki Hadjar Dewantara? Pastinya kamu langsung berpikir tentang Hari Pendidikan Nasional. Ya, Ki Hadjar Dewantara merupakan sosok kunci dari perkembangan pendidikan Indonesia. Tanggal lahir beliau, 2 Mei, selalu diperingati setiap tahunnya. Jika kamu melihat perkembangan pendidikan Indonesia hingga sekarang, tentu tidak lepas dari perjuangan Ki Hadjar Dewantara pada masa penjajahan kolonial. Namun, tidak banyak yang tahu bahwa pada awalnya Ki Hadjar Dewantara juga sempat ikut organisasi politik. Nah, makin penasaran kan dengan kisah Bapak Pendidikan Nasional Indonesia ini? Yuk, simak kisah perjuangan beliau berikut ini!

  

Masa muda dan awal karier Ki Hadjar Dewantara

Ki Hadjar Dewantara lahir dengan nama Raden Mas Soewardi Soerjaningrat. Beliau lahir pada tanggal 2 Mei 1889 di Pakualaman, putra dari GPH Soerjaningrat dan merupakan cucu dari Pakualam III. Lahir dari keluarga bangsawan tidak membuat Ki Hadjar Dewantara lupa diri. Beliau belajar rajin dan hidup layaknya anak-anak lain kebanyakan.

Masa kecilnya pernah beliau habiskan di ELS (sekolah dasar Eropa/ Belanda). Selain itu, Ki Hadjar Dewantara juga pernah melanjutkan studi di STOVIA (sekolah dokter Bumiputera). Namun, beliau tidak sempat menamatkan pendidikan di STOVIA lantaran sakit. Kegagalan bersekolah tidak membuat Ki Hadjar Dewantara menyerah. Beliau memilih bekerja sebagai penulis dan wartawan di beberapa surat kabar. Misalnya, Soeditomo, Midden Java, De Express, Oetoesan Hindia, Kaoem Moeda, Tjahaja Timoer, dan Poesara. Tulisan-tulisan Ki Hadjar Dewantara kala itu dikenal tajam, kominukatif, dan cenderung berani.

Ketertarikan Ki Hadjar Dewantara untuk melawan kolonial memang tampaknya sudah kelihatan sejak beliau masih muda. Tindakan untuk menulis tulisan-tulisan sebagai bentuk kritik pada Belanda bisa dibilang cukup berani mengingat risiko besar yang akan muncul.

 

Aktivitas pergerakan di masa muda

Tak hanya piawai dalam menulis dan sebagai wartawan, Ki Hadjar Dewantara juga aktif dalam kegiatan organisasi sosial dan politik. Beliau pernah berada di seksi propaganda saat bergabung dalam Boedi Oetomo pada tahun 1908. Tugas beliau adalah menyosialisasikan dan menggerakkan kesadaran masyarakat Indonesia akan pentingnya bersatu dalam berbangsa. Bahkan, kongres pertama Boedi Oetomo di Yogyakarta juga tidak lepas dari campur tangan Ki Hadjar Dewantara di dalamnya.

Pada tanggal 25 Desember 1912, bersama Douwes Dekker dan dr. Cipto Mangunkusumo, beliau mendirikan Indische Partij. Indische Partij merupakan partai politik pertama beraliran nasionalisme Indonesia. Bisa dibilang Indische Partij ini adalah organisasi yang unik karena di dalamnya terdapat sosok Douwes Dekker yang merupakan keturunan campuran Belanda-Indonesia. Indische Partij juga merupakan satu-satunya organisasi yang terang-terangan menuntut kemerdekaan Indonesia. Tidak heran jika akhirnya menganggap keberadaan Indische Partij sangat membahayakan. Bahkan, Belanda juga menolak memberi status badan hukum pada Indische Partij.

Tidak hanya berjuang dan melawan lewat tulisan, Ki Hadjar Dewantara akhirnya melawan melalui sebuah wadah organisasi. Perjuangan beliau tentu tidak mudah ketika harus melawan kolonial Belanda.

Cita-cita memajukan pendidikan kaum pribumi saat diasingkan di Belanda

Puncak perlawanan Ki Hadjar Dewantara terlihat saat Belanda berniat mengumpulkan sumbangan dari warga untuk perayaan kemerdekaan Belanda dan Perancis pada tahun 1913. Beliau kemudian menulis sebuah tulisan dengn judul Een voor Allen maar Ook Allen voor Een, yang artinya Satu untuk Semua, tetapi Semua untuk Satu Juga. Tak hanya itu, Ki Hadjar Dewantara juga menulis Als ik een Nederlander was atau Seandainya Aku Seorang Belanda yang dimuat di surat kabar De Expres. Isi tulisan tersebut sangat keras dan menampar para pejabat Belanda kala itu. Ki Hadjar Dewantara menyindir bahwa Belanda hendak merayakan 100 tahun kemerdekaannya dan Perancis dengan menggunakan uang rakyat jelata. Belanda yang meradang pun akhirnya memilih untuk mengasingkan Ki Hadjar Dewantara ke Pulau Bangka. Tak hanya itu, dua sahabat beliau, Douwes Dekker dan dr. Cipto Mangunkusumo juga ikut diasingkan. Akhirnya ketiganya dipindahkan ke Belanda.

Selama pengasingan di Belanda, Ki Hadjar Dewantara tidak tinggal diam. Beliau aktif di Indische Vereeniging dan mendirikan Indonesisch Pers-Bureau (kantor berita Indonesia). Di Belanda inilah sebuah cita-cita mulia muncul di benak Ki Hadjar Dewantara. Beliau ingin memajukan kaum pribumi melalui pendidikan. Beberapa tokoh pendidikan Barat yang menginspirasi beliau adalah Froebel dan Montessori. Pergerakan pendidikan di India oleh keluarga Tagore juga memengaruhi Ki Hadjar Dewantara untuk mewujudkan impian beliau mengembangkan sistem pendidikan di tanah air.

Hidup di pengasingan bukan berarti berhenti belajar. Bahkan, impian besar Ki Hadjar Dewantara justru muncul saat di pengasingan. Ini membuktikan bahwa rasa sakit pun bisa memunculkan kekuatan yang luar biasa. Perjuangan Ki Hadjar Dewantara masih berlanjut.

 

Ki Hadjar Dewantara mendirikan Taman Siswa sebagai wujud dari cita-cita beliau

Sekembalinya dari Belanda pada tahun 1919, Ki Hadjar Dewantara bergabung dalam sekolah binaan saudara. Di sana beliau mendapatkan pengalaman mengajar. Akhirnya, pada tanggal 3 Juli 1922 di Yogyakarta, Ki Hadjar Dewantara mendirikan National Onderwijs Institut Taman Siswa atau Taman Siswa. Taman Siswa merupakan wujud nyata dari impian Ki Hadjar Dewantara untuk memperbaiki nasib rakyat melalui pendidikan yang baik. Prinsip-prinsip dasar dalam pendidikan dituangkan dalam sebuah konsep yang Ki Hadjar Dewantara pelajari dari tokoh pendidikan selama berada di pengasingan Belanda dulu. Prinsip-prinsip tersebut adalah:

  • Ing ngarsa sung tuladha (di depan memberi teladan)
  • Ing madya mangun karsa (di tengah membangun kemauan)
  • Tut wuri handayani (di belakang mendukung atau memberi dorongan)

Prinsip itulah yang kini sangat dikenal di sistem pendidikan Indonesia hingga sekarang. Ki Hadjar Dewantara berharap melalui Taman Siswa inilah pendidikan bisa didapat semua rakyat pribumi. Kelak, pendidikan tersebut menjadi modal untuk melawan kolonial. Jika banyak yang memilih melawan Belanda lewat pergerakan politik, maka Ki Hadjar Dewantara memilih jalan mulia lainnya. Bahkan, salah satu tokoh pahlawan Indonesia, Soedirman, juga dikenal pernah menempuh pendidikan di Taman Siswa.

 

Kontribusi Ki Hadjar Dewantara pada masa Indonesia merdeka

Mungkin tidak banyak yang tahu jika Ki Hadjar Dewantara juga memiliki peran pasca kemerdekaan Indonesia. Dalam kabinet pertama Republik Indonesia, Ki Hadjar Dewantara pernah menjabat sebagai Menteri Pengajaran Indonesia. Namun, beliau hanya menjabat sejak tanggal 2 September 1945 hingga 14 November 1945. Meski begitu, Ki Hadjar Dewantara mendedikasikan hidup beliau untuk pendidikan hingga akhir hayat. Beliau tetap mengelola Taman Siswa pasca pensiun. Bahkan, Taman Siswa sudah memiliki 129 cabang di seluruh Indonesia. Impian beliau dalam memajukan pendidikan Indonesia telah tercapai. Beliau bahkan mendapat gelar doktor kehormatan dari Universitas Gadjah Mada pada tahun 1957.

Ki Hadjar Dewantara meninggal pada tanggal 26 April 1959 di Yogyakarta. Atas jasa beliau dalam merintis pendidikan di Indonesia, Ki Hadjar Dewantara dinobatkan sebagai Bapak Pendidikan Nasional Indonesia. Selain itu, hari kelahiran beliau diperingati sebagai Hari Pendidikan Nasional.

 

Siapa sangka jika pendidikan yang bisa kamu nikmati hingga sekarang tidak lepas dari kerja keras dan perjuangan Ki Hadjar Dewantara? Sudah saatnya kamu memiliki semangat memajukan Indonesia layaknya semangat Ki Hadjar Dewantara. Ingat, tugas orang terdidik adalah mendidik yang lainnya. Meski bukan sebagai guru, siapapun memiliki kesempatan untuk memajukan pendidikan Indonesia kok.

Mohammad Hatta, Bukan Sekadar “Pendamping” Presiden, Namun juga Salah Satu “Jenius” yang Pernah Dimiliki Indonesia

Sosok ini rasanya tak bisa lepas dari Soekarno. Nama Mohammad Hatta seolah selalu menjadi “pendamping” bagi Soekarno. Nama bandara internasional di Indonesia pun bernama Soekarno-Hatta. Pecahan uang seratus ribu yang kamu miliki pun bergambar Soekarno yang besanding dengan Mohammad Hatta. Ya, Mohammad Hatta adalah wakil presiden Indonesia yang pertama. Bersama Soekarno, Mohammad Hatta pernah memimpin bangsa ini di masa awal kemerdekaan.

 

Mohammad Hatta jauh berbeda dengan Soekarno. Jika Soekarno selalu berapi-api dalam berpidato, maka Hatta terlihat lebih tenang dan terkesan tidak banyak bicara. Namun, apakah benar ia hanya sekadar “pendamping” sang leader Soekarno? Ternyata, Hatta menyimpan “kekuatan” tersendiri yang tidak disadari banyak orang. Mungkin kamu adalah salah satunya. Di balik sosoknya yang hanya populer sebagai wakil presiden Indonesia, inilah kisah seru Mohammad Hatta yang bisa mengubah cara pandangmu tadi. Simak ya!

 

Tumbuh dengan pendidikan yang baik sejak kecil

Mohammad Hatta lahir di Bukittinggi pada tanggal 12 Agustus 1902 dengan nama Mohammad Attar. Sejak kecil, Mohammad Hatta dikelilingi dengan ajaran agama Islam yang kuat. Selepas lulus dari ELS dan MULO (setara SD dan SMP), Mohammad Hatta hijrah ke Betawi (sekarang Jakarta) untuk belajar di HBS. Di Betawi, Mohammad Hatta hidup bersama sang paman bernama Mak Ayub. Dari Mak Ayub lah kecintaan Hatta pada buku-buku mulai tumbuh karena Mak Ayub kerap mengenalkannya pada berbagai macam buku. Sayang, Mohammad Hatta harus terpisah dari sang paman karena hutang yang dimiliki Mak Ayub. Kala itu, Mak Ayub mengatakan pada Mohammad Hatta bahwa dirinya harus ke Eropa untuk melanjutkan studi. Maka, untuk pertama kalinya Mohammad Hatta harus merantau ke luar negeri sendirian untuk bersekolah. Saat itu usia Mohammad Hatta sekitar 19 tahun.

Bisa kamu bayangkan nggak, di usia yang masih begitu muda harus hidup sendirian? Mohammad Hatta sedari kecil tidak pernah lepas dari keluarga yang melindunginya. Terbiasa hidup nyaman ternyata tak membuat Mohammad Hatta menolak studi di Belanda. Tampaknya beliau memilih keluar dari zona nyaman. Pernahkah kamu melakukan hal yang sama seperti Mohammad Hatta ini?

 

Si kutu buku yang aktif berorganisasi saat bersekolah di Belanda

Mohammad Hatta kemudian melanjutkan studi di Handels Hogeschool pada tahun 1921. Bersekolah di Belanda membuat Mohammad Hatta melek tentang kemajuan peradaban, ilmu pengetahuan, serta peta politik dunia. Dari situlah akhirnya Mohammad Hatta sadar tentang ketidakadilan kaum kolonial terhadap rakyat di Hindia Belanda (Indonesia). Gejolak pemberontakan pun tumbuh dalam diri beliau. Kegemaran membaca Mohammad Hatta makin menjadi-jadi saat di Belanda. Berbagai buku beliau baca lantaran haus akan berbagai macam gerakan politik dunia.

Tentu Mohammad Hatta bukan sekadar kutu buku biasa. Beliau juga aktif berorganisasi selama kuliah. Tercatat Mohammad Hatta menjadi pemimpin Perhimpunan Indonesia (PI). Beliau juga pernah memimpin rapat anti kolonial di Brussel, Belgia di usia yang masih 25 tahun. Posisinya sebagai ketua PI pun meresahkan pemerintah Belanda sehingga mereka memutuskan memenjarakan dirinya di Casius-straat. Sebuah tulisan berjudul Indonesia Merdeka dibacakan Mohammad Hatta saat di pengadilan. Ada sebuah impian yang muncul dalam hati beliau untuk memerdekakan bangsanya dari penjajahan.

Pernahkah kamu memikirkan sebuah perubahan besar di usia yang masih sangat muda seperti Mohammad Hatta ini? Bayangkan saja, di saat pemuda seusianya mungkin hanya fokus untuk menyelesaikan studi di Eropa, Hatta muda justru “menabung” banyak ilmu sebagai bekal yang akan dia bawa ketika kembali ke tanah airnya. Semangat yang patut kamu tiru nih!

 

Sempat diasingkan di Digul dan Banda Neira. Hebatnya, beliau justru rajin membaca selama di pengasingan.

Bersama Sutan Sjahrir, Mohammad Hatta mendirikan kembali PNI dengan nama PNI Baru. Berbeda dengan Soekarno, Mohammad Hatta lebih berfokus pada kaderisasi dan pendidikan politik bagi anggotanya. Pergerakan PNI Baru tersebut cukup meresahkan Belanda sehingga Mohammad Hatta bersama Sutan Sjahrir dan rekan lain pun dibawa ke penjara Glodok dan setelah itu beliau diasingkan ke Digul.

Digul menjadi tempat paling asing dan neraka bagi siapapun yang ada di sana. Namun, Hatta yang juga dikenal introvert ini justru memanfaatkannya untuk belajar dan melahap buku lebih banyak. Bahkan, Hatta menjadi produktif menulis banyak tulisan selama di pengasingan. Pada akhirnya, Mohammad Hatta pun dipindahkan ke Banda Neira hingga tahun 1942.

Ada sebuah kutipan dari Mohammad Hatta yang begitu dikenal hingga saat ini:

“Aku rela dipenjara asalkan bersama buku. Karena dengan buku, aku bebas”

Mungkin kamu merasa orang yang suka membaca buku terkesan membosankan. Namun, kamu bisa melihat bahwa sosok seperti Mohammad Hatta pun menjadikan buku sebagai gerbang menuju segala hal di dunia. Bahkan, ketika dalam keadaan menderita pun, Mohammad Hatta tak lupa untuk tetap membaca dan menulis. Itulah bentuk perjuangan yang dia lakukan untuk impiannya melihat bangsanya merdeka.

 

Bersama Soekarno mempersiapkan kemerdekaan Indonesia hingga menjadi wakil presiden pertama Indonesia

Akhirnya Mohammad Hatta pun lepas dari pengasingan karena Jepang gantian menduduki Indonesia. Bersama Soekarno, Mohammad Hatta pun masuk tim BPUPKI yang mempersiapkan kemerdekaan Indonesia. Pada awalnya pilihan Soekarno dan Hatta untuk berkooperatif dengan Jepang memang mendapat banyak penolakan, termasuk dari Sutan Sjahrir. Tak lama selepas berita Jepang menyerah atas sekutu, sekelompok pemuda Indonesia pun menculik Soekarno dan Hatta dengan tujuan mendesak mereka segera memproklamasikan kemerdekaan. Proklamasi kemerdekaan pun terjadi pada tanggal 17 Agustus 1945. Setelah itu, Mohammad Hatta pun diresmikan menjadi wakil presiden Indonesia yang pertama.

Impian Mohammad Hatta melihat bangsanya merdeka akhirnya terpenuhi. Siapa sangka serangkaian pemberontakan, ide jenius, hingga penderitaan yang dialami beliau bisa berbuah manis. Bukti bahwa semua impian yang dimiliki seseorang memang harus diperjuangkan hingga menjadi nyata. Kegigihan Mohammad Hatta ini bisa kamu teladani.

 

Sosok jenius yang jadi aktor penting dalam usaha mempertahankan kemerdekaan Indonesia

Selepas Indonesia merdeka, bukan berarti hidup bangsa ini sudah bebas. Dua tugas besar menanti, yaitu mempertahankan kemerdekaan dan memenangkan pengakuan dunia atas status kemerdekaan Indonesia. Perjanjian Linggarjati dan Renville jelas-jelas sangat merugikan Indonesia karena banyak daerah yang masih diduduki Belanda. Puncaknya adalah serangan agresi militer Belanda II yang berhasil melumpuhkan Yogyakarta. Di ambang kehancuran itulah, pada tahun 1949, sosok Mohammad Hatta hadir dalam Konferensi Meja Bundar di Den Haag (Belanda) demi mempertahankan keutuhan Indonesia. Berbekal ilmu dari banyak buku yang dilahapnya, Mohammad Hatta berhasil mengambil simpatik seluruh dunia. Beliau pun pulang ke Indonesia dengan membawa pengakuan kedaulatan resmi kemerdekaan Indonesia dari Belanda dan seluruh dunia.

Tanpa pidato yang berapi-api, nyatanya Mohammad Hatta bisa mempertahankan kemerdekaan Indonesia. Sifat kutu bukunya sejak masih muda nyatanya tidak sia-sia. Tak banyak kata, namun bisa membuat perubahan besar buat Indonesia. Mungkin begitulah kata-kata yang pas untuk beliau. Inilah salah satu sosok jenius yang dimiliki Indonesia.

 

Selepas pensiun, Muhammad Hatta masih dipercaya untuk mengusut kasus korupsi di era presiden Soeharto

Mohammad Hatta resmi mengundurkan diri dari jabatan wakil presiden Indonesia pada tanggal 1 Desember 1956. Mohammad Hatta sosok yang tidak neko-neko. Hidup beliau pasca pensiun pun terbilang sangat sederhana. Bahkan, karena saking jujurnya, beliau tidak pernah sedikit pun memperkaya diri dengan kekuasaan yang pernah dimiliki. Tak heran jika dengan sikap beliau tersebut, Mohammad Hatta dipercaya presiden Soeharto di masa transisi era Orde Baru untuk menjadi pengawas korupsi di kalangan pejabat negara dan militer. Gelar pahlawan proklamator pun diberikan kepada Mohammad Hatta pada tahun 1986.

Keteladanan Mohammad Hatta yang lain adalah selalu hidup dalam kecukupan. Sejak awal, Mohhamad Hatta memang memiliki impian mulia untuk kemerdekaan Indonesia. Niat tulus itulah yang membawa beliau tetap rendah hati hingga akhir hayatnya. Nama beliau pun tetap dikenang hingga sekarang.

 

Itulah sekilias tentang perjalanan hidup Mohammad Hatta. Kini kamu bisa melihat bahwa sosok beliau bukan hanya sekadar “pendamping” presiden belaka. Sosok Mohammad Hatta bisa menjadi teladan buat kamu. Semoga kisah Mohammad Hatta ini bisa menginspirasi kamu untuk berkontribusi hal positif buat bangsa Indonesia.

Soekarno, Sang “Arstitek” Kemerdekaan Indonesia

Saat belajar di bangku Sekolah Dasar, kamu tentu mengenal sosok yang jadi proklamator Indonesia. Begitu pula jika ditanya siapa presiden pertama Indonesia, pasti kamu akan dengan mudah menyebut nama Soekarno.

Kala itu, gambar Soekarno sedang membacakan teks proklamasi pun pasti banyak kamu temui di buku-buku sekolah. Yup, Soekarno merupakan sosok di balik kemerdekaan Indonesia. Sosoknya pun hingga sekarang masih dikenang oleh rakyat Indonesia. Namun, mungkin tak banyak yang tahu kisah perjalanan hidup Soekarno. Bukan hanya sebagai proklamator, ternyata ada sisi lain dari Soekarno yang bisa kamu pelajari.

Simak ringkasan perjalanan Soekarno berikut ini ya!

 

Akrab dengan organisasi sejak masih sangat muda

Tidak banyak yang tahu bahwa dulu Soekarno memiliki nama kecil “Kusno”. Namanya pun berubah menjadi “Soekarno” lantaran beliau sering sakit ketika masih anak-anak. Soekarno lahir di Surabaya pada tanggal 6 Juni 1901. Ayahnya bernama Raden Soekemi Sosrodihardjo, sedangkan ibunya bernama Ida Ayu Nyoman Rai.

Sejak masih remaja, Soekarno sudah menunjukkan minatnya pada dunia organisasi kepemudaan. Pada tahun 1915, Soekarno sering bertemu dengan para pemimpin Serikat Islam kala itu, antara lain Tjokroaminoto, Haji Agus Salim, dan Abdul Muis. Selain itu, Soekarno dikenal aktif dalam organisasi pemuda Tri Koro Dharmo yang kemudian berubah nama menjadi Jong Java. Kala itu, Soekarno masih berusia 15-17 tahun.

Bayangkan, sejak muda saja beliau sudah aktif di organisasi ya! Sikap cinta tanah air sudah beliau miliki sejak masih muda. Soekarno muda tentu tidak main-main ketika memilih aktif di organisasi sejak muda. Dari situlah muncul cita-cita kemerdekaan untuk Indonesia.

 

Soekarno merupakan salah satu arsitek hebat yang dimiliki Indonesia

Sekilas, mungkin kamu mengira kalau Soekarno adalah sosok politik sejati. Nyatanya, beliau pernah menempuh pendidikan sipil di Technische Hoogeschool te Bandoeng (sekarang bernama Institut Teknologi Bandung). Saat itu hanya ada tiga orang Jawa yang berhasil meraih gelar insinyur dan Soekarno adalah salah satunya. Ternyata, beberapa bangunan yang ada di ibukota merupakan sumbangan ide dari Soekarno yang kala itu menginginkan Jakarta sebagai pusat pemerintahan yang tertata apik seperti layaknya negara merdeka lainnya. Beberapa bangunan yang merupakan hasil pemikiran Soekarno antara lain Masjid Istiqlal, Monumen Monas, Hotel Indonesia, dan masih banyak lagi.

Dari Soekarno kamu belajar bahwa apapun pendidikanmu, jangan pernah jadikan alasan untuk tak bisa berbuat memberi sumbangsih untuk bangsa ini. Tengok deh, latar belakang pendidikan Soekarno yang jauh dari politik nyatanya bisa juga membawa dampak besar buat Indonesia.

 

Semangat yang tetap menyala meski berkali-kali diasingkan

Selain tergabung dalam Jong Java, Soekarno juga merupakan pendiri dari Partai Nasional Indonesia (PNI). Aktivitas Soekarno di PNI ternyata sempat membawanya diasingkan oleh Belanda di Sukamiskin. Di situ, Soekarno tidak menyerah. Bahkan, beliau dengan lantang membacakan pledoi berjudul Indonesia Menggugat ketika menjalani sidang. Selain menjalani pengasingan di Sukamiskin, Soekarno juga pernah diasingkan di Flores dan Bengkulu.

Hidup dalam penderitaan di pengasingan tak membuatnya menyerah. Bahkan, ketika harus berkali-kali diasingkan, beliau masih memiliki keyakinan pada kemerdekaan Indonesia. Kayaknya semangat beliau ini patut kamu tiru deh!

 

Tokoh proklamator sekaligus presiden pertama yang dimiliki Indonesia pasca kemerdekaan

Meski harus mengalami pengasingan berkali-kali, semangat Soekarno tak pernah padam. Soekarno kembali dari masa pengasingan saat Jepang menduduki Indonesia pada tahun 1942. Bersama tokon Indonesia lainnya, beliau berperan dalam usaha persiapan kemerdekaan Indonesia, antara lain merumuskan Pancasila, UUD 1945, serta teks proklamasi.

Peristiwa Rengas dengklok pada 16 Agustus 1945 menjadi awal gerbang kemerdekaan Indonesia. Saat itu Soekarno dibawa oleh sekelompok pemuda Indonesia yang mendesak untuk segera memproklamasikan kemerdekaan pasca kalahnya Jepang atas sekutu. Atas inisiatif para pemuda itulah akhirnya Soekarno memilih untuk tidak bergantung pada Jepang dalam memperoleh kemerdekaan Indonesia. Akhirnya, Soekarno pun membacakan teks proklamasi Indonesia pada tanggal 17 Agustus 1945 dan dipilih menjadi presiden pertama Indonesia.

Soekarno memang pernah berkali-kali berada dalam pengasingan. Hebatnya, mimpinya mewujudkan kemerdekaan Indonesia tidak hilang meski harus hidup menderita. Ada keyakinan dalam dirinya bahwa Indonesia pasti merdeka. Kemerdekaan yang kamu kecap sekarang tentu tak bisa lepas dari keyakinan dan kegigihan beliau sejak muda bukan?

 

Gaya kepemimpinan Soekarno yang tegas, berani, dan karismatik

Selama menjadi presiden Indonesia, Soekarno dikenal sebagai pemimpin yang selalu berpidato dengan semangat menyala-nyala. Sikap beliau mampu membangkitkan semangat nasionalisme rakyat Indonesia kala itu. Jiwa nasionalisme tampak dalam diri Soekarno selama menjabat sebagai presiden Indonesia. Sosoknya yang karismatik membuatnya disegani para pemimpin dunia lainnya. Tak heran jika beberapa negara Asia dan Afrika menjadikan Soekarno sebagai teladan kepemimpinan saat negara-negara tersebut berusaha melepaskan diri dari ketergantungan dari negara barat. Soekarno juga menjadi penggagas terlaksananya Konferensi Asia Afrika, yang mana dalam konferensi tersebut membahas masalah-masalah yang dialami negara Asia dan Afrika yang baru saja merdeka. Keprihatinan Soekarno akan nasib negara Asia dan Afrika tersebut lah yang mendorongnya membuat konferensi agar semua negara senasib dapat saling membantu dan menguatkan.

Hingga sekarang, gaya Soekarno dalam memimpin bisa menjadi panutan para leader. Sosok Soekarno yang patang menyerah, rela berkorban, serta berani bisa menginspirasimu untuk menjadi pemimpin yang baik.

 

Nama Soekarno yang diabadikan di Indonesia

Pada tanggal 21 Juni 1970, Soekarno menghembuskan napas terakhirnya akibat sakit yang dideritanya. Sebagai sosok yang berperan dalam kemerdekaan Indonesia, rasanya sangat pantas jika akhirnya nama Soekarno diabadikan di Indonesia. Stadion kebanggaan Indonesia, Stadion Gelora Bung Karno, mengambil nama beliau sebagai wujud penghormatan pada proklamator Indonesia. Yayasan Pendidikan Soekarno pun dibuat oleh putri beliau, Rachmawati Soekarnoputri. Pada akhirnya, yayasan tersebut mencetuskan ide untuk membuat universitas yang selaras dengan pemikiran yang diajarkan Soekarno sehingga lahirlah Universitas Bung Karno pada tahun 1999. Selain itu, didirikan pula Yayasan Bung Karno yang menyimpan benda-benda milik Soekarno yang berada di berbagai daerah di Indonesia.

Sosok yang memiliki peran penting untuk bangsa ini tentu akan selalu dikenang. Pengabadian nama Soekarno ini seolah megingatkan kamu untuk selalu memiliki semangat juang layaknya yang dimiliki Soekarno di sepanjang hayatnya. Kini, ketika kamu sudah hidup di masa kemerdekaan, adakah kontribusi positif yang bisa kamu berikan untuk Indonesia?

 

Dari kisah Soekarno, kamu bisa belajar tentang semangat juangnya yang sudah muncul sejak masih muda.

Kamu sendiri, apakah yakin sudah menjadi bagian generasi muda yang bisa memberi manfaat buat bangsa ini?